“Aku punya rencana, dan hal ini sudah kubicarakan tadi dengan Tetua Ali Badri.”
Demikian Wawang berbicara serius dengan kedelapan rekan-rekannya yang sudah berkumpul sambil membicarakan segala kemungkinan yang akan terjadi. Dalam balutan ketegangan, mereka sedang menunggu hasil pembicaraan telepon antara pihak Ali Badri dengan Edi Best yang saat itu juga telah diperintahkan untuk datang menghadap.
“Rencana apa, Wang?” tanya seseorang.
“Aku butuh tiga orang yang benar-benar berani berkelahi dan memiliki keahlian untuk itu.”
“Untuk menemanimu bertarung?”
“Tentu saja bukan. Karena pertarungan nanti, adalah perkelahian satu lawan satu antara diriku dengan Edi Best.”
“Lalu untuk apa kau membutuhkan tiga orang yang berani dan pandai berkelahi?” tanya yang lain lagi dengan rasa penasaran.
“Akan kujelaskan tugas orang tersebut nantinya. Begini …”
---
Dengan singkat, remaja tersebut menceritakan inti pembicaraan yang dilakukannya bersama Ali Badri beberapa waktu lalu. Lalu setelah usai bernegosiasi hingga berbuah pemanggilan Edi Best ke tempat tersebut malam itu juga, sang Tetua memberikan satu petunjuk tentang kelicikan orang yang kini tengah menahan Opik di suatu tempat.
Wawang kembali menuturkan; bahwa menurut dugaan Ali Badri yang sangat paham sifat buruk dari Edi Best, orang tersebut tentunya tidak akan dengan serta merta datang dengan membawa dua orang yang kini sedang mereka sekap.
Karena bisa saja, Opik dan Mamat yang masih berada dalam penguasaan mereka akan dijadikan sebagai sebuah senjata rahasia dalam bernegosiasi. Dan dugaan tersebut memang tercetus dari benak sang Tetua sendiri yang sedemikian paham jika Edi Best pasti akan memanfaatkan apapun untuk kepentingannya sendiri.
Keberadaan Opik dan Mamat yang menjadi saksi kunci sangkaan keterlibatan sang preman berangasan dalam peristiwa kecelakaaan Sujiwo, adalah satu hal yang belum bisa diketahui oleh siapapun.
Dalam kondisi yang demikian, Tetua yang sudah banyak makan asam garam langsung bisa menebak jika kedatangan orang yang ia panggil itu pastilah tak akan serta merta bersedia membawa dua orang yang diinginkan oleh kelompok Wawang.
Dengan beberapa analisa yang langsung diutarakan pada si pemuda, Ali Badri membeberkan fakta-fakta tersebut sebagai pertimbangan Wawang dalam mematangkan rencananya malam itu. Karena bahkan seandainya dia bisa memenangkan pertarungan, sang bocah belia dan kelompoknya juga harus berhadapan kembali dengan sebuah negosiasi sulit apabila belum menemukan Opik dan temannya yang masih disandera.
Bila sudah demikian, tentu saja itu akan menjadi sebuah keuntungan bagi Edi Best yang selalu menghalalkan segala cara demi keuntungan pribadinya. Karena itulah, baik Wawang maupun Ali Badri harus memikirkan suatu jalan agar Opik dan Mamat bisa ditemukan sebelum pertarungan antara sang pemuda dan Edi Best berakhir.
---
“Jadi, tiga orang yang kumaksud itu akan bertugas untuk mengorek keterangan salah satu dari anak buah Edi Best tanpa diketahui oleh yang lainnya. Sementara, aku sendiri akan mengulur waktu pada saat menghadapi orang itu.” Demikian jelas Wawang.
“Caranya?” tanya orang itu kembali.
“Bersembunyi sebelum rombongan mereka datang. Aku sudah koordinasikan dengan pihak tuan rumah, agar mereka yang bertugas diijinkan untuk keluar dari pintu gerbang bila diperlukan.”
“Karena kamu memperkirakan Om Opik ada di luar?”
“Menurut dugaan kami, pasti akan ada paling tidak satu kendaraan yang menunggu di luar sana. Dan aku rasa, kendaraan itulah yang dipakai untuk menyembunyikan Om Opik dan Mamat.”
“Ah, benar juga katamu. Baiklah, aku bersedia jadi orang yang bertugas untuk itu. Siapa yang akan menemaniku?” tanya Sobir setelah ia menyediakan dirinya.
“Aku ikut,” jawab seorang lain yang tampak percaya diri.
“Aku bergabung.” Seorang lagi mengikuti.
“Kalian tahu resiko dari tugas itu?” tanya Wawang kepada tiga orang yang sudah bersedia menjadi relawan.
“Paling banter juga adu keras pukulan.”
“Yups, bisa saja seperti itu. Tapi jika memungkinkan, hindari perkelahian di tempat umum yang bisa menarik perhatian orang lain.”
“Akan kami usahakan.”
“Baiklah … terima kasih dan hati-hati. Tetua Ali Badri juga akan mengirimkan orang untuk membantu kita di luar sana.”
“Kapan kami berangkat?”
“Lebih baik secepatnya. Oh iya, Yayan … aku minta tolong kau menghubungi mereka bertiga bila ternyata mereka tak perlu lagi melakukan pencarian di luar sana.”
“Siap, Wang …”
“Maksudmu bagaimana?” tanya Sobir yang belum paham arah pembicaraan Wawang.
“Aku berharap, Edi Best akan bersikap cukup jantan dengan sekalian membawa Om Opik saat kedatangannya kesini. Sehingga, kalian bertiga tak perlu susah payah berkelahi diluaran sana.”
“Oh … semoga saja begitu …”
***
Nampaknya, Ali Badri sangat serius dalam menangani permasalahan yang diadukan oleh Wawang dan rekan-rekannya. Hal tersebut terbukti dengan semua persiapan sang tuan yang dilakukan pada saat itu juga.
Tanpa mengundang keributan, tempat usaha perjudian yang berada ditempat tersebut telah langsung saja ditutup. Karena tak lama setelah pembicaraan antara Wawang dengan sang Tetua, terlihat banyak orang meninggalkan tempat itu secara satu persatu dengan tanpa kegaduhan yang berarti.
Dengan demikian, secara otomatis tempat tersebut sudah steril dari orang luar yang tak memiliki kepentingan dalam perselisihan antara kelompok Sujiwo dan pihak Edi Best sebagai terduga pembuat masalah.
Sesaat setelah bubarnya para penjudi, tak berapa lama datanglah seorang anak buah Ali Badri yang menyampaikan sebuah pesan dari sang atasan. Orang tersebut mengabarkan jika Edi Best akan segera datang untuk memenuhi panggilan sang Tetua. Namun meski demikian, belum juga ada kesepakatan terkait penyerahan Opik dan seorang lainnya malam itu juga.
Dalam kesempatan itu, Wawang dan rekan-rekannya juga diminta untuk tetap tenang walaupun orang-orang yang mereka cari belum ditemukan titik terang keberadaannya. Sebab, pihak Ali Badri sendiri ternyata juga sudah mulai menyebar orang-orangnya untuk menyelidiki dimana disembunyikannya kedua orang tersebut.
Karena itulah, si pemuda belia disarankan untuk hanya fokus dalam mempersiapkan diri dalam menghadapi pertarungan nanti. Dan dengan nada tegas serta pasti, anak buah tersebut mengatakan bahwa sang Tetua telah berjanji untuk sepenuhnya mengupayakan ditemukannya Opik dan Mamat dengan selamat tak kurang suatu apapun.
---
Tak sampai tiga puluh menit, terlihat tiga buah kendaraan roda empat memasuki halaman rumah Ali Badri yang memang sangat luas itu. Lalu sesaat kemudian, bermunculan belasan orang dengan wajah-wajah siaga penuh ketegangan serta rasa permusuhan.
Dari sisi sebelah timur dalam naungan gazebo tepian kolam, Wawang dan lima orang rekannya langsung berdiri agar bisa melihat dengan lebih jelas kedatangan tamu yang mereka duga sebagai kelompok Edi Best. Hanya saja, nampaknya mereka memang belum berniat untuk mendekat.
Seraya tetap tenang sambil memberikan beberapa petunjuk pada rekan-rekannya, si pemuda belia seperti tak merasa gentar sedikitpun dengan masuknya orang-orang yang nantinya bakal ia hadapi dalam sebuah pertarungan hidup dan mati.
Mereka melihat bagaimana rombongan tersebut langsung saja berjalan menuju ke teras rumah dimana Ali Badri sudah nampak berdiri untuk menyambutnya. Berada paling depan dengan diiringi semua anggota gerombolan, seseorang yang bertubuh tinggi besar memimpin dengan langkah pasti untuk menghampiri sang tetua.
Beberapa meter dari bibir teras, lelaki perkasa yang baru saja tiba itu berhenti, lalu mengucapkan salam dengan suara lantang yang melukiskan kepercayaan diri tinggi.
“Selamat malam, Tetua … aku memenuhi panggilanmu. Mana orang yang sudah berani menantang dan akan menghadapiku?” tanpa basa-basi sama sekali, laki-laki berusia empatpuluhan tahun itu langsung saja berkata-kata dengan pongahnya.
“Hmm … Edi, kau masih saja tak pernah bisa sabar dan mengenal adat. Mengenai orang yang kau maksud, itu adalah urusan kedua. Yang akan kutanyakan, dimana keberadaan Opik yang kukenal sebagai anak buah Sujiwo?”
“Untuk itu, aku belum bisa mengatakan. Karena bagiku, yang terpenting adalah menghajar orang yang sudah berani kurang ajar karena tak bisa melihat tingginya gunung di depan mata.” Jumawa dan berangasan, begitulah kata-kata yang keluar dari mulut lelaki yang ternyata bernama Edi Best itu.
“Kurasa, kamu telah bertindak kurang ksatria. Karena tantangan orang yang kau maksudkan itu, adalah dengan pertaruhan keselamatan Opik dan seorang temannya. Jika tak dihadirkan saat ini, bagaimana kau akan bisa melakukan pertaruhan dengan adil?” dengan nada menegur, Ali Badri mengingatkan kesepakatan mereka dalam pembicaraan telepon tadi.
“Itu tak penting. Karena kau pasti tahu, orang itu tak bakal bisa mengalahkan aku bila harus bertarung satu lawan satu.”
“Kamu takabur dan terlalu sombong. Selain itu, kau juga tak memandang muka dan namaku bila tak membawa serta Opik dan orang satunya lagi kehadapanku.”
“Maaf, Tetua … aku terpaksa harus menolak perintahmu. Lagipula, bukankah aku juga tak termasuk sebagai anak buahmu sebenarnya? Selama ini aku bekerja dengan caraku sendiri tanpa campur tangan dirimu. Dan setelah sekian lama, kau juga tak pernah mencampuri urusanku selain uang setoran yang harus diberikan setiap bulannya. Tapi, mengapa kali ini kau tiba-tiba saja memberikan perintah padaku yang bukan anak buahmu langsung?” dengan congkak, lelaki itu menentang sang Tetua secara terbuka dan terang-terangan.
“Oh, baiklah kalau begitu … jika demikian adanya kehendakmu, malam ini juga aku memutuskan untuk tidak lagi berhubungan dengan kelompokmu.” Tenang dan terkendali, lelaki tua yang terlihat bijak itu mengucapkan kata.
“Aku terima itu. Dan jangan lupa, putusnya hubungan antara kita akan berlaku juga bagi terhentinya setoran yang selama ini aku berikan.”
“Baik, aku terima itu. Dengan disaksikan oleh semua orang yang ada disini, malam ini aku menyatakan jika sudah tak memiliki kaitan apapun dengan kelompokmu.”
“Aku setuju. Dan mulai saat ini, aku akan memanggilmu dengan nama saja, tanpa embel-embel sebutan Tetua yang terdengar konyol.”
“Aku menerima.” Dengan rendah hati, Ali Badri menutup pembicaraan.
“Nah … sekarang, mana orang yang telah berani menantangku untuk berduel?” demikian tanya pria tinggi kekar yang terlihat sangat kokoh dan perkasa tersebut.
Ali Badri terdiam tanpa mau menjawab. Demikian pula dengan dua orang pengawal yang tetap berdiri mengapit lelaki berusia enampuluhan tahun tersebut. Sementara, para jawara kelompoknya juga hanya berdiri tak bergerak tak berbicara sedikitpun. Karena sesuai dengan perintah, para penjaga memang tidak diperbolehkan untuk mencampuri urusan Wawang dengan Edi Best.
---
“Aku yang menantangmu …” teriak sebuah suara kecil yang mirip dengan milik perempuan.
Seketika, puluhan kepala menoleh dan memandang ke arah asal suara tersebut. Lalu, mata mereka menangkap sebuah gerakan seseorang yang tengah berjalan keluar dari kegelapan naungan Gazebo di sudut halaman.
Si lelaki gagah perkasa, seketika langsung saja terkejut saat melihat potongan orang yang dengan percaya dirinya telah berteriak mengatakan bahwa dialah yang akan menghadapi sang jagoan. Dan setiba sosok tersebut dihadapannya, spontan saja lelaki itu mengeluarkan suara tertawa terbahak untuk menunjukkan betapa ia menjadi sangat geli dibuatnya.
“Ha ha ha … kamu … ahhh, aku memiliki saran untukmu. Selagi aku sedang merasa bahagia dan memiliki kemurahan hati … pulanglah, anak bau kencur!” dengan sinis, lelaki paruh baya itu langsung melecehkan kehadiran sesosok kurus dihadapannya.
“Hmmm … kau takut padaku?” lidah tajam si bocah remaja langsung saja membalas ejekan dari sang lawan yang menganggap enteng dirinya.
“Takuutt?? Ha ha ha … iya iya iya … aku takut kau akan menangis seperti anak perempuan. Pergilah menggelinding dari hadapanku … tapi sebelum itu, kau harus membersihkan telapak sepatuku dengan lidahmu terlebih dahulu terlebih dahulu … ha ha ha …” sombong dan takabur, begitulah sikap berangasan dari seorang Edi Best yang tak pernah sekalipun menghargai orang lain.
***