BAB 22 - Sebuah Kesepakatan

1774 Kata
“Tetua … teman kami yang bernama Mamat, adalah satu-satunya saksi yang tahu terkait dugaan kejahatan Edi Best saat  dengan sengaja membuat celaka Paman Sujiwo dengan dibuat seolah-olah sebagai perbuatan tabrak lari seseorang.” “Edi Best yang melakukannya?” “Orang tersebut bersaksi demikian. Karena terjerat hutang piutang, seorang mantan anak buah Paman Sujiwo telah dipaksa untuk menjadi seorang pengkhianat dalam kelompok kami.” “Benarkah  katamu itu?” “Jika Tetua menginginkan sebuah bukti, tentu saja hal itu tidak akan sulit didapatkan.” “Apa yang bisa kulakukan untuk mengetahui kebenaran tersebut?” “Panggil Edi Best kesini beserta Om Opik dan Mamat, lalu konfrontasikan dengannya.” “Hmmm … kalau dia tidak mau mengakui?” “Aku akan memaksanya untuk berkata dengan jujur dan ksatria.” “Dengan cara bagaimana kau akan memaksanya?” “Bertarung … ah, jangan salah paham Tetua. Bukan aku menyepelekan keahlian orang yang bernama Edi Best itu dalam soal berkelahi. Tapi tentu saja kau pasti tahu … periuk nasi kelompok Paman Sujiwo, adalah salah satu hal penting yang akan kuperjuangkan dengan habis-habisan. Terlebih lagi, keadilan bagi ayah asuhku adalah hal utama yang harus kulakukan agar beliau bisa tenang berada di dalam dunianya sekarang.” ---   Ali Badri terpekur menatap wajah belia yang ada di depannya. Jujur saja, ia masih menyangsikan kemampuan si orang muda jika harus berhadapan dengan Edi Best yang dikenalnya dengan baik. Karena meskipun ia sudah melihat dengan mata kepala sendiri kepandaian Wawang dalam bertarung, namun rasanya masih akan cukup berat bila harus menghadapi jagoan kawakan tersebut. Edi Best ditakuti bukan hanya karena keahliannya dalam hal ilmu bela diri. Namun justru  sifat sedemikian kejam yang ia miliki itulah, penyebab orang berpikir seribu kali untuk menentangnya. Dan meskipun beberapa kali masuk penjara karena melakukan kekerasan, pun hal itu tak juga membuat orang dimaksud menjadi jera. Beberapa alasan yang sangat dipahami oleh Ali Badri, tentu saja membuat dirinya tak tega untuk membiarkan si bocah belia harus berurusan dengan Edi Best. Terlebih lagi, laki-laki berangasan preman terminal bus itu juga sebenarnya bukanlah anak buah langsung seperti yang ia katakan pada Wawang tadi. Dalam arti, Edi Best hanyalah seseorang penguasa kecil di suatu kawasan yang pernah mengikrarkan diri untuk bergabung dalam naungan serta perlindungan sang Tetua. Di lain pihak, entah mengapa hati Ali Badri jadi begitu lembek saat berhadapan dengan pemuda remaja kurus yang terlihat apa adanya itu. Mungkin saja, pria kharismatik itu jadi jatuh simpati karena melihat adat si anak yang penuh hormat pada orang yang lebih tua. Dan meskipun tadi ia menemukan sedikit kebengalan dalam tutur kata dan tingkah lakunya, itupun dapat ia pahami sebagai sebatas ekspresi pelampiasan kekesalan Wawang yang merasa dihalangi saat ingin bertemu dengannya. Kemudian, hal lain yang juga membuat lelaki tua itu menjadi kagum, adalah gerakan-gerakan luwes si pemuda saat berhadapan dengan lawan-lawan  yang memiliki postur tubuh serta penampilan jauh lebih perkasa dibanding sang remaja itu sendiri. Karena tanpa sepengetahuan Wawang dan kawan-kawannya, ternyata Ali Badri sudah mengamati semua pergerakan semenjak awal kedatangan sang tamu tak diundang.  Melalui monitor pantauan CCTV yang terpajang dalam ruangannya, pria itu dengan seketika tahu kehadiran seorang bocah kerempeng yang dengan cerdiknya telah bisa membuat penjaga pintu gerbang kecolongan dan dipecundangi. Namun karena ingin sekaligus menguji kemampuan tenaga-tenaga keamanan di rumahnya, Ali Badri membiarkan anak buahnya menangani gangguan tersebut tanpa campur tangan sedikitpun darinya. Sebab, Ia juga ingin mengetahui sampai dimana kepandaian bela diri si bocah dan bagaimana pula tim keamanannya menangani pengacau tersebut. Hingga pada akhirnya, dengan mata kepala sendiri dilihatnya betapa belasan anak buahnya bisa dikalahkan dengan tanpa susah payah oleh si pemuda. Namun walaupun ia jadi tahu keahlian sang bocah dalam bela diri,  yang menumbuhkan simpati dalam dirinya pada Wawang bukanlah tentang hal itu. Ekspresi, tindak tanduk serta tutur kata si anak remaja yang selalu sopan dan terkendali … adalah satu hal yang seketika dapat memancing semacam rasa sayang dan kagum dari sang Tetua. Sebab baginya, Wawang adalah sebuah pribadi yang memiliki budi pekerti luhur serta tahu bagaimana harus membawa diri di hadapan para orang-orang kasar dalam dunianya. Dan karena semua hal itu juga; kini sang pelindung kehidupan dunia abu-abu wilayah kota tersebut, seakan jadi memiliki sebuah kewajiban untuk juga memberi perlindungan pada si bocah bau kencur yang gagah berani dalam memperjuangkan kepentingan rekan-rekannya. ---   “Anak muda, sekali lagi aku bertanya kepadamu … apakah kau benar-benar yakin berani menghadapi seorang yang bernama Edi Best itu?” “Tetua … keyakinan selalu ada padaku bila apa yang akan kulakukan adalah sesuatu tentang kebenaran.” “Edi Best itu bukanlah orang sembarangan. Pernahkah kau melihat atau mengetahui sepak terjangnya?” “Beberapa kali aku melihatnya mengamati pangkalan dari kejauhan. Namun dari apa yang pernah kudengar, dia adalah seorang ahli beladiri yang malang melintang memenangkan semua pertandingan.” “Hmm … dan yang kau tidak tahu, dia dibuang dari komunitas serta organisasi beladiri manapun akibat kelicikan dan sifat jahat yang dimilikinya. Ahli bertarung dan kelicikan yang digabungkan, adalah satu hal berbahaya bagi lawan yang masih mentah seperti dirimu.” Demikian Ali Badri mulai memberikan wejangan. “Aku akan berhati-hati, Tetua.” “Mampukah dirimu jika harus menghadapi semua tipu dayanya?” “Dengan sekuat tenaga dan pikiranku, semua akan diusahakan dengan sungguh-sungguh …” jawab Wawang dengan mantap. Sekian banyak pertanyaan yang terlontar, terdengar dijawab dengan tenang oleh si anak muda dengan segala kerendahan hatinya. Dan mengetahui betapa bulatnya tekad yang tersimpan disana, akhirnya sang Tetua harus mengalah dan mengabulkan permintaan anak remaja tersebut. “Aku melihat bila tekadmu sudah sedemikian kuat untuk menuntaskan semua masalahmu di tempat ini. Baiklah, kalau begitu aku akan mengabulkan permintaanmu. Tapi sebelumnya, aku memiliki satu hal yang akan kusampaikan padamu.” “Mengenai apakah, Tetua?” “Tentang satu rahasia kelemahan dari orang yang bernama Edi Best itu,” jawab Ali Badri dengan murah hati. Namun bukannya senang dan berterimakasih, Wawang malah menunjukkan sebuah sikap yang benar-benar diluar dugaan dari Tetua itu sendiri. Karena jawaban spontan yang keluar dari mulut si bocah, adalah sesuatu yang menunjukkan kebersihan serta kejujuran hatinya, “Mohon dimaafkan sebelumnya, Tetua … bukan berarti aku terlalu sombong atau jumawa jika tak mau menerima anugerah yang akan kau berikan. Tapi … semua ini kulakukan hanya demi terciptanya sebuah pertarungan yang fair dan apa adanya.” “Mengapa kau berkata seperti itu? apakah kau merasa sudah terlalu tinggi dan saktinya hingga tak memerlukan pertolongan dariku?” sedikit tersinggung, si orang tua bertanya dengan tajam. “Jangan salah paham. Semua ini kulakukan demi menjaga harkat dan martabat dari Tetua sendiri. Sebab jika aku menerima apa yang akan dikatakan padaku, bukankah itu berarti Tetua akan memihak padaku?” “Aku memang memihak padamu, karena Edi Best sudah kuanggap melanggar batas dan bersikap tak tahu adat.” “Meskipun demikian, sebaiknya Tetua harus berada dalam posisi sebagai pihak yang netral. Hal demikian, adalah untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan di kemudian hari. Karena tentunya, Edi Best bisa saja akan menyimpan dendam jika tahu akan hal tersebut. Dan disamping itu, sejujurnya aku juga tidak mau berhutang budi yang hanya akan membebani langkahku di masa depan nanti.” Dengan tegas, bocah belia itu menjelaskan pandangan dan prinsip layaknya manusia dewasa yang sudah memiliki banyak pengalaman. Dan mendengar apa yang disampaikan oleh Wawang, Ali Badri sendiri malah menjadi malu dan sekaligus mengakui kebenaran kata-kata dari si anak remaja kerempeng yang penuh dengan kebijaksanaan. Akhirnya, hal itupun malah semakin menambahkan poin baik dalam penilaian sang tetua terhadap si bocah. Dan karena merasa semakin kagum, Ali Badri pun menawarkan hal apa yang bisa dilakukan untuk membantu sepenuhnya kepentingan sang anak remaja. “Cukup hanya menjadi saksi yang netral, Tetua. Aku sudah bertekad untuk menantang Edi Best bertarung, demi kelangsungan hidup semua rekan dalam mencari nafkah dan juga kebebasan serta keselamatan Om Opik yang aku kenal sebagai orang baik. Lalu satu hal yang lebih penting, adalah agar aku bisa memperoleh kebenaran tentang meninggalnya Paman Sujiwo yang dinilai kurang wajar.” “Baiklah, aku bersedia menjadi saksi dan menjamin agar pertarunganmu adil.” “Dan bersediakah Tetua untuk menjamin agar semua urusan berakhir malam ini juga?” “Maksudmu?” “Jika aku kalah, aku bersedia menerima apapun konsekuensinya. Namun bila aku yang menang, aku ingin agar kau bersedia melindungi kelompok terminal bayangan dalam mencari nafkah dari segala macam gangguan apapun dan dari manapun?” “Aku bersedia berjanji untuk itu.” “Terima kasih, Tetua … dan aku juga berharap, malam ini semua akan selesai tanpa menimbulkan buntut yang panjang di kemudian hari. Karena aku yakin, kata-kata yang kau ucapkan  nanti akan dianggap sebagai aturan di dunia jalanan. Jika kau mengatakan  sudah selesai, maka semua akan dianggap telah berakhir.” “Untuk hal itu, aku akan menjamin penuh. Demi masa laluku dengan Sujiwo dan simpatiku padamu, semua harus berakhir malam ini. Namun ada satu saranku dariku yang tak bisa kau tolak. Karena aku tahu kelicikan Edi Best, kau harus menurut pada rencana yang akan kusampaikan padamu saat ini. Semua itu memang harus kita lakukan demi kelancaran tujuan kita dan keselamatan semua orang.” “Jika itu memang baik, aku akan menuruti semua petunjukmu.” ***  Wawang yang sudah bergabung dengan kawan-kawannya, kini mengambil tempat di sebuah sudut halaman yang berupa gazebo dengan sebuah kolam di sisinya. Disana, ia kembali menjelaskan rencananya pada para anak buah Opik yang nampak semakin kagum pada dirinya. Tentu saja semua akan merasakan demikian. Sebab pemuda kerempeng yang dulu ditemukan oleh Sujiwo untuk dipekerjakan di tempat mereka,  adalah seorang anak remaja yang tak pernah sekalipun mempertunjukkan kemampuan yang dimilikinya. Wawang, adalah seorang anak yang tentu saja langsung dianggap sebagai pupuk bawang di kawasan terminal bayangan. Karena, semua memang hanya menganggapnya pantas untuk itu. Dan bahkan, pemuda itupun tak pernah sedikitpun berkeberatan bila disuruh untuk melakukan ini dan itu oleh para senior yang telah lebih lama bekerja disana. Sikapnya yang selalu ceria dan tak pernah mengeluh sedikitpun jika diminta untuk membantu, adalah salah satu hal yang menjadikan semua orang menyukainya. Lalu terkait masalah penghasilan, bocah tersebut juga dengan senang hati dan penuh syukur akan menerima berapapun yang diberikan sebagai upah jerih payah. Kemudian yang lebih membuat para orang yang lebih tua disana jadi sangat menyayangi Wawang, adalah sikap dermawan yang sering mereka pergoki disaat lelaki muda itu memberikan bantuan pada siapapun yang membutuhkan. Misal saja dengan membelikan nasi bungkus untuk gelandangan, atau merelakan upahnya diambil oleh rekan yang tampak sedang membutuhkan uang. Dan kini … rasa kagum, simpati serta haru sekaligus malu hati telah bercampur menjadi satu di dalam hati masing-masing rekannya. Karena bahkan setelah si remaja belia berhasil  menghajar para jawara penjaga rumah Ali Badri dan diterima sebagai tamu kehormatan, pemuda itu masih saja bersikap tak berubah. Dia, masih saja tetap menjadi Wawang yang selalu menghormati dan menghargai para senior dengan kerendah-hatiannya. ***   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN