bc

CEO Arogan itu Mantan Kekasihku

book_age18+
1
IKUTI
1K
BACA
love-triangle
family
HE
second chance
friends to lovers
boss
heir/heiress
drama
tragedy
sweet
bxg
brilliant
city
office/work place
childhood crush
assistant
like
intro-logo
Uraian

Bertemu dengan mantan kekasih adalah hal yang paling canggung dan mengguncang emosi. Begitulah yang terjadi pada Allysa Yovanka saat menghadiri sebuah interview kerja di sebuah perusahaan besar, setelah dia resmi diterima oleh HRD dia dipersilahkan untuk bertemu langsung dengan CEO.

Duarr! bagaikan ledakan yang tak bisa dia hindari CEO itu rupanya mantan pacarnya saat di kampus, mantan yang paling berarti dan namanya masih dia simpan. Elgard Samudra berubah dia bukan lagi pria baik-baik yang dulu Allysa kenal, dia menjadi liar dan sering bermain wanita. Perlahan hati ke duanya diambang dilema, Diana Dealova gadis pilihan orang tua Elgard marah besar saat mengetahui Elgard berduaan di ruangannya bersama Sekertaris barunya Allysa. Lantas bagaimana kelanjutan kisah Allysa dan Elgard?

chap-preview
Pratinjau gratis
Elgard jelas berbeda
"Silakan masuk, ini ruangannya" jelas HRD yang baru saja menyeleksinya dan menerima Allysa di perusahaannya sebagai sekertaris CEO. Allysa berdiri diambang pintu beberapa saat dia mengumpulkan beberapa keberaniannya. "Baiklah, Allysa kamu bisa" tekannya memberi semangat. Tuk.. tuk.. Dia mengetuk pintu dengan percaya diri "Selamat pagi pak saya sekertaris baru anda" ucap Allysa namun tanpa jawaban apapun dari dalam. Allysa terus mencoba untuk merapikan diri sesempatnya, dia melihat sepatunya terlihat sedikit kotor lalu berjongkok dan mencoba membersihkannya tetapi tiba-tiba keseimbangan dirinya roboh. Dia terjatuh dan tak sengaja membuka pintu yang tak terkunci hingga masuk ke dalam. Dia sangat syok saat melihat hal yang tak seharusnya dia lihat, seorang pria yang duduk di kursi CEO itu terlihat memangku seorang wanita dan berciuman panas. Dia menghentikan aksi panas mereka saat itu juga. "Ma-maaf" lirih Allysa menunduk takut dan mematung. Wanita berpakaian minim dan seksi segera pergi dari ruangan CEO melewati Allysa dengan tatapan tajam yang mampu dia lihat dari sudut matanya, sementara pria itu terlihat acuh. "Anggap saja kau tak melihat apapun, masuk" dinginnya. "Ya pak" Allysa segera bangun lalu duduk di kursi depan mejanya, dia lalu menyodorkan berkas-berkas tentang dirinya dengan masih menunduk merasa takut dan malu. "Saya sekertaris baru anda, siap bekerja hari ini" semangat Allysa. Pelan Allysa membaca papan nama di mejanya "CEO Elgard Samudra? tunggu" lirihnya dalam hati. "Kau.. Allysa?" ucap pria itu lalu memegangi dagunya dan mengangkat wajahnya tanpa rasa ragu sedikitpun. Mata Allysa terbelalak saat melihat mantan pacarnya saat kuliah yang duduk di kursi CEO itu, dia terpaku beberapa detik dan tak bisa berkata-kata. "Allysa? kau sekertaris baruku?" tawanya dengan senyuman tipis seakan mengejeknya. Allysa membuang wajahnya dan lepas dari tangan Elgard. "Sial, diantara semua CEO di dunia ini kenapa harus bertemu dia lagi?" umpatnya dalam hati. Dia bangun dari bangkunya dan duduk di mejanya tepat di hadapan Allysa. "Bisa tolong rapikan dasiku? berantakan karena kejadian tadi" dinginnya. "Ya pak" jawab Allysa berdiri dan membenarkan dasinya dengan gugup namun dia sadar dia sangat membutuhkan pekerjaan ini. Meski tak bisa di pungkiri perasaannya pada Elgard jelas masih tersisa. Perlahan Elgard mendekat kearah wajahnya Allysa lalu membisikkan sesuatu "Pria membosankan itu sudah berubah Allysa, aku sudah menjadi pria liar karena kepergianmu. Tapi sekarang kau bekerja dibawah telunjukku, kontrak sudah ditanda tangani dan kau tak akan bisa pergi lagi dariku" bisiknya, Allysa hanya terdiam dan tak berkutik menahan emosi di dalam dirinya. "Astaga, kenapa ini bisa sangat kebetulan sekali?" tawa Elgard lagi. "Maaf untuk saat itu" lirih Allysa yang tak bisa memperjelas apapun lagi. Elgard merasa dipermainkan dan disepelekan olehnya, dia mendorong Allysa dan menyudutkannya ke dinding. Tatapan Elgard terlihat sangat penuh makna, luka, benci bertanya-tanya menjadi satu. "Kata maaf takkan mengubah apapun Allysa, kau mencampakkanku dan pergi begitu saja. Sekarang tatap aku" Allysa mencoba menatapnya dengan ragu "Maaf Elgard tapi perasaanku saat itu padamu sudah tidak ada, makanya aku mengakhiri semuanya" jelasnya dengan datar. "Tatapan yang masih sama, kamu berbohong Allysa" senyum tipis Elgard kecewa. Tangan Elgard mengusap bibir Allysa lembut, dia mencoba untuk memberontak tetapi sangat sulit karena tenaga Elgard begitu besar. Tatapan penuh makna Elgard menatapi bibir manis Allysa. "Boleh ku kecup?" tanya Elgard yang bertahun-tahun sudah sangat merindukan wanita yang sekarang berada di hadapannya. Wanita yang membuatnya menjadi pria liar dan melampiaskan kerinduannya pada setiap wanita. Allysa menggeleng cepat, meski tak bisa dia pungkiri degup jantungnya makin berpacu cepat. "Bohong, matamu jelas-jelas mengatakan bahwa kau menginginkannya Allysa" kesal Elgard yang semakin mendekat kearah bibirnya. Tatapan ke duanya memiliki arti yang begitu dalam menyimpan luka dan kenangan lama yang tak pernah berakhir dengan benar. Brak.. Pintu terbuka lebar membuar Allysa terkejut dan segera menjauh dari Elgard. Diambang pintu menunjukkan seorang wanita cantik berambut sependek bahu, dia berpakaian mahal style korea berbulu di pundaknya. "Astaga, sayang apa lagi ini? sekarang kau ingin menciumi sekertaris barumu?" ketus Diana mendekat kearah tunangannya lalu menggandeng tangannya. "Apa aku perlu perjelas lagi Elgard sayang, patuhi aku atau keluargamu akan bangkrut permanen" bisiknya dengan tatapan tajam. Elgard terdiam dengan tatapan dingin padanya, mereka terikat pertunangan yang dijodohkan ke dua orang tuanya. Meski begitu Diana yang terkenal sombong dan bengis itu memang sangat menyukai Elgard. "Kenapa kau masih disini? cari ruanganmu dan mulai bekerja" perintah Diana pada Allysa yang masih berdiri disana. "Baik bu" angguknya cepat lalu pergi dari sana. Mata Elgard tertuju pada Allysa yang berlalu pergi, senyum tipis tersembunyi di bibir manisnya. "Akhirnya aku menemukanmu lagi Allysa" ucapnya dalam hati. *** "Selamat pagi saya Allysa Yovanka sekertaris baru pak Elgard" sapa Allysa pada semua rekan kerja barunya yang duduk di mejanya masing-masing. Ternyata semua rekannya terlihat sangat ramah dan menampilkan senyuman merekah. "Ya selamat datang di tim ya Allysa semangat!" "Semangat kak Allysa, mari saya tunjukkan mejamu" ucap seorang pria yang berusia lebih muda darinya. Diantara semua rekan barunya yang terlihat ramah, seorang perempuan yang berpapasan dengan Allysa di ruang Elgard tadi menatapi Allysa tajam dan tidak suka. Allysa mengangguk dan mengikuti langkahnya "Baik pak" "Eh jangan panggil pak dong kak, usiaku masih muda darimu hehe panggil Kevin saja" senyumnya. "Oh ya Kevin" Setelah sampai di mejanya Allysa segera mengerjakan beberapa berkas Elrgard yang harus dikerjakan hari ini juga. Meski kejadian tadi terus mengusiknya, namun dia sangat tenang ketika ada Diana sebagai tunangannya dia harap Elgard tidak kembali mengganggunya. Beberapa menit berlalu Diana dan 2 body guardnya pergi dari ruangan Elgard dan menatapi Allysa sebagai tatapan peringatan. "Haduh, ruangan ini berasa dingin dan mencekam banget ya kalau ada tunangannya pak Elgard" bisik-bisik dari meja sana. "Ya, masih beruntung kita barusan gak di maki. Biasanya kan dia tiba-tiba marah gak jelas" Allysa memelotot takut mendengar semua pernyataan mereka dia menelan ludahnya bulat-bulat. "Auranya emang beda" gerutunya pelan. "Kak Allysa, di panggil tuh sama pak Elgard" seru Kevin datang ke meja Allysa. "Oh baik" Sampai di ruangan Elgard suasana menjadi sangat berbeda, Elgard terlihat diam dan hanya duduk di kursinya. Allysa pun datang lalu duduk di kursi. "Ada apa memanggil saya pak?" tanya Allysa dengan tatapan serius. Elgard menatapnya dengan sendu, banyak sekali makna di dalamnya. "Allysa, tetaplah disini" lirihnya. Dia lalu meraih tangan Allysa dan membuka telapak tangannya, Elgard lalu menidurkan wajah tampannya disana. Sebuah kebiasaan yang sedari dulu selalu Elgard lakukan bersama Allysa. "Ada apa ini? kenapa degup jantungku berpacu cepat, aku sudah janji tidak ingin jatuh hati lagi padanya apalagi sekarang dia adalah atasanku" lirih Allysa dalam hati. Merasakan deru nafas lembut Elgard membuat Allysa mengkhawatirkannya. "Ada apa pak Elgard? apa yang terjadi?" tanya Allysa pelan. Namun tak ada jawaban apapun dari Elgard, sepertinya dia tertidur. Bodohnya Allysa dia malah ikutan tertidur di meja Elgard. Saat membuka matanya Allysa terkejut saat dia sudah berada di pangkuan Elgard yang memeluknya hangat dengan di selimuti jas nya.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
748.5K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.8M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
981.5K
bc

A Warrior's Second Chance

read
361.2K
bc

Not just, the Beta

read
348.9K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook