Suara geraman yang saling bersahutan dengan suara tebasan pedang seolah menjadi musik latar utama dalam aksi pertarungan Aident dan Yosh melawan lima ekor serigala buas nan lapar. Kedua Mottarian itu bergerak lincah ke sana kemari menghindari setiap serangan terkaman atau cakaran para serigala. Lantas gantian melancarkan serangan balasan yang tidak main-main. Ayunan pedang mereka hampir tidak pernah meleset memberi tusukkan atau setidaknya goresan pada tubuh para serigala yang mereka incar sebagai target pelampiasan emosi. Beberapa waktu berlalu, keadaan para serigala sudah lecet-lecet di mana-mana. Pandangan mereka juga sayu dan serangan mereka melemah. Jujur melihat itu Aident jadi merasa iba pada binatang-binatang hutan tak bersalah ini. Mereka menyerang bukan semata-mata karena mendap

