Bab 4 - 7 Dunia

2031 Kata
Mentari bersinar dengan teriknya. Semilir angin berhembus kencang di tengah padang bunga warna-warni nan cantik. Kisha tidak tahu dimana ia berada saat ini. Tapi bukan itu yang terpenting. Lihatlah! Kini gadis itu seperti semut kecil yang berada di tengah lautan bunga. Rerumputan disini pun sangat hijau seperti yang biasa di lihatnya di sebuah film dongeng anak. Dan yang membuatnya lebih senang, ia berada di tempat seindah ini bersama dengan Aident. Ini benar-benar sempurna. Entah karena terlalu sempurna atau apa, Kisha mulai merebahkan tubuhnya di atas gundukan kecil yang beralaskan rumput hijau nan halus. Ia tidak peduli dengan teriknya matahari yang berada persis di atasnya. Hembusan oksigen dari rerumputan hijau ini sudah cukup untuk menyejukkan tubuhnya. Kisha memejamkan mata. Merasakan semilir angin yang membawa aroma harum bunga ke hidungnya. Dipadu dengan rasa hangat dari sang mentari yang menyelimuti wajahnya. Sudut bibirnya mulai melengkung menampakkan deretan giginya yang berjejer rapih. Ia benar-benar merasa dimanjakan di tempat ini. Tidak hanya matanya, tapi juga indera perasa di kulitnya, penciuman di hidungnya, bahkan hatinya pun ikut merasakan sensasinya. "Kau menyukainya?" tanya Aident yang tahu-tahu sudah berbaring disampingnya. Kisha membuka matanya dan menoleh pada Aident. Ia tersenyum lebar. "Kau menculikku kemana, Aident? Tempat apa ini?" "Oh, jadi kau pikir aku menculikmu, ya?" jawab Aident manyun. Tentu saja hanya berpura-pura. "Jika ini memang sebuah penculikan, pasti ini penculikan yang membuat sanderanya betah 'kan?" "Oh, ya? Tahu dari mana?" "Kau tidak bisa berhenti tersenyum sedari tadi." Kisha tertawa kecil. Ia akui ucapan Aident memang tepat sasaran. Ia sangat bahagia di tempat ini. Apa lagi bersama Aident. Kalau diingat-ingat, pertemuan pertama mereka kala itu sangat berbeda jauh dengan situasi saat ini. Dulu, Kisha begitu membenci Aident sampai ingin membunuhnya. Tapi sekarang, yang terjadi malah kebalikannya. Ia sangat mencintai Aident. Apa lagi kalau pria itu bersikap manis seperti sekarang ini. Rasanya, Kisha tidak mau jauh-jauh darinya. "Kau sudah siap?" tanyanya. Kisha mengerut bingung. Ia menghadapkan tubuhnya ke arah Aident. "Siap untuk apa?" "Pelajaran selanjutnya. Apa kau lupa?" Kisha segera bangkit dari duduknya. Wajahnya menekuk sebal. "Jadi kau mengajakku ke tempat ini untuk belajar?!" dumalnya. "Kenapa harus repot-repot ke tempat seperti ini?" Aident ikut mendudukkan tubuhnya. Kedua telapak tangannya meraih wajah Kisha dan membelainya lembut. "Aku hanya ingin kau belajar sambil berkencan denganku. Kau tidak suka, ya?" Wajah Kisha seketika bersemu merah. Ia tertunduk malu. Ia mengakui kalau ucapan Aident itu benar-benar melelehkannya. Tentu saja dia menyukainya. Sangat-sangat menyukainya. Tapi dasar Kisha, gadis itu memang tidak pernah bisa mengakui hal seperti itu. "Sikapmu yang sekarang berbeda jauh sekali dengan yang dulu," celetuknya agak gugup. Sebenarnya itu reaksi yang aneh. Tapi karena Aident sudah terbiasa, jadi itu tidak aneh lagi baginya. Aident tertawa kecil, lalu berkata, "Bilang saja aku lebih manis. Ya, 'kan?" "Tidak!" tukas Kisha cepat. "Aku tidak bilang begitu!" "Ya, terserah kau saja," jawab Aident santai. Percuma saja, menghadapi gadis keras kepala dan bergengsi tinggi sepertinya tidak akan ada habisnya jika saling mengelak. Lebih baik Aident mengalah saja. Toh dia sebenarnya sudah tahu kalau Kisha memang sangat mencintainya. "Sekarang, mari kita mulai pelajaran berikutnya. Kali ini mungkin kau akan terkejut. Aku belum menceritakan ini padamu," sambungnya. Kisha memicingkan matanya waspada. "Tentang apa?" Aident menatap Kisha dalam. Ia lalu menjawab, "Ini tentang lima dunia lain yang harus kau pelajari dari seluruh totalnya yang berjumlah tujuh." "Tujuh?!" Pekiknya tak percaya. "Ada dunia lain selain dunia manusia saja aku sudah syok! Dan sekarang kau bilang kalau ada tujuh dunia di planet kita ini?! Apa kau bercanda?!" Aident menggeleng tegas. "Tidak!" katanya. Aident mengeluarkan sebuah buku dari tas kecil yang di bawanya sedari tadi. Buku itu bersampul silver dengan kerlap-kerlip yang cantik. Tidak ada judul di buku itu. Hanya sampul polos yang cukup tebal. "Semuanya ada disini," katanya lagi. "Kau mau membaca sendiri atau kubacakan?" Kisha menatap jijik tumpukan halaman di buku itu. "Membaca buku setebal itu? Tidak, terima kasih," ucapnya sambil menggelengkan kepala. "Aku lebih suka di bacakan dongeng." Aident tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya. Ia memulai, "Aku akan jelaskan secara singkat saja. Jadi...," Aident berhenti sejenak. Ia menyerahkan buku itu ke pangkuan Kisha. Gadis itu mengerut bingung. "Mengapa kau beri padaku? Kubilang 'kan aku tidak mau membacanya." "Kau memintaku untuk mendongengimu 'kan? Aku sudah hafal di luar kepala mengenai tujuh dunia. Tapi kau tetap perlu membaca buku ini untuk informasi yang lebih mendetil. Terserah kapan kau akan membacanya. Santai saja." Kisha memutar bola matanya sambil memajukan bibirnya. Ia menerima buku itu dengan malas. "Baiklah." Aident menatap ekspresi gadis itu sesaat. Bibirnya terbuka lebar menampakkan deretan giginya yang tersusun rapih. Ya, melihat ekspresi Kisha yang seperti itu, siapa yang tidak terhibur? Aident pun segera mengerjapkan mata dan mulai serius. "Dengar baik-baik, oke?" Kisha mengangguk dan memasang posisi duduk berpangku tangan. Ia menatap Aident serius. "Dunia pertama adalah Istania, dunia tempat para Dewa-Dewi tinggal. Tidak ada yang bisa datang kesana jika tidak di undang. Begitupun mereka sendiri, mereka tidak bisa keluar dari dunianya karena sudah menjadi tugas mereka untuk mengawasi keseimbangan setiap dunia lain." Kisha manggut-manggut menanggapi. "Dunia kedua, Ordogia. Tempat tinggal para Iblis. Sama seperti penduduk Istania, tidak ada portal menuju kesana kecuali jika kau memang di undang. Intinya, Istania dan Ordogia berada di tingkat atas, tidak bisa dijangkau oleh sembarang orang. Mereka pun memiliki tugas paling berat dibandingkan dengan dunia yang lain." "Selanjutnya?" tanya Kisha tidak sabar. "Selanjutnya, tidak ada yang tahu pasti namanya apa, tapi kita semua menyebutnya dengan nama planet ini sendiri. Yaitu Bumi, tempat tinggal para manusia. Mungkin karena para manusia yang mendominasi planet ini, jadi nama Bumi menjadi hak milik dunia manusia. Di tambah lagi, hanya mereka yang tidak tahu dan tidak mempelajari enam dunia lain. Dahulu, beberapa orang memutuskan untuk mengasingkan diri dari enam dunia lainnya karena ingin fokus pada dunianya sendiri. Lalu seiring berjalannya waktu, mereka mulai melupakan dan tidak memercayai keberadaan dunia lainnya. Selebihnya, kau sudah tahu ini, jadi tidak perlu di jelaskan lagi." "Lalu dunia keempat, dunia yang kita pijak saat ini. Mottania, tempat tinggal para makhluk yang masih terbilang primitif karena masih menggunakan senjata dalam berperang, bukannya sihir. Ada sedikit sihir di Mottania yang berasal dari alam, tapi tidak banyak. Bumi dan Mottania ini adalah dunia tengah sehingga kita dapat menemukan tiga portal menuju tiga dunia lain selain Istania dan Ordogia. Setiap portalnya bisa berupa apapun dan bisa berubah kapanpun. Tidak ada yang tahu kecuali para Penyihir." "Karena kita berada di dunia tengah, tidak banyak sihir yang bisa kita buat. Apalagi Bumi. Bumi letaknya ada dibawah Istania dan Ordogia, dunia paling kuat di antara yang lain. Semua sihir dari alam terserap ke dunia atas itu. Sementara Mottania, kita berada di dekat dunia kelima dan keenam yang mengolah sihir, memproduksi sihir dari alam hingga melimpah. Karena itu kita kebagian sedikit sihirnya. Contohnya seperti busurmu dan pedang es legenda." Aident berhenti sejenak untuk meneguk salivanya yang sepertinya sudah mulai mengering karena teriknya matahari. Ia lalu melanjutkan. "Lalu dunia kelima, Elementa. Dari namanya saja kau pasti sudah menebak 'kan? Ya, di sana tempat tinggal para makhluk seperti kita, ada Peri dan Elves juga di sana. Bedanya, mereka bisa mengendalikan elemen dari alam. Itu yang kumaksud dengan mengolah dan memproduksi sihir. Mereka tidak hanya mengambil dan menyerap sihir dari alam tapi juga mengembangkannya hingga melimpah." "Dunia keenam?" tanya Kisha antusias. Ia mulai tertarik dengan topik aneh ini. "Dunia keenam, Magissa, tempat tinggal para penyihir. Mereka hampir setara dengan Istania dan Ordogia. Mereka penyeimbang dunia bawah. Mereka bisa pergi ke tiga dunia lain tanpa melalui portal. Di antara tujuh dunia, hanya mereka yang tahu persis di mana portalnya dan apa bentuknya. Kau juga harus tahu, para Unicorn adalah makhluk ciptaan mereka untuk menjaga portal di Bumi dan Mottania. Tapi karena penduduk Bumi sudah mandiri, seluruh Unicorn dipindahkan ke Mottania. Sayangnya, seluruhnya sudah mati dibantai Lord Glacio." Kisha tertunduk. Ingatannya kembali melayang ke beberapa bulan lalu. Mengingat sosok wanita berkarisma yang cantik berambut pirang keemasan. Ya, Yuni. Mungkin jika dia masih hidup, semua akan berjalan lebih mudah dari yang sekarang terjadi. Tidak sadar, Kisha menitikkan air mata. Aident menatapnya dalam. Ia meraih dagu gadis itu dan menegakkannya sehingga wajahnya terpampang jelas di hadapannya. Aident memajukan bibirnya ke arah wajah Kisha. Ia mencium kening gadis itu dengan penuh kasih sayang lalu memeluknya hangat. "Maaf, jika ucapanku membuatmu teringat padanya. Kau jangan menangis, ya. Dia pasti bahagia melihat dirimu saat ini yang sudah hampir layak menjadi bagian dari Mottania." Kisha terkesiap. Seketika wajah masamnya muncul kembali. Ia melepaskan diri dari Aident. "Apa maksudmu hampir layak? Kau menghinaku, ya?!" Aident menyengir lebar. Ia lalu mengacak rambut Kisha dengan brutal dan membuat gadis itu semakin marah. "Hentikan, Aident!" serunya. "Dasar tidak punya hati! Bukannya menghibur malah kau hina aku!" Aident berhenti. Tawanya seketika pecah ketika melihat keadaan Kisha yang tampak seperti singa yang habis di terjang badai. Kisha merengut sebal sambil merapihkan rambutnya dengan jemarinya. "Dasar jahat!" Aident menatap Kisha lamat-lamat. "Aku lebih suka melihatmu marah ketimbang menangis. Jangan menangis lagi, ya?" Kisha tertegun. Pipinya bersemu seketika. Ia menunduk malu. Dasar Aident, dia selalu punya cara untuk membuatku kembali senang. Batinnya. "Eh...," gumamnya salah tingkah. Kisha berpikir keras untuk segera mengganti topik. Lalu ia teringat pada dunia ketujuh yang belum dijelaskan Aident. "...su-sudah jangan bahas yang tidak penting. Lanjutkan pelajarannya. Bagaimana dengan dunia ketujuh?" Mata Aident menatap sembarang, berpikir keras. "Dunia ketujuh sebenarnya tidak ada." "Apa maksudnya?" tanya Kisha bingung. "Katamu semuanya berjumlah tujuh." "Memang, tapi tidak ada yang tahu itu dunia semacam apa. Tidak ada yang menamainya. Portalnya hanya bisa diakses dari Magissa. Dan tidak bisa berubah-ubah. Bentuknya seperti pintu di pinggir tebing. Kabarnya, pernah ada penyihir yang dikirim kesana untuk menggali informasi mengenai dunia ketujuh. Tapi sampai saat ini dia tidak pernah kembali." Aident berhenti sejenak untuk menarik napas. "Beberapa penyihir terus dikirim kesana," lanjutnya. "Namun tetap tidak ada yang kembali. Bahkan termasuk kekasih dari adik penyihir putih, pemimpin tertinggi Magissa. Dia dikirim kesana dan tidak pernah kembali. Adik dari penyihir putih marah dan memutuskan untuk memerdekakan diri sendiri. Ia membentuk komplotan penyihir hitam yang terdiri dari anggota keluarga para penyihir yang dikirim ke portal itu. Sampai saat ini mereka terus menjaga portal. Tidak membiarkan siapa pun melewatinya." "Ah... menyeramkan sekali jika kita terjebak di sana," tukas Kisha. "Tentu saja menyeramkan. Hanya ada jalan masuk tapi tidak ada jalan keluar. Tempat itu pasti sangat cocok untuk tahanan yang sangat berbahaya." Kisha tidak menjawab. Ia malah sibuk berpikir mengenai penyihir hitam yang sepertinya jika dipikir dari sudut pandang mereka, kasihan sekali. Mereka juga bisa dibilang baik karena melarang orang-orang pergi kesana. "Jadi intinya," kata Kisha, "tiga portal yang bisa dimasuki dari Bumi dan Mottania yaitu portal menuju Elementa dan Magissa. Satunya lagi adalah Bumi atau Mottania sendiri tergantung kita berada dimana." Aident mengangguk. "Tepat sekali!" Suasana menjadi hening setelah itu. Aident sudah menjelaskan seluruhnya secara singkat. Ia membiarkan Kisha termenung sibuk dengan pemikirannya sendiri. Mungkin gadis itu sedang mencerna informasi yang baru saja didapatinya. Menurut Aident, sebenarnya jika diperhatikan, Kisha ini gadis yang cukup cerdas. Dari pembelajarannya sejauh ini, Aident bisa menangkap kalau ia tidak terlalu sulit mengajarinya. Hanya sekali atau dua kali penjabaran teori, Kisha sudah memahaminya dengan akurat. Tapi herannya, mengapa para pelayan di Kastil Elves selalu mengeluh tentangnya? Ah, pasti karena gadis itu selalu memarahi mereka. Dasar barbar! Aident tertawa pelan. Kisha menoleh bingung. "Kau kerasukan, ya?" tanya Kisha asal. Aident kembali tertawa. "Tidak ada kasus kerasukan sepanjang sejarah Mottania. Dasar makhluk Bumi!" "Kau juga makhluk Bumi, tuh!" tukas Kisha tidak mau kalah. Aident hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum lebar. Jika dia terus menanggapi Kisha, ia bersumpah sampai esok hari pun tidak akan ada habisnya berdebat dengan gadis keras kepala sepertinya. "Aident," panggil Kisha. "Hmm?" sahut Aident menoleh. "Menurutmu dimana Lord Glacio saat ini?" tanya Kisha tiba-tiba. Mendengar nama itu disebut, senyum Aident luntur seketika. Ia bertanya heran. "Mengapa tiba-tiba menanyakan dia?" Kisha menggeleng pelan. Ekspresinya terlihat datar saat ini. "Tidak apa. Aku hanya berpikir, apa kita akan menghadapinya lagi nanti?" "Kau takut?" "Em, sedikit," jawab Kisha ragu. Sebenarnya dia agak malu dan gengsi mengatakan itu. Aident menatapnya dalam dan membelai rambut Kisha lembut. "Tidak apa, jika hari itu datang, aku pasti akan berada di sampingmu untuk melindungimu." Kisha menatap Aident senang. "Kau janji?" "Janji!" jawab Aident sangat yakin. Mereka pun tertawa lebar. Saling bersandar satu sama lain sambil menikmati pemandangan menakjubkan yang terbentang di hadapan mereka. •••
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN