Dua minggu sudah berlalu. Hampir semua materi mengenai segala hal tentang Mottania sudah Kisha kuasai. Bahkan termasuk kelas keputrian. Kisha setidaknya sudah mengerti tata cara beradab terhadap sesama bangsawan. Ya, walaupun sebenarnya ia agak jijik ketika mempraktikannya secara langsung.
Dari kecil, Kisha terbiasa berlarian di tengah hutan, mengendap-endap untuk mencuri apapun yang dibutuhkannya. Namun, sekarang ia dipaksa berjalan tegak lurus nan anggun sambil memegang kipas tangan yang diarahkan di bawah dagu sebelah kananya. Dari kecil, Kisha sudah terbiasa mengenakan baju asal bahkan cenderung berantakan yang penting itu bisa menutupi tubuhnya. Namun sekarang ia dipaksa memakai gaun panjang hingga menutupi kaki, rambutnya harus dicepol hanya menyisakan anak rambutnya yang terurai di telinga kanan dan kiri, dan juga wajib mengenakan sedikit riasan.
Sebenarnya semua itu sangat menyebalkan. Mangkanya ia selalu memarahi setiap pelayan atau dayang-dayang yang mendandaninya. Mereka bahkan hampir selalu menyerah pada Ratu Roana dan meminta untuk berhenti mengajari Kisha. Ratu Roana sendiri sudah berkali-kali mengganti dayang-dayang terbaik yang bisa membimbing Kisha dalam kelas keputriannya. Tapi ujungnya, Kisha selalu saja membuat mereka tidak betah.
Untungnya, ada Aident yang pada akhirnya menjadi guru dari semua hal yang harus dipelajarinya bahkan termasuk mengenai keanggunan. Dan itu berhasil. Kisha tidak lagi memberontak, walaupun masih sering mengomel dan mengeluh. Tapi, hei, bukan Kisha namanya kalau tidak begitu 'kan?
Dan berkat pria itu, Kisha sudah sangat berkembang saat ini. Ia tahu bagaimana bersikap yang baik kepada orang-orang. Ia juga sudah jarang memaki orang-orang yang menyentuhnya. Ini suatu perkembangan bagus dari seorang Kisha.
Selain pendidikan keputrian, ada juga mengenai persenjataan. Kalau di bidang ini, jangan tanya gadis itu menyukainya atau tidak, tentu saja ya. Ia paling semangat kalau jadwalnya tiba untuk berlatih senjata. Kisha merasa kalau yang seperti itu tidak terlalu menekannya karena disitulah bidang yang dikuasainya, bidang yang membuatnya menggebu-gebu bersemangat kalau sedang melakukannya. Kisha merasa itulah jati dirinya yang sebenarnya. Bukan tuan puteri anggun yang mengenakan gaun dan memegang kipas tangan.
Panglima perang kaum Elves yang mengajarinya langsung. Ia tidak hanya mengajari busur, tetapi semua senjata. Beliau sangat bangga terhadap Kisha. Sama seperti Aident, gadis itu memang sangat mahir memegang senjata. Namun, tentu saja senjata utama yang paling mereka kuasai berbeda. Jika Aident pemegang pedang yang tidak terkalahkan, maka Kisha adalah pemanah hebat seperti ayahnya, Lord Sinara.
Sayangnya, hari ini adalah hari dimana sang panglima perang berpamitan untuk berhenti mengajari Kisha. Bukannya apa, tentu saja sudah tidak ada lagi materi yang harus diajarkannya. Semua sudah Kisha kuasai. Kisha senang karena hal itu. Namun juga sedih karena sudah tidak ada lagi waktu-waktu seperti ini yang akan ia tunggu besok.
Ya ... tidak apa, sih. Kisha masih bisa bertemu dengannya kapan pun. Toh beliau tidak akan jauh-jauh dari kastil Elves. Ia juga masih bisa berlatih sendiri atau dengan Aident jika ia mau.
Kisha sangat bersyukur saat ini. Ia telah tumbuh menjadi gadis Mottania sejati. Ia sudah tahu semua sejarah, tradisi, apapun itu yang menyangkut Mottania. Artinya, Aident tidak akan bisa lagi menyebutnya tidak layak menjadi salah satu warga Mottania.
Tapi, sebenarnya ada satu hal yang belum Kisha kuasai betul. Ya, tentu saja daerah-daerah disini. Mottania begitu luas, sama seperti Bumi. Banyak kota-kota lainnya sama seperti di Bumi yang banyak sekali pulau-pulau besar dan banyak juga negara di setiap pulaunya. Hanya saja, yang Kisha tahu, disini pemukimannya tidak terlalu padat dan lingkungannya pun masih banyak sekali pegunungan, lautan juga padang rumput ataupun padang bunga. Kisha sama sekali buta akan semua hal itu.
Sebenarnya tidak masalah juga, sih. Toh jika ia pergi pun akan ada Aident yang membimbingnya di perjalanan. Jadi ia tidak perlu mempermasalahkan hal itu.
Dari pada terus-terusan memikirkannya, lebih baik ia menikmati saja dulu semua yang ada disini saat ini selagi masih ada waktu bebas. Seperti sekarang misalnya. Barusan, saat Kisha dan Aident tengah asyik berjalan-jalan di istana kristal, tiba-tiba saja Lord Giordani memanggil mereka untuk pergi ke ruangan pribadinya.
Dan tahu tidak apa yang membuat momen ini menjadi sangat berharga bagi Kisha dan terutama Aident? Dengarkan baik-baik. Daripada pedang es legenda, Aident sangat, sangat mendambakan pedang milik Lord Giordani. Kenapa? Aident juga tidak tahu alasannya. Kalau sakti, tentu saja pedang es legenda tidak ada yang menandingi. Hanya saja, pedang itu terlihat sangat keren dimata Aident.
Dan entah karena apa, Lord Giordani mendadak mewariskan pedangnya kepada Aident. Tentu saja pria itu sangat senang, bahkan tidak sanggup berkata-kata. Kisha pun turut senang melihat kekasihnya yang mendapatkan pedang impiannya itu.
"Mengapa ... mengapa kau memberikan ini padaku, Ayah?" tanyanya tidak percaya.
Lord Giordani tersenyum. "Kukira kau sangat menginginkan ini. Jadi, aku menitipkannya padamu. Pedang ini akan jauh lebih berguna jika ada di tanganmu, anakku. Aku yakin itu."
"Memangnya, apa spesialnya pedang itu?" celetuk Kisha.
Aident langsung memelototinya karena tidak sopan kepada Raja tertinggi di Mottania. Namun Lord Giordani malah tertawa kecil.
"Apa istimewanya?" ujarnya. "Aku juga tidak tahu. Menurutmu, jika pedang itu dapat membunuh makhluk apapun hanya dalam sekali tebas, apa itu termasuk kemampuan yang spesial?"
Kisha menganga dengan takjub. Lalu sesaat kemudian tertunduk malu. Ia mengutuk dirinya dalam hati mengapa kebiasaan lamanya masih sering muncul secara spontan.
Melihat ekspresi Kisha yang seperti itu, dua orang di depannya menertawainya. Dan Kisha langsung cemberut karena lagi-lagi ia merasa jadi bahan ejekan.
"Masih belum hilang juga ternyata," celetuk Lord Giordani yang langsung membuat Kisha mendelik. "Sekilas aku berpikir kalau kau sudah mulai anggun, Nak. Tapi ternyata aku salah, ya."
Kisha semakin cemberut. Ia berusaha menahannya tapi tidak bisa. Rasanya menyebalkan mendengar ayah dari kekasihnya itu terus-terusan mengejeknya.
"Kau salah, Ayah," sambung Aident ikut mengejek. "Kisha itu tidak pernah anggun. Kalau dia terlihat begitu, kurasa itu bukan dia. Mungkin penyihir yang sedang menyerupainya."
Lord Giordani tertawa lepas. Begitu juga Aident.
"Hei, tidak ada penyihir yang bisa meniruku, tahu!" celetuk Kisha jengkel. "Aku ini hanya satu. Tidak bisa ditiru-tiru. Mereka akan menyesal jika berani meniruku!"
"Oh, ya? Memangnya kau akan melakukan apa? Memanahnya dengan busurmu? Bahkan sebelum itu terjadi mereka sudah melenyapkannya lebih dulu, tahu."
"Aku akan ... eh," jawab Kisha bingung. Ia berpikir keras untuk beberapa detik, lalu melanjutkan dengan semangat. "Aku akan melemparnya ke dunia ketujuh."
Aident lagi-lagi tertawa. Tapi tidak dengan Lord Giordani. Mendadak ia jadi teringat akan Lord Glacio yang masih bergentayangan entah di mana. Bisa jadi ia ada disekitar mereka saat ini, menguping pembicaraan. Ya, bisa jadi. Tidak ada yang tahu persis bagaimana rupanya. Hanya satu tanda yang sekiranya menandakan kehadirannya. Yaitu akan ada kabut asap yang dingin. Tidak tahu akan berwarna atau justru transparan.
"Eh, anak-anak," katanya kemudian. Raut wajahnya terlihat sangat serius. "Aku hanya ingin bertanya, jika kalian harus kembali menjelajah negeri ini apa kalian bersedia?"
Aident dan Kisha saling pandang, lalu mengangguk.
"Aku sangat menunggu saat itu tiba," kata Kisha. "Aku bosan disini terus. Belajar dan belajar saja."
"Aku juga akan sangat senang. Apa lagi jika pergi dengan gadis emosian ini."
Kisha langsung cemberut.
"Bukan itu maksudku," tukas Lord Giordani. "Maksudku bukannya jalan-jalan atau berkencan sambil menjelajah dunia."
"Lalu?" tanya Aident penasaran.
Lord Giordani menatap keduanya bergantian sebelum menjawab. Ia menarik napas dalam-dalam dan memantapkan hatinya yang sebenarnya tidak ikhlas jika harus mengatakan ini kepada mereka.
Ia pun berkata, "Bagaimana jika kalian harus kembali menjelajah negeri ini sambil mencari keberadaan Lord Glacio?"
Deg! Baik Kisha maupun Aident, keduanya sama-sama terkejut. Mereka hampir lupa kalau si pemilik kutukan es itu masih berkeliaran di sekitar. Kini, kepala mereka yang tadinya tenang-tenang saja, kini mulai kembali terisi dengan kilasan masa lalu yang mengerikan. Juga bayangan masa depan yang mulai mereka prediksi.
Pertanyaan Lord Giordani itu, sukses menyadarkan mereka kalau masa bebas telah usai.
•••
Semilir angin kecil berhembus perlahan. Terasa dingin, sejuk dan memabukkan. Suara hembusannya begitu menenangkan apalagi ketika menyentuh kulit. Seolah-olah orang yang terkena ingin terus mengikuti arah hembusannya.
Samar-samar, angin itu terlihat seperti segumpal kabut berwarna biru pudar. Namun, siapa yang memedulikan penampakannya di tengah terik mentari di siang hari? Tidak ada. Keberadaannya samar, hampir tak terlihat.
Angin itu terus berhembus menyusuri hutan lebat, lalu melewati padang bunga dan berakhir di desa kecil yang dipadati para penduduk. Semua orang terlihat sibuk. Tidak ada yang menyadari kalau ada segumpal kepulan kabut biru pudar yang terus berhembus mengelilingi beberapa orang yang diincarnya.
Orang-orang itu, yang terkena belaian lembutnya, menjadi terbuai. Apapun yang tengah di genggamnya mendadak jatuh. Kuali makanan, kendi yang berisi air, kapak yang digunakan untuk memotong batang pohon, apa pun itu semua dijatuhkan. Mereka mendadak berjalan ke satu arah, mengikuti jejak dari semilir angin lembut yang menghipnotis mereka. Mereka tersenyum. Seolah tengah disambut oleh malaikat yang menawan.
Sayangnya, tidak ada yang menyadari kalau para lelaki itu terbuai. Ya, semua yang terhipnotis memang lelaki. Penduduk desa yang menyaksikannya hanya menganggap mereka ceroboh atau sedang kelupaan sesuatu. Itu memang sering terjadi di tempat ini. Paling-paling, orang-orang hanya akan menggelengkan kepala sambil berdecak dan memaki dalam hati. Berpikir kalau itu hanya kejadian seperti biasanya.
Namun tidak. Kali ini berbeda. Mereka menjatuhkan barang karena mereka benar-benar terhipnotis. Apa pun yang mereka pegang, semua dijatuhkan karena seluruh pikiran mereka sudah dimanipulasi. Kini, mereka tidak mengenal siapa pun, atau apa pun lagi. Yang mereka tuju hanya satu. Yaitu sang kabut dingin. Mereka merasa, dia lah sang dewa. Dia lah pujaan mereka.
Semua yang terhipnotis terus melangkah mengikuti jejak dari aura dinginnya. Semakin jauh mereka melangkah, semakin sedikit pemukiman penduduk. Dan sama sekali tidak ada yang menyadari sampai detik ini. Hingga mereka sampai pada hutan gersang.
Tidak ada daun, tidak ada bunga. Tidak ada suara cicit burung, tidak tidak ada auman atau geraman. Begitu sunyi, tidak ada warna. Tidak ada rumput hijau, melainkan hanya undakan tanah dan lumpur yang menjadi pijakan mereka. Juga, lagi-lagi tidak ada orang yang menyaksikan mereka menembus hutan itu.
Sebenarnya, semua orang di Mottania takut akan keberadaan hutan mati ini. Tidak ada yang pernah tahu apa isinya karena tidak ada yang berani mendekatinya. Hutan ini begitu kelam, begitu suram.
Tapi, mereka tidak sadar. Di pandangan mereka, hutan ini begitu indah, asri, sejuk dan menenangkan. Bagi mereka, hutan ini adalah surga. Ditambah dengan kehadiran sosok tak berbentuk yang mereka lihat bagai dewa, semua ini terlihat sempurna dalam pandangan mereka.
Mengabdilah padaku. Bisikan itu secara ajaib mendarat di telinga mereka. Hal itu membuat mereka bersorak ria kegirangan.
Menurut mereka, sang pemimpin telah bicara. Dan mereka akan menuruti apa pun perintahnya.
Kalian akan membantuku. Berjanjilah!
"Kami berjanji, Tuan!" sorak mereka bersamaan.
Tinggalah di sini! Jadilah pengikutku!
Suara itu lagi-lagi mendarat di telinga mereka. Semuanya seolah semakin terhipnotis mendengar bisikan itu.
"Kami akan mengabdi padamu, Tuanku!" seru mereka lagi dengan serempak.
Kalian akan memberikan apa pun kepadaku!
"Kami akan memberikan apa pun untuk sang dewa!"
Jiwa raga kalian milikku. Hidup kalian mengabdi kepadaku. Dan tubuh kalian akan menjadi singgasanaku!
"Kami berjanji, Tuan!" seru mereka lagi semakin berbinar-binar.
Bagus ... sekarang, hutan ini adalah istana kalian. Beristirahatlah dengan tenang. Besok, akan kuberitahukan apa tugas kalian.
"Baik, Tuan!"
Mereka semakin terlarut dalam buaian sang pemilik aura dingin. Mereka tidak tahu, kalau mereka mungkin saja akan menjadi tumbal bagi sesosok yang mereka dewakan.
Dan tidak akan ada orang yang akan datang ke surga mereka untuk membebaskan mereka dari pengaruh hipnotis ini.
•••