Sepasang mata memandang jeli ke sebuah pohon besar dengan jarak seratus meter di depan sana yang terdapat ukiran lingkaran pada batangnya. Tangan kirinya terbentang lurus ke depan sambil menggenggam sebuah busur berukuran besar yang dipenuhi ukiran khas kaum Elves. Sementara tangan kanannya menarik tali busur beserta anak panahnya dengan kuat, membidik titik kecil di tengah lingkaran pada batang pohon tersebut.
Fiusss ...
Suara lontaran anak panah yang bertabrakan dengan angin terdengar cukup jelas di tengah hutan yang sunyi ini. Hingga suara koyakan kayu berhasil menggantikannya hanya dalam kurun waktu kurang dari satu detik. Ya, anak panah itu berhasil menancap tepat di titik yang dituju, bahkan berhasil membuat batang pohon itu sedikit koyak.
"Bidikan yang bagus!" seru seorang pria yang tak lain adalah Aident. "Mari kita coba dengan jarak dua kali lipatnya. Kali ini temponya harus lebih cepat dari yang sebelumnya."
Kisha mendengus sebal. Ia melipat tangannya di d**a sambil berkata, "Kau meragukanku, ya? Sudah kubilang aku sudah menguasainya hingga jarak empat ratus meter!"
"Kalau begitu buktikan. Aku tidak butuh omong kosong dan pamer saja!"
Mendengar itu jelas wajah Kisha semakin cemberut. Ia memang sangat senang jika berlatih hanya berdua dengan Aident, tapi jika harus terus-terusan di rendahkan seperti ini rasanya menyebalkan juga.
Kisha pun berjalan ke arah yang berlawanan dengan pohon targetnya. Walaupun sambil membuang muka dan mendumal, tetap saja Kisha akan melakukan apa yang diminta Aident jika pria itu terus meremehkannya.
Ya, itulah strategi Aident dalam mengajari Kisha si gadis super kepala batu. Dari yang Aident pelajari mengenai sifat temperamen dan tidak mau kalahnya selama ini, hanya itulah cara terbaik untuk membuatnya berkembang. Yaitu dengan merendahkan atau meremehkan kemampuannya. Aident tidak perlu repot-repot menjabarkan banyak teori karena Kisha pasti akan mengabaikan segala ocehan yang keluar dari mulutnya. Maka dari itu untuk membuat Kisha berada dalam kendalinya, cukup lakukan saja satu hal. Ejek dia payah, maka kau akan melihatnya berlatih dengan sangat serius dan menunjukkan kemampuan memanahnya yang memukau.
"Aku akan menjadikanmu target berikutnya jika kali ini kau masih meremehkanku, Aident," dumal Kisha sebal. Sementara Aident berusaha menahan tawanya agar tidak pecah ketika melihat wajah Kisha yang menekuk seperti itu. Itu sungguh lucu baginya, entah kenapa.
Sekali lagi Kisha membidikkan anak panahnya ke arah target yang ada di batang pohon yang masih berdiri tegak jauh di depan sana. Kali ini dengan jarak dua ratus meter, seperti yang diminta Aident. Tempo bidikannya juga lebih cepat dari sebelumnya. Dan, fiusss ... sekali lagi panahnya meluncur lurus ke depan, lalu mendarat di titik semula yang kali ini sudah semakin terkoyak.
"Lihat?" Kisha menyombong. "Ini sangat mudah, Aident. Sudah kubilang aku bisa melihatnya sampai jarak empat ratus meter. Walau kedengarannya mustahil dan tidak masuk akal, tapi aku bisa!"
"Oh, ya?" jawab Aident yang lagi-lagi terdengar meremehkan. "Coba saja buktikan langsung ke titik empat ratus meter kalau kau berani!"
Mendengar ejekan itu, Kisha mengepalkan tangannya emosi. Sungguh ia sudah tidak tahan lagi ingin segera memukul wajah Aident yang sangat menyebalkan itu. Tinjunya pun akhirnya melayang. Tapi sebelum mendarat sukses di pipi mulus Aident, pria itu sudah lebih dulu menangkisnya.
Malahan kini posisi berbalik, dengan Aident yang jauh lebih untung. Ditariknya tangan Kisha ke dalam pelukannya, lalu dengan gerakan cepat ia segera mengecup bibir Kisha. Gadis itu terkejut, tapi juga terbuai olehnya. Kisha balas mengecupnya sambil memejamkan mata.
Sebenarnya, ini juga salah satu taktik Aident untuk kembali melunakkan Kisha saat emosinya sudah mulai memuncak. Terdengar lebih jahat dari taktik sebelumnya, tapi biar saja. Toh Aident dan Kisha sama-sama menyukai hal ini. Di tambah ini juga menguntungkan dua kali lipat bagi Aident. Yang pertama, Kisha jadi kembali manis. Yang kedua, Aident mendapatkan bibir Kisha yang juga terasa sangat manis. Mungkin kalau Kisha mengetahui hal ini gadis itu akan sangat marah padanya. Tapi toh Kisha tidak akan tahu, kan. Jadi nikmati saja.
Setelah satu menit berlalu, mereka pun menghentikan aksi panas itu. Aident menatap wajah Kisha dalam-dalam. Sungguh, pemandangan yang luar biasa ketika menatap wajah gadis itu yang tidak berapi-api seperti biasanya. Bola mata birunya terlihat begitu tenang nan teduh, kulit putihnya terlihat jauh lebih bersinar dari biasanya. Dan bibir kecilnya yang ranum pun terlihat jauh lebih menggemaskan.
"Kau sangat cantik, Kisha," ucap Aident tanpa sadar yang langsung membuat wajah Kisha merah padam. Gadis itu pun segera berpaling dari Aident dan berjalan lebih dulu.
"Kau tidak akan mendapatkan ciuman itu lagi jika kali ini kau masih meremehkanku!" Kisha mengancam.
Aident hanya cekikikan menjawabnya.
Akhirnya, keduanya tiba pada titik yang berjarak empat ratus meter dari pohon bidikan. Aident menatap lurus ke depan, kini ia sudah tidak bisa melihat pohon itu lagi. Mungkin bukannya tidak bisa, tapi ia kesulitan untuk membedakan pohon yang mana yang merupakan incarannya. Lihat saja, dari sini semua pohon tampak sama. Aident cukup takjub jika Kisha benar-benar tahu yang mana pohon incarannya. Dan lagi, harus sekuat apa tembakkan anak panahnya untuk bisa sampai ke sana?
"Kau tahu yang mana pohonnya?" tanya Aident memastikan.
"Tentu saja," jawab Kisha yakin. Ia lalu menunjuk ke suatu arah. "Yang itu."
Aident menatap ke titik di mana telunjuk Kisha mengarah. Ia hanya manggut-manggut mengiyakan. Padahal sebenarnya ia tidak tahu yang mana pohon yang ditunjuk Kisha. Tapi biarlah, ia pura-pura tahu saja. Aident 'kan memang harus terlihat lebih pandai darinya agar gadis itu mau menurutinya di setiap kali dia berlatih.
Sekali lagi Kisha mengarahkan anak panahnya ke suatu arah yang dari jarak sejauh ini harusnya mustahil untuk terlihat. Apalagi di tengah hutan yang banyak pohon serupa. Harusnya manusia normal hanya bisa memperkirakan keberadaan titik bidikannya dari jarak sejauh ini. Tapi ajaibnya, Kisha bilang dia bisa melihatnya. Hebat sekali, bukan?
Dan ya! Lagi-lagi anak panahnya menancap di titik yang sama, bahkan membelah anak panah sebelumnya yang masih menancap di titik tersebut. Sebenarnya itu pernyataan Kisha sendiri sih. Aident mana tahu gadis itu benar-benar berhasil atau tidak. Ia sama sekali tidak bisa melihat di mana anak panah barusan mendarat.
Aident pun berlari menuju pohon itu untuk melihat hasilnya. Dan ternyata memang benar, panah itu menancap lurus membelah anak panah sebelumnya yang ternyata masih menancap di batang pohon. Ini benar-benar keren.
"Bagaimana? Sekarang kau masih mau mengelak?" ucap Kisha sambil tersenyum bangga.
"Ya, ya, kau berha—"
Ucapan Aident mendadak terputus. Karena tiba-tiba saja ada kabut yang sangat tebal datang mengepung mereka. Bahkan benar-benar menutup jarak pandang keduanya.
"A-Aident? Ap-apa yang terjadi?" tanya Kisha panik. "Aident, kau di mana?!"
"Aku masih di sini, Kisha. Jangan bergerak. Aku tidak bisa melihatmu!" seru Aident ikut panik.
Kisha menuruti perkataan Aident. Ia berusaha tidak melangkah sedikit pun. Tapi masalahnya, ia tidak tahu apakah ia tengah mematung atau justru malah sebaliknya. Karena saat ini, Kisha sudah benar-benar tidak bisa melihat apa pun lagi, ia bahkan seperti tidak bisa merasakan tubuhnya.
"Aident, aku tidak bisa merasakan tubuhku!" Kisha berseru semakin panik.
Tidak ada jawaban.
"Aident?" panggil Kisha sekali lagi.
Namun masih tidak ada jawaban.
Kisha pun berusaha menggapai-gapai sekelilingnya berharap menemukan batang pohon untuk berpegangan, juga berharap bisa menemukan Aident di salah satu sisi batang pohon terdekat.
"Aident? Kau di mana?"
Lagi-lagi tidak ada jawaban.
"Aident tolong jangan menggodaku untuk sekarang. Aku benar-benar takut!" seru Kisha mulai frustasi.
"Aident! Aident!!!"
Kisha sudah sangat panik saat ini. Sampai sepuluh menit berlalu, Kisha masih terus berusaha memanggil-manggil nama Aident. Namun hanya keheningan yang ia dapatkan. Akhirnya ia memutuskan untuk berjalan tak tentu arah berusaha keluar dari kabut. Tapi kabut ini seolah menyelimuti seluruh hutan, menutupi hampir seluruh jarak pandangnya. Pada akhirnya Kisha hanya bisa terduduk pasrah sambil terus berjaga-jaga.
Sepuluh menit lagi berlalu, kabut mulai memudar. Samar-samar Kisha dapat melihat pemandangan batang pohon juga dedaunan di sekitarnya. Kisha pun segera bangkit dan menatap sekeliling.
"Ini bukan tempatku semula," gumam Kisha bingung. "Aku di mana?"
Sekali lagi Kisha berusaha memanggil nama Aident, tapi tetap saja ia masih belum menemukan tanda-tanda keberadaannya. Kisha pun memutuskan untuk terus berjalan ke sembarang arah, berharap ia dapat menemukan Aident atau orang lain di sekitar hutan ini.
Inilah satu-satunya hal yang Kisha takuti selama ia berada di Mottania. Ia takut tersesat. Di negeri ini masih begitu banyak hutan-hutan aneh yang di penuhi dengan makhluk-makhluk aneh dan buas. Dan sekarang Kisha malah tersesat sendirian di tengah hutan dengan ditemani kabut penyesat jalan. Ini sungguh mengerikan.
Kisha benar-benar bingung kemana ia harus melangkah. Sepanjang jalan yang ia susuri semuanya tampak asing baginya. Terlebih, kemana hilangnya Aident? Di saat seperti ini pria itu malah meninggalkannya seorang diri?! Sekarang Kisha harus bagaimana?
Setelah lima belas menit berjalan dengan pikiran macam-macam, di depan sana samar-samar telinga tajam Kisha mulai menangkap suara-suara aneh. Kisha pun berjalan mendekati asal suara. Semakin lama, suara itu terdengar semakin jelas. Ia dapat menyimpulkan kalau suara itu seperti suara geraman hewan buas juga ada suara tebasan pedang yang menghantam pohon.
Apa itu suara pertarungan? Kisha membatin bertanya-tanya. Jangan-jangan ....
"Aident!" pekiknya cukup kencang. Ia pun segera berlari menuju asal suara.
Dalam perjalanan, semakin lama suara-suara itu semakin terdengar jelas di telinganya. Kisha pun mulai cemas, jantungnya kini berdebar kencang lantaran ketakutan. Bagaimana tidak, suara-suara itu terdengar sangat familier baginya. Kisha hanya bisa berharap semoga saja itu bukan Aident. Dan lagi, yang membuat perasaannya jauh lebih cemas sekaligus takut, suara geraman yang menjadi lawan dari sang pemegang pedang anehnya juga terdengar sangat familier baginya.
Kisha terus berkata dalam hatinya, Bukan. Itu buka dia! Namun sekeras apa pun pikirannya berusaha menyingkirkan fakta bahwa suara-suara itu terasa familiar di telinganya, justru malah ia semakin yakin kalau itu adalah suara mereka, dua makhluk yang paling Kisha sayangi di antara seluruh makhluk yang ada di Negeri Mottania.
Sepanjang jalan Kisha terus menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha menolak fakta yang kemungkinan sebentar lagi akan terasa menyakitkan baginya. Bahkan air mata sudah tidak sanggup di bendungnya lagi saat ia mendengar suara erangan kencang dari makhluk yang Kisha harap bukan sesosok yang di duga olehnya. Entah kenapa firasat itu begitu kuat bahkan tidak sanggup mengalahkan logikanya yang berpikir kalau dia tidak mungkin ada di sini, terlebih tengah bertarung dengan Aident.
Akhirnya Kisha pun sampai pada tempat di mana suara pertarungan itu berasal. Matanya langsung terbelalak terkejut, mulutnya menganga lebar dan kemudian terduduk lemas. Kisha benar-benar tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Hal ini bahkan tidak pernah terbayang dalam benaknya sama sekali.
Di depan sana, ia melihat Leo sudah terbujur kaku bersimbah darah. Lehernya tergorok habis bahkan hampir putus. Dan yang lebih membuatnya tidak sanggup mengucapkan kata-kata adalah, pedang Lord Giordani yang baru saja diwariskan kepada Aident tampak tergeletak patah menjadi dua. Sementara pemiliknya buru-buru pergi ketika melihat kehadiran Kisha.
Hati Kisha benar-benar hancur saat melihat pemandangan mengerikan itu. Ia bertanya-tanya tidak mengerti, kenapa Aident membunuh Leo dengan sangat kejam seperti ini? Jadi ini alasan Aident menyuruhnya untuk tetap diam di tempat saat kabut menyelimuti mereka? Agar dia bisa membunuh Leo? Tapi apa alasannya?! Aident bahkan tahu betul kalau Kisha sangat menyayangi Leo lebih dari nyawanya sendiri. Tapi pria itu malah membunuhnya tepat di depan mata Kisha, dengan begitu kejinya. Apa sebenarnya tujuannya?
Kisha menyeret tubuhnya menghampiri Leo. Ia terus menangis tersedu-sedu melihat jasad harimau itu yang bahkan masih melengking kesakitan. Perlahan, Kisha mulai memberanikan diri untuk menggeser kepala Leo agar terlihat menyatu dengan tubuhnya. Kemudian ia membelai kepalanya dengan tangannya yang masih gemetar hebat.
"Leo ...," gumamnya dengan suara serak. "Apa yang terjadi padamu?"
Tidak ada jawaban. Suara lengkingan menyayat hati itu pun perlahan mulai sunyi.
"Apa yang Aident lakukan padamu, Leo? Seharusnya aku tidak meninggalkanmu. Seharusnya aku tidak membiarkan Aident membujukku untuk membiarkanmu pergi dariku."
Kisha mulai sesenggukan.
"Sekarang lihat apa yang kulakukan, aku terlambat menyelamatkanmu! Seharusnya aku tidak egois dengan membiarkanmu ikut ke Mottania untuk mencari siapa orang tuaku. Bodoh! Aku memang bodoh! Seharusnya aku tetap tidak memercayai siapa pun di seluruh peradaban dunia! Bahkan termasuk Aident! Dia sama busuknya dengan para manusia pembunuh itu."
"Leo ... maafkan aku ...."
Entah sudah berapa lama waktu berlalu, yang bisa Kisha lakukan saat ini hanya menangis dan meracau meratapi kepergian Leo untuk selama-lamanya. Siang pun berganti malam. Masih ada sedikit kabut yang menyelimuti mereka, tetapi Kisha sudah tidak peduli lagi dengan itu. Ia bahkan tidak merasa takut lagi. Memangnya apa yang harus ia takutkan ketika ia merasa ingin ikut mati bersama Leo? Tidak ada.
Setelah cukup lama menangis, Kisha pun kelelahan dan akhirnya tertidur di jasad Leo yang mulai berbau dan dihinggapi lalat. Menjijikkan memang, tapi Kisha tidak peduli. Ia ingin terus seperti ini bersama Leo, walaupun harimau itu kini sudah menjadi mayat yang sebentar lagi akan membusuk.
Di tengah tidurnya Kisha bersumpah, kalau ia tidak akan memercayai siapa pun lagi bahkan termasuk orang tuanya sendiri. Kisha juga bersumpah kalau ia akan membalaskan dendamnya kepada Aident yang telah membunuh Leo dengan begitu kejinya.
•••