Aident berusaha berdiri diam sambil bersandar pada batang pohon di belakangnya. Pedang impiannya yang baru saja ia dapatkan dari ayahnya, Lord Giordani, ditancapkannya ke atas permukaan tanah lalu kemudian digunakannya untuk berpegangan. Sementara tangan kirinya bertopang pada pedang, tangan kanannya berusaha menggapai-gapai seseorang yang harusnya berada tepat di sebelah kanannya.
Namun kosong, hampa. Tangan kanan Aident tidak berhasil menemukan benda padat apa pun selain batang pohon besar yang dijadikan sandarannya saat ini. Ia bertanya-tanya dalam hati, kemana perginya Kisha yang seharusnya berada tepat di sampingnya? Aident menoleh seolah berharap matanya akan dapat menemukan keberadaan gadis itu, tetapi jarak pandang terjauhnya saja tidak mampu menembus kabut tebal yang tengah mengepungnya. Bahkan pohon yang menjadi sandarannya saat ini pun tidak bisa ia lihat.
"Kisha?" Aident mencoba memastikan apakah gadis itu masih berada di dekatnya atau tidak.
Namun tidak ada jawaban. Aident pun mulai panik.
Ia kemudian mengambil pedangnya yang semula menancap di tanah untuk dijadikan pegangan, lantas menggunakannya lagi untuk di jadikan tongkat agar ia bisa meraba pijakan yang ada di sekitarnya.
Aident berusaha untuk bergerak tidak terlalu jauh dari pohon sandarannya. Tujuan utamanya saat ini adalah untuk menemukan Kisha di sekitar batang pohon. Aident terus merayap pelan-pelan mengelilingi batang pohon dengan hati-hati. Ia benar-benar takut kalau ia malah melangkah semakin menjauh dari Kisha.
Benar saja, saat Aident berjalan, ia seperti tidak bisa merasakan kakinya sama sekali. Ia hanya bisa mengandalkan batang pohon itu serta pedangnya sebagai tumpuan arah pijakannya. Kini Aident merasa kalau ia sudah memutari pohon ini lebih dari tiga ratus enam puluh derajat. Tapi kenapa ia tidak menemukan kehadiran Kisha sama sekali di dekatnya? Padahal ia yakin sekali kalau tadi Kisha sudah menuruti permintaannya untuk tetap diam di tempat.
"Kisha kau di mana?" Aident berteriak ke sembarang arah. "Sudah kubilang untuk tetap diam di tempat, jangan bergerak! Kenapa kau tidak menurutiku?!"
Hening, tidak ada jawaban.
"Sial. Kurasa aku benar-benar telah kehilangan jejaknya."
Aident berusaha kembali menajamkan penglihatannya. Namun tetap saja jarak maksimal yang berhasil ditembusnya samar-samar hanya sampai sejauh satu meter saja. Itu tidak membantunya sama sekali untuk bisa menemukan keberadaan Kisha.
Aident pun kini mulai khawatir. Ia takut sekali telah terjadi sesuatu terhadap Kisha. Akhirnya, akibat rasa panik yang sudah menjalari benaknya, dengan gegabah Aident memutuskan untuk berjalan meninggalkan batang pohon tumpuannya. Ia mulai berjalan ke sembarang arah sambil berteriak memanggil nama Kisha berharap akan ada suara yang menjawabnya.
Lima belas menit berlalu. Aident menemukan ada banyak sekali genangan, atau jalan becek dan licin di sepanjang pijakannya. Kabut masih sangat tebal, ia tidak bisa melihat apa kira-kira genangan yang ia lalui sedari tadi. Entah itu air atau lumpur. Teksturnya terasa aneh saat menempel di sepatu boots-nya. Tetapi walau begitu Aident tidak terlalu memikirkannya. Saat ini Kisha jauh lebih penting dari apa pun, begitu pikirnya.
Lima menit lagi kembali berlalu. Perlahan kabut mulai memudar. Namun tetap masih cukup pekat bagi Aident untuk dapat menebak tengah berada di hutan bagian mana ia saat ini. Tapi setidaknya kali ini jarak pandangnya berhasil menembus hingga ia dapat melihat tiga sampai lima pohon di sekitarnya. Ia juga sudah bisa melihat permukaan tanah yang di pijaknya dengan cukup jelas.
Aident sedikit merasa lega akan hal ini. Ia kemudian melanjutkan langkahnya masih sambil terus meneriaki nama Kisha. Walau masih belum mendapat jawaban, Aident tidak putus asa untuk terus mencari keberadaan wanitanya itu. Karena jika terjadi sesuatu terhadap Kisha, Aident mungkin tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri.
Entah sudah sejauh apa langkahnya menyusuri jalan setapak ini. Ia lelah, tetapi lelahnya tidak sebanding dengan rasa cemasnya. Aident pun menunduk lemah, mulai hilang harapan.
Namun pada detik itu, saat bola mata birunya tidak sengaja melihat penampakan genangan yang ada di bawah pijakannya, ia langsung terbelalak menegang. Teksturnya yang licin dan sedikit lengket, serta warnanya yang merah pekat langsung menyadarkan Aident kalau itu adalah darah. Lebih tepatnya darah yang masih segar.
Aident membalikkan badannya ke belakang. Kabut yang mulai memudar membantunya dapat membuktikan kalau di sepanjang jalan yang dilaluinya sejak tadi memang bersimbah darah yang cukup banyak.
Pandangannya kemudian beralih ke samping kanan dan kirinya. Dan betapa terkejutnya Aident ketika ia melihat ada banyak sekali hewan-hewan hutan seperti harimau, musang dan lain-lain tergeletak dengan leher yang tergorok hampir putus. Tak sadar, Aident menjatuhkan pedangnya yang semula dijadikan tongkat olehnya. Kakinya terasa lemas, ia mulai berpikir yang tidak-tidak mengenai Kisha.
Kini rasa khawatirnya sudah berubah menjadi rasa takut yang menjadi-jadi ketika membayangkan Kisha menjadi salah satu korban seperti hewan-hewan itu. Entah makhluk apa yang melakukan tindakan sekeji ini, apa pun itu Aident tidak ingin sama sekali bertemu dengannya. Satu-satunya makhluk yang ingin ditemuinya saat ini hanyalah Kisha. Ia berharap gadis itu masih baik-baik saja saat ini. Semoga.
Aident pun mulai berlari mengikuti jejak darah yang bercecer di sepanjang jalan. Perlahan, ia mulai mendengar suara erangan dari berbagai jenis binatang. Ia tahu erangan itu berasal dari makhluk yang berbeda-beda. Tapi yang menjadi pertanyaannya saat ini adalah, mengapa tempo jarak dari satu erangan ke erangan lainnya hanya berkisar kira-kira sepuluh detik saja? Makhluk sebuas apa yang bisa menyerang puluhan binatang dalam kurun waktu yang sesingkat itu? Entahlah, Aident sama sekali tidak bisa menduganya.
Semakin lama, suara-suara memilukan itu semakin terdengar jelas di telinga Aident. Ia mulai berlari lebih kencang lagi, tidak peduli walau napasnya sudah menderu dengan tempo yang sangat cepat. Saat ini ia terlalu sibuk merasa takut bukan main karena ia mulai mendengar ada suara wanita di depan sana. Dan semakin lama, suara itu semakin terdengar persis dengan suara Kisha pada saat bertarung. Apa yang sebenarnya terjadi? Batin Aident tak karuan.
Akhirnya ia pun sampai pada tempat yang sudah seperti lautan darah sejauh mata memandang. Puluhan hewan sudah tergeletak tak bernyawa di seluruh sudut pandangnya. Bahkan ada satu makhluk yang sangat Aident kenali, yang kini juga sudah tergeletak tak bernyawa dengan lehernya yang tergorok hampir putus. Dan dia adalah ...
Leo. Ya, harimau putih besar itu lah yang membuat Aident syok tak terkira. Dan bukan hanya itu saja, kini keterkejutannya bertambah menjadi berpuluh-puluh kali lipat ketika matanya melihat siapa dalang dari pembunuhan keji ini.
"K-Kisha? Apa ... yang kau lakukan?!" Aident berseru tercekat.
Namun yang ditanya hanya tersenyum miring. Kemudian dia melemparkan sebuah pedang yang bilahnya sudah patah terbagi dua kepada Aident. Setelah itu dia langsung berlari pergi dengan sangat cepat bahkan Aident tidak sempat mengejarnya.
Aident memungut pedang itu dengan tangan bergetar. Rahangnya mulai mengeras, matanya pun mulai berkaca-kaca lantaran perasaan marah dan kekecewaan yang bercampur aduk menjadi satu. Terlebih ketika pandangannya mengarah pada mayat Leo yang sudah terbujur kaku, Aident merasa syok bukan main. Dadanya bagaikan tersayat-sayat ketika matanya menatap pada bulu di tubuh Leo yang sudah tidak putih lagi, melainkan merah bersimbah darah.
"Kisha ....” Entah oleh sebab apa, kini Aident mulai menggeram marah bercampur dengan rasa sedih. “... kau bahkan membunuh Leo dengan pedang ayahku?! Apa yang merasuki dirimu sebenarnya?!!!”
Setelah berteriak kalut, tubuh Aident terduduk lemas. Pandangannya masih terus bertumpu pada jasad Leo yang memprihatinkan. Ia kemudian menyeret diri menghampiri makhluk malang itu yang sejauh ini sudah ia anggap seperti keluarga.
"Dia bahkan pernah bilang padaku kalau kau sangat berharga baginya.” Aident menggumam sambil menunduk, menempelkan keningnya pada kepala Leo. "Tapi apa yang dilakukannya sekarang? Dia sampai membunuhmu dengan keji seperti ini?! Ya Tuhan, Leo ... kenapa kau harus bernasib seperti ini?”
Aident menjatuhkan tubuhnya ke atas tanah. Ia tidak peduli lagi walaupun darah membanjiri tubuhnya. Ia menatap langit yang mulai gelap sambil terngiang-ngiang pada hal mengerikan yang telah Kisha lakukan tepat di depan matanya barusan. Sungguh, Aident benar-benar tidak menyangka Kisha bisa melakukan tindakan sekeji ini, terlebih pada Leo. Apa sebenarnya yang ada di kepalanya sampai dia tega membunuh Leo? Padahal belum lama ini dia menangis tidak rela saat Leo memutuskan untuk pergi meninggalkannya. Apa semua itu hanya sandiwara?
"Kisha ... apa yang terjadi padamu?" gumam Aident sedih. "Kau tahu, aku tidak akan pernah bisa memaafkanmu setelah apa yang telah kau lakukan terhadap Leo barusan.”
Kini emosi Aident kembali meluap. Giginya bergemeretak marah, sampai tanpa sadar air mata sudah mengalir di pipinya.
Aident menghapus air mata amarahnya itu dengan kasar. Ia lantas menggumam, "Jika seorang lelaki sudah mengeluarkan air mata, itu tandanya kekecewaan yang ia rasakan sudah tidak bisa terbayarkan lagi. Kisha ... seberapa pun berartinya dirimu dalam hidupku, mulai saat ini aku tidak akan pernah menoleh lagi padamu."
Mata Aident pun terpejam. Bibirnya terkatup rapat, tidak mengeluarkan suara lagi.
•••