Bab 8 - Saling Membenci

1145 Kata
Sinar mentari yang menerobos celah dedaunan membelai lembut wajah Kisha. Mata sembabnya berkedut lantaran merasakan silau. Hingga berujung membawanya kembali pada kesadaran. Perlahan penciumannya mulai menangkap aroma tidak sedap yang merebak di sekitar. Kulitnya juga merasakan gatal akibat lalat yang beterbangan di dekatnya. Kisha mulai membuka mata. Ia menatap hamparan rumput di sekelilingnya, penuh dengan darah yang telah menyatu dengan tanah. Pakaian dan tubuhnya pun sama, darah kering menempel di mana-mana. Pemandangan ini seketika membuat ingatannya kembali pada kejadian beberapa jam lalu, mengenai apa yang telah terjadi pada Leo. Seiring ingatan itu kian tergambar jelas di kepalanya, daada Kisha mulai terasa sesak, matanya pun kembali berkaca-kaca. Perlahan ia memberanikan diri untuk menolehkan kepalanya ke belakang, tempat di mana terpampangnya pemandangan yang sama sekali tidak ingin dilihatnya. Napasnya tercekat, mulutnya terkatup rapat. Benar saja, di depan sana jasad Leo terlihat semakin membusuk dikerubuti banyak lalat. Seketika tangan Kisha langsung menutupi mulutnya berusaha menahan rasa mual yang mendadak menyerangnya pasca melihat pemandangan itu. Kisha cepat-cepat berbalik. Sebisa mungkin ia mendirikan kakinya yang bergetar lemah, lantas mulai melangkah menjauhi bangkai Leo. Seiring langkahnya memacu air matanya sudah tumpah ruah membasahi pipinya yang kotor. Batinnya begitu hancur saat ini. Rasanya ia tidak kuat menerima fakta memilukan yang telah menimpa teman besar yang selama ini tumbuh besar bersamanya, Leo. Dalam hidup Kisha, sekalipun tidak pernah terbayangkan hal sekeji ini akan datang menimpa salah satu di antara mereka dan membuat yang satu lagi menderita merasa kehilangan. Tidak, selama ini ia begitu yakin bahwa mereka sangat kuat dan tak terkalahkan. Tapi nyatanya kini mereka berhasil dikalahkan dan dibuat terpisahkan selamanya, ini sungguh menyakitkan baginya. Terlebih orang yang melakukan itu adalah orang yang begitu dekat dengan mereka, Aident. Sungguh rasanya Kisha ingin mati saja saat ini. Ia tidak sanggup menerima kehilangan serta pengkhianatan yang begitu menyiksa batinnya. Dengan balutan rasa sakit itu Kisha mulai mempercepat langkahnya. Ia berlari sekencang mungkin, entah kemana tujuannya. Saat ini ia hanya ingin berlari sejauh-jauhnya dari tempat di mana p*********n itu terjadi. Ia ingin lari dari kenyataan. Semakin lama larinya kian menyepat, ia bahkan tak peduli lagi dengan napasnya yang sudah mencapai titik habis. Kini ia sudah tersengal berat antara lelah bercampur tekanan batin. Namun ia masih terus saja berlari dan berlari tanpa memedulikan bahwa ia bisa saja mati kehabisan napas jika terus seperti ini. Sampai akhirnya langkahnya terpaksa berhenti karena jalan setapak yang menjadi pijakannya kini telah berganti menjadi bentangan sungai besar di hadapannya. Dengan napas yang berembus kasar dan cepat Kisha menatap dalam pada bentangan sungai di hadapannya. Ia lantas mulai melangkah masuk ke dalam air, entah untuk apa tujuannya. Ia terus berjalan ke tengah sungai sampai kedalaman air menutupi kepalanya. Kisha menahan napas. Tiga puluh detik berselang, tekanan air sudah membuat dadanya terasa sesak. Tapi rasa sesak ini masih tidak sebanding dengan rasa sesak yang mendera batinnya akibat peristiwa mengenaskan yang baru saja disaksikannya beberapa jam lalu. Kisha pun berusaha menghilangkan ingatan itu dengan membenamkan kepalanya di dalam air. Namun sialnya ia malah semakin terbayang akan kejadian itu. Kisha segera menyembulkan kepalanya kembali ke permukaan. Dadanya naik turun, tangan kanannya terangkat untuk membasuh wajahnya. Lantas bola matanya terbuka, ia menatap kosong pada langit cerah di atas sana. Bayangan-bayangan mengerikan itu masih tidak mau pergi dari kepalanya. Dan itu sangat menyiksa baginya. Kisha pun kembali menyelam dan timbul lagi, ia melakukan itu beberapa kali sambil membersihkan tubuhnya dari darah kering yang menempel. Ia berharap, semoga saja dengan hilangnya jejak darah sisa p*********n di tubuhnya ia bisa melupakan kejadian itu. Setelah beberapa menit berlalu, Kisha melangkah menjauhi air dan berbaring di atas batu. Matanya terpejam sambil merasakan ketenangan dari hangatnya sinar mentari. Kisha mulai mengatur napas untuk menenangkan diri. Setelah merasa sedikit lebih tenang, ia bangkit terduduk. Sorot mata birunya menatap hamparan hutan di sekitarnya. Ia sama sekali tidak mengenali tempat ini. Tapi itu bukan masalah sekarang. Ia bahkan tidak tahu hendak pulang kemana. Dengan perginya Leo ia jadi merasa kalau ia sudah tidak punya siapa-siapa lagi di negeri asing ini. Kisha menghembuskan napas kasar. Ia berusaha keras menahan air matanya agar tidak turun lagi. Sudah cukup ia menangis. Ini saatnya ia menuntut keadilan. Kisha pun mulai kembali melangkah menyusuri hutan. Hatinya menggebu-gebu untuk segera kembali ke kota dan menuntut pembalasan dari si pembunuh Leo. Ia sudah berjanji kalau kematian Leo harus dibayar dengan cara yang setimpal. Walaupun orang itu adalah Aident, Kisha tidak peduli. Jiwanya sudah digeluti oleh rasa benci yang membuatnya begitu haus akan pembalasan dendam. ••• Di sisi lain, Aident juga baru saja terbangun dari tidurnya. Kondisinya terlihat jauh lebih mengerikan dibanding Kisha. Hampir setiap inci di tubuhnya tertutup oleh cairan merah pekat yang kini sudah mengering. Rambut putihnya bahkan sudah tidak terlihat putih lagi. Aident berdiri. Ia menatap jijik pemandangan mengenaskan di sekelilingnya. Bangkai dari binatang-binatang yang habis terbantai itu masih tergeletak di posisinya, tidak berubah sama sekali. Tidak ada binatang-binatang predator lain yang berani mendekat walau bau santapan mereka menyerbak di mana-mana. Mereka pasti terlalu takut melihat pemandangan ini. Dengan langkah berat Aident mulai menjauh dari lokasi mengerikan ini yang membuatnya kembali teringat dengan seorang gadis yang menjadi penyebab dari tragedi ini. Aident berdecih dingin. Perasaan benci sekaligus sakit hati yang teramat sangat mendadak menyerang batinnya. Rasa itu terus menggebu-gebu dalam dirinya hingga membuat emosi negatif menguasai pikirannya. Napas Aident mulai tersengal, giginya bergemeretak menahan rasa marah serta benci yang berpadu padan menjadi satu. Dalam hidupnya, ini adalah kali pertama ia merasakan emosi yang begitu besar dan menyakitkan seperti ini. Ia sampai tidak tahu harus berbuat apa untuk menghalaunya. Aident berhenti melangkah di sebuah anak sungai kecil yang terbentang di antara jalan setapak. Ia duduk di sampingnya sejenak dan mulai membasuh wajah serta tubuhnya yang sudah berbau busuk. Ia melepas jubahnya yang sudah sangat menjijikan bersimbah darah lantas membuangnya ke sembarang tempat. Ia menenangkan diri sejenak, kepalanya tertunduk dalam. Pikiran mengenai perbuatan Kisha yang sangat keji masih terus terngiang-ngiang dalam ingatannya. Sebenarnya hatinya tengah berkecamuk saat ini. Satu sisi ia merasa begitu sakit hati, kecewa, marah, tetapi di sisi lain ia merasa tidak bisa membencinya. Aident sadar bahwa ia tidak bisa hidup tanpa Kisha. Tapi melihat apa yang telah dilakukan gadis itu, dia sangat pantas menerima ganjaran yang setimpal. Ya, dia harus mati. Persis seperti para binatang yang telah dibantainya, persis seperti Leo. Namun, Aident tidak bisa membayangkan hal itu akan ia lakukan kepada Kisha. Ia pun mengeluh frustasi. Ia tidak habis pikir dengan dirinya yang terlalu lemah akan keadilan hanya karena rasa cintanya terhadap gadis itu. Aident mengacak rambutnya. Ia bangkit berdiri lantas kembali melanjutkan perjalanan pulang. Ya, mau tidak mau ia harus mengumumkan hal ini pada ayahnya dan membiarkan Kisha menerima hukumannya nanti. Walau kemungkinan terburuk akan menimpa gadis itu, Aident sudah tidak peduli lagi. Salahmu telah melakukan hal keji ini. Maka jangan salahkan aku jika kau harus membayar perbuatanmu. Ia menggumam dalam hati. Walau seberapa besar pun arti dirimu dalam hidupku, keadilan tetaplah keadilan. •••
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN