Langit bergemuruh tidak wajar di pagi hari yang cerah ini. Semua penduduk berlarian keluar rumah untuk melihat apa yang tengah terjadi. Banyak orang-orang berkumpul di pusat kota sambil menatap ke arah langit. Bahkan termasuk para petinggi yaitu Lord Giordani, Lord Sinara dan Ratu Roana.
Seberkas cahaya mulai muncul dari atas langit lalu turun secara perlahan dan berhenti di tengah udara. Cahaya itu perlahan berubah bentuk menjadi sosok wanita cantik berpakaian serba putih. Rambut putih panjangnya berkibar indah bermandikan cahaya. Semua mata yang melihatnya langsung menunduk hormat.
Saat itu ternyata bertepatan dengan tibanya Aident di pusat kota. Ia pun ikut menunduk hormat. Sementara Kisha, ia yang sedari tadi masih terus tersesat di hutan, langsung berlari mengikuti cahaya itu ketika melihatnya. Berkat itu ia berhasil keluar hutan dengan selamat. Dari kejauhan ia memandang takjub perubahan bentuk yang sangat elok itu. Ia pun ikut berlari ke pusat kota, bergabung bersama orang-orang yang tengah tertunduk hormat di sana. Awalnya Kisha bingung mengapa mereka begitu, tapi akhirnya ia memutuskan untuk mengikutinya saja.
Sosok wanita berpakaian serba putih itu menatap tajam ke arah semua orang yang sedang menunduk hormat padanya. Tubuhnya perlahan mulai turun ke bawah, berdiri di atas mimbar yang ada persis di tengah-tengah kota. Gaun putihnya melambai indah ketika ia melakukan itu.
"Bodoh!" Itu adalah kata pertama yang terucap dari bibirnya. Nadanya terdengar begitu dalam dan menusuk.
Kisha bertanya-tanya bingung dalam hati siapa sosok wanita yang sangat di hormati itu? Ia pun memberanikan diri untuk menatap matanya. Sialnya, sorot mata biru es milik wanita misterius itu berhasil membekukan Kisha. Ia bergidik ngeri dan kembali menundukkan kepalanya.
"Dasar bodoh! Ceroboh! Apa yang sebenarnya sedang kalian lakukan saat ini?!" Wanita itu kembali berseru. Kali ini nadanya terdengar jauh lebih mengerikan dari sebelumnya. Kelihatannya ia sedang murka saat ini. Tapi karena apa?
"Berdiri kalian semua!" serunya lagi. Semua orang pun menurutinya.
Kisha menggunakan kesempatan itu untuk menanyakan siapa sebenarnya wanita itu kepada salah satu Mottarian yang berada di dekatnya.
"Dia siapa?" tanya Kisha.
Mottarian wanita itu memandang Kisha sesaat dengan tatapan menyelidik. Mungkin karena ia agak terkejut melihat gaun basah Kisha yang sengaja ia robek sampai sedengkul karena berlumuran darah. Ia lalu mengalihkan pandangannya lagi. Kini ia tertunduk. Bahkan semua orang pun begitu.
Ia menjawab, "Beliau adalah Penyihir Putih. Tunduklah padanya. Jika dia sampai turun ke Mottania, itu berarti ada suatu kabar yang sangat mendesak."
Benar saja, sesaat berikutnya Kisha langsung mendapat jawaban dari pertanyaan yang bahkan belum sempat ia tanyakan. Sosok itu, yang katanya adalah sang Penyihir Putih, kembali berbicara dengan nada marahnya.
"Lord Glacio sudah beraksi kembali!" serunya yang langsung membuat semua orang benar-benar memekik tertahan. Suasana pun mendadak menjadi semakin menegangkan lantaran rasa takut yang seolah menyebar kemana-mana.
"Bagaimana bisa kalian ceroboh seperti ini?! Bukannya kalian tahu kalau Lord Glacio telah berhasil meminum seratus darah Unicorn? Itu tandanya dia tidak akan musnah semudah itu. Lagi-lagi kalian tertinggal jauh di belakang! Mau sampai kapan kalian seperti ini? Terlalu mengentengkan Lord Glacio? Sudah berkali-kali kutegaskan kalau dia bukan orang yang bisa di remehkan! Sekarang lihat akibatnya! Berkat kelalaian kalian, dia telah berhasil merekrut beberapa pengikut."
"Maafkan kami, Yang Mulia Penyihir Putih. Kami mengira Lord Glacio tidak akan mengambil tindakan secepat ini. Kami juga sama sekali tidak tahu apa sebenarnya yang telah berhasil di dapatkannya kali ini. Kalau boleh, bisakah kau jelaskan pada kami?" Lord Giordani yang menjawab.
Penyihir Putih tampak semakin murka. Itu terlihat jelas dari alisnya yang semakin terangkat ke atas, serta sorot mata biru esnya yang semakin menusuk. Ia pun menjawab, "Dia telah berhasil mendapatkan pengikut baru untuk membantunya mencari raga baru. Ini tidak bisa dibiarkan! Kalian harus cepat bertindak! Kirim dua anak itu untuk menjalani tugas ini! Dimana mereka?"
Deg! Jantung Kisha seolah berhenti berdetak beberapa detik. Apa yang dimaksud itu aku dan Aident? Tanyanya dalam hati. Tidak! Aku benar-benar tidak bisa bekerja sama dengannya saat ini. Aku tidak mau! Untuk apa aku melakukan itu?! Aku sudah tidak peduli lagi dengan orang-orang ini!
Sosok pria berambut putih mulai melangkah maju. Bajunya terlihat kotor, banyak bercak darah di celana dan boots-nya. Ya, itu Aident. Melihat itu Kisha jadi semakin yakin kalau memang benar Aident lah yang telah bertarung dengan Leo dan membunuhnya dengan keji. Dia bahkan tidak terlihat membawa pedang Lord Giordani. Tentu saja, pedang itu sudah patah akibat pertarungan keji yang dia lancarkan terhadap Leo, batin Kisha lagi mulai emosi.
"Apa yang terjadi denganmu?" tanya Lord Giordani berbisik. "Dimana Kisha?"
Aident tidak menjawabnya. Wajahnya mengekspresikan kemarahan, kekecewaan serta ketidaksetujuan yang berpadu menjadi satu.
"Kau harus menjawab pertanyaan Ayahmu, Nak!" Penyihir Putih menegaskan dengan memberi tatapan menyeramkan miliknya.
Aident diam untuk sesaat. Ia menatap datar semua orang yang ada di hadapannya. Ia lalu menjawab, "Darah yang ada di pakaianku ini adalah darah milik Leo. Dia telah terbunuh dengan sangat mengenaskan oleh pedang ayahku, pedang Lord Giordani yang sangat sakti. Kini pedang itu sudah patah menjadi dua."
Semua orang berseru terkejut. Ratu Roana menatapnya cemas. Ia mulai memikirkan putrinya. "Apa maksudmu?" gumamnya tanpa sadar.
Sementara Kisha, wajahnya mulai memerah karena marah. Dadanya kembali naik turun, matanya mulai berkaca-kaca. Hal yang barusan di dengarnya itu, ia menganggap kalau itu adalah suatu pengakuan dari Aident. Ia benar-benar marah saat ini. Ia juga sedih, kecewa dan tidak menyangka bagaimana bisa Aident melakukan itu padanya. Apa ia sengaja ingin melihat Kisha menderita?
"Bukan hanya Leo yang telah terbunuh. Tapi hampir seluruh binatang di hutan," kata Aident lagi. Raut wajahnya masih terlihat datar. Kisha semakin tertunduk menahan emosi. "Mereka terbunuh dalam kondisi leher yang tergorok hampir putus."
"Siapa pelakunya?!" tanya Penyihir Putih dengan nada menuntut.
Kisha jatuh terduduk. Kakinya melemas karena tidak sanggup mendengar perkataan Aident yang berikutnya, yang pastinya akan mengatakan dirinya sendiri. Air mata pun sudah tidak kuat lagi di bendungnya. Mottarian yang berada di dekatnya mencoba menghiburnya. Mereka sangat tahu, sedekat apa hubungan Kisha dengan harimau itu. Dia pasti sangat terpukul.
Aident pun menjawab, "Kisha."
Lagi-lagi semua orang terkejut. Bahkan termasuk Kisha sendiri. Mottarian yang semula menyemangatinya mendadak menjauhinya. Kini, gadis itu menjadi pusat perhatian semua orang bahkan termasuk Aident dan Penyihir Putih.
Ia mulai berdiri dengan ekspresi terkejutnya. Kisha menatap lurus ke arah Aident yang berada cukup jauh di depan sana. Kebencian kembali merasuki dirinya. Kali ini bahkan jauh lebih besar dari sebelumnya.
Kisha segera menghapus air matanya dan berjalan perlahan menghampiri Aident. Seluruh pasang mata memandangnya takut. Setiap orang yang di lewatinya mendadak bergerak mundur, menjauh darinya. Itu tidak masalah bagi Kisha. Itu bukan tujuannya. Pria Mottarian yang telah memfitnahnya itulah yang kini menjadi target tatapannya.
Kisha pun berhenti dua langkah di depan Aident. Pria itu menatapnya dengan sorot mata yang sulit di artikan. Lalu, tangan Kisha mulai bergerak terangkat, dan ....
Plak! Suara tamparan yang sangat keras mendarat di pipi mulus Aident. Semua orang memekik terkejut melihat kejadian itu. Masalahnya, seingat mereka dua orang itu adalah pasangan yang selama ini sangat membuat iri siapa saja yang melihatnya. Tapi kali ini, tampaknya hubungan mereka benar-benar telah kandas. Hanya ada kebencian dalam sorot mata masing-masing dari keduanya.
"Beraninya kau memutar balikkan fakta yang sebenarnya terjadi," kata Kisha dengan rahang yang bergemeretak menahan emosi. Kisha menarik napas sesaat lalu kembali melanjutkan perkataannya lagi. Kali ini dengan suara yang lebih lantang. "Kau yang telah membunuh Leo, Aident! Kau! Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri! Bagaimana bisa kau berkata aku yang membunuh Leo?! Itu tidak mungkin! Semua orang di Mottania bahkan tahu seberapa cintanya aku terhadap Leo, lebih dari nyawaku sendiri!"
Aident tersenyum mencibir. "Apa ini? Kau sedang bersandiwara? Hebat sekali. Kau mulai terlihat seperti manusia-manusia busuk itu. Seharusnya kau tinggal bersama mereka saja, jangan disini."
Deg! Sakit ... sakit sekali rasanya mendengar Aident melontarkan kata-kata itu kepadanya. Kisha pun meneteskan air matanya lagi.
"Kau ...," gumamnya,"... kau menyamakanku dengan para manusia yang telah membunuh keluargaku dan Leo? Berani sekali kau! Tahu apa kau tentangku?! Dan soal tempat tinggalku saat ini, kau pikir aku menyukainya? Kau yang membawaku kemari dan menyebabkan Leo terbunuh! Jika aku bisa kembali ke waktu saat itu, aku akan memilih untuk tidak mengenalmu sama sekali dari pada aku harus kehilangan Leo seperti ini!"
Aident tidak menjawab. Hatinya begitu sakit mendengar perkataan Kisha barusan. Itu artinya kau hanya berpura-pura menyukaiku selama ini? Batinnya tidak menyangka.
"Dengar!" kata Kisha lagi. "Sekarang kau berkata pada semua orang kalau aku pembunuh Leo?! Tidak apa, katakan saja! Jatuhi aku hukuman mati bila perlu karena hidupku juga sudah tidak ada artinya lagi jika Leo sudah tidak ada! Aku tidak punya siapa-siapa lagi disini!"
"Kisha apa yang kau katakan? Kau anggap kami apa?" ucap Lord Sinara tidak terima. Sementara Ratu Roana, ia sudah tidak kuat lagi membendung tangisnya. Ia tidak tahu mana yang benar mana yang salah. Yang ia pedulikan saat ini adalah setiap perkataan dan tatapan Kisha yang terlihat sangat hancur. Ia sangat sedih melihat itu.
"Cukup!" Penyihir Putih menengahi. "Lagi-lagi kalian bertindak bodoh dengan saling menyalahkan seperti ini."
Semua menoleh padanya.
"Apa maksudmu?" tanya Aident.
"Kalian sama-sama melihat Leo terbunuh namun dengan pelaku yang berlawanan. Apa kalian tidak berpikir kalau ini adalah salah satu trik Lord Glacio untuk memecah belah kalian? Dengar. Kalian harus secepatnya mencarinya sebelum terlambat."
"Tapi itu terlihat sangat nyata," jawab Kisha tidak terima. "Leo benar-benar sudah tiada. Bajuku bahkan berlumuran darahnya karena aku memeluknya. Pokoknya aku tidak mau menerima tugas ini jika harus bersama dia."
Kisha menatap Aident tajam. Aident pun menatapnya kembali tidak kalah tajam.
"Kau pikir aku mau bekerja sama dengan orang yang telah membunuh Leo dan bahkan mematahkan pedang yang aku impi-impikan selama ini?" balas Aident.
Kisha tidak menjawab. Ia hanya menatapnya tajam
"Kubilang hentikan!" seru Penyihir Putih mulai murka. "Jangan berdebat di hadapanku! Lancang sekali kalian!"
Aident dan Kisha tertunduk.
"Dengarkan aku," katanya lagi. Kali ini dengan nada yang lebih lembut namun tetap tegas. "Saat ini Lord Glacio masih berupa zat yang tidak berbentuk. Tapi dengan itu dia bisa dengan mudah membuat ilusi apa pun yang ia mau. Itulah kelebihan dari sihir aura dingin. Pemabuk, pemerdaya siapa saja yang menjadi targetnya. Kalian jangan mudah terpecah. Pokoknya kalian harus segera memulai perjalanan untuk mencari dan menangkap Lord Glacio sebelum ia memiliki raga. Akan sangat berbahaya jika itu terjadi. Apa kalian tidak mau menerima perintah langsung dariku? Bahkan demi kebahagiaan dan kemakmuran Negeri Mottania sendiri?"
Aident dan Kisha masih tertunduk. Suasana hening untuk beberapa saat. Para petinggi juga tidak ada yang berkomentar karena mereka mengerti dengan kondisi Aident dan Kisha yang sangat membingungkan.
Kisha pun memberanikan diri untuk bersuara. "Maaf, Yang Mulia jika aku lancang. Tapi kejadian itu benar-benar terasa sangat nyata. Rasanya aku tidak akan bisa menganggapnya hanya ilusi semata sampai aku benar-benar melihat Leo masih hidup."
"Kalau begitu aku akan membantu mencari keberadaan Leo. Apa begitu sudah cukup untuk membuatmu mau menjalankan misi ini?"
Kisha berpikir sejenak. Apa aku bisa menolaknya? Tidak bisa, kan? Ia pun menghela napas pasrah lantas menjawab, "Baiklah, tetapi aku akan pergi seorang siriy. Bukannya aku sok berani atau apa. Aku hanya berusaha mencegah pertengkaran hebat terjadi di antara kami. Itu hanya akan menghambat perjalanan."
"Kurasa aku juga ingin berangkat seorang diri," timpal Aident. "Dia benar, jika Leo belum kami lihat hidup-hidup, kami akan terus menganggap peristiwa kemarin itu nyata. Karena rasanya memang benar-benar terasa nyata dan membekas di ingatan."
Penyihir Putih menghela napas pasrah. "Baiklah kalau begitu. Segera persiapkan keberangkatan kalian secepatnya. Kita akan bertemu lagi setelah kalian atau salah satu dari kalian menemukan Lord Glacio."
Setelah itu, tubuh Penyihir Putih pun kembali melebur menjadi cahaya. Ia bergerak ke atas dan menghilang.
Semua warga mulai bubar atas perintah Lord Giordani. Kisha melangkah pergi lebih dulu lalu di susul oleh Ratu Roana. Aident pun melangkah ke arah yang berlawanan dengan mereka.
Lord Giordani menatap keduanya dengan iba. Anak-anak ini, batinnya. Mereka pasti telah melihat sesuatu yang sangat mengerikan di hutan. Aku tidak menyalahkan mereka atas keputusan gegabah yang mereka ambil. Jika aku berada di posisi mereka pun aku pasti akan berusaha untuk menjauh. Hah ... semoga saja benar kata Penyihir Putih. Semoga saja semua ini memang benar-benar hanya ilusi.
•••