Di sudut terpencil dari hiruk pikuk kota yang ramai penduduk, tepatnya di tengah-tengah lebatnya Hutan Verdesia—salah satu hutan hijau yang ada di Negeri Mottania—sepasang Mottarian kembar berbeda gender tengah menatap cemas pada seorang kakek tua yang terbaring lemah di atas dipan usang dalam gubuk reyot mereka. Kakek itu yang tak lain adalah kakek mereka terus terbatuk tiada henti. Tubuhnya dingin dan pucat setengah kaku, matanya sayup-sayup terpejam seolah tidak mampu menahan kesadaran lebih lama lagi.
Kedua cucunya tersebut panik memanggil-manggil nama sang kakek demi tetap mempertahankan kesadarannya. Namun beliau semakin lemah dan lemah, seolah telah berada di penghujung hidupnya. Menyadari hal itu, sepasang kembar itu semakin kalut kelabakan. Mereka tidak tahu harus berbuat apa untuk menolong sang kakek. Terlebih yang berjenis kelamin perempuan, dia bahkan sudah hampir menangis saat ini.
“Kakek, ada apa denganmu? Kumohon bertahanlah, Kek. Kami berjanji akan segera mendapatkan obat penawarnya. Kumohon jangan melemah seperti ini, Kek. Jangan membuatku takut!”
Sang cucu laki-laki juga tak kalah kalutnya, dia terus memijat-mijat tubuh sang kakek berharap itu dapat sedikit meredakan beban rasa sakit yang tengah dideranya.
“Kek, dengar kami. Bertahanlah! Kau akan baik-baik saja!” Ia menyerukan itu berulang kali demi menegaskan kepada sang kakek supaya tetap kuat. “Aku akan ambilkan air.”
Ia segera berlari ke dapur dan kembali dengan membawa kendi berisi air. Lantas ia mengangkat leher sang kakek untuk meminumkan air kepadanya.
“Lilian, bantu aku pegangi Kakek!” serunya pada adik kembarannya, Lilian.
Tidak menunggu disuruh dua kali, Lilian segera membantu memegangi tubuh sang kakek supaya beliau bisa meminum air dalam kendi yang diberikan oleh kakaknya. Sang kakek berusaha minum dengan susah payah, banyak air tumpah ke sekujur tubuhnya lantaran rahangnya hampir tidak mampu menahan air masuk ke dalam mulutnya. Malahan gara-gara itu ia jadi semakin terbatuk hebat, membuat kedua cucunya semakin panik tak terkira.
“Kakek!” Lilian berseru kalut. Ia lantas membaringkan kembali tubuh kakeknya hati-hati.
“Yosh! Bagaimana ini? Keadaan Kakek semakin parah, kita tidak bisa membiarkannya seperti ini lebih lama lagi. Kita harus segera menemukan obat penawarnya!”
Sang kakak, Yosh, ia juga kebingungan setengah mati. Ia tidak tahu harus dengan apa lagi ia mengobati kakeknya. Segala macam obat herbal dari seluruh penjuru negeri telah ia coba berikan, tetapi sampai detik ini belum ada satu pun di antaranya yang dapat menyembuhkan penyakit sang kakek. Yang ada kondisi beliau semakin bertambah parah, tubuhnya terus melemah dan mendingin seperti es.
Melihat kenyataan ini, d**a Yosh bergemuruh hebat. Tangannya terkepal rapat, giginya bergemeretak menahan segala rasa benci dan dendam yang telah tertanam dalam batinnya sejak setahun silam. Tepatnya sejak kakeknya mendapat serangan dari sang tokoh antagonis utama Negeri Mottania selama bertahun-tahun belakangan.
“Semua ini gara-gara Lord Glacio!” Ia yang tak kuat lagi menahan gejolak rasa marah dalam dadanya melampiaskannya dengan menggebrak meja. “Akan kukirim dia ke neraka begitu aku menemukannya nanti!”
Lilian yang melihat Yosh kalut begitu, buru-buru ia menggenggam tangannya untuk menenangkannya.
“Marah tidak ada gunanya dalam situasi ini, Yosh. Sekarang kita harus memikirkan Kakek. Aku tidak bisa melihat Kakek seperti ini terus. Aku takut ....” Lilian berusaha sekuat mungkin menahan tangisnya yang sedikit lagi pecah lantaran tidak kuasa memandang ketidakberdayaan sang kakek. “... sepertinya Kakek mulai kehabisan waktu.”
Yosh ikut memandang sang kakek pilu. Ia merangkul dan mengelus bahu Lilian berharap itu dapat sedikit menenangkannya. Padahal ia sendiri juga sedang ketakutan setengah mati. Dalam hati ia membenarkan perkataan Lilian, bahwa kakek mereka mungkin saja sudah hampir kehabisan waktu.
Sekarang ia harus bagaimana? Sungguh otaknya sudah buntu harus kemana lagi ia mencari obat yang dapat menyingkirkan sihir dingin Lord Glacio dari dalam tubuh kakeknya.
Di tengah kebuntuan itu, Lilian yang kebetulan sedang memandang ke arah jendela tak sengaja menangkap ada seberkas cahaya yang perlahan turun dari langit menuju pemukiman penduduk di arah timur. Ia pun buru-buru menepuk-nepuk bahu Yosh supaya dia ikut menyaksikan apa yang sedang disaksikannya saat ini.
“Yosh, lihat! Bukankah itu ....”
“Penyihir Putih,” sambung Yosh yang kini sedang memandang takzim pada cahaya yang mulai menghilang tertutup pepohonan.
“Ada apa lagi ini? Kenapa Penyihir Putih sampai turun ke Mottania?”
Yosh berpikir sejenak. Air mukanya tampak begitu serius, Lilian sampai berdebar menunggu jawaban darinya.
“Lord Glacio ...,” ujar Yosh tiba-tiba yang langsung membuat Lilian menegang di posisinya. “... Penyihir Putih pasti turun untuk memperingati warga soal kebangkitan Lord Glacio.”
Lilian yang masih tegang, sebisa mungkin ia menyahut, “Ja-jadi dia benar-benar bisa bangkit kembali?”
Yosh tidak menjawab. Pandangannya menatap nanar pada arah timur di depan sana yang tak lain adalah arah di mana pusat kota berada. Lilian dapat menebak, kakaknya saat ini pasti sedang menanam keinginan untuk memburu Lord Glacio jika memang benar dia telah bangkit kembali. Yosh pasti begitu ingin membalaskan dendam atas hal yang menimpa kakek mereka setahun belakangan.
Ya, penyakit yang didera sang kakek saat ini adalah akibat dari sisa kutukan sihir es Lord Glacio. Satu tahun lalu, tepatnya ketika mereka bertiga sedang bertahan hidup dalam persembunyian di tengah pemberantasan yang merajalela, kakek mereka tertangkap basah keberadaannya oleh Lord Glacio yang sedang berpatroli memburu para surviver. Kala itu dia langsung diserang oleh sihir esnya dengan brutal. Yosh dan Lilian yang diminta untuk terus bersembunyi oleh kakek mereka hanya bisa menyaksikan penderitaan beliau tanpa bisa berbuat apa pun. Hingga akhirnya rombongan Lord Glacio pergi, barulah mereka berani mengecek keadaan sang kakek. Saat itu tubuhnya sudah membiru, kulitnya sedingin es. Dan beliau sudah tidak sadarkan diri.
Yosh dan Lilian hanya bisa menangis saat itu, tidak tahu harus berbuat apa. Mereka mengira sang kakek telah tiada. Tapi betapa terkejutnya, ternyata beliau masih hidup. Meskipun dalam keadaan lemah dan memprihatinkan. Bicara saja beliau tidak mampu.
Sejak saat itu mereka berusaha melanjutkan hidup tanpa ketahuan oleh Lord Glacio. Mereka berpindah-pindah tempat untuk mencari info mengenai obat penawar sihir es yang masih terbenam dalam tubuh sang kakek. Tapi nihil, mereka tak kunjung menemukannya sampai detik ini, ketika Lord Glacio telah lenyap diberantas oleh Pangeran Aident dan Putri Kisha.
Sekarang semua orang sedang sibuk berbahagia menjalani kehidupan di era baru peradaban Mottania pasca terbebas dari kutukan salju abadi ciptaan Lord Glacio. Tapi tidak dengan mereka, sampai detik ini mereka masih memperjuangkan kesembuhan sang kakek. Mereka sampai sengaja mengasingkan diri dari kota karena tidak mau penyakit kakek mereka yang bersumber dari Lord Glacio menjadi alasan dikucilkannya mereka, apalagi sampai dihujat pembawa sial. Tidak, mereka tidak akan membiarkan kakek mereka lebih menderita lagi dengan mendengar cibiran semacam itu dari warga.
Di tengah lamunan kelam masa lalu itu Yosh masih terus memandang kosong ke luar jendela. Ada begitu banyak hal yang ia renungkan saat ini. Sampai akhirnya celetukan Lilian berhasil membuatnya kembali pada kenyataan.
“Yosh, apa sebaiknya kita pergi ke pusat kota dan meminta bantuan Penyihir Putih mengenai obat penawar penyakit Kakek?”
Yosh langsung menoleh pada Lilian. Manik coklatnya menatap sang adik begitu tajam nan serius.
“Aku tahu ini kedengarannya mustahil dan tidak tahu malu. Tapi ini bisa jadi satu-satunya kesempatan bagi kita, Yosh. Penyihir Putih pasti tahu penawar sihir es Lord Glacio yang masih terbenam dalam tubuh Kakek,” lanjut Lilian menyarankan.
Yosh berpikir keras. Lantas ia menoleh ke belakang di mana sang kakek tengah terbaring lemah dengan napas pendek memburu. Benar kata Lilian, Penyihir Putih mungkin saja akan menjadi harapan terakhir mereka untuk kesembuhan sang kakek. Mereka tidak boleh melewatkan kesempatan ini, mumpung sekarang beliau sedang turun ke Mottania.
Yosh pun menatap Lilian lagi, “Kalau begitu kau tunggu di sini jaga Kakek. Biar aku yang pergi ke pusat kota untuk meminta bantuan beliau.”
Lilian mengangguk, Yosh langsung berlari keluar begitu mendapat persetujuan dari kembarannya.
Namun, langkahnya tiba-tiba saja terhenti begitu dia baru mencapai pintu gubuk reyot mereka. Lilian yang melihat itu bertanya-tanya bingung, kenapa Yosh berhenti di sana? Apa ada seseorang yang menghadangnya?
Baru saja Lilian mempertanyakan hal itu, kini Yosh melangkah mundur membiarkan seseorang masuk ke dalam. Lantas, ia membungkuk hormat padanya.
Melihat siapa tamu yang datang, Lilian sontak terbelalak terkejut. Mulutnya ternganga untuk sesaat sebelum akhirnya ia ikut membungkuk menyambut kedatangan tamu spesial mereka.
“Salam hormat, Yang Mulia Penyihir Putih,” ujar Yosh dan Lilian bersamaan menyambut Penyihir Putih yang kini bertamu ke gubuk reyot mereka.
•••