Malam semakin larut, udara dingin pun terasa semakin menusuk sampai ke tulang. Di tambah lagi dengan suasana sunyi nan gelap di sepanjang jalan yang Kisha lewati, harusnya seorang gadis seperti dirinya sudah merasa takut dan frustasi menghadapi rintangan ini seorang diri.
Tetapi hal itu seolah tidak berlaku bagi Kisha. Pikirannya terlalu kalut untuk sekedar merasa takut. Bahkan rasa dingin dan lelah sudah terasa kebas dalam dirinya. Karena kini, perasaan sedih serta kekecewaan tengah mendominasi suasana hatinya. Sungguh, ia sama sekali tidak menyangka kalau arti dirinya bagi orang lain tidaklah begitu penting. Bahkan Leo yang selama ini selalu menemaninya, kini malah meninggalkannya dan lebih memilih melanjutkan misi bersama Aident.
Kalau bisa menangis, ingin sekali Kisha menangis menumpahkan segala kekecewaannya pada orang-orang di sekitarnya yang tidak bisa mengerti dirinya. Tapi air matanya seperti ikut membeku bersama embun, seolah tidak memihaknya juga.
Sebenarnya Kisha bukannya tidak menyadari sikap kekanakan dan keegoisannya. Ia cukup sadar kok, ia memang salah meninggalkan teman-teman seperjuangannya dan lebih memilih mengambil jalan pulang. Tetapi apa salah, jika ia merasa sedikit cemas, ia takut akan kehilangan lagi?
Kisha pernah menyaksikan sendiri kematian paling mengerikan yang terjadi pada koloni harimau keluarga Leo. Itu adalah trauma terbesar yang sampai saat ini belum bisa terobati walau ia sendiri sudah banyak melakukan hal jahat kepada para manusia sebagai bentuk pembalasan dendam. Tidak adakah dari mereka yang mengerti ketakutannya akan kematian? Alih-alih menenangkan dan membujuk, Aident malah mengusirnya. Sungguh, itu menyakitkan bagi Kisha walau ia sadar kalau dirinya juga salah karena terlalu gampang tersulut emosi.
Kini, dalam gelapnya hutan bersalju yang bahkan tidak Kisha ketahui ini di mana, ia hanya bisa berharap kecil, semoga saja ada seseorang yang akan menyusulnya kesini dan memintanya untuk kembali dalam kelompok. Kalau ada yang melakukan itu, Kisha berjanji ia akan menurut dan berusaha untuk tidak egois lagi. Ia sudah cukup merenung menyadari kesalahannya. Dan jujur, ia menyesali tindakan bodoh dan kekanakannya ini.
Kisha menoleh ke belakang sejenak, tetapi tentu saja hanya ada kesunyian yang menyambutnya.
“Hah ...,” gumamnya dengan raut sedih. “Apa yang kuharapkan? Tentu saja mereka tidak akan menyusulku. Harusnya aku yang kembali. Sial, kenapa aku harus tersesat seperti ini, sih?”
Kisha menghembuskan napas panjang, kemudian kembali melangkah gontai tak tentu arah. Tapi dalam hati ia terus bertanya-tanya, Apa tidak adakah dari kalian yang mencemaskanku? Rasanya agak menyakitkan mengetahui aku tidak sepenting itu di mata kalian.
Beberapa menit lagi kembali berlalu, Kisha hanya terus berjalan ditemani kesunyian malam. Ia tidak mendengar ada suara jangkrik atau hewan malam apa pun yang biasa ia dengar ketika malam hari di hutan tempat tinggalnya. Yang bisa ia dengar hanyalah suara langkah kakinya sendiri, serta suara deru napasnya yang mulai tidak stabil karena udara yang begitu dingin.
Tapi kemudian, sayup-sayup telinga Kisha mulai mendengar suara langkah—ah, bukan, lebih tepatnya seperti suara pacuan kaki hewan. Ia pun mulai waspada dengan sekitar. Ia menyiapkan busurnya dengan sigap di tangan, siap melontarkan anak panah pada apa pun atau siapa pun itu yang mendekat.
Dari kejauhan, mata biru Kisha mulai menangkap seberkas bayangan yang mendekat ke arahnya dengan gerakan yang begitu cepat. Sosok itu terlihat seperti hewan tetapi terlihat agak tinggi. Mungkin seperti seseorang yang menunggangi hewan? Entahlah, Kisha tidak tahu. Gelapnya hutan membuat jarak pandangnya berkurang dan sedikit tidak fokus. Tetapi apa pun itu, ia sudah siap siaga untuk membidikkan busurnya.
Semakin lama, sosok itu terlihat semakin dekat dengan keberadaan Kisha. Gadis itu memicingkan matanya, dan mendapati kalau hewan itu samar-samar terlihat berwarna putih. Benaknya pun mulai menimbang-nimbang, mungkinkah itu Leo dan Aident? Tapi kemudian ia segera menggelengkan kepalanya cepat. Tidak mungkin itu mereka, batinnya.
Lalu tanpa pikir panjang, gadis itu segera melontarkan panahnya pada makhluk di depan sana yang terus mendekat ke arahnya. Tetapi sesuatu yang aneh terjadi. Kisha mendengar ada suara anak panah yang seperti memantul pada benda besi. Ia pun sedikit terbelalak, baru kali ini ada sesuatu yang bisa menangkis panahnya tepat sasaran. Apa pun makhluk yang tengah di hadapinya kali ini, dia pasti sangat cerdik. Tapi siapa, atau apa dia kira-kira?
Dan akhirnya, pertanyaan Kisha pun terjawab. Kini tubuhnya seperti membeku, begitu terkejut dan tak menyangka atas kehadiran sang ‘musuh’ yang kini sudah berada tepat di hadapannya. d**a Kisha bahkan sampai naik turun tidak karuan karena berusaha mati-matian menahan segala emosi campur aduk yang begitu ingin dikeluarkannya saat ini.
“Kau berusaha membunuhku, eh?” cibir sang ‘musuh’.
Mendengar suara itu, Kisha tak sanggup lagi menahan emosi dalam jiwanya. Ia pun tersenyum, ya, ia sendiri bahkan tak sadar kalau ia sudah menyunggingkan senyumnya. Senyum yang sangat lebar. Habis mana bisa ia menahan itu jika keinginan terdalamnya beberapa saat lalu tiba-tiba terkabul?
“Kau baik-baik saja?” tanya si ‘hewan’ yang di tunggangi si ‘musuh’. Sudah bisa menebak 'kan siapa mereka? Ya, mereka adalah Aident dan Leo.
“Aku baik,” jawab Kisha setelah berdeham beberapa kali ketika menyadari senyumnya yang terlalu berlebihan. Dasar Kisha, bukan dia namanya kalau tidak sok jual mahal.
“Pfft ....” Terdengar suara tawa tertahan dari Aident. Kisha pun langsung merengut sebal. “Sudah, tidak perlu menyembunyikan rasa senangmu itu. Kau ini gadis yang gengsian sekali, ya?”
Kisha tak menjawab. Ia hanya membuang muka sambil melipat tangan di d**a. Tapi walau begitu, baik Aident maupun Leo tentu sudah mengerti kalau sesungguhnya gadis itu merasa senang dengan kedatangan mereka. Hanya saja dia terlalu gengsi untuk mengakuinya. Ya, itu memang sudah menjadi tabiat seorang Kisha yang tidak akan pernah hilang dari dirinya.
“Dengar,” ucap Aident kemudian. Kali ini nada suaranya terdengar begitu serius dan tulus. “Aku minta maaf jika kehadiranku di hidupmu hanya membuatmu merasa tertekan atas segala ancaman bahaya yang menghampiri. Mungkin seharusnya kita tidak pernah bertemu saja, itu pasti akan membuat hidupmu jadi jauh lebih tenang. Jika kau tidak mau memaafkanku, setidaknya izinkan aku untuk mengantarmu pulang kembali ke Bumi. Karena jujur, hatiku tidak bisa tenang jika tidak melihatmu kembali pulang dengan selamat.”
Deg! Entah kenapa jantung Kisha tiba-tiba berdesir lembut saat mendengar Aident mengucapkan hal itu. Pasalnya, baru kali ini ada seseorang yang mengucapkan kata-kata setulus itu padanya. Ia pun tak kuasa menahan senyumnya lagi.
“Apa yang kau bicarakan? Aku tidak ingin pulang,” jawab Kisha dengan suara yang sangat pelan lantaran malu. Tapi kemudian ia memberanikan diri untuk menatap pria itu begitu dalam dan serius.
“Dengar, Aident,” ucap Kisha lagi. “Kuakui perkataanmu yang bilang kalau aku ini egois dan kekanakan, itu memang benar. Aku minta maaf soal itu. Sejujurnya aku hanya sangat takut akan gagal. Tanggung jawab yang kupikul dalam memperjuangkan Mottania terasa begitu besar. Kalau aku gagal, rakyat Mottania yang akan menjadi taruhannya. Aku ingin mundur, karena aku tidak mau mengecewakan untuk yang kedua kalinya. Seperti aku gagal menyelamatkan keluargaku, keluarga Leo, para harimau itu.”
Leo tertegun mendengar jawaban Kisha. Jadi selama ini dia masih menyalahkan dirinya atas kejadian itu?! Batin Leo tidak menyangka.
“Kau ini bicara apa?” tutur Leo. “Peristiwa itu sama sekali bukan kesalahanmu. Itu adalah bencana yang sudah ditakdirkan semesta untuk terjadi. Jika pun ada yang harus di salahkan, maka salahkan lah para manusia biadab itu, juga salahkan Lord Glacio yang mengancam pemimpin kami, sehingga kami kabur ke dunia manusia dan harus mengalami bencana itu. Lagi pula, masa lalu biarkanlah menjadi masa lalu, Kisha. Jangan terlalu terlarut dalam penyesalan, fokus saja pada masa sekarang dan masa depan.”
“Justru harusnya kau bersyukur karena kau telah mendapat petunjuk atas apa yang harus kau lakukan agar masa depanmu menjadi lebih cerah dan tertata. Dengan begitu kau jadi tahu apa langkah yang harus kau ambil. Karena itulah, mari kita terus berjuang bersama-sama demi takdir baik kita di masa mendatang nanti. Ingat kalau ini bukan hanya untuk kita, tetapi juga untuk seluruh rakyat Mottania.”
Kisha tersenyum haru mendengar nasihat Leo.
“Kau benar,” jawabnya, “kita harus terus berjuang untuk menghancurkan Lord Glacio. Toh selain demi Mottania, itu juga akan menjadi bentuk penghormatan bagi keluarga kita yang telah binasa.”
Leo mengaum pelan tanda setuju. Sementara Aident yang sedari tadi ikut menyimak, ia ikut tersenyum haru melihat optimisme Kisha yang kembali meningkat, serta tuturan Leo yang begitu berkesan di hati. Hingga tak sadar, perasaan senangnya ini membuat tubuhnya bergerak refleks memeluk tubuh Kisha yang memang berada tepat di hadapannya.
“Terima kasih,” gumam Aident masih tidak sadar dengan apa yang dilakukannya.
Kisha agak terkejut mendapat pelukan mendadak seperti ini. Tapi karena suasana hatinya sedang bagus, ia pun akhirnya membalas pelukan Aident. “Aku berjanji akan selalu berada di sampingmu, Aident,” ungkapnya tulus.
“Sungguh? Kau tidak akan berniat untuk pergi lagi?”
“Tidak, karena disinilah rumahku yang sebenarnya. Tempat dimana aku berada seharusnya.”
•••