Dari kecil Aident sudah terbiasa diminta untuk melakukan hal-hal berbahaya demi kepentingan kerajaan dan kelangsungan hidup rakyat Mottania. Berkat kelahirannya yang berada di ambang kehancuran, serta berkat sebuah ramalan besar yang sudah digariskan kepadanya sejak pertama kali ia menghirup udara di dunia ini, ia dituntut untuk menjadi kuat dan mementingkan kepentingan bersama ketimbang kepentingan pribadi. Ia bahkan sudah sering kali ditegaskan bahwa nyawanya adalah milik bersama yang harus ia dedikasikan untuk kesejahteraan Mottania. Maksudnya, ia yang terlahir sebagai putra Lord Giordani harus siap jika sewaktu-waktu akan dikirim untuk menjalani misi penting yang bertujuan untuk kedamaian Mottania.
Ya, Aident sudah terbiasa dengan segala tuntutan kejam itu sejak usianya menginjak lima tahun. Tepatnya ketika Lord Glacio mulai memenjarakan orang-orang penting Mottania, termasuk ayahnya. Sedari usia itu Aident mencoba memaklumi dan menerima tanggung jawab berat yang harus ia pikul seumur hidupnya. Ia tidak pernah keberatan apalagi menolak jika diberi misi penting yang bisa jadi akan membahayakan nyawanya. Seperti misi pencarian pedang es legenda misalnya. Butuh dua puluh tahun ia menyelesaikan misi itu, tetapi sekalipun tidak pernah ia mengeluh. Karena ia tahu itu demi kejayaan Mottania, serta demi kebebasan rakyat dan terutama ayahnya.
Tapi untuk yang kali ini, yaitu misi dari Penyihir Putih mengenai pencarian sisa jiwa Lord Glacio, rasanya Aident agak berat menjalaninya. Entahlah, pikirannya terasa begitu kacau sejak tragedi mengenaskan yang menimpa Leo tiga hari lalu. Ia merasa seperti sangat membenci situasi ini, sampai rasanya ia malas sekali berkemas. Lihat saja sekarang, matahari sudah naik seperempatnya tetapi Aident masih belum juga selesai berkemas padahal target awal ia akan berangkat ketika matahari terbit pagi ini. Ia sama sekali tidak ada gairah dalam menjalani misi kali ini. Ia seperti tidak punya tujuan.
Mungkin renggangnya hubungannya dengan Kisha menjadi salah satu alasan mengapa ia jadi tidak bersemangat seperti ini. Ya, pikirannya terlalu frustasi memikirkan gadis itu. Satu sisi ia tidak mau menjalani misi ini bersamanya, ia lega ketika Penyihir Putih setuju untuk membiarkan mereka melangkah sendiri-sendiri. Namun di sisi lain, Aident merasa cemas terhadapnya. Ia tidak bisa, atau tidak rela lebih tepatnya, membiarkan gadis itu menempuh perjalanan seorang diri. Ia khawatir akan terjadi hal buruk kepadanya di tengah perjalanan memecahkan misi ini nanti. Aident takut, ia tidak ada di sisinya untuk menolongnya ketika hal buruk itu terjadi.
Perasaan ini aneh bukan? Kemarin ia bersikeras ingin menuntut balas perbuatan Kisha terhadap Leo dengan cara yang sama, yaitu membunuhnya. Tapi sekarang saat ia tidak sedang berhadapan dengannya, jiwanya meronta-ronta ingin melindunginya. Sungguh Aident bingung dengan dirinya, sepertinya ada sesuatu yang berhasil mempengaruhi pikirannya sehingga ia terhasut untuk merasakan bimbang ini. Tapi apa? Atau siapa? Memangnya ada sesuatu atau seseorang di Mottania yang mampu mengendalikan pikiran serta emosinya? Masa Lord Glacio?
Tapi kalau benar ini ulahnya, ini gawat. Aident harus ekstra hati-hati dalam bertindak, jangan sampai ia terhasut dan terjebak ke dalam permainannya. Kisha juga, ia harus memerhatikan gadis itu dari kejauhan. Kalau benar semua yang mereka lihat kemarin hanyalah ilusi yang diciptakan Lord Glacio untuk memecah belah mereka, Aident pasti akan menyesal seumur hidupnya karena pernah berpikir untuk membunuhnya.
Hah ... situasi ini semakin rumit saja. Wajar ‘kan kalau sekarang Aident jadi sangat malas untuk berangkat. Kepalanya terlalu pusing memikirkan banyak hal. Namun apa daya, karena ini perintah langsung dari Penyihir Putih, mau tidak mau ia harus tetap berangkat.
Kini, Aident mengecek kembali isi ranselnya. Perbekalan sudah masuk, barang-barang penunjang bertahan hidup di alam liar seperti kantung tidur, pisau belati, tali tambang dan batu api juga sudah masuk. Hm, sepertinya ia juga perlu membawa peta dan kompas untuk berjaga-jaga kalau ia tersesat di tengah hutan nanti. Walau itu tidak mungkin sih, Aident sudah menjelajah Mottania selama dua puluh tahun. Rasanya mustahil ia bisa tersesat.
Setelah memastikan semuanya siap, Aident menaruh ransel ke punggungnya. Kini, ia menatap hamparan Negeri Mottania yang dikelilingi oleh hutan-hutan lebat dari jendela kamarnya di Istana Kristal. Sekali lagi, ia akan menjelajah hamparan belantara itu dengan sebuah misi di tangannya. Semoga saja kali ini ia akan pulang dengan membawa hasil.
Aident pun membalikkan tubuhnya bersiap untuk berangkat. Namun kehadiran Lord Giordani di pintu kamarnya membuat Aident terpaksa menunda sebentar keberangkatannya.
Ia memandang sang ayah. Wajah beliau tampak datar nan teduh, tetapi sorot matanya kentara sekali menyiratkan keengganan. Ya, biarpun beliau sendiri yang menegaskan Aident untuk menjalankan misi ini, tetap saja dia seorang ayah yang sebenarnya tidak rela menggiring buah hatinya ke jurang berbahaya. Namun apa daya, dia seorang raja, sudah kewajibannya mementingkan kepentingan bersama ketimbang kehendak hatinya.
Lord Giordani melangkah mendekati Aident lantas menepuk pelan bahu kekar putranya itu.
“Berjanjilah pada Ayah, kali ini kau akan cepat menyelesaikannya,” ujarnya pelan nan tegas. “Ayah tidak ingin menunggu begitu lama seperti misimu yang sebelumnya.”
Aident tersenyum, “Tenanglah, setidaknya kali ini situasinya sudah jauh lebih baik dari kemarin. Aku pasti akan cepat pulang. Aku berjanji.”
Sorot mata Lord Giordani tampak menenang setelah mendengar itu. Ia sedikit merasa lega, walau tidak dapat dipungkiri bahwa masih tersisa segelintir rasa cemas yang menyelimuti pikirannya.
“Bagus kalau begitu.” Lord Giordani menyahut. “Sekarang kau boleh pergi.”
Lord Giordani bergeser satu langkah ke samping untuk memberikan jalan pada putranya. Aident pun melangkah maju. Namun baru saja kakinya mencapai pintu, ayahnya kembali menghentikannya.
“Ah, satu lagi,” katanya serius, “Ayah mengerti hubunganmu dengan Kisha sedang tidak baik. Tapi jika boleh Ayah memohon, pantaulah dia dari kejauhan. Tolong jangan biarkan dia terbunuh sekalipun kau begitu menginginkannya. Ayah percaya padamu, Aident.”
Mendengar itu, d**a Aident seketika bergemuruh hebat. Entah kenapa rasa marah dan benci yang semula sudah meredam kini mendadak timbul lagi begitu ia punya lawan bicara yang membahas Kisha. Hah! Perasaan ini semakin membingungkan saja! Ia sampai tidak tahu harus memercayai suara hatinya yang mana. Yang tadi ketika ia merenung seorang diri, atau yang sekarang. Keduanya begitu rancu, memusingkan.
“Akan kuusahakan.”
Aident bahkan tidak sadar telah melontarkan jawaban tersebut. Sungguh, pikirannya benar-benar seperti sedang dikendalikan. Ia jadi takut—tapi secepatnya rasa takut itu berganti menjadi rasa tidak peduli. Aneh sekali bukan?
Aident lantas mendengus pelan. Tidak mau terus terlarut dalam kebimbangan yang kini tengah menghantuinya, Aident segera memacu langkah menuju misinya.
Aku datang, Lord Glacio.
•••