Bab 13 - Persiapan Keberangkatan Kisha

1924 Kata
Di sisi lain, Kisha juga sama seperti Aident sedang melakukan packing untuk persiapan keberangkatan perjalanan misinya. Sama seperti Aident pula, ia tidak begitu bersemangat melakukan ini. Ia justru sangat malas dan merasa ingin menghilang saja dari peradaban supaya ia tidak perlu repot-repot melakukan misi bodoh nan tidak berguna ini. Jangan salahkan Kisha jika ia terkesan tidak ikhlas menjalankan misi penting yang diberikan langsung oleh Penyihir Putih demi kesejahteraan Mottania di masa mendatang. Jangan salahkan Kisha juga jika ia telah kembali menjadi jati dirinya yang sesungguhnya yaitu si gadis hutan pemarah dan pembenci akut yang tidak suka tinggal di peradaban ramai seperti Mottania di era sekarang. Semua salah penghuni negeri ini sendiri. Mereka yang telah menghilangkan kepercayaan Kisha untuk menganggap Mottania rumah tempat di mana ia berlindung. Cih, boro-boro mendapat perlindungan, yang ada ia justru merasa tersiksa di sini. Jika boleh jujur Kisha begitu sedih dan kecewa mendapati semua orang mengetahui bahwa suatu hal buruk dan keji telah menimpa Leo tetapi mereka hanya sibuk memikirkan Lord Glacio. Iya, Kisha tahu ancaman kebangkitan Lord Glacio memang patut untuk diwaspadai semua orang. Tapi tidak bisakah sehari saja atau setidaknya satu jam saja mereka mengadakan acara penghormatan untuk mengenang kepergian Leo? Dia memang hanya seekor harimau. Namun bagaimanapun juga dia merupakan salah satu pahlawan Mottania yang telah membantu Aident dan Kisha dalam merebut kembali kejayaan Mottania dari penderitaan musim dingin abadi mahakarya Lord Glacio. Tidak sepantasnya penduduk Mottania melupakan Leo begitu saja. Sungguh Kisha merasa sangat hancur tiga hari belakangan ini. Ia kecewa dan marah kepada semua orang, termasuk pada ayah dan ibunya sendiri. Semua orang di bangunan ini—Kastil Elves—tiap kali bertemu dengannya yang mereka tanyakan hanyalah persiapan rencananya dalam menempuh misi pencarian jejak Lord Glacio. Jika pun ada yang mengungkit soal Leo, mereka hanya sekedar basa-basi mengucap turut bersedih atas tragedi kelam itu. Tidak ada satu pun di antara mereka yang betul-betul memihak Kisha untuk menuntut Aident atas kejahatan yang dilakukannya terhadap Leo. Sungguh Kisha muak menanggapi mereka-mereka yang sok peduli terhadapnya. Mereka membuatnya teringat pada manusia-manusia munafik di Bumi yang begitu ia benci. Kisha sadar sih mereka seperti itu akibat ucapan Penyihir Putih. Di mana dia berkata keras-keras kepada semua orang bahwa tidak seharusnya mereka memercayai peristiwa hilangnya nyawa Leo yang ceritanya saja bertolak belakang dari sisi Aident maupun Kisha. Dia bilang bisa jadi itu hanyalah ilusi ciptaan Lord Glacio untuk memecah belah hubungan erat mereka. Sebetulnya Kisha tidak terima dengan gagasan itu. Jelas-jelas ia melihat peristiwa p*********n itu dengan mata kepalanya sendiri. Tapi ia sudah memprotes pun tetap saja ia kalah. Apa daya, walaupun ia seorang putri, kedudukannya jelas berada jauh di bawah Penyihir Putih yang agung. Maka dari itu ia hanya bisa pasrah menerima saran darinya. Tidak apa, setidaknya Penyihir Putih bersedia mencari Leo yang sebenarnya untuk membuktikan kalau gagasannya benar bahwa jasad mengenaskan Leo yang ia lihat di hutan waktu itu hanyalah ilusi ciptaan Lord Glacio. Diam-diam Kisha juga mengharapkan kebenaran dari gagasan tersebut. Itulah satu-satunya hal yang membuatnya mau repot-repot menerima misi berbahaya ini. Ya, untuk menangkap Lord Glacio dan mengembalikan Leo padanya. Tepat saat matahari terbit pagi ini, Kisha selesai berkemas. Ranselnya sudah siap, busur sakti warisan ayahnya juga sudah tersampir di bahunya. Kini Kisha sudah siap berangkat. Dari ketinggian jendela kamarnya Kisha menatap hamparan pemandangan Negeri Mottania yang akan ia jelajah. Sesaat ia meneguk salivanya sambil tanpa sadar memancarkan raut cemas. Ya, jujur ia agak takut melihat deretan belantara di depan sana. Ini pertama kalinya ia akan menjelajah hutan-hutan asing itu seorang diri. Ia memang sudah familiar dengan beberapa di antaranya. Tapi tetap saja tanpa Leo maupun Aident di sisinya rasanya ia merasa agak gentar. Ah, tiba-tiba ia jadi merindukan dua sosok itu. Ia bahkan tertunduk sedih ketika ingatannya memaksanya berkelana kembali ke masa-masa saat mereka menempuh perjalanan di tengah badai salju demi mencari pedang es legenda. Walau sulit dan pertikaian-pertikaian kecil harus terjadi di antara mereka kala itu, tetapi saat-saat itu adalah masa-masa terindah dalam hidup Kisha. Karena di sanalah ia menemukan titik kebahagiaan bersama Aident. Menyadari pikirannya merenungkan sosok yang seharusnya ia benci saat ini, Kisha langsung mengerjap menyadarkan diri. Cih, untuk apa aku mengingat orang itu lagi? Rutuknya dalam hati seraya menyunggingkan cibiran penuh kebencian. Dia hanyalah seorang pembunuh biadab yang tidak pantas mendapat secuil pun tempat dalam pikiranku! Kisha pun mendengkus kasar lantas berbalik memunggungi jendela kamarnya. Sebelum berangkat ia menjernihkan dulu pikirannya dengan memakan sepotong apel, dengan agak brutal. Ya, jangan heran, belakangan ini Kisha memang terbiasa memakan sesuatu untuk meredakan emosinya. Hal itu cukup berguna dalam membuatnya mencegah menuruti isi pikirannya yang selalu ingin memakan orang. Jangan tanya alasannya mengapa, tentu karena ia membenci semua orang. Oh, termasuk si pengganggu satu ini yang belakangan sering sekali mengganggu ketenangannya ketika ia sedang ingin mengasingkan diri di dalam kamar. Lihat, dia bahkan datang lagi ketika Kisha ingin menikmati kesendirian terakhirnya di ruangan nyamannya ini sebelum ia berangkat menyusuri belantara Mottania yang menyeramkan. “Sudah kubilang berhenti datang ke kamarku, Alanir. Apa kau tuli?!” Kisha berseru menggeram seraya menatap sosok di hadapannya dengan penuh kebencian. Alanir, gadis Elves sebaya Kisha yang mengenakan pakaian pelayan hanya bisa tertunduk sedih mendapat makian menyakitkan itu dari tuannya yang wajib ia layani sekalipun dia menolak. “Maafkan aku. Aku hanya ingin melihatmu untuk terakhir kalinya sebelum kau pergi, Putri,” sahut Alanir sopan. Kisha memutar bola mata jengah saat lagi-lagi harus mendengar panggilan menggelikan itu terlontar dari mulut seseorang untuk menyebutnya. Ya, walau sudah enam bulan tinggal di Mottania tetap saja sisi manusia modernnya masih tidak bisa terhapuskan begitu saja. Ia masih merasa risih dengan budaya kerajaan ala film The Lord of The Rings yang merajalela di negeri ini. Kisha tersenyum miring, “Kau benar-benar tuli rupanya. Sudah berapa kali juga kubilang untuk berhenti memanggilku dengan sebutan menggelikan itu! Aku benar-benar muak mendengarnya asal kau tahu!” Alanir yang mendapat perintah itu kebingungan sendiri harus bagaimana. “Ta-tapi, Putri, sudah kewajibanku sebagai seorang pelayan untuk—” Tak. Kata-kata Alanir terhenti begitu mendapati sebuah panah lempar sepanjang telapak tangan menancap di pintu tepat di sebelah kiri kepalanya berada. Ia begitu terkejut, hampir saja ia terserempet panah itu tadi. Kisha betul-betul mengerikan. Alanir pun meneguk salivanya. “Ma-maaf ...,” gumamnya tanpa berani menatap wajah Kisha. Kisha hanya memandangnya datar tanpa rasa bersalah. Ia kembali mengambil sepotong apel dan memasukkannya ke dalam mulutnya. “Apa keperluanmu mendatangiku?” tanya Kisha kemudian, ia mulai menggendong tas ransel berisi segala macam perbekalan ke punggungnya. Alanir menatap Kisha sendu. Namun ia tidak berani melakukan itu lama-lama. Ia segera kembali menunduk sopan. “Anu ...,” ucap Alanir ragu-ragu, “... haruskah kau menempuh perjalanan ini seorang diri?” “Memangnya kenapa tidak? Kau meremehkan kemampuanku?” Kisha bertanya balik dengan nada tidak senang. Buru-buru Alanir menggeleng tegas, “Bu-bukan begitu! Sungguh aku tidak pernah meremehkanmu. Hanya saja aku ....” “Kenapa?” “Aku mencemaskanmu, Putri,” ungkap Alanir tulus. Kisha menatap datar pada gadis Elves pemilik rambut coklat lurus itu. Ia tidak terlalu terkejut mendengar ungkapannya barusan. Sejak awal Alanir diutus menjadi dayang-dayang pribadinya dia memang begitu perhatian padanya. Bahkan di saat masa-masa terpuruknya kehilangan Leo, tidak seperti kebanyakan orang yang sok berbela sungkawa, Alanir tidak mengucap apa pun yang membuat Kisha merasa muak. Dia justru sering datang ke kamar Kisha membawakan berbagai macam barang yang mengingatkannya akan kebersamaannya dengan Leo. Seperti lukisan yang terpajang di salah satu sudut dinding kamarnya, itu adalah pemberian Alanir dua hari lalu. Sebetulnya dia begitu baik dan sangat Kisha percayai. Hanya saja sekarang Kisha sedang berada dalam masa tidak bisa tidak membenci orang-orang, termasuk Alanir. Kisha membuang muka, “Kau tidak perlu repot-repot mencemaskanku. Aku sudah biasa menjelajah hutan seumur hidupku.” “Tapi hutan Mottania berbeda, Putri. Banyak makhluk buas nan mengerikan yang berkeliaran di dalam sana. Bahkan para Elves yang sejatinya adalah pemburu belantara saja tidak berani masuk terlalu jauh. Kemarin-kemarin kau mungkin beruntung tidak bertemu dengan mereka karena musim dingin abadi menyelimuti seluruh peradaban Mottania. Tapi sekarang semuanya sudah kembali normal, itu berarti makhluk-makhluk di dalam sana juga sudah beraktivitas normal.” Kisha berdecak tidak senang mendengar itu. Kenapa sih gadis bodoh ini harus menakut-nakutinya seperti itu? Apakah dia tidak mengerti bahwa Kisha juga sebenarnya berusaha mati-matian menghilangkan rasa takut yang menyerang pikirannya? Kalau saja bukan demi Leo, Kisha juga tidak akan mau repot-repot melakukan perjalanan ini. Alih-alih menanggapi racauan Alanir Kisha memilih untuk memantapkan langkah sebelum ia merasa semakin ketakutan. Ia berjalan menuju pintu tempat di mana Alanir tengah menghadang. Ia berhenti sejenak di hadapan gadis itu untuk memberi penegasan terakhir terhadapnya. “Dengar, Alanir. Makhluk apa pun akan kuhadapi demi menemukan kebenaran tentang Leo. Jika perkataan Penyihir Putih benar bahwa tragedi kemarin adalah ulah Lord Glacio, aku tidak akan segan mempertaruhkan nyawaku demi mendapatkan kembali Leo yang sebenarnya. Aku tahu harapan besar ini bisa jadi sia-sia. Tapi setidaknya aku ingin berusaha berjuang untuk Leo. Dan sebaiknya kau tidak usah ikut campur,” tukas Kisha tajam. Alanir tertunduk dalam di hadapan Kisha. Namun ia masih merasa cemas, ia masih tidak rela melepas Kisha pergi seorang diri. “Se-setidaknya bawa aku pergi bersamamu, Putri. Aku akan melindungimu selama pencarian.” Alanir memohon. Kisha tertawa mengejek mendengar itu. “Membawamu untuk melindungiku? Cih, yang ada kau hanya akan merepotkanku.” Setelah mengatakan itu Kisha melangkah melalui Alanir begitu saja. Diam-diam ia agak merasa bersalah melihat gadis itu tertunduk sedih. Bagaimanapun Alanir hanya sedang mencemaskannya. Rasanya tidak pantas Kisha berkata sekasar itu padanya. Karena rasa tidak enak hati yang terus membebaninya, Kisha memutuskan untuk berhenti melangkah sejenak sebelum benar-benar melangkah pergi. Ia berbalik menatap Alanir. “Dengar, Alanir,” ujar Kisha yang langsung membuat gadis bermata violet itu memandang penuh harap kepadanya. “Aku tidak bisa membiarkanmu ikut bersamaku dalam perjalanan ini karena aku tidak mau membahayakanmu. Jujur saja, untuk saat ini kau lah satu-satunya orang yang kuharap akan tetap hidup untuk menyambut kepulanganku nanti.” Alanir menatap Kisha tak menyangka mendengar itu. Matanya berbinar terharu, mulutnya terkatup rapat tidak sanggup berkata-kata. “Putri ....” Hanya gumaman itu yang bisa Alanir lontarkan untuk menyahut perkataan Kisha. “Jika kau ingin membantuku, tolong wakilkan saja pamitku pada ayah dan ibuku. Aku tidak akan menghadap mereka saat ini. Aku tidak bisa. Aku terlalu marah dan sakit hati terhadap mereka yang tidak mau melakukan apa pun untuk Leo,” ujar Kisha lagi dengan nada serta air muka yang menggambarkan dengan jelas seberapa dalam rasa kecewanya. Alanir turut tertunduk sedih mendengar itu. Ia mengerti bagaimana perasaan Kisha saat ini. Maka dari itu ia kembali menatap tuannya lagi, lantas mengangguk menuruti perintahnya. “Baik kalau itu maumu, Putri.” Kisha tersenyum getir membalasnya. “Terima kasih.” Saat hendak berbalik lagi untuk berangkat menempuh perjalanan, sekali lagi Kisha menoleh pada Alanir untuk memperingatinya akan sesuatu. Kali ini ia memasang raut cemberut jutek khasnya pada pelayannya itu. “Satu lagi, Alanir ....” Alanir sontak menatap Kisha was-was. Ia menunggu kelanjutan kalimat Kisha dengan rasa cemas menghantuinya. Pasalnya ia sudah hafal betul dengan raut cemberut itu. Kalau Kisha sudah memasang ekspresi seperti itu, dia pasti akan segera mengecamnya. “... sebaiknya kau berhenti memanggilku putri ketika aku kembali nanti. Atau kalau tidak, kujamin saat itu panahku tidak akan lolos dari isi otakmu.” Alanir meneguk salivanya mendengar itu. Tuh 'kan benar. Tuannya ini memang kejam. “Aku pergi,” pamit Kisha. Alanir melambaikan tangan padanya dan menyerukan perintah hati-hati. Kisha hanya berlalu tanpa menoleh. Kini ia fokus pada tujuan utamanya menempuh misi ini. Yaitu mencari jejak keberadaan Lord Glacio supaya ia bisa mencari tahu soal kebenaran mengenai hal yang telah menimpa Leo sebenarnya. •••
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN