Tiga hari telah berlalu sejak kedatangan Penyihir Putih ke gubuk reyot ini. Kini akhirnya tiba hari di mana Yosh dan Lilian akan berangkat menempuh perjalanan panjang menjalankan misi dari sang penyihir agung tersebut.
Jika boleh berkata, berat rasanya bagi Yosh dan Lilian untuk meninggalkan sang kakek seorang diri di rumah hanya ditemani oleh Ryan dan Lyra yang baru mereka temui lagi tiga hari lalu, setelah sekian lama saling hilang kontak. Bukannya mereka tidak memercayai sepasang kakak beradik itu untuk menjaga kakek mereka. Justru mereka sangat-sangat memercayai Ryan dan Lyra karena bagaimanapun dua orang itu adalah teman seperjuangan Yosh dan Lilian serta kakek mereka selama masa-masa persembunyian dari Lord Glacio dulu. Hanya saja mereka berat meninggalkan, karena mereka takut suatu hal buruk akan terjadi kepada kakek mereka ketika mereka tidak sedang berada di sisinya. Lebih spesifiknya, Yosh dan Lilian takut mereka keburu kehabisan waktu sebelum mereka sempat pulang membawakan obat penawar untuk sang kakek. Sungguh menyeramkan sekali membayangkan hal itu terjadi.
Tapi apa pun risikonya, ini satu-satunya kesempatan bagi Yosh dan Lilian untuk memperjuangkan kesembuhan sang kakek. Mereka tidak mau menyia-nyiakannya.
Andai saja boleh memilih, Yosh dan Lilian maunya turut membawa kakek mereka dalam perjalanan misi ini—seperti yang biasa mereka lakukan ketika berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk mencari obat penawar. Namun Penyihir Putih berkata bahwa ini adalah misi yang terlalu berbahaya untuk mereka membawa serta seonggok raga lemah dalam sebuah gerobak. Betul memang, misi ini jelas-jelas merupakan misi pencarian jejak Lord Glacio. Kalau kakek mereka ikut dan bertemu dengan Lord Glacio, bisa jadi sang makhluk dingin nan keji itu malah akan membunuh beliau lantaran merasa tidak terima melihat beliau bertahan hidup dari kutukan dinginnya. Maka dari itu sudah tindakan paling tepat jika Yosh dan Lilian menitipkan kakek mereka kepada Ryan dan Lyra.
Sebelum betul-betul melangkah memulai misi pemberian Penyihir Putih, baik Yosh maupun Lilian sama-sama duduk di samping kanan dan kiri dipan tempat di mana kakek mereka terbaring lemah. Mereka memegang erat tangan beliau. Beliau pun seolah mendapat sedikit kekuatan, balas menggenggam kedua tangan cucunya. Ya, meskipun sudah cukup lama beliau tak mampu berkata-kata atau bahkan sekedar membuka mata, Yosh dan Lilian yakin bahwa sebetulnya beliau masih sanggup menyadari segala situasi yang terjadi di sekitar. Termasuk saat ini.
“Kakek ....” Lilian menggumam lirih, “... berjanjilah kau akan baik-baik saja di sini tanpa kami. Kami juga berjanji akan menyelesaikan misi ini secepatnya supaya kami bisa kembali secepat mungkin bersama dengan obat penawar yang dijanjikan oleh Penyihir Putih.”
Setelah mengucapkan itu, Lilian merasakan genggaman kakeknya sedikit menguat. Entahlah apa artinya, sebetulnya ia tidak tahu pasti. Tapi ia akan menganggap itu sebagai dukungan semangat dari sang kakek.
Tidak hanya Lilian yang berpamitan, Yosh juga tidak mau kalah. Dia dengan kepribadian dinginnya punya cara tersendiri dalam berkata-kata di hadapan sang kakek.
“Jaga dirimu baik-baik, Kek. Kuatlah, jangan sekalipun kau mencoba menyerah sebelum kami kembali.”
Sama seperti yang dirasakan kembarannya, Yosh juga merasakan genggaman tangan sang kakek menguat di jari-jemarinya. Mendapati hal itu hatinya jadi bergetar lemah. Rasanya ia tidak sanggup meninggalkan kakek tercintanya di saat keadaannya seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi, demi kesembuhan beliau Yosh harus menguatkan hatinya dalam menerima serta menjalankan misi yang ia yakini tidak akan berjalan dengan mudah.
Sementara itu Ryan dan Lyra si Mottarian kakak beradik berambut oranye, mereka sama-sama memegang bahu sepasang kembar di hadapannya. Mereka sedang berusaha menenangkan hati Yosh dan Lilian supaya mereka tidak merasa cemas lagi ketika waktunya tiba bagi mereka untuk meninggalkan kakek mereka. Toh ini demi kebaikan beliau di masa mendatang. Rela tidak rela, siap tidak siap, mereka harus kuat melakukan ini demi kesembuhan kakek mereka.
“Percayalah, Yosh, Lilian, Kakek Olf aman bersama kami. Kami akan menjaga beliau dengan sepenuh hati, kami juga akan sangat berhati-hati,” ujar Ryan meyakinkan Yosh dan Lilian.
“Betul. Biar bagaimanapun Kakek Olf sudah kami anggap seperti kakek kami sendiri. Beliau lah yang turut menjaga kami sejak orang tua kami binasa di tangan Lord Glacio. Sekarang sudah saatnya kami membalas budi kepada Kakek Olf,” tambah Lyra.
Yosh dan Lilian saling pandang mendengar itu. Mereka sama-sama tersenyum haru.
“Terima kasih, Ryan, Lyra. Beruntung Penyihir Putih turut membawa kalian kemari saat menawarkan kami soal misi pencarian Lord Glacio. Karena kalau tidak kami benar-benar tidak tahu harus menitipkan Kakek pada siapa. Tidak ada seorang pun di negeri ini yang kami percayai untuk menjaga Kakek di saat kondisi beliau tengah menderita kutukan dingin dari Lord Glacio. Boro-boro, memperlihatkannya kepada pihak kerajaan saja kami tidak berani. Kami takut Kakek malah akan dibinasakan jika pihak kerajaan sampai tahu mengenai kondisinya,” tutur Lilian. Sorot mata coklatnya tampak berkaca-kaca bersyukur sekaligus sedih saat mengucap kalimat tersebut.
Lyra yang sedang berdiri di sisi kiri Lilian memeluknya menguatkan. “Jangan khawatir, kami mengerti kecemasanmu. Pokoknya kau tenang saja ya, Lily. Kami pastikan untuk menyembunyikan Kakek Olf dengan sebaik mungkin.”
Lilian tidak mengucap apa-apa lagi, ia hanya memeluk Lyra erat penuh terima kasih.
Sementara itu, Ryan tampak merenung dalam. Keningnya mengerut serta alisnya terpaut seperti sedang memikirkan sesuatu. Beberapa detik berikutnya, barulah ia berani menyampaikan isi pikirannya.
“Omong-omong soal pihak kerajaan, apa Pangeran Aident dan Putri Kisha tahu bahwa kalian akan bergabung bersama mereka dalam misi pencarian ini?” tanya Ryan. “Maksudku, walau saat ini mereka tidak tahu pun pada akhirnya mereka akan mengetahui bahwa kalian ikut serta bersama mereka dalam misi pencarian Lord Glacio, itu demi imbalan obat penawar untuk Kakek Olf yang sedang terkena kutukan dingin Lord Glacio. Lantas kenapa kalian memilih untuk menyembunyikan fakta soal Kakek Olf dari pihak kerajaan? Toh pada akhirnya mereka akan mengetahuinya juga.”
Hening. Ryan menatap Yosh dan Lilian bergantian tetapi sepasang kembar pemilik rambut kemerahan itu hanya menatap kosong pada lantai kayu yang menjadi pijakan gubuk reyot ini. Mendapati respon itu, Ryan garuk-garuk kepala antara merasa bersalah sekaligus bingung harus bagaimana.
“Uh, sepertinya pertanyaanku terlalu rumit ya?” Ryan menyengir merasa tidak enak.
“Bukan pertanyaanmu yang rumit, Ryan, melainkan situasinya,” sanggah Yosh seraya mengembuskan napas lelah. “Saat ini kerajaan sedang memburu jejak aura dingin Lord Glacio. Kudengar-dengar dari gosip yang berseliweran di kota, katanya pihak kerajaan menduga kalau bisa jadi Lord Glacio akan bangkit dari sisa-sisa aura dingin yang masih ditinggalkannya pada suatu objek. Sedangkan saat ini Kakek memiliki sisa kutukan dingin Lord Glacio dalam tubuhnya. Aku takut pihak kerajaan akan membinasakan Kakek demi mencegah kebangkitan Lord Glacio. Maka dari itu kami memutuskan untuk menyembunyikan diri dan terutama Kakek, karena kami ingin menghindar sejauh mungkin dari mata-mata kerajaan yang sedang mencari apa pun jejak dingin Lord Glacio.”
Ryan manggut-manggut mengerti. Ia menatap Yosh prihatin.
“Tapi apa menurutmu pihak kerajaan akan bertindak sejahat itu ketika mengetahui kondisi Kakek Olf?” tanya Lyra ikut nimbrung dalam topik ini.
Yosh sekali lagi mendengus panjang. Kali ini ia juga mengusap wajah suntuknya.
“Entahlah, aku tidak tahu pasti. Kami melakukan ini hanya untuk menghindari kemungkinan terburuk.”
Kini semua kembali diam. Lilian sibuk merenung seraya mengelus-elus tangan Kakek Olphus—atau yang lebih akrab dipanggil Kakek Olf. Ryan dan Lyra tampak asik dengan pikiran masing-masing. Sedangkan Yosh kembali berkutat pada ransel bawaannya, mengecek kembali apakah ada perbekalan yang tertinggal.
Sampai tiba-tiba Lyra kembali menyeletuk, “Menurutku kalian percaya saja pada Pangeran dan Putri. Ceritakanlah tentang hal yang menimpa Kakek Olf pada mereka. Aku yakin mereka akan mengerti dan tidak akan menghakimi Kakek Olf.”
“Aku setuju,” imbuh Ryan. “Kami pernah bertemu dengan mereka satu kali sewaktu kami diserang oleh antek-antek Lord Glacio. Dan kurasa mereka orang-orang yang sangat baik serta peduli terhadap rakyat Mottania.”
Yosh dan Lilian menatap singkat pada Ryan dan Lyra setelah mendengar cerita singkat mereka. Namun sepasang kembar itu hanya mengedik acuh.
“Begitu ya?” Lilian menyahut. “Entahlah, kami akan menilai sendiri nanti ketika sudah bertemu langsung dengan mereka.”
Ryan dan Lyra mengangguk-angguk menanggapinya. Ya, bagaimanapun kalau menyangkut soal kepercayaan, mereka tidak bisa memaksakan. Betul kata Lilian, biar mereka sendiri yang akan memutuskan bagaimana solusi terbaik dalam menangani masalah Kakek Olf yang mereka sembunyikan dari khalayak umum.
Setelah cukup lama merenung dan ditutup oleh hembusan napas panjang, Lilian bangkit berdiri dari duduknya lantas memandang ke luar jendela. Matahari sudah cukup meninggi di timur sana. Itu artinya sudah waktunya baginya serta sang kakak untuk berangkat memulai misi.
Lilian pun mengambil ransel serta menyampirkan belati di pinggangnya, setelahnya ia kembali menatap sang kakek untuk terakhir kalinya sebelum beranjak pergi meninggalkan beliau cukup lama.
Sekali lagi ia berpamitan, “Kek, sepertinya sudah waktunya kami berangkat. Ah, aku pasti akan sangat merindukan Kakek.”
Lilian memeluk tubuh Kakek Olf lembut supaya tidak memberi tekanan berat di atas tubuh lemahnya. Sementara Yosh yang juga sudah ikut berdiri kini menatap kegiatan mereka dengan sorot mata sendu.
Setelah beberapa saat, Lilian melepas pelukannya dari sang Kakek.
“Nah, sekarang kami akan benar-benar pergi. Doakan kami ya, Kek,” ujarnya seraya tersenyum pahit. “Kakek baik-baik lah di sini bersama Ryan dan Lyra. Kami akan cepat pulang, kami janji.”
Kakek Olf hanya mematung di posisi tidurnya. Hingga akhirnya kedua cucunya melangkah keluar dari gubuk tempat tinggal mereka.
“Dah ... selalu berhati-hatilah di mana pun kalian berada.” Ryan melambaikan tangan pada Yosh dan Lilian yang kini sudah mulai memasuki lebatnya rimba di sekeliling Hutan Verdesia.
Lyra pun sama, ia ikut melambai melepas kepergian sahabat-sahabat seperjuangannya.
“Cepatlah pulang! Aku akan merindukan kalian!” teriaknya sebelum akhirnya Yosh dan Lilian menghilang ditelan kabut serta lebatnya hutan.
•••