Bab 15 - Rintangan Pertama Aident

1240 Kata
Perbedaan musim ternyata cukup memengaruhi kadar kesuraman suatu tempat. Seperti Hutan Verdesia misalnya. Aident masih ingat betul enam bulan lalu ketika ia menelusuri hutan ini bersama Kisha dan Leo, suasana di sini tidak semenyeramkan ini. Waktu itu tempat ini masih lengang, pepohonan yang menjulang tinggi hanya di isi oleh sedikit dedaunan bahkan banyak diantaranya yang gundul lantaran tidak mendapat cukup nutrisi dari sinar matahari. Dengan suasana lengang itu, Hutan Verdesia jadi tampak seperti area terbuka biasa bukannya hutan. Mangkanya waktu itu Aident hampir tidak menyadari bahwa yang dilewatinya adalah Hutan Verdesia. Namun saat ini, di tengah musim panas bulan Juni, Hutan Verdesia tampak begitu hijau nan subur. Hijau yang terlalu hijau, subur yang terlalu subur sampai ada terlalu banyak dedaunan menutupi masuknya sinar matahari. Rumput tumbuh setinggi pinggang membuat jalan setapak jadi terasa semakin sempit. Berbagai tanaman rambat serta lumut yang selalu terlihat sejauh mata memandang turut berperan dalam memberi kesan kepadatan ruang lingkup hutan. Belum lagi ada berbagai suara rimba yang Aident tidak bisa tebak satu per satu itu suara apa saja. Juga bunga-bunga pemakan serangga setinggi leher orang dewasa yang seolah mengintainya diam-diam untuk bersiap menerkamnya. Sungguh, suasana Hutan Verdesia saat ini berbeda jauh sekali dengan enam bulan lalu. Di musim ini Hutan Verdesia jadi tampak begitu menyeramkan bahkan bagi Aident yang pemberani. Terlebih kini Aident hanya seorang diri di tengah belantara ini. Namun walau begitu Aident sama sekali tidak gentar dalam menjalani misi ini. Baginya sekali misi ya misi. Nilainya sangat-sangat penting ketimbang rasa takutnya karena ini menyangkut masa depan Mottania. Alias negeri tercinta tempat di mana ia mendedikasikan seluruh hidupnya untuk kesejahteraan rakyat yang menghuninya. Ya, inilah tanggung jawab serta rasa menjunjung tinggi yang sudah tertanam dalam dirinya sejak ia terlahir sebagai putra dari Lord Giordani dan mendiang Ratu Silvani, pemimpin tertinggi negeri ini. Dalam sepanjang langkahnya sesekali Aident menebas rumput atau tanaman perdu berduri yang menghalangi jalannya. Sambil melakukan itu konsentrasinya terus ia jaga penuh demi menangkap setiap hal sekecil apa pun yang sekiranya merupakan jejak dari bayang dingin Lord Glacio. Ya, hanya itu satu-satunya petunjuk baginya untuk menemukan keberadaan si pengganggu itu. Jangan sampai Aident melewatinya hanya karena ia lengah barang sedetik. Beberapa jam berlalu, Aident memutuskan untuk beristirahat sejenak demi menetralisir kram pada tumit serta otot betisnya. Bagaimanapun kekuatan kaki sangat penting dalam menempuh perjalanan tak berujung ini. Ia harus pintar-pintar menentukan kapan waktunya istirahat, kapan waktunya ia melaju. Supaya kalau-kalau ia harus berlari menghindari suatu makhluk atau hewan buas, kakinya punya cukup tenaga untuk membawanya menghindar dari bahaya. Ah, ya. Jangan tanya mengapa Aident tidak membawa kuda dalam perjalanan ini. Tadinya ia memang sudah menyiapkan kuda. Tapi setelah dipikir-pikir lagi ia memutuskan untuk berjalan kaki saja. Karena menurutnya, adanya kuda bersamanya hanya akan menimbulkan berisik yang dapat membuat pergerakan Lord Glacio jadi lebih awas. Kalau begitu nanti Aident akan semakin sulit menangkap keberadaannya. Aident memasang duduk pada akar pohon besar yang batangnya dihiasi lumut dan jamur. Di depannya ada sedikit aliran air yang berasal dari bebatuan yang berada di kanan jalur. Ia menciduknya sedikit untuk membasuh wajahnya yang mulai mengeluarkan bulir-bulir keringat lelah. Sungguh rasanya segar sekali ketika air dingin nan jernih itu menyentuh kulitnya. Tenaganya seolah terisi kembali. Setelah selesai membasuh diri, Aident membuka ranselnya lantas mengeluarkan bekal berupa roti isi daging. Ia harus buru-buru memakan yang satu ini sebelum basi. Sayang 'kan kalau terbuang sia-sia? Soal stok makanan untuk hari-hari berikutnya ia masih punya banyak makanan tahan lama di dalam ranselnya. Kalau semua itu tetap tidak cukup, Aident sudah terbiasa memburu rusa, kelinci atau babi hutan untuk ia jadikan santapan rimba. Itulah pentingnya pengalaman bukan? Ia jadi tidak perlu khawatir akan kelaparan di tengah perjalanan panjang ini. Sambil menyantap roti isi daging di tangannya, mata Aident awas melirik sekitar. Ia mendengarkan baik-baik setiap suara baru yang tertangkap oleh indra pendengarannya. Sejauh ini sih suara yang ia dengar hanya cicitan burung, serangga rumput, aliran sungai, desis ular di pepohonan, dan banyak lagi binatang-binatang lainnya yang tidak berbahaya baginya. Syukurlah ia belum menangkap tanda-tanda keberadaan binatang buas atau makhluk hutan yang entah apa di sekitarnya. Ia masih bisa tenang saat ini. Pada gigitan terakhir roti isinya Aident bersantai sedikit dengan menumpu tubuhnya pada kedua tangannya, lantas ia mendongak ke atas. Di tengah rimbunnya pepohonan, Aident masih dapat menangkap titik-titik cahaya yang berusaha menerobos masuk ke dalam sini. Tampak terang, pertanda kalau matahari sedang berada tepat di tengah. Ya, hari masih siang ternyata. Aident lega, karena sejujurnya ia belum siap menyambut sore. Ia masih belum menemukan suatu tempat terbuka yang bisa ia jadikan alas untuk membangun tenda. Setelah merasa tenaganya telah terisi penuh kembali Aident segera berdiri. Ia menggendong kembali ranselnya di punggung lantas memacu langkah melanjutkan pencariannya. Jam demi jam pun kembali berlalu. Tidak terasa kini Aident sudah mulai keluar dari area lebatnya Hutan Verdesia. Pepohonan sudah jarang di sini. Tanah yang dipijaknya juga terasa jauh lebih keras dari sebelumnya. Aident mulai was-was. Karena sepertinya ia telah tiba di area perbatasan antara Hutan Verdesia dengan Hutan Trukhsia, alias hutan gersang yang kabarnya dihuni oleh makhluk menyeramkan semacam Werewolf. Aident menghentikan langkahnya sejenak. Ia menimbang-nimbang apakah sebaiknya ia melanjutkan perjalanan atau mundur sedikit kembali masuk ke dalam Hutan Verdesia yang aman untuknya berkemah. Pasalnya hari sudah menjelang sore. Rasanya akan sangat berbahaya jika Aident memaksakan diri membelah Hutan Trukhsia di malam hari. Pasti akan ada begitu banyak makhluk nokturnal menyeramkan di dalam sana yang mulai berkeliaran mencari mangsa. Ya, sepertinya keputusan bijak jika ia mundur sedikit dan berkemah. Namun, baru saja Aident hendak berbalik mencari tempat terbuka untuk membangun tenda di Hutan Verdesia, langkahnya dibuat terhenti lantaran telinganya menangkap sebuah suara lolongan serigala. Aident pun sontak menegang di tempat. Aident melirik tajam ke sekitar seraya memasang kuda-kuda siaga kalau-kalau ia harus berlari. Telinganya ia tajamkan demi mencari tahu dari mana asal suara lolongan itu. Tangannya juga sudah bersiap memegang erat gagang pedang es legenda yang ia bawa sebagai senjata pengganti pedang Lord Giordani. Auuu .... Sekali lagi, suara lolongan itu memekik di tengah sunyinya perbatasan Hutan Verdesia dengan Hutan Trukhsia. Kali ini terdengar lebih kencang dan lebih dekat dari sebelumnya, membuat Aident semakin panik dan bingung harus berbuat apa. Tanpa memberi jeda untuk Aident merencanakan langkah pelariannya, suara lolongan itu tahu-tahu sudah berganti menjadi suara gemuruh derap langkah sekawanan hewan berkaki empat yang mendekat ke arahnya. Kian lama kian berisik bercampur dengan lolongan yang saling sahut-menyahut. Hingga akhirnya tampak jelas dari arah Hutan Trukhsia, sekelompok serigala berukuran sebesar Leo dengan wajah beringas serta air liur yang menetes di sepanjang jalan, tengah memandang Aident dengan sorot mata lapar. Tidak hanya itu, mereka ternyata dipimpin oleh satu sosok besar berperawakan mirip gorila dengan bulu tebal kecokelatan menutupi seluruh tubuhnya, serta ekor dan bentuk kepala menyerupai serigala. Ya, itu Werewolf. Melihat penampakan itu tanpa banyak pikir lagi Aident segera berlari kabur ke dalam Hutan Verdesia. Ia tidak mau gegabah melakukan perlawanan terhadap binatang-binatang buas itu. Ia hanya seorang diri di sini sedangkan mereka banyak. Yang ada ia akan tercincang duluan sebelum berhasil membunuh salah satu di antara mereka. Lagi pula mereka hanya binatang penghuni hutan. Aident tidak mau membunuh mereka, kecuali si manusia serigala itu. Namun sial, walau sudah berlari secepat kuda Aident tetap kalah langkah dari makhluk-makhluk lapar itu. Sialnya lagi, ia salah mengambil langkah pelarian dan kini terjebak di tepi sungai deras yang tidak mungkin ia arungi. Gawat ... Aident sudah terpojok sekarang. Ia harus bagaimana? Sang Werewolf beserta kawanannya yang ada lebih dari lima ekor itu kini sudah siap menerkamnya. •••
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN