Bab 16 - Kisha Terkena Jebakan

1652 Kata
Klotak, klotak ... Suara sepatu kuda yang bertemu dengan tanah keras membelah kesunyian Hutan Verdesia. Semilir angin berbau rumput segar menerjang si penunggang kala langkah kuda membawa tubuhnya berlari menerobos semak belukar serta pepohonan lebat. Membuat rambut pirang panjangnya berkibar indah nan memesona, kompak dengan surai sang kuda putih tunggangannya yang juga tak mau kalah memamerkan keelokan rupanya. Seiring semakin dalam mereka memasuki kawasan Hutan Verdesia, si penunggang alias Kisha mengatur tali kekang kudanya supaya dia memelankan langkah. Mulai dari sini Kisha mengawasi dengan betul keadaan sekitar. Mata birunya menajam melirik setiap objek yang dilaluinya. Telinga runcingnya juga mulai menegak dan sesekali bergerak-gerak pertanda siap siaga menangkap segala suara yang mengisi ruang lingkup belantara. Sejauh ini hanya binatang-binatang penghuni hutan yang membuat suara gaduh di tengah kesunyian ini. Rupanya bagian selatan Hutan Verdesia yang Kisha pilih sebagai titik masuk, dihuni oleh cukup banyak binatang kecil penjajah tanah seperti tikus tanah, kelinci, landak, armadillo dan banyak lagi yang belum sempat ia tangkap penampakannya lantaran mereka terlalu cepat bersembunyi. Sejujurnya keberadaan mereka sangat mengganggu bagi Kisha. Mereka terlalu berisik. Oh, belum lagi suara-suara kawanan monyet dan tupai yang berkeliaran di atas pohon. Sungguh Kisha menyesal mengambil jalan ini untuknya memulai pencarian jejak Lord Glacio. Ia jadi kesulitan berkonsentrasi. Tapi apa boleh buat? Sekalipun ia berteriak menyuruh mereka untuk diam, mereka tidak akan mengerti. Alhasil ia hanya bisa menikmati kebisingan ini dan mencoba berkonsentrasi lebih dalam lagi supaya telinganya bisa memfilter mana suara yang sebaiknya ia abaikan, mana suara yang patut ia dengarkan lebih saksama. Lebih dalam lagi Kisha memasuki kawasan selatan Hutan Verdesia, suasana masih tidak jauh berbeda dari sebelumnya. Masih sama bising oleh berbagai suara binatang kecil, hanya saja kali ini sudah agak jarang. Jarak pepohonan di sini cukup renggang dibandingkan dengan yang dilewatinya saat awal masuk tadi. Namun dedaunan lebat di pucuk-pucuk pohon masih sanggup menutupi masuknya sinar matahari berlebih. Selain itu, di sini juga ada lumayan banyak area tanah terbuka. Kisha menghafal tempat ini baik-baik. Menurutnya ini tempat yang sempurna untuk ia jadikan area membuka tenda. Terlebih sepertinya ada sungai juga di dekat sini. Samar-samar ia bisa mendengar suara deras aliran air dari arah barat. Tepat tengah hari, rasa lelah mulai menghantui Kisha. Peluh bercucuran di sekujur tubuhnya, tenggorokannya pun sudah terasa kering menuntut untuk segera dialiri air segar. Kebetulan ia akhirnya menemukan sungai yang tadi hanya tertangkap melalui pendengarannya. Kini ia memutuskan untuk beristirahat sejenak di sini. Sengaja ia memilih area ini untuk rehat, supaya kudanya juga bisa ikut memulihkan tenaga dengan memakan rumput serta minum air dari sungai ini. Kisha segera turun dari kuda putih tunggangannya, lantas menggiring makhluk itu ke area rerumputan lebat yang berada tepat di tepi sungai. Ia membelai lembut surai sang kuda untuk menyuruhnya menikmati santapan makan siangnya. “Segera pulihkan tenagamu, White. Kita akan melanjutkan perjalanan setengah jam lagi.” Kisha bicara pada kudanya yang ia namai White. Ya, nama yang sesuai bukan dengan rupanya yang putih bersih nan elok? Selagi White mulai sibuk memakan rumput, Kisha mengambil posisi duduk di sebuah batu besar yang ada di tepi sungai. Ia lantas membuka ranselnya untuk menyantap bekal yang dibuatkan oleh Alanir untuknya—beberapa helai pancake yang tersusun rapih dalam sebuah kotak makan berikut dengan selai aneka buah di setiap lapisannya. Wah, Kisha lumayan takjub dengan kemampuan memasak pelayan pribadinya itu. Ternyata dia mahir juga dalam membuat makanan modern yang biasa disantap oleh manusia-manusia di Bumi. Padahal Kisha hanya menjabarkan bentuk dan bahan-bahan pembuatnya satu kali. Pokoknya pulang nanti Kisha harus lebih banyak lagi mengajarinya membuat makanan-makanan modern lain supaya makanan di negeri ini tidak begitu-begitu saja. Lihat nanti, ia akan membuat hidangan di Kastil Elves jauh lebih enak dan variatif dibanding dengan yang tersaji di Istana Kristal. Selama menyantap pancake buatan Alanir, Kisha memandang sungai sambil merenung dalam. Di saat seperti ini ia jadi teringat pada Leo. Dulu ia biasa melakukan kegiatan ini bersama Leo. Kalau tidak mendapat hasil curian uang dari manusia-manusia teledor yang berkeliaran di pasar, lalu ia tidak bisa membeli makanan untuknya serta Leo, ia akan memancing ikan di tepi sungai sementara Leo akan memburu rusa atau babi hutan untuk dijadikan santapan. Kemudian mereka akan duduk bersama di depan perapian untuk memanggang makanan masing-masing. Walau itu kegiatan sederhana tetapi kenangannya begitu membekas dalam ingatan Kisha. Momennya terasa harmonis nan meneduhkan, membuat mereka merasa bahagia satu sama lain hanya dengan kesederhanaan itu. Tapi sekarang Leo sudah tiada, rasanya Kisha jadi ingin menangis. Ia rindu akan sosoknya. Ia rindu memeluk bulu-bulu hangatnya kala terlelap di sisinya. Ia juga rindu menunggangnya, berlari menjelajah hutan bersamanya. White memang tunggangan yang menakjubkan. Tapi Leo adalah yang paling spesial dan istimewa baginya. Dia bukan hanya sekedar harimau yang bisa bicara. Dia adalah teman, dia adalah keluarga alias sosok makhluk paling spesial dalam hidupnya yang selama ini selalu menemani sepanjang hidupnya. Tak sadar air mata jatuh menetes membasahi pipi Kisha ketika ia teringat akan segala momen kebersamaannya dengan Leo. Begitu sadar, buru-buru ia menghapusnya. Pikirannya menegaskan bahwa ini bukan saat yang tepat baginya untuk bersedih ria. Ia harus optimis. Bisa jadi ia masih punya kesempatan untuk bertemu dengan Leo ketika ia berhasil menangkap Lord Glacio nanti. Kisha pun buru-buru menghabiskan makanannya. Ia ingin cepat-cepat melanjutkan perjalanan supaya ia bisa segera menemukan makhluk dingin itu yang kini entah bagaimana wujudnya. Pokoknya secepat mungkin ia harus mencari tahu soal nasib Leo yang sebenarnya. Kalau benar dia masih hidup, itu bagus karena itu berarti ia bisa kembali pada Aident tanpa membawa lagi rasa kebencian yang menghantuinya belakangan ini kala teringat pada sosok pria itu. Tapi kalau ternyata Leo memang sudah tiada seperti yang dilihatnya tiga hari lalu, ia bersumpah akan membunuh Aident dengan tangannya sendiri. Setelah menenggak habis botol air minum yang dibawanya dan mengisinya kembali dengan air dari mata air jernih yang mengalir di dinding-dinding sungai, Kisha merapikan kembali ranselnya lantas menghampiri White yang sedang asik meminum air di sungai. Sekali lagi ia membelai surai putihnya yang lembut. Ah, melihat rambut-rambut yang berkibar di sekitar kepala sampai leher kudanya ini Kisah jadi teringat pada Aident. Ya, pria itu juga punya rambut putih yang indah. Terlebih jika dipadukan dengan hidung mancung, bibir proporsional serta mata biru lautnya, dia betul-betul seperti malaikat tampan yang turun dari langit. Jika boleh jujur Kisha rindu membelai wajah elok kekasihnya itu. Tapi sayang sekarang hatinya sudah diisi oleh kebencian. Ia jadi tidak punya waktu lagi untuk sekedar mengaguminya. Yang ada ia justru ingin membunuhnya kala teringat padanya. Menyadari pikirannya terlalu sibuk memikirkan orang yang tidak seharusnya ia pikirkan, buru-buru Kisha menyibukkan diri supaya pikirannya teralihkan. Ia ambil tali kekang White, lantas menggiringnya pelan menuju jalan setapak tempatnya tadi melaju menelusuri hutan. “Sudah saatnya kita melanjutkan perjalanan, White,” ujar Kisha pada kuda putihnya itu yang berjenis kelamin jantan. Kini Kisha menaiki kembali punggung White. Kemudian mengarahkannya untuk berjalan pelan menelisik setiap titik yang mereka lalui. Waktu demi waktu pun berlalu. Kini Kisha sudah tiba di area lapang Hutan Verdesia. Di sini rumputnya tidak terlalu tinggi serta hanya diisi oleh beberapa pepohonan tropis. Dengan kondisi hutan yang terlalu lengang seperti ini Kisha justru merasa gelisah. Entah kenapa ia merasa seperti sedang diikuti tetapi ia tidak menemukan makhluk apa pun di sekitarnya. Bahkan binatang-binatang penghuni hutan saja tidak terlihat sama sekali. Ini betul-betul mencurigakan. Srak, srak. Kisha langsung melirik ke kanan sedetik setelah telinganya menangkap ada suara rumput terinjak dari balik semak-semak. Ia kemudian buru-buru menarik tali kekang tunggangannya supaya dia berhenti melangkah. Sejenak Kisha memerhatikan baik-baik apa kira-kira yang barusan menimbulkan suara tersebut. Namun beberapa detik berlalu hanya kesunyian yang ia tangkap. Sekalinya ia melihat objek bergerak, ternyata itu hanyalah rusa yang sedang mencoba bersembunyi darinya. Kisha pun mendengus pelan lantas kembali memacu tali kekang supaya kudanya kembali melangkah. Srak, srak. Sekali lagi suara rumput terinjak itu kembali terdengar. Kisha sontak kembali menoleh ke sumber suara. Kali ini ia memutuskan untuk turun dari kuda karena ia yakin memang benar ada sesuatu yang sedang menguntitnya. Ia menyiapkan busurnya di tangan, bersiap kalau-kalau harus menembak. Kisha menunggu dengan sabar sambil tubuhnya berputar ke segala arah demi tidak mau melewatkan sesuatu yang sedang mengancamnya itu. Namun lagi-lagi suara mencurigakan tersebut muncul dari arah yang sedang tidak terlihat oleh pandangannya. “Siapa itu?!” Kisha berseru seraya membalik tubuhnya menatap sumber suara. Saat tengah memandang arah kanan jalan alias tempat yang sedari tadi memunculkan suara rumput terinjak, samar-samar telinga tajamnya mendengar suara pergerakan dari balik pohon besar yang berjarak sekitar sepuluh meter di depannya. Kisha pun mulai melangkah maju perlahan. Tapi tiba-tiba .... “Akh!” Kisha memekik kencang begitu tubuhnya secara spontan terkurung kemudian terangkat naik ke atas pohon sesaat setelah ia menginjak suatu benda keras. Betapa sial, ia terperangkap jebakan yang entah dipasang oleh siapa. Kisha meronta-ronta di atas sana, “Lepaskan! Dasar pengecut! Beraninya bermain dengan perangkap seperti ini! Lepaskan aku!” Namun tidak ada satu makhluk pun di bawah yang menyambut atau sekedar menertawakan kesialannya. Suasana hutan di area ini tampak begitu lengang. Satu-satunya makhluk hidup yang Kisha lihat di bawah hanyalah kudanya, tidak ada apa pun selain itu. Lantas kalau begitu siapa yang memasang jebakan ini? Dan untuk apa tujuannya? Kisha yakin suara-suara rumput terinjak tadi itu sengaja dibuat sesuatu atau seseorang untuk membuatnya melangkah ke arah jebakan. Tapi kalau memang benar ada sosok yang sengaja memancingnya, kenapa sekarang dia malah menghilang? Kini Kisha mulai panik. Ia membayangkan nasibnya yang harus berakhir dengan cara konyol seperti ini. Tidak, ia tidak mau. Setidaknya ia tidak boleh mati dulu sebelum menemukan jawaban atas kebingungannya soal tragedi yang menimpa Leo. Tapi ia harus meminta tolong pada siapa? Tidak ada seorang pun di sekitar sini yang dapat ia mintai pertolongan. Kisha sudah mencoba memberontak menghancurkan sangkar ini pun tetap tidak berhasil. Ya Tuhan ... aku harus bagaimana sekarang? Lagi dan lagi, Kisha hanya bisa terus memberontak melepaskan diri. Walau rasanya mustahil ia tetap bersikeras mencoba. Pokoknya ia tidak boleh terlalu lama terjebak di sini. Ia tidak tahu hal buruk apa yang sedang menunggunya akibat kecerobohannya ini. •••
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN