Sama seperti Aident dan Kisha, Yosh dan Lilian juga sudah berada di tengah perjalanan dalam misi pengejaran bayang dingin Lord Glacio. Mereka memulai penjelajahan dari titik yang berada satu kawasan dengan tempat tinggal mereka, yaitu Hutan Verdesia.
Sekilas mungkin kedengarannya Yosh dan Lilian cukup diuntungkan di awal perjalanan. Mereka tinggal di tengah Hutan Verdesia, artinya mereka sudah familiar dengan hutan ini sehingga bisa lebih sigap dalam menghadapi segala sesuatu yang akan terjadi selama masa pencarian. Tapi jangan salah, sejatinya Mottania adalah negeri yang dikelilingi oleh hutan-hutan lebat tiada akhir. Walaupun betul Yosh dan Lilian bisa dibilang sudah cukup familiar dengan hal-hal yang berada di Hutan Verdesia, tetapi sebenarnya itu hanya berlaku untuk wilayah timurnya saja. Sementara untuk wilayah lainnya mereka hanya tahu jalan tanpa tahu hal berbahaya serta keadaan seperti apa yang akan menyambut mereka di hutan tempat mereka tinggal ini.
Tapi meski begitu, Yosh dan Lilian bukanlah pemula yang akan takut menghadapi segala hal mengerikan yang akan mereka dapatkan selama menempuh misi ini. Mereka sudah menjalani hidup sebagai penjelajah negeri selama kurang lebih dua puluh tahun. Tepatnya sejak Lord Glacio menginvasi Mottania dengan salju abadi ciptaannya. Berkat tragedi kelam itu sedari kecil mereka sudah terbiasa menghadapi segala hal berbahaya atau bahkan monster-monster mengerikan. Mereka petarung yang cukup handal juga cerdik. Mereka bahkan bisa memanfaatkan berbagai benda di sekeliling untuk dijadikan senjata dalam melawan musuh. Setidaknya itulah hal positif yang mereka dapat dari pengalaman dijajah oleh Lord Glacio.
Kadang Yosh dan Lilian membayangkan, jika saja tidak ada tragedi kelam itu yang menimpa Mottania, atau jika saja Lord Glacio tidak mendapat kutukan es dari Penyihir Hitam, pasti sampai detik ini mereka hanya akan menjadi warga biasa yang lemah. Mereka tidak mungkin bisa memiliki kemampuan bertarung karena dulu ada sebuah peraturan di Mottania bahwa Mottarian yang boleh mempelajari ilmu bela diri hanyalah orang-orang yang ingin mencalonkan diri menjadi prajurit kerajaan. Ya, bangsa Mottarian memang tidak seperti bangsa Elves yang seluruhnya diwajibkan punya kemampuan bersenjata dan bertarung sejak dini. Lord Giordani selaku pemimpin bangsa Mottarian menegaskan bahwa keamanan serta keselamatan kaum-kaum kecil Mottarian adalah tanggung jawabnya. Katanya mereka tidak perlu susah-susah bertarung karena jika ada bahaya yang mengancam, prajurit kerajaan akan langsung berdiri melindungi.
Sebetulnya itu aturan yang mulia. Lord Giordani ingin melindungi rakyatnya dengan segenap kekuasaan dan kekuatan yang dia miliki. Tapi tidakkah dia egois? Nyatanya saat adiknya, si kejam Lord Glacio mulai menginvasi Mottania dengan kutukan es yang dimilikinya, beliau tidak bisa berbuat banyak untuk menyelamatkan rakyatnya. Banyak prajurit tewas atau dibekukan saat tengah melakukan evakuasi, apalagi dengan rakyat biasa yang tidak bisa apa-apa.
Sekarang lihat, berkat keegoisan tersebut jumlah penduduk yang tersisa saat ini kurang dari separuh jumlah awal. Itu karena mereka terlalu tidak berdaya melawan Lord Glacio. Untuk bertahan hidup menyembunyikan diri saja rasanya sulit sekali lantaran banyak penduduk tidak dibekali pengetahuan bertahan hidup kala negeri sedang dilanda masa perang. Coba kalau sedari awal Lord Giordani tidak sok bijak dengan mengambil tanggung jawab penuh atas keamanan dan keselamatan rakyatnya. Coba kalau Lord Giordani sedikit lebih keras menuntut setiap rakyatnya untuk menjadi kuat. Tidak menutup kemungkinan bahwa akan ada lebih banyak penyintas yang bertahan hidup hingga saat ini.
Untungnya kini dia sudah menyadari bahwa aturan lamanya yang sok mulia itu memang sebuah kesalahan besar. Sekarang dia mulai mencontoh bangsa Elves dalam menyusun pemerintahan. Salah satunya mewajibkan setiap rakyatnya untuk menghadiri kelas bertarung dan bersenjata minimal sekali dalam seminggu. Mungkin menerapkan aturan tersebut pada kaum Mottarian tidak semudah menerapkannya pada kaum Elves yang sedari lahir sudah dididik keras untuk menjadi disiplin dan tunduk terhadap setiap norma yang berlaku di kalangannya. Ya, boleh dibilang Mottarian adalah makhluk yang bebal soal aturan. Namun setidaknya Lord Giordani mau mencoba untuk memperbaiki kesombongan dan keegoisannya. Sekarang dia sudah jauh lebih tegas dalam memerintah. Yosh dan Lilian sebagai segelintir perwakilan rakyat cukup puas dengan sistem pemerintahan yang baru.
Oke, mari sudahi membahas masalah kerajaan. Sekarang lebih baik kita kembali fokus pada perjalanan Yosh dan Lilian.
Sepanjang jalan, sambil tak lepas fokus dari sesuatu yang mereka lihat dan rasakan di sekitar, mereka berbincang-bincang santai demi melepas ketegangan. Ya, kalau ditanya mereka gugup atau tidak sepanjang perjalanan pencarian ini, jawabannya tentu mereka gugup dan cemas. Bagaimana tidak, misi mereka kali ini adalah mengejar Lord Glacio yang wujudnya saja tidak bisa mereka lihat. Dengan kondisinya saat ini yang hanya berupa jiwa tanpa raga, bisa jadi dia akan muncul di hadapan mereka dengan wujud apa pun. Terlebih aura dinginnya kabarnya dapat menghipnotis seseorang atau menciptakan ilusi sempurna sampai orang yang terpengaruh tidak bisa membedakan apakah itu nyata atau bukan. Jujur Yosh dan Lilian takut mereka akan menjadi salah satu korban yang mendapat serangan tersebut tetapi mereka tidak menyadarinya. Bayangkan, akan seberbahaya apa itu?
Syukurlah setidaknya mereka telah mendapat bekal pengetahuan soal tanda-tanda keberadaan Lord Glacio. Yaitu munculnya kabut dingin yang tidak masuk akal di tengah musim panas ini. Pokoknya mereka harus menjaga konsentrasi dan peka terhadap keadaan sekitar supaya bisa langsung menyadari jika ada perubahan suhu atau kabut mencurigakan yang datang secara tiba-tiba.
“Yosh, apa menurutmu kita akan bisa bertemu dengan pangeran dan putri di tengah belantara luas ini?” Lilian membuka percakapan saat mereka tengah berjalan menanjaki sebuah jalan setapak curam.
“Tentu bisa,” jawab Yosh yakin, “dan harus bisa. Ingat, kita membutuhkan pedang es legenda yang ada di tangan pangeran untuk menukarnya dengan obat penawar Kekek.”
“Kau benar.”
Yosh tidak menyahut lagi. Dia hanya terus fokus pada langkahnya supaya tidak terpeleset. Ya, dia memang seperti itu dari dulu. Selalu irit bicara. Tidak asik, pikir Lilian.
“Yosh?” Lilian memanggil lagi. Walau napasnya sudah lumayan tersengal berkat melintasi tanjakan yang memacu adrenalin, mulutnya tetap tidak bisa diam. “Menurutmu apa maksud perkataan Penyihir Putih soal ada kemungkinan kita akan menginjak Negeri Magissa dalam proses penyelesaian misi ini?”
Yosh terdiam untuk sejenak. Walau tidak melihat langsung raut wajahnya dari belakang sini, Lilian sudah bisa merasakan kalau kembarannya itu sedang merenungi pertanyaannya barusan.
“Entahlah,” jawab Yosh akhirnya, dengan begitu singkat.
Merasa tidak puas dengan jawaban itu, Lilian cemberut masam. Ia lantas melontarkan sebuah asumsi. “Mungkinkah itu karena penghukuman Lord Glacio akan dilaksanakan di Negeri Magissa?”
Mendengar itu, Yosh mendadak menghentikan langkahnya. Sepertinya dia menyadari kalau asumsi Lilian ada benarnya.
“Masuk akal bukan?” Lilian melanjutkan. “Pihak kerajaan saja tidak tahu harus bertindak bagaimana dalam membinasakan Lord Glacio yang hanya berupa bayang-bayang dingin. Maka dari itu Penyihir Putih turun ke Mottania, karena dia sadar bahwa keadaan sekarang sudah diluar kuasa para petinggi kerajaan.”
Yosh hanya mendengkus pelan meresponnya. Ia memutuskan untuk melanjutkan langkah sampai puncak tanjakan, lalu mengulurkan tangan untuk membantu Lilian yang kesusahan memanjat titik terakhir tanjakan curam ini.
Setelah Lilian sudah aman di sisinya, ia menatap saudarinya itu lamat-lamat. Ya, ia sedang merenungi segala perkataan gadis itu. Lilian pun menunggu responnya dengan pandangan berbinar tidak sabar.
Tapi dasar Yosh, pada akhirnya dia hanya kembali mendengkus malas dan menyuruh Lilian untuk tidak membahasnya lagi.
“Aku tidak mau repot menebak-nebak. Dan sebaiknya kau juga. Cukup fokus saja pada langkahmu. Kita jalani misi ini sesuai porsi tanpa perlu memikirkan urusan kerajaan. Ingat, tujuan kita adalah obat penawar Kakek.”
Diperingati begitu, Lilian cemberut kecewa. Namun benar kata Yosh, prioritas utama mereka menempuh perjalanan ini adalah untuk mendapatkan obat penawar kutukan dingin Lord Glacio yang mendekam di tubuh Kakek Olf. Lilian pun mengangguk patuh dan mengisyaratkan Yosh untuk kembali melanjutkan langkah memimpin jalan.
Setelah beberapa jam menyusuri Hutan Verdesia bagian timur, kini Yosh dan Lilian telah tiba di dataran tinggi yang menyajikan pelataran rerumputan luas yang dihiasi oleh banyak bebatuan tinggi serta gua-gua pertambangan. Ah, sedikit menjelaskan soal bagian timur Hutan Verdesia, kawasan ini memang dikenal sebagai sumber material dan perkebunan. Dulu banyak sekali orang datang ke wilayah ini untuk menambang atau membuka lahan pertanian. Tanah di sini begitu subur. Soal mencari buah-buahan dan sayuran liar bukanlah perkara sulit. Selain itu Hutan Verdesia bagian ini juga merupakan yang paling dekat dari pusat kota. Mangkanya Yosh memutuskan memilih kawasan ini sebagai tempat tinggalnya bersama keluarga selama setahun terakhir. Ya, supaya ia bisa bolak-balik ke kota dengan mudah meskipun ia harus menyembunyikan kondisi kakeknya dari khalayak umum.
Namun, alasan lain Yosh memilih tempat ini untuk dijadikan tempat persembunyian keluarganya adalah, karena tempat ini mendadak tidak sepopuler dulu lagi sejak dua tahun terakhir. Kabarnya ada sesuatu yang membuat orang takut mendatangi tempat ini. Yaitu ...
... ada koloni monster yang telah menginvasi gua-gua pertambangan di area ini dan menjadikannya sebagai habitat mereka.
Menyadari dirinya telah menginjak zona tidak aman, Lilian memasang raut cemas di hadapan kembarannya.
“Yosh, bukankah kita ada di ....”
“Sarang Troll Gua. Ya, aku tahu. Maka dari itu sebaiknya kau jangan berisik,” potong Yosh memperingati, dengan suara yang pelan namun tegas.
Seperti biasa, Lilian tidak pernah berani mendebat Yosh ketika dia sudah mengeluarkan nada tegasnya. Karena ia tahu kalau Yosh sudah seperti itu, berarti keadaan memang patut untuk diwaspadai.
Omong-omong soal Troll Gua, itu adalah monster yang menginvasi area ini. Perawakannya besar dan gempal dengan tinggi dua kali lipat dari tubuh manusia normal. Kepalanya plontos, telinganya kecil seperti kuda nil. Tubuhnya menguarkan bau busuk, liurnya beracun dan mereka maniak daging. Oh, satu lagi, mereka memiliki penciuman tajam tetapi penglihatan dan pendengarannya buruk. Lilian mengetahui informasi tersebut karena ia pernah menghadapi salah satu di antara mereka yang tersesat sampai ke depan gubuknya. Dan ia kapok berhadapan dengan makhluk itu. Sungguh mencium aroma tubuhnya saja sudah membuat kepalanya pening sampai hampir pingsan. Waktu itu ia berhasil mengusirnya berkat satu trik kecil. Ya, mereka memang bodoh. Tapi kalau sudah marah, kau hanya bisa berserah diri kepada Yang Kuasa apakah masih diberi kesempatan hidup atau tidak.
“Berjalanlah perlahan. Usahakan jangan menimbulkan suara mencurigakan.” Yosh menginstruksi. Ia mengambil satu langkah lebih dulu di depan Lilian untuk memimpin jalan.
Sebetulnya Lilian ingin mengangguk patuh dan percaya saja pada komando Yosh. Namun ia sedang berada dalam kondisi harus cemas saat ini. Ia telah mengeluarkan sesuatu yang bisa memancing kemunculan mereka.
“Tapi, Yosh, aku .....” Lilian ragu-ragu menggantungkan kalimatnya. Walau Yosh adalah kembarannya sendiri, kadang ia merasa sungkan mengatakan sesuatu di hadapannya. Habis wajah galak Yosh amat menyeramkan.
“Kau kenapa?” tanya Yosh.
“Aku berkeringat.”
Tepat setelah Lilian selesai mengucapkan itu, sesosok Troll muncul dari dalam gua dan memekik kencang memanggil koloninya. Ya, dia mencium bau keringat Lilian yang menggiurkan.
Menyaksikan itu, Yosh dan Lilian sontak menegang di posisinya. Terlebih kini dari arah belakang mereka juga mulai muncul Troll-Troll lain.
Oh, ow, mereka betul-betul terjebak sekarang.
•••