Yosh dan Lilian berdiri saling memunggungi satu sama lain. Kuda-kuda terbaik sudah mereka persiapkan kala manik coklat mereka menyaksikan ada sekitar enam Troll tengah mengepung mereka dari sudut yang berbeda. Pertama satu muncul dari arah depan lalu menyusul dua di belakang. Kemudian datang lagi dua dari arah kanan dan terakhir satu di kiri. Tanah sampai bergetar hebat ketika makhluk-makhluk besar nan bau itu berjalan menghampiri Yosh dan Lilian secara perlahan. Liur hijau beracun menetes di sepanjang langkah mereka, membuat rerumputan yang terkena tetesannya seketika melayu lantas mengering dan berasap seperti terbakar.
Menyaksikan itu, Lilian meneguk salivanya ngeri. Sementara Yosh sibuk memikirkan rencana p*********n.
“Baik, siapa yang memberi ide untuk mendatangi tempat ini sebagai salah satu titik pencarian?” Lilian bergumam menyinggung dari belakang tubuh Yosh. Belati yang tadinya hanya menggantung di tali pinggangnya kini sudah tergenggam kuat di tangan kanannya.
Yosh seperti biasa, hanya merespon dengan datar tanpa merasa bersalah.
“Setiap titik wajib kita telusuri selama menempuh misi pencarian ini, Lily. Lord Glacio bisa berada di mana saja. Dari pada kau sibuk komplain di tengah situasi genting ini, lebih baik bantu aku memikirkan cara untuk melarikan diri. Bukankah kau punya pengalaman menghadapi salah satu di antara mereka?”
Lilian semakin menguatkan kuda-kudanya lantaran para Troll sudah semakin dekat dengan titik berdirinya. Ia juga semakin merapatkan tubuhnya dengan Yosh demi mencari perlindungan darinya. Namun sepertinya saudara kembarnya itu sadang tidak cukup mampu melindunginya. Dengar perkataannya barusan? Dia malah meminta saran darinya dalam menghadapi makhluk-makhluk besar pemilik liur mematikan itu.
“Um, a-aku tidak bisa berpikir di saat sedang panik seperti ini,” sahut Lilian jujur, yang langsung dibalas decakan pelan dari Yosh.
“Setidaknya beri aku petunjuk mengenai kelemahan mereka.”
Lilian yang sudah semakin tegang di tempatnya mencoba tetap tenang dalam menanggapi permintaan Yosh.
Ia pun menjelaskan, “Eum, mereka hanya mengandalkan penciuman dalam memburu mangsa. Sementara penglihatan dan pendengaran mereka buruk. Lalu ... ah, mereka juga bodoh dan lambat.”
Setelah mendengar itu, Yosh yang tadinya sudah membentangkan pedang di tangannya secara perlahan dan tenang kembali memasukkannya ke sarungnya yang tersampir di pinggangnya. Menyaksikan itu jelas saja Lilian melotot panik.
“Apa yang kau lakukan?!” pekiknya tertahan. “Kau memerlukan senjata di tangan untuk berjaga-jaga kalau mereka menyerang.”
“Kau bilang penglihatan mereka buruk bukan?” Yosh menyahut. “Dengan pandangan rabun, kemungkinan mereka akan menjadi lebih buas jika samar-samar melihat kilatan pedangku. Begitu juga dengan belatimu. Cepat sembunyikan.”
Lilian langsung menurut tanpa banyak bertanya lagi.
“Lantas sekarang apa rencanamu?” tanyanya.
Yosh tampak berpikir sejenak. Lalu sesaat berikutnya ia menyarankan, “Kita kabur diam-diam. Asalkan tidak berisik, kita pasti bisa meloloskan diri.”
Sejujurnya Lilian agak ragu dengan rencana itu. Ia sadar betul dirinya ini lumayan tidak bisa diam. Ia takut akan tertangkap basah tengah mencoba melarikan diri, lantas membuat para Troll itu murka. Bayangkan tubuhnya akan dicengkeram oleh salah satu di antara mereka, lalu digotong dan dibawa ke markas mereka yang ada di dalam gua pertambangan. Habis itu ia ditaruh di dalam panci besar bersama sayur-sayuran untuk dimasak bersamaan. Hiii ... seram.
Tapi mau menyarankan rencana yang lebih efektif pun ia tidak punya. Ah, ada sih satu. Menurutnya membodohi makhluk seperti mereka akan jauh lebih bagus daripada mengendap diam-diam sementara penciuman mereka sangat tajam, Tapi masalahnya mereka tidak sedang sendirian saat ini. Mereka banyak, rasanya mustahil bisa membodohi semuanya sekaligus.
Hah ... sepertinya Lilian memang harus mengikuti rencana Yosh. Habis mau bagaimana lagi?
Dengan gerakan cepat namun hati-hati Yosh tiba-tiba berbalik menghadap Lilian. Sungguh saat dia melakukan itu jantung Lilian seperti hampir copot. Ia takut sekali gerakan tiba-tiba itu akan membuat para Troll murka.
“Yosh, apa yang kau lakukan?!” geram Lilian berbisik. Ia kesal dengan tindakan gegabah saudaranya itu.
Namun dengan entengnya Yosh mengedikkan bahu, “Mereka bahkan tidak menyadari pergerakanku.”
Lilian memerhatikan takut-takut para Troll yang memiliki tinggi dua kali lipat dari tinggi tubuhnya. Benar kata Yosh, rupanya mereka tidak menyadari apa pun. Mereka bahkan terlihat sibuk mengendus sana-sini seolah sedang mencari titik keberadaan para mangsanya. Aneh, padahal tadi mereka sempat terpaku ke arah sini. Tapi kenapa sekarang mereka seolah kehilangan jejak Yosh dan Lilian? Apa penglihatan mereka memang seburuk itu? Jujur ini lebih dari yang Lilian perkirakan sebelumnya. Bagus sih, tetapi ia masih bertanya-tanya kenapa bisa begitu?
Oh! Jangan-jangan yang memicu para Troll itu keluar dari sarang dan menghadangnya serta saudaranya, selain karena mereka mencium aroma keringatnya, itu karena mereka mendengar kegaduhan yang dibuatnya? Demi dewa-dewi agung Ordogia, kenapa ia menyusahkan sekali? Ia jadi merasa bersalah pada Yosh. Berkat mulutnya yang tidak bisa ia kontrol, ia jadi membahayakan nyawa mereka.
“Lihat? Mereka tidak bisa melihat keberadaan kita jika kita tidak menimbulkan suara mencurigakan,” bisik Yosh meyakinkan. “Ayo, sebaiknya kita kabur secepatnya sebelum mereka menemukan keberadaan kita dari bau keringat kita.”
Lilian mendengkus pasrah lantas mengangguk menurut.
Yosh meraih tangan Lilian di genggamannya, “Ikuti langkahku, jangan lepaskan genggaman tanganku. Satu lagi, jangan berisik. Kita akan melangkah ke arah tebing itu lalu menyeberang ke selatan Hutan Verdesia. Kau mengerti?”
Lilian menatap arah yang ditunjuk Yosh. Itu adalah jurang selebar lima meter dengan kedalaman yang cukup dalam. Walau tidak kelihatan dari sini tetapi Lilian tahu di bawah sana ada aliran sungai cetek namun deras yang dipenuhi bebatuan. Yosh pasti sudah gila menyarankan mereka menyeberangi jurang itu. Padahal dia tahu Lilian takut ketinggian.
Lilian pun menggeleng ngeri, “Tidak, tidak, jangan ke sana. Kita mau menyeberang dengan apa?!”
“Dengan itu tentu saja,” jawab Yosh cepat—masih sambil berbisik—seraya menunjuk pada sebuah pohon tumbang yang kebetulan melintang tepat di atas jurang membuat sebuah jembatan.
Membayangkan dirinya harus melewati rintangan itu, Lilian semakin menggeleng tegas, “Tidak! Apa kau gila? Aku tidak bisa melalui jalan itu. Kau tahu 'kan aku takut ketinggian?”
“Ini keadaan darurat, Lily, mengertilah! Hanya itu arah tercepat bagi kita untuk meloloskan diri dari para Troll. Kalau mereka mengejar kita, mereka pasti akan langsung jatuh ke jurang. Batang pohon itu tidak akan mampu menopang berat tubuh mereka.”
Walaupun Yosh sudah membujuk keras, Lilian masih ngotot menggeleng-geleng takut menatap jurang di depan sana. Ia sampai melupakan dirinya yang tengah berada di tengah kepungan para Troll. Baginya membayangkan dirinya harus melalui batang pohon tanpa pegangan itu rasanya jauh lebih mengerikan daripada membayangkan dirinya akan tertangkap oleh salah satu Troll dan dimasukkan ke dalam panci masak mereka. Ya, boleh dikatakan ia tergolong pemberani dalam menghadapi monster atau binatang buas penghuni hutan. Tapi kalau untuk menghadapi ketinggian, ia betul-betul pengecut. Baginya apa pun masih jauh lebih baik ketimbang harus menyaksikan kedalaman jurang dari atas tebing.
Akibat terlalu sibuk berbisik-bisik memperdebatkan rencana pelarian, Yosh dan Lilian sampai tidak sadar bahwa keberadaan para Troll yang mengepung mereka kini sudah semakin dekat dengan posisi mereka. Para Troll itu mengendus-endus bau mereka begitu gencarnya hingga meneteskan liur di mana-mana. Sampai kemudian, satu di antara mereka akhirnya berhasil melihat kembali keberadaan para mangsanya. Namun Yosh dan Lilian masih belum menyadarinya.
“Ayo, Lily. Kita harus segera cepat sebelum ....”
Suara raungan buas dari salah satu Troll akhirnya berhasil membawa kembali kewaspadaan Yosh dan Lilian. Kini mereka saling berpegangan menyaksikan Troll di hadapan mereka tengah berteriak lantas disambut oleh Troll-Troll yang lain. Tidak sampai lima detik setelah raungan itu membahana mengisi kesunyian Hutan Verdesia, mata kecil mereka secara kompak menatap Yosh dan Lilian bersiap untuk menerkam.
“Oh, Ow ... terlambat. Kalau begitu ganti rencana B. Ayo!”
Tanpa menunggu persetujuan lebih dulu Yosh langsung menarik tangan Lilian kabur dari terkaman para Troll. Ia membawa saudarinya berlari menuju tebing yang barusan mereka bicarakan sebagai tujuan pelarian. Ya, kalau rencana A adalah berjalan mengendap ke tebing dan menyeberang perlahan sampai tiba di seberang dengan selamat, maka rencana B adalah berlari kabur secepat mungkin sebelum mereka tertangkap oleh kawanan Troll, meskipun itu bisa berbahaya bagi keselamatan mereka saat menyeberangi jurang. Habis mau bagaimana lagi? Kalau sudah begini mereka sudah tidak bisa mengendap-endap. Gara-gara Lilian sih terlalu banyak berpikir. Jadi rencana A Yosh gagal 'kan.
Lilian yang ditarik paksa seperti itu, sebetulnya ia ingin protes. Tapi ia terlalu malu lantaran ia sadar diri bahwa kegagalan rencana Yosh sebelumnya adalah karena dirinya yang terlalu manja. Kini mau tidak mau ia mengikuti rencana B Yosh yang ia tahu ini akan sangat berbahaya dan mengerikan, bahkan jauh lebih mengerikan dari yang dibayangkannya sebelumnya.
Di tengah langkah pelarian ini sesekali Yosh dan Lilian menoleh ke belakang untuk memastikan sudah seberapa jauh jarak mereka dengan para Troll yang mengejar. Dan ternyata cukup dekat. Rasanya jantung mereka betul-betul dipompa maksimal pada detik-detik ini. Satu karena mereka panik akan terkejar, dua karena mereka harus berusaha secepat mungkin berlari supaya bisa mendahului langkah para Troll yang jelas-jelas dua kali lipat dari langkah pacuan mereka. Sungguh ini benar-benar menguji mental.
Syukurnya ketika Yosh dan Lilian tiba di tepi tebing, beberapa Troll mendapat sedikit serangan dari cahaya matahari yang bersinar terik. Penglihatan mereka dibuat terganggu oleh cahaya sehingga sekali lagi mereka tidak bisa melihat para mangsanya. Namun masih ada dua Troll yang berusaha menggapai Yosh dan Lilian. Untungnya mereka adalah yang terbelakang sehingga Yosh dan Lilian sedikit punya waktu untuk bersiap menyeberang.
“Ayo, Lily, kau duluan. Aku akan menghalau perhatian mereka,” ujar Yosh.
Namun Lilian menggeleng takut ketika pandangannya tidak sengaja melihat ke bawah tebing.
“A-aku takut jatuh, Yosh. Kau saja yang jalan duluan. Contohkan bagaimana cara jalan yang aman supaya tubuhku tidak goyah.”
Sebetulnya Yosh enggan mendahului Lilian. Ia takut dia akan kenapa-kenapa di belakang. Tapi tidak ada waktu untuk berdebat saat ini. Maka dari itu ia memutuskan untuk menyetujui gagasan tersebut.
“Baik, perhatikan langkahku.”
Lilian mengangguk.
Yosh pun mulai melangkah menyeberang melalui batang pohon besar yang melintang di atas jurang. Dia melakukannya dengan cepat, tidak sampai satu menit dia sudah tiba di seberang. Kini Lilian berdebar takut mendapati gilirannya untuk menyeberang.
“Ayo! Sekarang giliranmu!” Yosh berteriak di seberang. “Kau pasti bisa, Lily!”
Lilian menoleh ke belakang sekali lagi untuk melihat kondisi para Troll di belakangnya. Dan betapa terkejutnya, ternyata dua Troll yang masih mengejar sudah berada tepat di belakangnya. Lilian pun buru-buru melangkah ke atas batang pohon yang menjadi jembatan menuju ke seberang.
“Lilian! Cepat!” Yosh hanya bisa berteriak panik di seberang saat melihat kondisi saudarinya sudah semakin genting.
Walau sudah berusaha sebisa mungkin menghilangkan rasa takutnya akan ketinggian, tetap saja kaki Lilian bergetar hebat kala pandangannya menatap ke bawah. Rasa ngilu menjalari sekujur tubuhnya, membuatnya pada akhirnya jatuh terduduk dengan kaki menggantung-gantung di atas batang pohon. Kemudian saat ia mencoba merangkak maju menggapai sisi seberang, sialnya belum sampai setengah perjalanan tubuhnya sudah ditangkap oleh salah satu Troll yang mengikutinya berjalan pada batang pohon tumbang di atas jurang. Lilian berteriak tertahan dalam cengkeraman makhluk besar yang menatapnya dengan sorot lapar.
“Lilian!”
Yosh berteriak panik di seberang. Ia pun buru-buru kembali melangkah ke atas batang pohon tumbang, hendak menyelamatkan saudarinya. Namun tiba-tiba ...
Krak!
Batang pohon yang menjadi jembatan mulai meretak patah tepat di bawah kaki sang Troll yang sedang mencengkeram tubuh Lilian. Melihat itu Yosh menegang setengah mati. Lilian apalagi, ia sudah pasrah pada kematian yang akan menjemputnya sebentar lagi.
Krak!
Sekali lagi suara patahan itu menggema di kedalaman jurang. Membuat sang Troll yang menyadarinya tidak berani bergerak lagi karena takut akan terjatuh. Tapi sialnya benda itu sudah tidak kuat lagi menopang berat tubuh sang Troll. Batang pohon yang menjadi jembatan itu pun akhirnya patah lantas menjatuhkan segala beban yang berada di atasnya. Alias sang Troll, serta Lilian. Suara teriakan gadis itu begitu nyaring merambat ke setiap bebatuan dinding-dinding jurang.
“Lilian!!!”
Yosh berteriak histeris menyaksikan kejadian barusan. Ia terduduk lemas, pandangannya menatap tak percaya pada jurang dalam di hadapannya yang memakan saudari kembarannya.
•••