Bab 19 - Masih Hidup

1649 Kata
Pernahkah tubuhmu terasa sangat-sangat ringan sampai kau hanya bisa merasakan kehampaan di sekitar? Pikiran dan emosimu mendadak kosong, lepas, kesadaran terombang-ambing antara ada dan tiada. Seperti menjadi seonggok bulu yang melayang bebas di peradaban tanpa angin, pernahkah kau merasakan itu? Kalau belum, asal tahu saja seperti itulah rasanya jatuh dari ketinggian ketika kau memiliki fobia ketinggian. Jangan kira itu menyenangkan. Justru sebaliknya, itu menakutkan. Lilian tidak tahu mana yang lebih buruk antara jatuh dan mati mengenaskan, atau jatuh lalu tersangkut di tengah-tengah ketinggian dengan posisi mata melihat tepat ke dasar jurang. Baginya keduanya sama-sama mengerikan. Bahkan jauh lebih mengerikan dari segala hal mengerikan yang pernah ia hadapi selama hidupnya. Sungguh, saat ini tubuh dan jiwanya seperti sedang dipermainkan oleh keadaan. Barusan ia pasrah bersiap menyambut kematian. Tapi kini ia dipaksa untuk kembali merasakan fobianya sampai sekujur tubuhnya terasa lemas dan gemetar hebat. Untungnya ia segera menemukan pijakan sebelum sekali lagi jiwanya merasakan kengerian jatuh di tengah pemandangan jurang dalam. Tidak akan lagi, pokoknya ia kapok merasakan pengalaman seperti tadi. Lebih baik ia melawan monster saja deh. Setelah berhasil mendaratkan diri di tengah-tengah ketinggian tebing, Lilian melihat keadaan sekitar yang membuatnya selamat dari mati mengenaskan. Rupanya ia tersangkut di ranting pohon besar yang tumbuh di tengah-tengah jurang ini. Ranselnya lah yang menyelamatkan nyawanya. Beruntung ia mengikatkan tali pinggang ranselnya kuat-kuat sehingga benda itu tidak mudah terlepas dari punggungnya. Sekarang keadaan tali-talinya sudah putus lantaran tidak cukup kuat menopang berat tubuhnya lebih lama lagi. Tidak apa, yang penting sekarang ia masih hidup. Lilian kemudian melihat ke belakang. Ah, ternyata ada mulut gua di sini. Tebing yang dipijaknya saat ini adalah balkon dari gua tersebut. Menyaksikannya membuatnya otomatis memanjatkan puji syukur terhadap sang pencipta semesta atas keberadaan balkon alam ini. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana nasibnya jika tidak ada pijakan ini yang menghalau proses jatuhnya ke dasar jurang. Kini, Lilian mengembuskan napas lega bukan main. Lalu ia memandang ke atas, tepatnya pada titik di mana harusnya Yosh berada saat ini. Di sisi lain, Yosh yang tidak mengetahui kalau Lilian masih hidup hanya bisa terduduk lesu tanpa berani memandang ke dalam jurang. Semangatnya yang semula menggebu-gebu dalam menempuh misi pencarian ini demi mendapatkan obat penawar untuk Kakek Olf mendadak luntur tak bersisa. Pandangannya menyiratkan keterkejutan yang bercampur dengan ketidakpercayaan kala menatap mulut jurang di hadapannya. Sementara pikirannya membawanya pada sebuah pertanyaan tak berjawaban, ia harus bagaimana selanjutnya? Apa yang akan ia katakan kepada kakeknya jika beliau menanyakan keberadaan adiknya? “Lilian ....” Yosh hanya bisa menggumamkan nama saudarinya entah sudah yang ke berapa kalinya sejak peristiwa yang tidak diharapkan itu terjadi. Seiring meredanya keterkejutan yang sedari tadi menyerang jiwanya, rasa bersalah kini mulai mengambil alih. Yosh menyesali segala keputusan egoisnya yang pada akhirnya berujung membawa Lilian pada bencana mengenaskan ini. Jika saja ia menuruti perkataan gadis itu ketika dia bilang tidak bisa melakukan ide gilanya menyeberangi jurang, dia pasti masih berada di sisinya saat ini. Masih mengoceh berisik sepanjang perjalanan, masih tertawa mengajaknya bercanda, juga masih ... “Yosh! Apa kau masih di sana?!” ... hidup. Yosh terkejut setengah mati ketika telinganya menangkap ada suara Lilian dari arah kedalaman jurang di bawah sana. Namun ia masih belum mau memercayai pendengarannya. Ia takut ia hanya sedang berhalusinasi di tengah kesedihan mendalam ini. “Yosh! Kau dengar aku?!” Sekali lagi seruan itu menghantui Yosh. Kali ini Yosh mulai berharap banyak soal keselamatan saudarinya. “Yosh! Jawab aku! Aku di bawah sini, masih hidup!” Untuk yang satu ini, Yosh tidak lagi menganggap itu hanya halusinasinya. Buru-buru ia memasang posisi tengkurap dengan kepala menengadah ke tepi jurang untuk mencari-cari sumber suara. Dan ya! Matanya menangkap sebuah pergerakan di tengah-tengah jurang sana. Ada seseorang tengah melompat-lompat sambil melambaikan tangan, itu Lilian! Ternyata benar dia masih hidup. Yosh pun tidak bisa menahan rasa bahagia serta terharunya. “Lily, apa itu benar kau?!” Yosh balas berteriak di kedalaman jurang. Semoga saja suaranya sudah cukup kuat untuk bisa sampai ke telinga Lilian. “Ya! Ini aku! Ajaib bukan aku masih hidup?!” Lilian mengungkapkan rasa syukurnya. Tak sadar mata Yosh berkaca-kaca mendengar dan menyaksikan itu. “Kau tahu, Lily, kau membuatku hampir menangis!” ungkap Yosh jujur. Lilian di bawah sana sebetulnya juga sama, ia hampir menangis lantaran merasa sangat bersyukur masih bisa mendengar suara kembarannya. Hanya saja Yosh tidak bisa melihatnya lantaran jarak mereka terlalu jauh. Tapi walau tidak kelihatan pun Lilian yakin Yosh tahu apa yang sedang dirasakannya saat ini. Mereka 'kan kembar, sedari lahir mereka berbagi perasaan dan firasat yang sama satu sama lain. “Oh ya? Kalau begitu aku keren bisa membuat seorang Yosh menangis,” sahut Lilian bercanda—masih sambil berteriak supaya suaranya terdengar sampai atas. Yosh tertawa bahagia menanggapi candaan saudarinya. Dasar Lilian, di saat seperti ini masih saja sempat-sempatnya dia mengejek bercanda. Setelah melepas rasa syukur masing-masing, kini Yosh dan Lilian mulai serius. Mereka sama-sama memikirkan bagaimana cara agar mereka bisa bersatu kembali. Masalahnya Lilian tidak punya banyak pilihan dalam menentukan arah kembali. “Um, Lily? Apa situasi aman di bawah sana?!” Yosh berseru khawatir. Lilian mengangguk, “Sejauh ini masih aman! Kau tidak perlu khawatir!” “Syukurlah. Kalau begitu kau tunggu di sana baik-baik. Aku akan menyusul turun!” Mendengar itu sontak Lilian melotot. “Apa?! Jangan nekat, bodoh! Kau mau turun dengan apa?! Tali? Tidak akan cukup! Yang ada kau bisa jatuh nanti!” protes Lilian. “Lantas aku harus bagaimana? Aku tidak mungkin membiarkanmu seorang diri di sana!” Lilian berpikir keras. Ia celingak-celinguk ke sekitar mencari jalan yang sekiranya bisa ia lalui. Setelah menemukan beberapa solusi, ia segera menyampaikannya pada sang kakak. “Bagaimana kalau aku saja yang menyusulmu? Kita bertemu di perbatasan Hutan Trukhsia sore ini. Aku akan coba mencari jalan ke sana.” “Apa?! Kau mau lewat mana? Memangnya ada jalan di bawah sana?” Kali ini Yosh yang memprotes. “Ada!” jawab Lilian. “Ada dua jalan. Pertama aku bisa turun ke bawah menggunakan tali yang kubawa dalam ranselku. Atau kedua, aku akan mencari jalan lewat gua yang ada di belakangku. Kalau aku benar, harusnya gua ini menembus ke area pertambangan. Pasti akan lebih mudah mencari jalan keluar lain menuju wilayah selatan Hutan Verdesia menggunakan petunjuk jalan yang ada di area pertambangan. Menurutmu jalan mana yang paling aman untuk kuambil?” Yosh berdecak khawatir. Menurutnya kedua opsi itu sama-sama berbahaya jika Lilian melaluinya seorang diri. Bukannya ia tidak percaya pada kemampuan bertahan hidup saudarinya. Ia sadar kok Lilian cukup cerdik dalam menghadapi situasi genting. Tapi tetap saja, bagaimana kalau di tengah kesendirian itu dia memerlukan bantuan tetapi Yosh tidak ada untuk membantunya? Membayangkannya saja sudah terasa mengerikan. Hah ... andai saja ia punya pilihan untuk menyusul Lilian, pasti situasinya tidak akan serumit ini. Yosh mengambil waktu sejenak untuk memutuskan pilihan baik-baik. Pilihan pertama rintangannya adalah ketakutan Lilian sendiri, yaitu ketinggian. Apakah Lilian akan berani merayap turun ke bawah dengan hanya berbekal tali? Rasanya Yosh ragu. Bisa-bisa dia jatuh tak terkontrol lantaran sekujur tubuhnya gemetar ketakutan. Sementara pilihan kedua, rintangannya sudah jelas Troll Gua penunggu area pertambangan. Itu terdengar jauh lebih berbahaya. Tidak mungkin ia membiarkan Lilian menceburkan diri ke dalam sarang monster. Lantas Yosh harus menyarankan yang mana? Jujur Yosh bingung. Kalau Yosh memilih menurut sudut pandang Lilian, gadis itu pasti akan lebih suka menantang diri menerjang para Troll Gua ketimbang melawan fobianya akan ketinggian. Tapi kalau menurut pertimbangannya sendiri, jelas Yosh lebih menyarankan supaya Lilian turun saja. Setelah cukup lama menimbang-nimbang tetapi tak kunjung merasa yakin terhadap pilihan yang akan disarankannya kepada sang kembaran, Yosh memutuskan untuk melihat dulu seberapa besar kemungkinan Lilian akan mampu merayap turun dengan tali. “Kau sadar kedua jalan itu tidak ada yang bagus bukan?” Yosh kembali berseru. Suaranya kembali bergema di sepanjang kedalaman jurang setelah beberapa menit tadi sempat hening. Lilian tidak menjawab. Ia hanya menyengir ketir yang tentu tidak terlihat oleh Yosh. “Dengar, Lilian,” ujar Yosh lagi, "sebetulnya aku tidak mau kau masuk ke gua dan bertemu dengan para Troll penunggu area pertambangan. Aku pribadi menyarankan supaya kau ambil jalan turun saja. Tapi kalau kau merasa tidak sanggup, aku serahkan semua keputusan di tanganmu. Aku akan memercayaimu kali ini.” Lilian tersenyum teduh mendengar itu. Yosh pasti sangat merasa bersalah setelah idenya yang menyuruhnya melawan rasa takutnya malah berujung mengirimnya ke dalam jurang dalam ini. Mangkanya sekarang dia tidak memaksa Lilian lagi untuk melawan fobianya. Ah, dia seperti itu malah membuat Lilian jadi merasa buruk. Ia tidak mau membuat Yosh terus-terusan diliputi rasa bersalah. “Kalau begitu pilihanku adalah memercayaimu!” seru Lilian memutuskan. “Aku akan mengambil jalan turun!” Mendengar itu, Yosh tersenyum senang bukan main. “Sungguh?! Gadis pintar! Aku tahu kau bisa melawan rasa takutmu.” Lilian ikut tersenyum di bawah sana. Meskipun juga ia mulai merasa takut sih. Sekali lagi, ia akan menghadapi resiko jatuh dari ketinggian. Tidak apa, setidaknya aku pernah mengalami jatuh bebas dari ketinggian yang jauh lebih mengerikan dari ini. Aku pasti bisa melewati yang satu ini! Ia membatin menguatkan diri lantas mulai menyiapkan tali dari ranselnya. Setelah mengikatkan tali pada batang pohon serta merangkai tali keseimbangan di pinggangnya supaya ia bisa berjalan miring di sepanjang dinding tebing, Lilian melihat lagi ke atas untuk berpamitan pada Yosh. “Aku akan turun sekarang, Yosh. Sampai jumpa di perbatasan Hutan Trukhsia.” “Hati-hati, Lily. Turunlah perlahan, fokuskan pandanganmu pada tali dan dinding tebing. Jangan sekalipun melihat ke bawah sebelum kau tiba di titik ketinggian yang aman karena itu dapat membuat otot kaki dan tanganmu melemah!” Yosh berseru memberi arahan. Sayangnya tidak ada jawaban lagi dari Lilian. Samar-samar dari atas sini Yosh dapat melihat tubuh Lilian sudah mulai merayap turun ke bawah. Yosh pun bangkit berdiri. Ia berdoa dalam hati semoga keselamatan selalu menyertai saudarinya. Setelah bayangan Lilian menghilang dari jarak pandangnya, Yosh berbalik. Ia lantas melanjutkan langkah menyusuri hutan menuju tempat janji temunya dengan Lilian, yaitu kawasan paling selatan Hutan Verdesia alias perbatasan Hutan Trukhsia. •••
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN