B-1, Episode 1
Pada suatu malam, Benhard sedang mengunjungi pesta ulang tahun teman sekolahnya di suatu gedung. Pesta itu di gelar cukup meriah khusus teman-teman sekolah. Saat itu sang sahabat (Fidelio Clovis) tidak ikut mengunjungi pesta itu lantaran dia sedang tidak enak badan.
Semasih Benhard hendak pergi ke toilet pria tiba-tiba dia dikejutkan oleh seorang gadis selepas dia keluar dari toilet wanita bernama Visca Chandra.
"Eh," Kejut Benhard nyaris menabrak badan gadis itu.
Sementara gadis itu tersenyum hangat begitu melihat Benhard disana tak ayal membuat Benhard juga membalas senyum.
Tidak ada perbincangan apapun diantara keduanya hingga sekian detik, melainkan saling tatap mata. Entah mengapa tiba-tiba keduanya saling merekatkan jarak, semakin dekat hingga tanpa disadari bibir keduanya saling bersentuhan.
Si gadis memejam menikmati sentuhan bibir yang amat didambakan oleh banyak kaum perempuan ini lantaran Benhard memang pria sangat populer di sekolah mereka.
Tapi, tidak demikian dengan Benhard, tak lama dia lepaskan kemudian menyapu bibirnya sendiri dengan tangan tampak muram serta bimbang.
"Bend?" Panggil Visca.
"Maaf, ak-aku ... Aku gak sengaja melakukannya" Ucap Benhard masih terus menyapu bibirnya seolah jijik dengan itu. Tentunya membuat Visca kian muram lantaran bagi seorang perempuan harga dirinya telah di lecehkan, apalagi bagi seorang Visca Chandra ciuman tersebut adalah ciuman pertamanya yang tak rela bila di renggut begitu saja.
Tapi apalah daya, pria yang didepannya ini memang terkenal paras tampan yang dimilikinya serta menjadi dambaan banyak kaum perempuan.
"Ap-apa? gak sengaja kamu bilang?" Ucap Visca.
Benhard sebatas mengangguk, masih terus menyapu bibirnya sendiri. Lantas tiba-tiba tangan Visca melayang di udara mendarat kuat di pipinya.
Plak!
"Dasar cowok brengs'k! ternyata rumor selama ini yang aku dengar benar, kau lelaki iblis yang tak punya hati, Benhard!" Sorot mata memerah bagaikan terdapat darah, sementara air matanya sudahlah tumpah. Lantas dia beranjak pergi dari hadapannya.
"Vis, tunggu Visca!" Panggil Benhard kian menyesali, lantaran dia pahami seorang perempuan pastilah merasa terhina dengan apa yang telah dia lakukan padanya walau hanya sebatas ciuman belaka. Tapi apalah daya, yang tadi dilakukannya tadi memang hanya sebatas coba-coba saja.
Benhard dirundung kebimbangan lantaran ia masih merasakan hal yang sama, maka beranjak hendak berpamit pada sang teman, keluar dari ruang pesta ulang tahun itu.
__
Memacu kencang kendaraannya, bermula hendak menuju pulang ke rumahnya, tetapi dia putar kembali kendaraannya hendak menuju suatu tempat untuk menghilangkan rasa penatnya.
Lantas ...
Segera dia menuju ke suatu tempat hiburan malam khusus dewasa.
Selepas tiba disana, Dentuman keras musik remix yang dimainkan oleh DJ sangatlah asik untuk berjoget ria didalam Clubbing itu, tapi ... semua itu tak mampu membuat hatinya terlepas dari segala apa yang sedang menganggu pikirannya. Duduk termenung didepan meja bertender, begitu menoleh dia melihat banyaknya manusia yang sedang asik dengan para wanita.
Meski Banyaknya wanita malam yang cetar membahana berbody bak gitar spanyol pemuas birahi lelaki hidung belang, dia samasekali tidak tertarik melihatnya.
Beranjak pergi menuju ke dalam toilet, duduk termenung di atas jamb'n. Mata memejam, kepala mendongak menatap langit-langit, hati terasa bingung nan bimbang begitu ingat tak merasakan sensasi apapun saat dirinya dengan sengaja coba mencium seorang gadis-teman sekolahnya yang bernama Visca Chandra itu, tepatnya didalam sebuah gedung semasih dia mengunjungi pesta ulang tahun teman pria-nya, beberapa jam yang lalu.
__
Sesungguhnya Benhard sudah menyadari ini sejak lama, yang mana dia tidak memiliki ketertarikan kepada lawan jenisnya, justru sebaliknya dia cukup terangsang apabila melihat sesama jenis yang berparas tampan maupun yang berbadan kekar di dalam dunia maya maupun di media televisi.
"Kenapa aku tercipta seperti ini ... kenapa Tuhan, ada apa denganku. Kenapa aku berbeda Tuhan ..."
Semasih berkutat tentang itu, tanpa disadari, saat dia masuk dalam toilet itu, dia tidak mengunci pintunya terlebih dulu.
Maka ...
Ngieeeek!
Suara Pintu itu terbuka oleh seorang lelaki berparas tampan dan penuh karisma dan juga secara fisik masih tampak satu usia dengannya hendak masuk ke dalamnya.
"Uppss, Maaf" Ucap Pria itu begitu melihat keberadaan dirinya lantaran dia mengira tiada orang didalam sana.
"Oh, tidak apa-apa. Silahkan, aku sudah selesai kok" Benhard beranjak menuju pintu, sementara pria itu beranjak masuk.
Sebelum Benhard sampai tepat di pintu tiba-tiba dia tergelincir ke arah belakang. Melihat itu, si pria yang hendak masuk itu sangat tangkas meraih lengan dan pingangnya hingga tubuh saling mendekap kemudian tak sengaja bibir keduanya saling bersentuhan.
"Emm ..."
Entah mengapa Benhard malah memejam dan menerima, begitu bibir kenyal beraroma khas zat Nikotin bercampur aroma minuman beralkohol itu menyentuh bibirnya, sementara pria itu jua demikian, degup jantung keduanya saling terpacu kencang tak beraturan.
Lantas Satu kaki si pria itu mengulur ke belakang, kemudian mendorong pintu agar tertutup kembali. Begitu pintu tertutup rapat sempurna, Benhard kian melayang hingga angan menjemput gairah meski menyadari bibir kenyal yang menyentuh bibirnya adalah bibir pria yang tidak di kenalinya.
Begitupun pria itu, dia sesama menikmati hingga lidah merogoh masuk kedalam mulutnya, kemudian mengaitkan lidahnya dengan lidah lawan bermainnya, hingga resapan nikmat sesama mereka rasakan.
Mata keduanya lantas saling membuka, perlahan melepaskan rekatan bibir sejenak, kedua mata saling menatap dan mengunci, Entah mengapa didalam angan keduanya sesama menginginkan sesuatu yang lebih dari sekedar ciuman.
Keduanya terdiam tanpa kata, tiba-tiba Pria itu meraih tangan Benhard, kemudian menariknya keluar dari toilet itu. Benhard bagai kerbau yang di cokok hidungnya, dia tak bertanya maupun menghentikannya kala mengetahui si Pria membawanya kedalam sebuah kamar.
Begitu masuk kedalam kamar itu, bermula si pria mengunci pintu, pertama-tama mempersembahkan senyuman Khas, kemudian mendekat-mencicipi rasa itu lagi. Namun, tidak lama mereka menikmati ciuman itu, Benhard melepaskannya sejenak.
"Tunggu, si-siapa kamu?" Tanya-nya sedikit terbata lantaran degup jantungnya terpacu sangatlah kencang, bahkan keringat dingin mulai bercucuran.
"Panggil saja aku Zevano, lalu siapa nama kamu?" Balas Pria itu.
"Ak-akuu Benhard"
"Nama yang sangat indah" Balas Zevano menyeringai, tak ingin banyak membuang waktu berkenalan, lantaran Napsu sudah membuncah angan, Zevano kembali merekatkan jarak menyentuh bibir Benhard dengan bibirnya sangat rakus seraya mencengkram kuat kedua tangan Benhard di dinding.
"Emmh ..." Benhard kian melayang di buatnya hingga dia sudah tidak bisa lagi mengendalikan dirinya.
Maka ... Terjadilah sebuah kegiatan terlarang (Secara bergantian) diantara mereka si penyandang orientasi seksual berbeda untuk pertama kalinya.
Semula mereka belum mengetahui persis istilah ini, tetapi dari cara bermain mereka pastilah sesama penyandang label Versatile (Serba bisa alias menusuk dan ditusuk bukan istilah Seme dan Uke)
___
Selepas keduanya mencapai puncak kenikmatan dalam kegiatan terlarang itu, badan masih sesama tanpa busana. Zevano duduk, meraih bungkus rokok di saku celana yang masih tergeletak di lantai, kemudian membakar rokok itu di mulutnya, sementara Benhard bergegas membersihkan diri di kamar mandi. Begitu usai dia pun keluar.
"Hei, apa Kamu ... tidak bersihkan diri dulu?" menutup pintu sudah memakai kembali celananya tapi bagian d**a masih tak berbusana.
"Iya nanti saja." Singkat Zevano, Ekspresinya tampak depresi seraya menyemburkan asap rokok dari mulutnya ke langit-langit.
Benhard tak begitu memperhatikan ekspresi dia sebatas memperhatikan begitu seksinya bibir dia saat menyemburkan asap Zat Nikotin itu dari mulutnya.
Beranjak duduk di atas kasur sembari menyandarkan punggungnya, membuka layar handphone di tangannya. Sementara Zevano lekas mematikan putung rokok sejenak, kemudian mendekat ke sisinya.
"Hei, Bisa berikan nomor telephone mu?" Pinta bernada lembut dari bibir Zevano tak ayal dia merekatkan jarak bahu ke sisinya.
Benhard menoleh dan tersenyum, begitu susah dia berpaling melihat lirikan tajam penuh pesona Zevano khas pria maskulin itu di sebelahnya itu.
"Hum, Tentu aja," Benhard segera nemberikan Handphone itu pada dia.
Zevano segera mengetik perlahan nomor teleponnya beserta Chat melalui aplikasi andalan jenis WA padanya.
Selepasnya dia ulurkan kembali handphone itu seraya bekata, "Itu nomorku, aku pasti akan menghubungimu"
"Baiklah, aku juga pasti akan selalu membalasnya" balas Benhard dengan senyuman hangat tak ayal membuat Zevano jua tersenyum.
Mereka lanjut berbincang-bincang tentang perkenalan yang tertunda oleh kegiatan terlarang mengasikkan tadi. Maka diketahui Zevano ini berusia sama dengan Benhard (18 tahun) serta menempuh pendidikan sesama di sekolah menengah atas kelas 12 berbeda sekolahan terbentang cukup jauh namun mudah di tempuh lantaran keduanya berbeda kota.
"Hei, Apa ... Tadi rasanya sakit?" Ceplos Zevano secara tiba-tiba.
"Eiiihh, apa yang kamu katakan? Jangan membicarakan itu, kamu pun merasakan yang sama bukan?" Balas Benhard meliriknya, membuat Zevano tertawa-tawa.
"Hehehe, iya deh iya ..."
Meski keduanya bertemu atas dasar sesama napsu, entah mengapa ada suatu gejolak didalam hati dan pikiran menginginkan lebih dari sekedar cinta satu malam saja.
Selepas melakukan kegiatan terlarang pada satu malam ini, mereka sering menghubungi satu samalain dan berbincang via telephone.