B-1, Episode 4

1179 Kata
Selepas sampai di sekolah, Benhard menolah-noleh mencari keberadaan sang sahabat sebelum kegiatan literasi di mulai. "Tumben sekali Fidel gak keliatan, apa ... dia gak masuk sekolah?" Tak mendapati keberadaan dia usai memasuki ruang kelas. Lantas keluar lagi selepas menaruh tasnya di kursi. Sudah jalan kesana-kemari bahkan naik-turun anak tangga masih tak berjumpa dengannya. "Apa dia emang terlambat datang?" Terakhir dia berpijak menuju gerbang sekolah, tetapi selama masih melangkah terburu-buru tak sengaja bahunya bersenggolan dengan seorang siswi. "Eh, sorry." Kejut Benhard perlahan meluruskan pandang ke arah siswi itu. Maka ... "Vis," Panggilnya saat mengetahui siswi itu adalah Visca, yakni seorang gadis yang telah menjadi korban percobaannya (Mencium) beberapa hari yang lalu. Visca tak menjawabnya lekas berpijak hendak pergi menghindarinya. "Eh, Hei Vis tunggu!" Panggil Benhard meraih lengannya hingga Visca berhenti. "Lepaskan tanganku, Ben!" Visca lepaskan paksa tangan Benhard. "Aku tau kamu marah sama aku Vis, tapi ... Aku benar-benar minta maaf sama kamu, waktu itu aku gak sengaja melakukannya." Ucap Benhard. "Bicara apa kamu?" Visca alihkan seolah tak ingat kejadian itu meski sesungguhnya sangat ingat bahkan selalu teringat-ingat. Melihat respon Benhard masih saja mengakui ciuman itu bukanlah unsur kesengajaan, Visca beranggapan dirinya hanya menjadi bahan lampiasan Benhard belaka tentunya membuatnya kesal dan marah bercampur sedih. "Vis, Visca!" Seru Benhard saat Visca pergi meninggalkannya menuju ruang kelasnya, tampak mata dia berkaca-kaca. Semula hendak Benhard kejar, lantaran dia ingin mendapatkan maaf dari gadis itu, tapi tak jadi dilakukannya saat menoleh ke lain sisi. "Nah, itu Fidel" Akhirnya dia alihkan keinginan sebelumnya (Mengejar Visca) lantas kini menuju ke arah sang sahabat. "Fid," Panggilnya semakin mendekat. "Tumben sekali kamu terlambat datang, biasanya kamu paling awal meski gak ada piket." Benhard meletakkan lengan pada bahu dia, tapi tak di jawab oleh Fidel cenderung dia malah menyingkirkan tangan Benhard berujung mempercepat langkahnya. "Fid?" Panggil Benhard, terus mengejar sampai kini mereka tiba di ruang kelas, Fidelio masih terdiam seribu bahasa. Bahkan Fidelio langsung duduk rapi di kursinya seraya mengalihkan perhatian-membaca buku. "Ada apa sama dia ya? kayak ada yang aneh" Gumam Benhard tak henti menatapnya, semula hendak dia hampiri tapi tak jadi dilakukan lantaran sang guru sudah masuk kedalam ruang kelas mereka. "Aiiih ..." "Selamat pagi anak-anak ..." Sapa guru lantas kegiatan literasi berlangsung. ___ #Next Benhard merasakan perbedaan sikap pada diri sang sahabatnya itu, Awalnya dia coba biarkan lantaran mengira sang sahabat mungkin jijik dengannya selepas mengetahui orientasi seksualnya. Tapi pada lain hari, tepatnya di sekolah mereka tak sengaja saling berjumpa di koridor menuju toilet, dalam keadaan sepi. Brugh! Bahu mereka tak sengaja bersenggolan cukup kuat lantaran sesama berjalan dengan kecepatan penuh-berlawan arah. Fidelio langsung sedikit menghindar "Fid," Tapi Fidelio tak ada respon apapun malahan membenarkan kerah bajunya sendiri tanpa menghadap ke dia. "Begitu menjijikankah aku bagimu, Sobat?" Ucap Benhard tak henti menatapnya. Fidelio menoleh sejenak, "Apa maksudmu ben, kenapa kamu berkata seperti itu?" Segera mengalihkan pandang lagi ke lain sisi. "Terakhir ketemu di kafe malam itu, beberapa hari ini kamu benar-benar berubah Fid, kamu selalu menghindariku. Aku sadar diriku ini seperti apa. Tapi, apakah sahabat yang kukenali sejak dulu yang selalu bersamaku kini sangat jijik bersentuhan denganku?" Ucap Benhard tampak sedih. Fidelio terdiam, perlahan menatapnya didalam hatinya berkata, 'Tidak ben, aku samasekali tidak sama seperti yang kamu pikirkan. Justru sebaliknya, kamu aja yang gak mengerti perasaanku saat ini" "Fid … Aku hanya ingin bilang, aku rindu saat-saat kita main bersama seperti dulu." Pungkas Benhard beranjak pergi saat sang sahabat samasekali tak berkata apa-apa. "Maafkan aku Ben" Lirih Fidelio kala Benhard perlahan pergi meninggalkannya. __ Selang beberapa hari kemudian, semasih Benhard disekolah dia selalu mengisi waktunya untuk fokus belajar lantaran menjelang ujian akhir sekolah sesuai dengan kalimat yang dia ucapkan pada Zevano bahwa dia ingin fokus belajar dulu supaya mencapai peringkat terbaik. Tentunya dengan cara tidak berkomunikasi dulu dengan sang kekasih. Bila secara logika/mayoritas pasangan kekasih bisa semakin semangat bila berjumpa dan saling support, tapi semua itu tidak berlaku pada pasangan ini lantaran ada suatu hal yang Antimaenstream bila saling berjumpa bagaikan sepasang burung dara. Pada saat jam istirahat sekolah pun Benhard masih saja terus-menerus belajar di kelas meski ada jeda sejenak pergi ke kantin maupun ke toilet, membuat Fidelio sering memperhatikannya. 'Ben ... Sejujurnya aku kangen hari-hari bersamamu' Batin Fidelio saat memperhatikan Benhard yang kini fokus belajar dari sisi kursi duduknya. Tentunya, Akibat menghindari Benhard beberapa hari terakhir ini, membuat Fidelio sangat merindukan hari-hari sebelum mengetahui tentang orientasi seksual yang dimiliki oleh sang sahabatnya itu. Datang mendekat, tetapi kebetulan Benhard berdiri hendak pergi ke perpustakaan. "Ben," Panggil Fidelio. "Hum," Benhard hentikan langkahnya tak jauh dari pintu-menoleh ke arahnya. Fidelio mematung saat Benhard menatapnya, membuatnya salah tingkah. "Ada apa Fid?" Tanya Benhard mendapati Fidelio masih diam saja. Akhirnya Fidelio berkata, "Em ... Em ... Ka-kamu mau ke-kemana?" meski sedikit terbata. Benhard tersenyum-mendekat, kemudian meraih lengannya, "Ikut aku." "Tap-tapi mau kemana?" Kejut Fidelio tampak wagu' (Canggung) "Ke sorga" Canda Benhard meski sadar candaannya garing. "Mati dulu dong?" Balas Fidelio sengaja mencari celah. "Seperti dugaanmu, kita mati bareng-bareng yuk ..." Canda Benhard lagi dengan sengaja. "Gak mau akh, peti matinya gak muat buat nampung berdua." Balas Fidelio. "Yaudah kita nyari tukang dulu buat ngelebarin peti." "Tukangnya lagi cuti musim corona" Balas Fidelio. "Kalau begitu ayo kita cari sampai ke bawah jembatan Casablanca," Lanjut Benhard. Fidelio " ^£€×/@%@^@& " "Hehe, Come on Friend ..." Benhard menariknya. Sesampainya di ruang perpustakaan, tanpa basa-basi mereka berbincang dengan pelan-pelan, meski awalnya sedikit canggung namun lama kelamaan mereka dapat kembali seperti sedia kala tanpa Benhard ketahui bahwa sang sahabatnya ini memiliki perasaan yang lebih dari sekedar sahabat padanya. Tentu saja Benhard tak mengetahui itu, yang dia rasakan sebatas persahabatan itu terjalin sangatlah tulus diantara mereka berdua. Karena bagi Benhard mendapatkan sahabat tak semudah mendapatkan teman. Lantaran julukan teman dengan Sahabat meski serupa tapi tak sama. Teman akan ada jika kita (ber-ada) tapi teman akan hilang jika kita sedang (tidak ber-ada) sedangkan sahabat akan selalu ada antara kita sedang (ber-ada) maupun tidak. "Oh ya, hari ini sopir penjemputku lagi gak kerja, kamu bawa motor sendiri apa di anterin, Fid?" tanya Benhard selepas mereka keluar dari ruang perpus. "Hari ini aku bawa motor sendiri, Ben. Kenapa?" Jawab Fidelio secara polos. "PB bisa?" "PBB?" Fidelio salah dengar. "PB!" "...." "Halah, gak ngerti kah?" "Hehehe" Fidelio cengegesan sambil garuk-garuk kepala. "Dasar telmi" "Apa kamu bilang?" Kali ini Fidelio mendengarnya dengan jelas. "Eh Enggak kok enggak, hehe" "Aissh sue!" Gerutu Fidelio. "Gimana bisa gak?" Lanjut Benhard. "Apanya?" "Aissh," Benhard memutar bola matanya, "Sosis bakar" Ceplosnya ngasal. "Kamu Mau beli sosis bakar kekantin maksudmu kah?" Jawab Fidelio. Lagi-lagi Benhard memutar bola matanya. "Iya, makan sosismu itu" Sontak Fidelio bergeser jarak, "Oh No ...!" "Oit, Apa'an?" Benhard menatapnya sambil mengangkat satu alisnya. "Jangan bilang kalau kamu mau ..." Fidelio penuh curiga sembari telapak tangannya memegang bagian burungnya. Plak! Kepala Fidelio di timpuk langsung oleh Benhard. "Itu otak udah traveling kemana Fid!" "Hehehe," Fidelio garuk-garuk kepala menyadari telah menyindir sang sahabat yang menyukai sesama pria. Tak lama kemudian, terdengar bel sekolah sudah bunyi. Teet ... Teett ... Teet "Nah, udah bunyi tuh" - Benhard. "Kuy lah, perang lagi kita." - Fidelio. "Perang?" "Perang melawan ngantuk!" "Dih, dasar!" "Hahaha"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN