Rencana Pindah

1051 Kata

Aksa menggendongku dengan panik ke mobilnya yang diparkir sembarangan di pinggir jalan. Tubuhku lemas seperti boneka kain, kepala terkulai di bahunya. Ibuku berlari mengikuti dengan wajah panik. “Rena, kamu kenapa Sayang?” isak ibuku dengan wajah tegang. Perjalanan ke RS terasa seperti mimpi buruk yang melambat. Lampu jalan menyilaukan mata, klakson mobil samar-samar, dan hati perih mengingat tatapan Raka yang hancur tadi. ‘Dia pasti benci aku sekarang. Tidak apa-apa yang penting aku bisa lepas darimu Raka.’ Di UGD rumah sakit terdekat, suasana ramai. Bau antiseptik menusuk hidung, suara alat-alat medis berbunyi dari ruang sebelah, dan perawat bergerak cepat. Dokter yang berjaga di ruang UGD rumah sakit langsung menghampiri dan memeriksa denyut nadiku, tekanan darah, dan suhu tubuhku.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN