Aku memutus sambungan telepon dengan tangan gemetar hebat. HP terjatuh ke tempat tidur saking shocknya. Raka bilang dia akan ke rumah sekarang. Bukankah seharusnya dia berangkat ke Amerika sekarang. Dia tidak mungkin melewatkan waktu penerbangannya untuk datang ke sini. Aku mondar mandir di kamar gelisah. Hatiku tidak tenang karena Raka tidak terima diputuskan. Tetapi aku juga tidak ingin menjadi obsesinya terus-terusan. Raka bukan mencintaiku karena perasaan yang wajar. Itu hanya akan saling menyakiti. Aku harus mencegah Raka datang ke rumah, aku tidak ingin jika aku terus berada dalam hubungan yang tidak sehat ini. Aku harus mencari cara agar Raka menerima keputusan ini tanpa drama yang akan membuatku sulit untuk melepasnya. Segera kutelepon Aksa. Hanya ada satu cara agar Raka memben

