Aku hanya mengangguk pelan menjawab perintah Pak Jefri. Setelah itu, bangkit dari tempat duduk di ruang Pak Jefri dengan lutut yang gemetar hebat. “Saya kembali dulu ke ruangan saya.” “Baiklah saya tunggu keputusanmu paling cepat tiga hari lagi!” sahutnya dengan wajah yang penuh sesal. Aku meninggalkan ruangan itu dengan keputusasaan. Kembali menuju lantai 16 tanpa senyum dengan wajah yang datar. Semua orang menatapku dengan khawatir, mereka tahu kalau aku dipanggil Pak Jefri. “Bu Rena, apa Anda baik-baik saja?” tanya Echa langsung menghampiri mejaku sambil menyerahkan dokumen yang harus aku periksa. “Tentu saja. Pak Jefri memanggilku karena ada urusan yang harus dibahas. Semuanya baik-baik saja, bisa aku handle dengan baik,” jawabku dengan senyum yang dipaksakan. Echa mengangguk de

