Hari-hari berikutnya kembali berjalan seperti biasa di permukaan, tapi di dalam diriku, ada sesuatu yang berubah. Setiap pagi saat bersiap ke kantor, mataku selalu tertuju pada cincin bermata satu di jariku. Kilau kecilnya memantul di cermin kamar, membuatku otomatis tersenyum seperti anak kecil yang baru dapat mainan baru. Aku memutar cincin itu pelan, menikmati sensasi dingin logam menyentuh kulit. Rasanya seperti ada rahasia manis yang hanya aku dan Raka yang tahu—janji kecil yang belum bernama, tapi cukup untuk membuat langkahku terasa lebih ringan sepanjang hari. Di kantor, aku berusaha berlaku normal. Datang ke kantor, menyapa satpam dengan senyum standar, menyelip di antara kubikel dengan membawa map laporan. Bedanya, kini setiap kali jari-jariku menekan keyboard, cincin itu ikut

