Sore itu, ruko milik Raka terasa lebih hangat dari biasanya. Matahari mulai turun, menyusup lewat jendela besar lantai atas, memantulkan cahaya keemasan di dinding krem dan parket kayu yang baru dibersihkan. Aku baru selesai membantu Raka menata beberapa rak kecil di sudut ruangan, dress midi yang kupakai sejak pagi sudah agak kusut karena berkali-kali naik turun tangga . “Sebentar lagi bener-bener jadi studio impian, nih,” komentarku sambil mundur beberapa langkah, mengamati hasil kerja kami. “Kalau nanti buka, aku mau jadi pelanggan pertama.” “Kamu pemilik juga kali,” sahut Raka dari belakang, tertawa kecil. Ia berjalan mendekat membawa sebuah lukisan kanvas kecil yang baru dipasang frame, berniat menggantungnya di dinding dekat tangga. Aku melangkah mundur terlalu jauh tanpa sadar. T

