Raka mulai mengecup rahangku, turun ke leher, napasnya hangat di kulit sensitif itu. Tanganku sendiri, entah sejak kapan, telah berpindah ke punggungnya, menekan pelan seolah mendekatkannya lebih lagi. Kemeja yang kupakai terangkat sedikit di sisi, memperlihatkan sepotong paha yang tadi tertutup. Saat jarinya, yang tadi hanya di pinggang, tersesat sedikit lebih rendah dari yang seharusnya, aku terkejut oleh intensitas getaran yang menjalar. “Raka...” panggilku, antara peringatan dan permohonan. Ia berhenti. Benar-benar berhenti. Dia membuka bajunya, memperlihatkan bentuk badannya yang sering kali ia banggakan. Aku menutup wajahku karena sepertinya Raka tidak mau berhenti. Raka kembali mendekat lalu mengangkat tubuhku ke atas sofa. Kulit kami saling bersentuhan, aroma tubuh Raka yang m

