“Selama kamu mencintaiku apa adanya. Aku akan berusaha sekeras apapun agar impiran kita berdua terwujud!” Raka meyakinkanku. Dengan perasaan campur aduk aku melepasnya pergi menemui kakeknya. Setelah beberapa lama berdiri mematung memandang jejak kepergian Raka aku melangkah masuk ke rumah dengan hati-hati. Sebisa mungkin aku menghindari ibuku terbangun. Aku masuk ke kamar tanpa menyalakan lampu. Tanpa melepas baju, aku langsung merebahkan tubuh di atas kasur. Pikiranku langsung berputar kacau. Raka pasti kena marah kakeknya. Seperti drama-drama yang pernah kutonton, mungkin cepat atau lambat aku akan kena imbasnya. Entah itu diancam atau dipecat. “Benarkah apa yang sudah kuputuskan sejak kemarin. Apa aku sudah salah sudah mengabaikan peringatan dari Pak Jefri sebelumnya?” gumamku. Sud

