Ngedate Pertama

1057 Kata
Pagi berikutnya, Raka menjemputku tepat jam 8 sesuai janji. Mobil hitam mewahnya parkir rapi di halaman rumah. Senyum lebarnya menghampiriku dan membukakan pintu mobil untukku. Sekilas aku melirik heran dengan kendaraan yang dibawa Raka. Entah kenapa, aku menjadi penasaran lebih tentang latar belakangnya. “Raka, kamu tidak dimarahi bawa mobil milik keluarga Papamu terus?” tanyaku merasa tidak enak. “Kamu tenang aja. Mobil ini jarang dipakai. Jadi kalaupun dibawa kemari setiap hari, mereka tidak akan ribut!” jawabnya santai. Ibuku melambaikan tangannya dari teras, “Have fun ya, Sayang-sayang Mama! Jangan lupa foto!” “Iya Ma, janji aman.” Raka membalasnya dengan senyuman cerah. Di mobil tangan kekarnya menggenggam tanganku sepanjang jalan ke RS. Lagu mellow romantis mengalun pelan. “Semalam aku mimpiin kamu. Nggak bisa berhenti bayangin ciuman kita!” bisiknya salah tingkah. Jiwa anak mudanya memang sangat membara, membuat wajahku memerah lagi. Rawat jalan berjalan dengan cepat. Menurut diagnosis dokter aku bisa pulih dan bisa kembali beraktivitas bekerja. Dari rumah sakit, Raka mengajakku nge-date. Pergi ke restoran, untuk makan siang. Setelah makan, aku diajak berkeliling jalanan kota. Aku senang karena perlakuan Raka padaku membuatku lupa dengan perceraianku dengan Aksa yang menyakitkan. Raka selalu bisa membuatku tertawa dan tersenyum dengan candaan dan sikapnya. Meskipun dia belum genap dua puluh tahun, tapi dia tahu bagaimana caranya membahagiakan wanitanya. Setelah lama berkeliling, Raka memarkir mobilnya di spot teduh pinggir jalanan yang lumayan sepi. Tangan kekarnya langsung merangkul pinggangku dan menariknya dekat. Kedua matanya berbinar penuh dengan hasrat. “Sayang, aku tidak tahan lagi,” bisiknya serak. Bibir tebalnya langsung menyerang bibirku dengan ganas. Ciuman kesekian kalinya yang terbuka dengan lidah saling eksplor. Tangannya mengusap punggung bawahku lembut tapi tegas. Desiran listrik meledak membuat tubuh kecilku meleleh di dekapan dadanya yang kekar. Napas tersengal putus, jiwa mudanya menyalakan api yang lama padam gara-gara vaginismus. Tangan kecilku menggenggam kerah bajunya dengan erat. Raka menjelajahi leherku pelan dan meninggalkan jejak di sana. Seolah menegaskan kalau aku adalah miliknya utuh. Insting prianya meledak ketika satu tangannya mulai menyusuri ke bawah rok ku. “Raka, kita pulang. Mama pasti menunggu lama,” ajakku mendorong tubuh Raka pelan. Aku tahu semakin lama aku biarkan dia, dia akan menagih dan menuntut lebih. Aku tidak bisa membiarkan itu semua lebih jauh. Apalagi aku memiliki kondisi yang bisa saja nanti membuat suasana mencekam. Raka mengendurkan sedikit pelukannya dengan mata yang menahan hasrat prianya. Dia sedikit kecewa padaku. Tapi aku justru yang lebih kecewa jika dia kecewa. “Jangan anggap aku perempuan gampangan karena kamu tahu aku seorang janda. Jadi apa kamu pikir kamu mudah menguasai tubuhku?” tanyaku dengan suara yang agak meninggi. Raka mundur perlahan, mata cokelatnya teduh penuh penyesalan setelah hasratnya tadi sempat memuncak. Tangan kekarnya lepas dari pinggangku berusaha hati-hati dan menghormati batasku. “Jangan bilang gitu Rena Sayang. Aku tidak pernah anggap kamu gampangan. Malah aku respect sama kamu,” jawabnya pelan dengan suara tegas dewasa. “Aku tahu itu tidak akan mudah, aku juga tidak akan melanggar batas. Sebelum aku menikahimu aku tidak akan menyentuh mahkotamu.” Aku menghela napas lega campur malu. Dia paham dengan kondisiku tanpa menghakimi, jiwa mudanya membara tapi terkendali dewasa. “Maafkan aku.” Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku. Merasa malu karena Raka adalah pria kedua dalam hidupnya yang menyentuhnya. Dia menggenggam tanganku dengan erat, mencium punggung tanganku dengan lembut. “Aku akan cari info terapi terbaik untukmu Rena. Aku janji aku akan menjadi seseorang yang bisa melindungimu dan menjadi sandaranmu.” Aku terdiam tanpa bisa menjawab. Perasaan malu disertai rasa menyesal karena sudah keras terhadapnya. “Kita pulang!” Raka segera berinisiatif menyalakan kembali mesin mobilnya. Aku tidak banyak bicara karena terlalu canggung untuk memulai percakapan. Raka juga sama. Dia lebih banyak diam. Mungkin karena malu atau merasa bersalah padaku. “Rena, lupakan sikap aku yang tadi lepas kontrol!” ucapnya pelan sambil melirikku dengan tatapan bersalah. “Tidak apa-apa! Sebaiknya kita jalani ini dulu dengan santai. Aku tidak mau terburu-buru ke arah yang lebih intim lagi!” jawabku dengan suara pelan. “Oke, maafkan aku ya Sayang, aku tidak bisa menahan diri,” ucapnya sambil menampar pipinya sedikit keras. “Tenanglah Raka. Aku bisa memahami. Kau baru beranjak dewasa. Pasti banyak hal yang ingin kau ketahui dan rasakan.” Raka tersenyum pahit merasa malu mungkin. Mobil melaju pelan kembali menuju rumah. Keheningan canggung menyelimuti kami berdua setelah insiden panas tadi. Tetapi sesekali tangan Raka mengusap punggung tanganku lembut sebagai permintaan maaf bisu. Sesampai di rumah, ibuku menyambut dari teras rumah dengan senyuman lebar. “Gimana pacarannya? asyik gak? kok nggak ngirim foto-foto?” Ibuku terlalu penasaran dengan kegiatan kami. “Seru Ma. Oh ya lupa tadi tidak sempat foto-foto. Next time mungkin nanti kita ke tempat yang lebih indah.” Aku langsung dituntun menuju ke kamar. Sementara ibuku ke dapur untuk membawakan minuman dan cemilan untuk kami. “Ren, kayaknya aku mau langsung pulang.” Tiba-tiba Raka pamit saat setelah selesai membaca pesan di HP-nya. “Oh, apa ada masalah di rumah?” tanyaku wajar. “Nggak ada. Cuma aku harus balikin mobil dulu!” jawabnya sambil tersenyum tipis sambil memasukkan HP ke saku celananya. Sorot matanya sekilas menatapku penuh arti sebelum pamit. Ada nada gugup tersembunyi di balik senyum santainya. Ibuku muncul dari dapur sambil membawa es jeruk segar dengan beberapa cemilan hangat. “Eh kok udah mau pulang aja Raka? Makan dulu dong!” Raka menggeleng sopan, “Makasih Ma, lain waktu lagi. Mobil harus balik malam ini.” Dia memeluk ibuku pelan seperti ibunya sendiri. Setelah memeluk ibuku dia menghampiriku. “Sayang, jangan mikir macam-macam ya! Besok aku jemput lagi untuk terapi! Maaf ya soal tadi.” Ciuman kening mendarat dengan cepat mengobati rasa canggung sebelumnya. Tangan kekarnya mengusap pipiku dengan lembut sebelum dia berlalu ke mobil hitam mewahnya. Aku berdiri di teras melihat dia pergi. Hatiku campur aduk, antara penasaran dan khawatir dengan Raka. “Raka perfect banget jadi calon mantu! Dia kayak bukan anak 19 tahun aja.” Ibuku menepuk bahuku dengan girang. Malamnya aku merasa gelisah. Belum ada pesan atau telepon dari Raka. Mungkinkah kejadian tadi membuatnya berubah. Haruskah aku menghubunginya duluan. Tapi kesannya aku yang menggatal. Setelah uring-uringan memikirkan orang itu. Sebuah pesan darinya muncul tepat jam 11 malam. “Tidur nyenyak Sayang. Besok kita ketemu lagi!” Mendapat pesan itu aku menarik napas lega. Pikiranku menjadi lebih ringan. Besok aku masih bertemu dengan Raka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN