Paginya aku bangun lebih awal. Hatiku berbunga-bunga tidak biasanya. Perasaan yang sudah lama aku tidak rasakan. Rasa tidak sabar ingin bertemu dengan seseorang yang sudah membuatku jatuh hati.
Aku buru-buru mandi dan memilih baju sederhana tapi manis. Rok panjang berwarna pastel dengan blouse putih agar aku terlihat lebih segar. Kusemprotkan parfum favoritku agar tambah sempurna penampilanku.
Ibuku sejak subuh sudah sibuk di dapur menyiapkan sarapan. “Rena, hari ini Raka mau datang kan? Mama buatin nasi goreng spesial nih,” ucapnya semangat.
“Iya Ma, dia katanya mau datang buat anterin aku terapi,” jawabku sambil menuangkan air minum ke gelas sambil senyum yang tidak bisa aku hindari.
“Ren, bagaimana Raka? baik kan orangnya? Dia itu dewasa banget untuk seusianya. Cocok sama kamu,” timpal ibunya.
“Hmmm, ini semua gara-gara Mama. Kita jadi pacaran,” candaku agak sedikit menyalahkan ibuku, meski aku juga tidak munafik. Mungkinkah karena aku tipe yang mudah untuk jatuh cinta. Entahlah, kehadiran Raka memang di momen yang tepat.
“Nah kan. Kalau bukan Mama yang bantu, mana mungkin Raka gercep jadiin kamu pacarnya.”
“Tapi Ma, dia kan baru lulus SMA. Gimana kata orang, seorang janda pacaran sama berondong.”
“Abaikan omongan orang. Yang penting kamu bahagia. Lagian Raka bukan anak kecil lagi. Masa kamu tidak bisa merasakan kalau dia itu dewasa luar biasa. Nggak kelihatan masih belasan tahun.”
“Iya sih Ma. Eh tapi katanya dua minggu lagi dia genap dua puluh tahun,” sambungku dengan nada bangga bercampur malu. Benar kata ibu, Raka dewasa luar biasa. Bahkan kemarin dia hampir saja menerkamku. Bibir tebalnya yang ganas, tangan kekarnya tegas menyusuri tubuhku. Tapi dia berhenti saat aku minta. Itu yang membuatku tambah jatuh hati padanya.
“Jam berapa dia datang?” tanya ibu.
“Jam 8 Ma. Aku mau tunggu di teras saja,” jawabku langsung berjalan pelan menuju teras. Meski sudah tidak memakai alat bantu, aku masih harus berjalan pelan dan sedikit tertatih.
Jam 07. 50 aku siap menunggu di teras. Memandang jalan depan dengan harap. Beberapa menit telah berlalu, hatiku mulai gelisah. Aku cek HP berkali-kali ingin memastikan apakah ada pesan darinya atau tidak. Mungkin saja macet sampai membuat dia terlambat datang? Atau apa dia sengaja telat biar aku tambah rindu dan penasaran.
Jam di HP ku sudah menunjukkan waktu 08.35. Dia sudah terlambat setengah jam dari waktu yang dijanjikan. Aku putuskan untuk meneleponnya saja. Tidak biasanya dia terlambat seperti ini.
Ponsel bergetar sebelum aku sempat meneleponnya. Sebuah pesan dari Raka. “Maaf Sayang, hari ini aku nggak bisa datang. Ada urusan mendadak di rumah. Terapi kita tunda ya? Nanti aku kabarin.”
Membaca pesan itu, kulit tubuhku seperti ditusuk jarum dingin. Rasa kecewa melanda, gelombang demi gelombang menghantam dadaku sampai sesak. Kenapa dia membatalkan janjinya? Sepenting apakah urusan di rumahnya sampai membatalkan janji.
Segera aku mengetik balasan untuknya. “Ya nggak apa-apa.” Singkat padat dan jelas. Ingin aku tunjukkan ada rasa marah dan kecewa dari pesanku itu.
Tak lama pesanku terkirim. HP ku berdering. Raka langsung meneleponku.
“Halo,” sapaku dengan nada ketus sengaja dingin.
“Sayang maaf ya aku nggak jadi datang,” ucapnya terdengar cemas. Napasnya agak tersengal seperti sedang buru-buru. “Kakekku masuk rumah sakit, ini lagi urus-urus dulu di rumah sakit.”
Rasa marahku langsung berubah menjadi khawatir. Hati yang tadi sesak kini berubah lembut. “Ya ampun, kakekmu kenapa? Sakit apa?”
“Kakek demam tinggi dan tidak sadarkan diri. Kamu jangan khawatir. Maaf ya Sayang, nanti aku kabari lagi.”
“Iya, semoga lekas sembuh.”
“Terima kasih Sayang. Terima kasih udah ngertiin. Padahal aku kangen banget sama kamu.”
Aku tersenyum tipis meski dia tidak lihat.
Telepon ditutup, hatiku yang campur aduk mulai reda. Ibuku muncul di teras membawa teh hangat.
“Mana Raka, kok belum datang?” tanya ibuku heran.
“Batal Ma. Kakeknya sakit masuk RS.”
“Apa, terus bagaimana keadaan kakeknya.”
“Kurang tahu Ma. Katanya demam tinggi terus pingsan.”
“Mudah-mudahan saja tidak parah sakitnya,” sambung ibunya dengan nada khawatir.
“Aku ke kamar dulu Ma. Aku harus ngerjain kerjaan kantor dulu!” pamitku. Setelah kecelakaan itu aku memang mengambil cuti sakit beberapa hari, tapi tetap saja pekerjaan ku harus diselesaikan tepat waktu karena semuanya sudah menjadi tanggung jawabku.
Sempat aku membayangkan kebersamaanku hari ini dengan Raka. Tapi karena batal, ada sedikit kecewa kurasakan.
Hari ini aku menghabiskan lebih banyak waktu di kamar. Mengerjakan laporan keuangan serta bersantai. Beruntungnya aku memiliki bos yang pengertian. Jadi tidak masalah aku menyelesaikan pekerjaanku di rumah.
*
Malam harinya masih belum ada kabar lagi dari Raka. Aku mulai gelisah, selama beberapa minggu ini aku sudah terbiasa menghabiskan waktu bersama Raka. Namun hari ini, dia tidak datang juga belum memberiku kabar.
Dengan memberanikan diri aku mencoba menghubunginya duluan.
“Raka, bagaimana keadaan kakekmu? Apa sudah membaik?”
Sambil menunggu balasan pesan, kucoba membaca-baca pesan Raka sebelumnya. Dari sejak dia menemaniku di rumah sakit dan menengokku di rumah, Raka hampir setiap jam setiap harinya memberiku pesan singkat.
Namun kali ini, aku merasa Raka agak menjauh karena mungkin sibuk mengurus kakeknya yang sakit. Dipikir-pikir aku belum terlalu mengenal jauh tentang keluarga Raka. Yang kutahu hanya sebatas kalau dia yatim piatu dan kakeknya yang merawatnya. Kalau dari mobil yang sering dia bawa, sepertinya Raka berasal dari keluarga yang cukup berada. Tetapi Raka hampir tidak pernah menceritakan tentang keluarganya itu.
Mungkin aku terlalu terburu-buru menjalin hubungan ini dengan Raka. Karena sama sekali aku belum tahu siapa Raka sebenarnya. Aku hanya fokus pada kebaikan dan kehangatan Raka semata tanpa mengecek latar belakangnya seperti apa.
Apa benar dia yatim piatu? Apa benar mobil itu bukan miliknya, atau jangan-jangan Raka hanya sedang menipuku?
“Raka awas saja kalau kau berani menipuku, kau tidak akan hidup dengan tenang!” umpatku karena hasil pemikiran negatifku sendiri.
Aku bersiap untuk naik ke tempat tidur. Tapi HP-ku berdering. Aku langsung menggeser tombol jawab ketika melihat nama Raka di layar. Akhirnya dia meneleponku.
“Halo!” sapaku berusaha dengan nada tenang. Meskipun sebenarnya aku tidak sabar.
“Sayang udah tidur belum?” tanyanya riang.
“Belum, ini baru mau tidur. Kenapa?” tanyaku santai.
“Bisa ketemu sebentar nggak. Aku di depan rumah nih. Aku di dalam mobil!” ucapnya langsung membuatku langsung berdiri spontan.
“A-apa, depan rumah?” tanyaku panik.
“Ya,” balasnya lirih.
Aku melirik jam dinding menunjukkan pukul sembilan malam. Akhirnya kuputuskan untuk menemui Raka keluar. Aku meraih mantel untuk menutupi piyama tipis yang kupakai. Dengan langkah pelan tidak bersuara aku pun mengendap menuju depan rumah.
Sebuah mobil sedan putih terparkir. Namun kaca jendelanya gelap sehingga aku tidak bisa melihat ke dalam mobil.
“Kamu dimana?” tanyaku celingukan.
“Aku di mobil depan kamu, masuk sini!” perintahnya.
Aku mendekati mobil putih. Apa benar ini mobil Raka? Kenapa beda mobil dari yang sebelumnya.
Pintu mobil bagian penumpang sebelah sopir terbuka, aku melongok ke dalam sebelum aku pastikan Raka apa bukan. Rupanya memang Raka, dia tersenyum lebar saat aku menjulurkan kepala.
“Masuk sebentar sini!”
Tanpa ragu aku pun masuk ke dalam mobil. Aroma parfum milik Raka langsung menguar ke rongga hidungku. Baru saja aku duduk di sampingnya. Raka langsung memelukku.