“Sayang, maafkan aku hari ini aku!” Raka mengecup kedua pipiku dengan lembut. “Kenapa harus minta maaf. Kakekmu sakit, tentu saja kamu harus merawatnya,” balasku sambil berusaha untuk tetap tenang di hadapan pria yang lebih muda dariku ini. “Kamu pasti kecewa. Setelah kakek sehat dan kembali ke rumah, aku akan sering datang lagi dan mengantarmu check up,” tambahnya sambil mengelus punggung tanganku dengan lembut. “Hemm iya,” jawabku pendek. Bingung harus berkata apa lagi. Aku merasa tidak terlalu mengenal Raka saat ini. Mobilnya yang ganti-ganti. Membuatku berpikir tepatkah dia berpacaran dengan pemuda polos ini. “Aku kangen sama kamu,” ucapnya lalu bibirnya mendekati bibirku. Ciuman lembut dan singkat membuat desiran asing lagi di tubuhku. Selama menjadi istri Aksa, aku tidak pernah

