Setelah momen panas yang tertahan di atas pasir, kami kembali berjalan menyusuri bibir pantai. Angin laut mulai terasa lebih dingin, tapi tangannya yang menggenggam jemariku cukup untuk menghangatkan. Pasir yang menempel di betis dan ujung rokku masih terasa, menjadi pengingat nyata betapa barusan tubuh kami nyaris tidak mengenal jarak . “Ren,” panggilnya pelan, suaranya lebih berat dari biasanya. “Sebelum pulang, aku mau ajak kamu ke satu tempat. Boleh?” Mata coklatnya menatapku penuh harap. “Mau kemana, jauh nggak?” tanyaku, mencoba terdengar santai, padahal jantungku belum benar-benar tenang. “Nanti kamu bakal tahu sendiri,” jawabnya sambil tersenyum tipis. “ Kami naik mobil lagi, meninggalkan pantai dan lampu-lampu resto yang perlahan mengecil di kaca spion. Jalanan malam Jakarta t

