Anak SMA yang Tampan

1067 Kata
Aroma antiseptik khas rumah sakit menusuk hidungku. Kepalaku terasa berdenyut, kaki kiriku terasa berat karena perban tebal membalutnya. Cahaya neon di atas ranjang membuat mataku perih. Aku coba menggerakkan tangan, tapi ada genggaman hangat menghentikan pelan. Di sisi ranjang, duduk pria muda yang kulihat sekilas sebelum aku pingsan. Pria berseragam sekolah basah kuyup, dasi longgar, rambut hitam acak-acakan menempel di dahi. Usianya mungkin 18 tahun atau 19 tahun, wajahnya tampan, lembut tapi dewasa. Mata coklatnya menatapku dengan penuh kekhawatiran. “Syukurlah, Mbak sadar!” desahnya lega. Dia melepaskan tanganku tapi tetap dekat. Suaranya dalam, tenang seperti kakak yang protektif. Sikapnya sekilas sangat dewasa tidak terlihat anak SMA. “Dokter bilang cuma keserempet ringan, luka robek di betis, gegar otak minor, dan memar. Untung tidak terlalu parah.” “Kamu yang nabrak aku?” suaraku serak. Ada rasa marah karena dia ditabrak oleh anak sekolah yang seharusnya belum diizinkan mengendarai mobil. Dia mengangguk pelan, wajah tampannya merona malu tapi tak menghindar tatapanku. "Iya, Mbak. Namaku Raka Adipati. Umur 19. Maaf banget, tadi habis acara kelulusan bareng temen-temen di kota. Hujan deras bikin jalan licin, aku lihat Mbak sempoyongan di pinggir... langsung rem darurat. Untung cuma serempet, nggak parah." Aku mendengus pelan, campur kesal dan lega. "Anak SMA nyetir sendiri? Kamu belum punya SIM kan? Harusnya polisi yang urus, bukan kamu jagain aku di sini." Suaraku serak, tapi ada getar syukur yang tak kusembunyikan. Anak ini, yang nyaris bikin aku tambah celaka, malah duduk setia seperti penjaga pribadi. Raka tersenyum tipis, mata cokelatnya lembut tapi tegas—bukan anak SMA biasa. "Udah ada SIM sejak tahun lalu,. Aku bawa Mbak ke sini." Dia geser segelas air ke tanganku, gerakannya hati-hati. "Dokter bilang kamu shock berat, bukan karena cuma kecelakaan. Kalau mau cerita... aku dengerin. Nggak bakal bocor, janji." Aku pandang dia lama, d**a yang tadi remuk karena Aksa kini terasa aneh—hangat di tengah dinginnya pengkhianatan. Raka ini, lulusan SMA yang dewasa sebelum waktunya, seperti angin segar di badai hatiku. "Kenapa repot nungguin orang asing?" tanyaku pelan, air mata genang lagi. "Siapa bilang asing? Sekarang udah kenal kan," candanya ringan, tapi matanya serius. "Lagipula, tanggung jawabku. Istirahat dulu, Mbak. Oh ya, Mbak tidak bawa menghubungi keluarga? Soalnya pas bawa Mbak ke sini, aku tidak lihat handphone Mbak!” Aku pegang gelas dengan gemetar, minum perlahan sambil mencoba menyusun kata. “Handphoneku … entah di mana. Mungkin jatuh di trotoar pas keserempet … atau masih di troli supermarket tadi.” Suaraku pecah mengingat supermarket — Aksa, dan istri barunya. Air mataku menggenang lagi, tak tertahankan. Raka condong lebih dekat, ia mengambil tisu dari meja samping dan mengulurkannya pelan. “Tenang Mbak, besok aku cariin. Kasih tahu lokasi supermarketnya, aku akan ke sana duluan.” “Mbak Rena? Dari KTP di dompetnya namanya Renata Ayunda?” “Mbak hafal tidak nomor suami Mbak. Aku pinjamin handphoneku?” Aku tersentak mendengarnya. Raka pasti melihat KTP-ku dan statusku masih menikah. Tentu saja aku belum sempat mengubah status pernikahanku di KTP. “Suami?” ulangku pelan, suaraku serak getir. Raka mengangguk sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Aku tidak punya suami. Baru cerai. KTP-ku belum diganti status.” Aku memandang ke arah lain, menghindari tatapan mata Raka. Aku tidak mau dia tahu lebih banyak dari itu. Raka mengangguk cepat. Dia segera paham situasi. “Oh maaf Mbak Rena. Aku cuma mau bantu Mbak menghubungi keluarga. Nomor Ibumu sudah aku telepon. Tadi maaf aku lancang membuka dompet Mbak. Cari nomor yang bisa dihubungi.” Aku menggeleng tegas, tisu di tangan ku sobek pelan. “Tidak ada yang perlu dihubungi lagi. Cukup Ibuku saja.” Raka tersenyum tipis hormat.”Oke Mbak, Istirahat dulu. Besok pagi aku cariin HP-mu di supermarket mana pun. Kasih tahu saja lokasinya!” Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Ibuku berlari masuk dengan wajah pucat. “Rena!” Aku memeluk ibuku sambil menangis seperti anak kecil. Aku memang sudah dewasa, usia 24 tahun. Tetapi aku tetap merasa seperti anak kecil di depan Ibuku. Ibu usap punggungku dengan lembut, tetapi matanya langsung tajam ke Raka yang berdiri sopan di sisi ranjang. “Kamu siapa, Nak?” Yang bikin Rena begini?” tanya Ibu dengan nada curiga. Raka membungkuk hormat, seragam basahnya masih menempel, tetapi sikapnya tenang dan dewasa. “Raka Adipati, Tante. Maaf saya yang sudah menyerempet Mbak Rena tadi. Soalnya jalanan licin dan saya tidak lihat kalau ada yang jatuh di jalan.” Ibuku terlihat menyimak dengan serius. Dia seolah heran dengan sikap Raka yang tidak biasa. Kalau anak SMA umumnya mungkin sudah beda. “Kamu masih SMA kok bicaranya begitu dewasa dan gentle. Kamu yang jagain Rena dari tadi ya? Makasih banyak, Mama kira orangnya bandel, eh ternyata sholeh gini,” senyum ibu melebar, mata berbinar seperti melihat menantu idaman. Raka menggaruk kepala karena malu, tapi berusaha untuk tetap sopan. “Iya Ma, eh Tante. Saya harus tanggung jawab karena tidak sengaja menyerempet Mbak Rena.” Ibu menggeser kursinya agar lebih dekat dengan Raka lalu meraih tangannya seperti anak sendiri. “Kamu pasti cape, Mama pesankan kopi sama roti ya?” Aku menghela napas panjang, sudah hafal pola ibuku ini. Sekali ketemu dengan cowok sopan, langsung mode “ibu mertua” nyala total. Dulu sama Aksa juga begini, masak opor, buatin kopi, ngajak makan malam di rumah, sampai bilang “cocok nih anak Mama.” Endingnya? Pahit seperti obat. Ibu mengambil HP nya. Mulai memesan kopi dan roti via aplikasi hijau sambil mata tidak lepas dari Raka. “Kamu tinggal di mana?” “Aku tinggal di Kemang Ma, eh Tante,” jawabnya kikuk. Antara memanggil Ibuku Mama atau Tante. Salah Ibuku sendiri juga. “Oh di Kemang. Kamu jangan canggung gitu panggil Mama nya. Mama memang dari dulu kepengen banget punya anak bujang.” Aku mengerucutkan bibirku karena hafal sekali dengan karakter ibuku. Kulirik Raka semringah ketika mendengar ucapan konyol ibuku. “Jadi boleh panggil Mama?” tanyanya dengan sorot mata bahagia. “Ya tentu saja.” “Mama! Aku juga udah lama banget pengen punya Mama.” Raka spontan memeluk Ibuku tanpa ragu. Aku hanya melongo heran. Tidak mengira kalau Raka ternyata sudah tidak punya seorang ibu. Ibuku membalas pelukan dengan mata berkaca-kaca. dia mengusap punggungnya lembut seperti peluk anak kandung. “Ma, terima kasih!” Raka melepaskan pelukannya dengan mata yang terharu. “Ngomong-ngomong kok bisa kamu ketabrak Ren. Memangnya gimana kejadiannya?” tanya Ibuku setelah sekian lama tiba, baru bertanya kronologi kejadian. Saking terpesonanya dengan Raka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN