10

3131 Kata
Gandhi tentu tidak menganggap bahwa peringatan dari ibu mertuanya hanya sebagai ucapan yang tidak akan menjadi kenyataan. Ia sangat tahu jika tipikal ibu kandung sang istri akan serius memberikan akibat fatal dan setimpal, seperti dikatakan. Tak butuh waktu yang lama bagi Gandhi, pagi ini dirinya telah dihadapkan oleh orang kepercayaan sang ibu mertua. Ya, pria itu tidak asing untuknya lagi. Kala, Deno datang ke bar guna temui manajer utama baginya biasa saja. Ia sangat tahu bahwa hasil yang nanti disepakati akan kurang baik, bahkan buruk. "Apa urusan Anda dengan Bos sudah selesai?" Gandhi tak bisa mencegah kalimat tanyanya dengan nada sinis, tepat setelah Deno berdiri di depannya, saling berhadap-hadapan. "Sudah. Kami bisa capai kesepakatan secara cepat." Gandhi hanya keluarkan decakan sinis sebagai balasan dan melempar tatapan tajam, tak suka dengan seringaian licik di wajah Deno yang sedang dipertontonkan kepadanya. Sejak dulu belum berubah. Padahal, telah hampir empat tahun berlalu. Gandhi memutuskan untuk tidak lebih lama habiskan waktu berhadapan dengan Deno. Daripada halus menciptakan api amarah dalam dirinya yang sudah pasti tak akan bisa mudah dipadamkan. Terlebih, riwayat hubungannya dengan Deno tak bagus sejak dulu. Tepatnya, saat tahu jika pria itu suka Wina. "Kenapa suka cari masalah terus, Bro? Bisa damai?" Gandhi yang baru beberapa langkah berjalan menjauh pun, seketika membalikkan badannya. "Apa maksudmu?" "Nggak usah pura-pura bodoh, Bro. Tanpa dijabarkan apa kesalahanmu. Saya yakin kamu sudah menyadari sendiri." Gandhi semakin geram. "Tolong jangan bertele-tele, ya. Saya juga tidak punya banyak waktu meladeni Anda di sini, Pak Pengacara. Saya mempunyai pekerjaan lain harus dikerjakan." "Santai, Bro. Buat apakah kamu kerja yang bagus dan mempertahankan kesan pegawai baik? Semua nggak akan ada gunanya. Sebentar lagi, kamu akan dipecat. Berhenti menjadi bartender di sini. Ah, beberapa bar juga akan menolakmu, Bro." Kedua tangan Gandhi terkepal kian kuat, setelah Deno membisikkan kalimat-kalimat yang begitu jelas meremehkan. Ia sudah menduga hal seperti ini akan terjadi. Walau, coba untuk menghadapi gunakan kepala dingin. Nyatanya, ia terpancing. "Apa mertua saya yang melakukan semua ini? Apakah tidak ada campur tangan kamu menghasut Ibu Greta? Dari dulu kamu sudah pakai banyak cara menjatuhkan saya, tapi kurang ada yang berhasil bukan? Sampai kapanpun tidak akan bisa!" "Tuhan masih berpihak pada saya. Beliau tahu manakah orang yang baik dan mempunyai hati busuk seperti Anda. Saya rasa Anda hanya tinggal menunggu karma balasan saja nanti," lanjut Gandhi dengan lebih sarkasme keluarkan kata-kata pedasnya. "Ucapan kamu tidak akan bisa memengaruhiku, Bro. Aku tidak akan ambil pusing tentang karma. Yang terpenting apa aku ingin bisa tercapai. Termasuk memiliki Wina kembali, hanya untuk diriku seorang. Kamulah yang akan menjadi pihak terkalah." Tangan Gandhi semakin terkepal, menandakan bahwa emosi dan amarahnya meningkat. Tak akan sungkan dilayangkannya tatapan yang tambah menajam ke arah Deno. Gandhi pun tidak akan takut dengan ucapan pria itu. Malu jika harus mengalah. "Wina menjadi milik Anda? Apakah saya tidak salah dengar, ya? Dari dulu bukankah Wina tidak pernah menaruh minat apa-apa pada Anda? Dia lebih memilih saya dibandingkan Anda." Gandhi menarik salah satu sudut bibir, yakni bagian kanan. Ia bisa melihat perubahan ekspresi pada wajah Deno, senyuman sinis sarat permusuhan. Mereka memang tidak akan bisa jadi teman. Selalu ada persaingan di setiap waktunya, tentu saja. "Siapa bilang, Bro? Aku masih punya kesempatan untuk miliki Wina, apalagi setelah kalian berdua resmi bercerai. Aku yang pastinya akan memproses segera agar di pengadilan lancar." Deno berjalan ke depan, mengikis jarak. Mempunyai maksud ingin berbisik juga di telinga Gandhi, yang bagian kanan. "Lo harus menerima perpisahan lo dengan Wina, Bro. Kalian hanya ditakdirkan bersatu sebentar. Dia akan menjadi milik gue." "Dan, gue akan lakukan apa saja buat memisahkan kalian. Gue yang lebih berhak miliki Wina. Gue dan dia sama-sama kaya."  Gandhi menambah kuat mengepalkan dua tangan. Begitu pula akan rahang wajahnya yang semakin mengeras. Harus ia akui jika emosinya sangat berhasil dipancing lebih hanya dengan ucapan bernada sinis belaka. Dan, hal terpenting yang disadarinya sendiri adalah ketidakrelaan belum mampu untuk diberlakukan. Melepaskan Wina bagi pria itu tak akan dapat diperbuat. Bahkan, saat membayangkan saja sudah sukses membuat Gandhi dikuasai amarah dan kecemburuan. "Anda dan istri saya memang berasal dari keluarga kaya. Kalian sepadan. Tapi, saya masih sah menjadi suaminya Wina. Kami belum berpisah. Dan, saya rasa tidak akan pernah bercerai." Gandhi berujar tegas. "Kami juga masih saling mencintai. Kami akan mempertahankan rumah tangga kami dengan putri kami. Saya tidak akan pernah menyerahkan Wina kepada Anda. Saya pun tidak akan berhenti memperjuangkan dia karena dia hanya untuk saya," lanjutnya. "Kita lihat saja nanti siapa yang akan bisa mendapatkan Wina, Bro. Gue atau lo. Kita harus bertarung dengan adil. Gue akan siap berjuang juga sampai akhir demi Wina." ………………………………………………………………..   Gandhi memutuskan untuk berhenti bekerja karena ia dihadapkan pada pilihan-pilihan yang tak menguntungkan. Hati dan logika sudah sejalan, menginginkan dirinya tidak bertahan lebih lama di bar yang telah terkena pengaruh ibu mertuanya. Dampak buruk lain, tentu siap menanti. Harapan dapat memperoleh pekerjaan di tempat baru semakin mustahil. Tidak terlepas dari koneksi kuat yang dimiliki ibu kandung sang istri. Ia ingin dihancurkan secara perlahan, skenario mudah ditebak. "Kenapa sudah pulang jam segini, Nak?" Gandhi hanya perlihatkan senyuman tipis, kala sampai di halaman depan disambut pertanyaan ingin tahu dari sang ibu. Ia terus langkahkan kaki mendekati ibunya. "Om Swastyastu," ujar Gandhi sopan sembari menyalim tangan kanan sang ibu. "Om Swastyastu, Nak. Kenapa jam segini kamu sudah sampai di rumah? Biasanya sore baru datang dari bekerja." "Aku memutuskan berhenti bekerja, Bu. Mulai hari ini resmi." Gandhi menjawab dengan suaranya yang mantap dan memamerkan senyum lebih lebar. "Besok aku pengangguran." "Berhenti bekerja? Atau kamu dipecat, Nak?" Gandhi lakukan gelengan kepala lemahnya. "Aku diberi pilihan-pilihan yang sulit, Bu. Secara tidak langsung memintaku untuk berhenti bekerja. Aku sudah putuskan keluar dari bar." "Jika aku terus berupaya mempertahan diri di sana, aku juga tidak bisa menjamin kalau posisiku akan selalu aman," ujar Gandhi menerangkan lebih lanjut dan jelas agar ibunya paham. "Maka dari itu aku berhenti bekerja, Bu. Setelah ini, aku tidak akan mudah mendapat pekerjaan baru, selama ibu Greta dan orang-orang kepercayaan mertuaku masih terus berulah." "Aku mungkin akan cukup lama jadi pengangguran. Tapi, aku ada sedikit punya tabungan. Semoga bisa digunakan beberapa bulan ke depan untuk beli kebutuhan rumah dan juga Ghesa." Gandhi coba yakinkan diri bahwa ia baik-baik saja. Masalah finansial sudah pasti akan datang segera, kala tidak memiliki pekerjaan. Ia berusaha untuk tetap berpikir jernih dan enggan memusingkan terlalu lama. Gandhi pun yakin jika Tuhan akan selalu sertai setiap jalannya, akan ada bantuan. "Iya, Nak. Kamu harus tetap semangat. Tapi, Ibu pikir Ibu Greta sudah bersikap semakin keterlaluan. Dia dulu adalah sahabat baik Ibu, tapi begitu tega menyakiti kamu sekarang. Dia juga tidak berperasaan pada putrinya sendiri, menantu Ibu." Ibu Yulia rasakan sesak di d**a. Sakit akan apa yang menimpa keluarga beliau. "Boleh Ibu meminta suatu hal pada kamu, Nak? Ibu harap kamu akan dengarkan dan mau terima. Ibu Yulia berikan usapan-usapan halus pada punggung putra sulung beliau. "Perjuangkan Wina, Nak. Jangan menyerah dan menceraikan dia. Kamu harus tetap bersama Wina hingga tua." "Ibu tidak mau kalian berpisah. Kalian punya alasan kuat untuk tetap bersatu, yakni ada Ghesa. Cucu Ibu butuh kalian berdua." Gandhi lekas menganggukkan kepala dalam gerakan yang tidak cukup yakin, menunjukkan juga ketidakpercayaan dirinya. Jelas saja, Gandhi kurang bisa memantapkan hati dan juga pikiran. Keputusan yang memang terasa cukup sulit untuk dilakukan. "Apa kami bisa bersatu lagi, Bu? Kayaknya keadaan nggak bisa mendukung kami. Proses cerai akan segera dilakukan Mama Greta. Kalau sampai nggak terjadi, aku takut Wina akan kena masalah. Aku nggak mau lihat Wina harus menderita lagi." "Iya, Nak. Ibu paham. Tapi, apakah kamu tidak masih cinta dan sayang dengan menantu Ibu? Jika iya, maka cara membuktikan dengan mempertahankan terus pernikahan kalian berdua." Gandhi cepat anggukan kepala. "Ya, Bu. Aku sangat mencintai Wina. Perasaanku belum berubah sama sekali. Tapi, aku m—" Gandhi tak meneruskan kata yang ingin diucapkan, selepas ia dilanda keterkejutan menerima pelukan dari belakang. Gandhi pun tak butuh waktu lama untuk mengenali orang yang tengah mendekap tubuhnya dengan erat. Benar, sang istri melakukan. "Wina....," Gandhi memanggil lembut seraya meletakkan tangan di atas jemari-jemari wanita itu yang sedang saling tertaut. "Jangan melepaskanku tolong, Gan. Aku nggak mau kita pisah. Aku masih mau sama kamu dan Ghesa. Aku nggak mau cerai." "Aku nggak mau pisah sama kamu, Gan," imbuhnya kian lirih.  Wina pun lalu berjalan cepat menghampiri Gandhi. Atensi memang terpusat pada sosok pria itu, walau pandangan mulai mengabur akibat pelupuk mata yang semakin banyak digenangi cairan bening. Dan, tak sampai satu menit, sudah berhasil berdiri di depan sang suami. Lantas, diambil posisi berlutut. "Aku mohon Gan. Aku mohon kamu jangan mau bercerai denganku," pinta Wina kian serius sembari katupkan kedua tangannya. "Kita berdua jangan berpisah. Aku nggak pernah mau. Kalau kita berdua menyudahi pernikahan ini. Aku akan tambah menjadi menderita, Gan." Wina memberi penjelasan yang sekiranya dapat diterima sang suami. Wanita itu merasa sudah melakukan usaha semaksimal dalam meminta. Hanya tinggal menunggu reaksi dari Gandhi. Tidak henti ditatap pria itu. Menanti respons positif dari sang suami agar sesuai dengan ekspektasi. Ia akan benar-benar kecewa jika tak terjadi. Kemudian, Wina dilanda kekagetan karena kedua bahu diraih sehingga menyebabkan dirinya terbangun dan berdiri. Ya, saling berhadapan-hadapan dengan sang suami. "Iya, Na. Aku akan mempertahankan kamu dan pernikahan kita. Jangan cemas."   ………………………………………………………………………..   Wina langsung turun dari motor yang dikendarai oleh sang suami, ketika baru saja sampai di depan gerbang rumah ibunya. Ia segera pusatkan pandangan ke sosok pria itu. Rasa cemas terus melingkupinya. Bayangan kejadian buruk nantinya akan terjadi pun tidak bisa dihilangkan. Masih menghantui. "Terima kasih sudah mengantarku pulang, Gan." Wina berucap dengan bahasa yang formal. Sedikit kaku, diakibatkan oleh ketegangan dirasakannya. "Lebih baik kamu kembali." "Cepatlah kembali ke rumah, jangan pergi ke mana dulu sampai besok." Wina berpesan dengan mimik semakin serius. "Tidak sampai besok. Harus kamu perpanjang. Mama masih selalu melakukan pengawasan padamu, Gan." Wina pilih berbisik, kali ini. Karena, sadari keberadaan salah satu ajudan di areal dekat pintu gerbang. Sudah pasti tengah mengawasi. "Kamu tidak perlu cemas yang berlebihan padaku, Na. Aku seorang pria. Aku bisa menjaga diriku sebagaimana yang semestinya. Kamu khawatirkan keadaanmu sendiri harusnya." Wina cepat mengangguk. "Iya, Gan. Aku pasti bisa jaga diriku sendiri. Aku sudah berjanji akan tangguh demi anak kita, Ghesa. Aku tidak akan terpuruk lagi. Aku pasti akan bisa ha—" BUGHH! BUGHH! Kekagetan yang besar dirasakan oleh Wina, tepatnya setelah melihat sang suami mendapatkan dua hantam keras di bagian pipi kanan bertubi dari salah satu ajudan yang tadi masih berada di dalam, dekat gerbang rumah. Seketika, Wina merasa geram. Ia pun melayangkan tamparan ke pipi ajudan ibunya. "Berani sekali kamu kasar dengan suami saya? Kamu kira kamu akan saya biarkan? Tunggulah pembalasan dari saya dan hukuman yang pantas untuk kamu!" Wina berujar marah. "Cepat minta maaf pada suami saya!" "Maaf, Nona. Nyonya tidak mengizinkan saya meminta maaf. Nyonya Besar yang menyuruh. Saya hanya menjalankan perintah sesuai diminta oleh ibu Anda kepada saya, Nona." Kedua bola mata Wina semakin membulat, jelas tidak suka dengan jawaban ajudan kurang ajar itu. "Apa jawabanmu? Lancang sekali kamu berbicara begitu pada saya. Kamu ha—" "Sudah, Na. Sudah. Kendalikan emosimu. Dia benar. Kamu tidak bisa menyalahkan dia. Jika perintah Mamamu tidak dilakukan, maka dia yang akan kena marah." Gandhi berusaha meredam amarah sang istri dengan kalimat yang masuk akal. "Ba... baiklah, Gan." Wina memilih menurut saja. "Kenapa kamu tidak membawanya ke dalam? Segera bawa dia menemui saya. Seret juga putri pembangkang saya. Cepatlah. Saya ingin memberikan pelajaran pada mereka." Mendengar suara sang ibu, maka Wina segera mengalihkan atensi dari sang suami. Kemudian, diarahkannya ke depan. Tak sampai lima detik, sosok ibunya telah dilihat. Sedang berdiri di ambang pintu utama rumah dengan ekspresi marah kentara. Emosi Wina jelas semakin meningkat. Sungguh tak suka terima perlakuan buruk dari sang ibu. Lalu, ditarik tangan sang suami agar pria itu mengikutinya. Wina sudah menyiapkan kata-kata balasan yang paling menusuk untuk dilontarkan pada ibunya. "Mamaaa!" Wina berseru dengan volume cukup lantang, tepat setelah dapat berada di hadapan sang ibu. Mereka pun saling memandang dalam sorot mata masing-masing sarat amarah. "Mama kenapa bertindak k**i kayak gini? Mama kenapa nggak bisa punya sedikit saja hati nurani? Kenapa Mama harus jadi orang yang jahat. Aku semakin benci sama sikap Mama ini." Wina menajamkan tatapannya pada sang ibu yang mengangkat tangan kanan, sudah pasti akan menampar. Namun, sesegera mungkin Wina menepis dan hempaskan tangan ibunya. Tidak dapat membiarkan sang ibu bersikap kasar menerus padanya. "Cukup, Mamaa! Cukup aku bilang! Mama nggak akan pernah aku izinkan begini sama aku kembali. Berani sekal lagi, Mama berbuat hal memalukan kayak gini. Aku akan pakai jalur hukum untuk kasih Mama peringatan. Aku nggak akan main-main." "Kurang ajar sekali kamu, Nak! Berani mengancam Mamamu? Apa kamu tidak takut akan durhaka dan kena karma nanti?" Wina lekas menggelengkan kepala. "Aku nggak akan takut, Ma. Selagi aku merasa kalau aku di jalan yang benar selama ini." "Mama apa tidak merasa bersalah sedikit pun sama aku? Apa Mama masih nggak mau memedulikan gimana hatiku sakit?"  Air mata Wina langsung tumpah deras. Rasa sesak di d**a menguat. Napas masih terus menderu akibat emosi yang semakin tinggi. Tatapan tajam pun dipersembahkan untuk sang ibu guna menunjukkan amarahnya. Wina yang tak berniat menunggu jawaban apa-apa, segera meraih tangan Gandhi. Ia genggam dengan erat. Kemudian, kembali dipandang ibunya. Masih dipertahankan pula sorot mata penuh kemarahan. Tak akan segan memerlihatkan perlawanan dan juga pemberontakan. Enggan menerus menjadi bahan jajahan sang ibu yang membuatnya harus menderita dan menghadapi masalah. "Aku dan Gandhi nggak akan pernah pisah, Ma. Bagaimana pun cara Mama nanti, kami nggak pernah mau bercerai. Tolong, Mama berhenti berusaha memisahkan kami." Gandhi benci air mata kesedihan Wina. Ia merasakan luka dan perih di hati. Tak akan dibiarkan wanita itu menanggung semuanya seorang diri. Sesuai janji diucapkan, maka ia harus menepati. Berjuang sampai akhir. "Benar kata Wina, Nyonya. Saya dan anak Nyonya ingin terus mempertahankan apa yang memang harus kami jaga. Ya, janji suci dalam pernikahan di antara kami berdua." Gandhi memandangi Ibu Greta dalam sorot mata penuh ketegasan dan lekat. "Saya tidak akan membiarkan Wina pergi lagi dari saya. Sebagai suami, saya berhak melindungi dan menjaga dia. Termasuk saat Nyonya ingin bersikap kasar pada Wina," ujarnya mantap. "Saya tidak akan membiarkan Nyonya terus menyakiti Wina," pertegas Gandhi kembali. …………………………………………………..   Sudah dua minggu lamanya Gandhi tak bertemu Wina, sejak kejadian di rumah sang ibu mertua. Gandhi selalu tahan keinginan mengetahui kabar wanita itu, menghubungi. Meski, ia telah memiliki nomor telepon Wina. Enggan timbulkan masalah baru yang mungkin akan memberikan dampak kurang baik. Selama hampir 14 hari juga, Gandhi hanya lebih sering habiskan waktu di rumah. Belum mendapatkan pekerjaan baru. Ia tentu merasa kurang nyaman, bahkan khawatir. Sebab, tidak mempunyai pemasukan. Sedangkan, ia membutuhkan lumayan banyak uang guna memenuhi keperluan dari putri kecilnya. "Aemm... aemmm." Celotehan sang buah hati, seketika berhasil hapuskan lamunan Gandhi. Ia menyendok bubur di dalam mangkuk yang masih tersisa setengah saja. Lalu, disuapkan pada Ghesa. Bayi perempuan itu pun telah membuka dengan lebar mulutnya. "Mantap, Sayang? Ghesa maem bubur lahap sekali, ya. Kalau sudah habis. Mau tambah lagi tidak, Ghesa? Papa lihat di panci masih tersisa bubur yang dibuat sama Nini. Bagaimana kalau dihabiskan semua, Nak? Siap? Akan bisa habiskan?" Reaksi ditunjukkan oleh Ghesa hanya senyumam lucu semakin lebar atas kalimat-kalimat diucap sang ayah yang tidak bisa diartikannya dengan baik. Bayi perempuan manis itu lantas lakukam tepuk tangan dengan riuh sembari membuka mulutnya yang sudah kosong, semua bubur dikunyah sudah ditelan. "Siap meluncur lagi bubur ke dalam. Dududu." Gandhi loloskan ucapan bernadakan canda kental seraya menyuapkan sendok telah berisi bubur. "Ayo, siap-siap, Nak. Buka-buka." "Mantap, ya Sayang?" tanya Gandhi dalam suara yang dibuat kian riang, setelah selesai suapkan sendok berisi bubur. "Bli Bagus...," Dengar sang adik memanggil, pria itu lantas tolehkan kepala ke belakang agar bisa melihat sosok Prema. "Kenapa? Ajaib jam segini kamu sudah di rumah, Prem. Biasanya sehabis kerja kamu nongkrong bareng sama teman-temanmu di kafe." "Kangen kakak iparku, makanya aku cepat baliklah ke rumah. Hahah." Prema dengan santai melontarkan jawabannya, sengaja guna menggoda sang kakak. "Kangen juga nggak, Bli?" "Kangen sama wanita yang tidak ada di sini? Mustahil, Prem. Kamu jangan menghayal." Gandhi menyahut serius. "Kenapa mustahil, Bli? Bisalah ajak kakak iparku balik ke sini lagi. Bli sama Kak Wina juga masih saling cinta. Lawan aja Nenek Sihir itu, eh maksudku Ibu Greta. Kita akan singkirkan bersama. Aku pastinya paling depan siap membantu, Bli." "Ah, bodyguard yang sudah hajar Bli juga akan sangat siap aku lawan. Mereka harus mendapatkan balasan sama." "Satu pukulan dariku akan bisa membuat mereka terkapar, Bli." Gandhi tak kuasa menahan tawa keluar kali ini, meski tak cukup keras. Sang adik sukses menghibur. Tak mengherankan sebab Prema memang mempunyai sisi humoris dalam dirinya. Tidak akan sulit menciptakan candaan yang mendatangkan tawa. "Boleh juga, Dik. Nanti kita lawan bersama dan ajak Wina ke sini. Kita culik Wina supaya bisa tinggal bareng kita lagi." Gandhi tak sekadar berguyon, namun begitulah niatan seriusnya. "Okelah, Bli. Aku siap membantu. Kapan pun Bli mau, aku akan meluangkan waktu. Tapi, kita harus secepatnya culik Kak Wina supaya keponakanku ini nggak tambah kangen sama Mama." Gandhi melebarkan senyum, ketika saksikan bagaimana sang putri menunjukkan ekspresi semakin ceria, selepas dicubit di bagian pipi kanan oleh sang adik. Ya, Ghesa tak akan keluarkan rengekan karena Prema memang mencubit tak terlalu keras. "Mamamahh... mamahhmahh... mamahhh." Mendengar celotehan sang buah hati yang lucu. Maka, Gandhi segera menggerakkan tangan menuju ke areal rambut Ghesa. Lalu, dilakukan usapan-usapan lembut di sana sembari terus pandangi sang putri yang juga tengah menatap polos padanya. "Ghesa kangen nggak sama Mama? Pasti sudah kangen, ya? Baiklah, akan Papa usahakan ajak Mama kembali ke sini." Gandhi menambah sunggingan senyum. "Papa akan janji ajak Mama ke sini untuk tinggal bareng lagi sama Ghesa. Oke?" "Hahaha. Bukan cuma Ghesa yang butuh Kak Wina, Bli. Tapi, ya Bli juga, 'kan? Nggak usah bohong denganku, Bli. Walaupun, Bli nggak bilang blak-blakan. Aku sudah tahu, Bli. Mudah."  Alis kanan Gandhi pun seketika terangkat karena tak bisa memahami apa yang sang adik tengah katakan. Memang, sudah dicoba memahami. Namun, belum bisa dimengerti juga. Gandhi jelas akan menanyakan ulang agar semua pasti dan tak salah mengira. "Blak-blakan bagaimana, Dik? Bli nggak bisa paham. Katakan saja yang terus terang," ujar Gandhi dengan ekspresi datar khasnya. "Blak-blakan kalau Bli rindu sama Kak Wina. Benar bukan dugaanku? Bli hampir setiap hari kelihatan nggak semangat. Pasti karena kangen sama Kak Wina. Ngaku aja, Bli." Gandhi merespons cepat. Kepalanya juga dianggukkan. Pelan. "Iya, Dik. Bli memang kangen dengan Wina. Tapi, Bli ragu telepon dia," jawabnya jujur. Mengakui apa adanya. "Bli akan menemui dia," putus Gandhi lalu.    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN