11

3238 Kata
Keberangkatan sang putri dalam rangkaian perjalanan bisnis ke benua Amerika akan dilakukan dua minggu lagi, tidak terbilang lama lagi memang. Namun, tetap saja beliau merasa belum tenang. Masih mengantisipasi perlawanan yang mungkin bisa dilakukan oleh Wina. Pengawasan pun semakin diperketat. Ibu Greta memperkerjakan lebih banyak ajudan untuk menjaga putri tunggal beliau, sebab tak ingin sampai bertemuan Wina dengan mantan menantunya kembali terjadi. Bahkan, Ibu Greta memutuskan menyambangi kediaman dari Gandhi. Tentu tidak diketahui sang putri. Wina pasti akan melarang keras. Ibu Greta sampai di kediaman menantu beliau, sekitar pukul sepuluh sepi. Suasana sepi menyambut, ketika Ibu Greta baru memasuki areal halaman utama, setelah melewati gapura. Beliau lalu mengedarkan pandangan hampir ke segala sudut. "Papahpahpah... Papahpapahpah...," Ketegangan seketika melingkupi diri Ibu Greta, selepas mendengarkan celotehan lucu dan sosok kecil bayi perempuan yang sedang berada di baby walker. Kekakuan pada tubuh serta kaki pun dirasakan oleh Ibu Greta, tatkala dipandangi dengan sorot yang begitu polos. Beliau langsung dibuat terhipnotis. "Wina?" Ibu Greta menggumamkan pelan nama sang putri secars refleks. "Tidak mungkin Wina. Tapi, kenapa begitu mirip dengan Wina waktu masih bayi? Siapa sebenarnya? Apa cucuku? Bayi berjenis kelamin yang sudah dilahirkan Wina?" "Benar, Ta. Apakah kamu tidak mengenali cucu kamu sendiri? Benar juga, kamu tidak pernah melihat Ghesa. Mana mungkin kamu bisa mengenali cucumu sendiri dengan jelas." Ibu Greta tentu tak asing lagi akan suara mantan teman akrab beliau yang baru saja selesai lontarkan untaian-untaian kalimat terdiri dari kata-kata sindiran bernadakan pedas sangat jelas terdengar. Ibu Greta pun langsung pamerkan senyuman sinis beliau, tatkala sudah bisa menangkap sosok Ibu Yulia. "Siapa nama cucu saya ini?" Ibu Greta putuskan untuk balas dengan balik pertanyaan, pusat pandangan belum teralih dari sang cucu yang masih berada di baby walker, sejak tadi. "Ckck. Nama cucumu saja kamu tidak tahu, Ta. Apakah kamu pantas menjadi neneknya? Aku yang lebih layak darimu." Ibu Greta seketika menjadi memanas karena dengar kalimat sindiran lanjutan mantan teman akrab beliau. "Kenapa kamu banyak bicara, Yul? Kamu begitu berisik. Apa sulit bagimu untuk menjawab saja pertanyaanku? Kamu ingin cari masalah?" "Harusnya aku yang bertanya, kenapa kamu datang ke sini? Mau menciptakan masalah baru untuk putraku terus?" Ibu Yulia bukanlah tipe yang suka bersikap kasar pada orang lain, pengecualian untuk mantan sahabat beliau. Ibu Yulia tak akan mampu menunjukkan kesopanan atau keramahan, walau mereka pernah menjalin pertemanan yang sangat akrab dulu. Rasanya akan sulit dilakukan, setelah masalah besar terjadi. "Aku datang kemari mempunyai tujuan baik. Apa kamu tidak bisa sebentar saja menyambutku dengan positif? Kamu jangan kasar, Yul. Aku tahu kamu bisa menghargaiku sebagai teman." Ibu Yulia jelas langsung mengeluarkan decakan. Semakin kuat rasa geram di dalam diri beliau mendengar perkataaan sang mantan sahabat. Jelas, Ibu Yulia tidak akan mampu bersikap manis. Sudah pasti juga menanggapi secara negatif kehadiran mantan sahabat beliau di rumah. Sama sekali tak diharapkan. "Untuk apa aku menyambutmu layaknya teman? Sejak, anakku dan putrimu menikah. Kamu yang memusuhiku, Ta. Kamu itu semakin angkuh. Bahkan, bersikap jahat pada anakku. Kamu tidak ingat dengan tingkah burukmu?" Ibu Yulia sindir pedas. "Berhentilah banyak omong, Yul. Aku ke sini bukan tujuannya untuk berdebat denganmu. Jadi, janganlah banyak bicara." Ibu Yulia sungguh semakin tak dapat menahan kesabaran dan ingin melontarkan kalimat balasan yang lebih keras. Namun, lantas diurungkan karena mengingat ada sosok kecil sang cucu. Ibu Yulia merasa wajib menjaga suasana tetap damai. "Apa tujuanmu datang kemari? Apa ingin mengganggu putraku lagi? Kamu tidak pernah kapok mencari masalah, Ta." Ibu Yulia menyindir kembali, penekanan di setiap kata pun diberikan. "Jangan menuduhku sembarangan! Jika pun aku ingin. Tidak akan aku lakukan di sini. Bertemu dengan putramu saja, tidak pernah aku inginkan. Suruh dia tidak menemui anakku lagi."  Ibu Yulia menunjukkan respons negatifnya dengan cepat. Dikeluarkan decakan sinis dan tatapan yang dingin pada sosok mantan sahabat beliau atas ucapan baru didengar. Ibu Yulia jelas muak akan sikap Ibu Greta. "Kamu tidak punya hak melarang putraku bertemu dengan menantuku. Mereka masih jadi suami dan istri. Masih terikat dalam pernikahan. Kamu jangan pernah seenak diri bertindak. Aku juga bisa perlihatka--" "Ninihh... Ninihhh." Ibu Yulia harus putuskan kata yang ingin beliau ucapkan akibat racauan Ghesa. Sang cucu berada dalam baby walker pun tidak dapat diam. Bergerak-gerak dan mulai juga menunjukkan rengekan. Guna mencegah Ghesa nanti menangis kencang. Maka, Ibu Yulia segera menghampiri sang cucu. Tak sampai lima langkah berjalan, beliau pun mendadak berhenti. Mematung berdiri dengan tatapan tidak percaya akan apa yang tengah terjadi di hadapan beliau sekarang. Ya, sosok Ibu Greta yang tengah mengambil sang cucu dari baby walker dengan lembut sangat sukses menyita perhatian Ibu Yulia. Beberapa kali bahkan mata dikerjapkan, tak memercayai apa yang beliau lihat sendiri. …………………………………………..   Gandhi langsung pulang ke rumah, ketika sang ibu beri tahu bahwa mertuanya datang berkunjung. Perasaan tidak enak yang besar mendadak menguasai diri Gandhi. Ia sudah pasti kalut. Pikiran buruk pun selalu mendominasi kepalanya. Gandhi bahkan sangat mustahil merasa dapat berlakukan ketenangan. "Om Swastyastu, Bu." Diucapkan salam dalam intonasi tidak terlalu besar. Bahkan, raut wajah Gandhi tampak serius. "Om Swastyastu, Nak," balas Ibu Yulia dengan lembut seraya usap kepala putra beliau yang tengah salim tangan. "Di mana ibu mertuaku, Bu?" Pertanyaan diluncurkan secara refleks olehnya, tatkala dapati sang ibu berdiri di depan gapura. Tentunya sedang menunggu ia kembali ke rumah. "Di bale bengong, Nak. Bersama dengan Ghesa." Kedua bola mata Gandhi menjadi membulat sempurna, bentuk dari keterkejutannya akan ucapan sang ibu. Jelas, tidak bisa memercayai. Terlebih, hal tersebut dihindarinya. "Apa, Bu? Ghesa bersama dengan ibu mertuaku? Kenapa Ibu biarkan?" "Bagaimana kalau Ghesa dicelakai oleh ibu mertuaku? Ibu tahu jelas jika Ibu Greta sangat benci diriku. Ghesa ti—" Gandhi tak lanjutkan ucapannya karena tiba-tiba saja, sang ibu mencubit bagian lengan kanannya. Ia pun luncurkan suara mengaduh, sebab terasa cukup sakit. Jika ibunya sudah tunjukkan sikap seperti sekarang ini, menjadi tanda kekesalan yang tengah dirasa. Gandhi sangat hafal kebiasaan ibunya dan protes ia keluarkan tidak akan mendapatkan balasan sesuai. "Anak kamu baik-baik saja dengan mertuamu. Ghesa aman, Nak. Kamu jangan berprasangka buruk terus pada ibu mertua. Percaya dengan Ibu, Ghesa tidak akan diapakan." Gandhi cepat anggukan kepala, tanda bisa memahami ucapan ibunya. Ia dengarkan saran juga. Mencoba mengurangi kecemasan yang melanda, namun hanya sedikit saja. Ia akan tetap merasa tidak tenang, ketika belum bicara dengan ibu dari sang istri secara langsung. Pasti ada hal penting dan serius. "Ibu tadi sempat berpikir kalau Greta akan perlihatkan ketidaksukaan dengan Ghesa. Ternyata, Ibu salah, Nak. Anak kamu juga langsung mampu nyaman, tidak merasa takut." Gandhi anggukkan kepala lagi. "Iya, Bu. Syukurlah bisa begitu. Aku sudah khawatir saja tadi jalan," komentarnya lalu. "Ibu rasa kamu bisa berdamai dengan mertuamu, Nak. Memang butuh usaha yang ekstra agar mampu meluluhkan hati ibu mertuanya yang keras. Tapi, Ibu yakin kita bisa ambil cara itu untuk menyelesaikan masalah kalian. Bukan dengan terus lakukan perlawanan yang sama kasar. Menurut Ibu begitu." Kembali, Gandhi mengangguk dengan gerakan cukup ringan, selepas dengarkan secara saksama saran dari sang ibu. Lalu, dikulum senyuman. Hanya sedikit dilebarkan. "Baiklah, Bu." "Aku akan menuruti semua perkataan Ibu. Karena, aku yakin Ibu akan memberikan solusi terbaik untukku," imbuh Gandhi. Kemudian, dipeluk sang ibu. Ia merasa bahwa membutuhkan dukungan serta kekuatan yang lebih besar lagi. Tentu, hanya bisa didapatkan dari ibunya saja. Gandhi sangat percaya bahwa kasih sayang sang ibu akan mampu membuatnya bertahan. "Doakan saja yang terbaik untukku, Bu. Tapi, aku memanglah sudah bertekad akan tidak menyerah mendapatkan restu dari mertuaku secara tulus. Aku akan melakukan usaha apa saja agar bisa meluluhkan hati Mama mertuaku," ujar Gandhi dalam suara yang mantap. Keyakinan terus dipupuk pada dirinya. "Aku ingin tetap bersama Wina. Menjaga keutuhan dari rumah tangga dan pernikahan kami. Terutamanya untuk Ghesa. Aku akan melakukan semua usaha yang bisa aku lakukan. Ak—" "Papahh... Papahhpapahh... Papahhh." Mendengar celotehan sang putri, maka Gandhi tidak lanjutkan kata yang ingin dilontarkan. Pelukan pada sang ibu pun lantas dilepaskan. Atensi juga sudah Gandhi sepenuhnya pusatkan ke sosok ibu mertuanya yang berdiri tak jauh di depan, ada sekitar lima meter saja. Gandhi memutuskan berjalan mendekat. Tarikan napas panjang dilakukan sembari terus melangkahkan kaki menuju ke ibu mertuanya. Dan, secara perlahan-lahan ia kemudian embuskan. Kepala Gandhi terarah lurus ke depan. Tak ada keraguan dalam sorot matanya. Menandakan pula jika Gandhi sudah sangat memantapkan hati dan juga yakin dengan keputusan yang akan dirinya ambil guna pertahankan Wina. "Ma...," Gandhi menggumamkan sopan panggilan untuk ibu mertuanya. "Saya ingin mengatakan sesuatu pada Mama." Sedetik selepas selesaikan ucapannya, maka Gandhi segera bersimpuh di hadapan ibu kandung sang istri. Kepalanya pun sudah ditundukkan. Gandhi tak langsung utarakan apa yang ia hendak sampaikan. Dilakukan pengaturan napasnya kembali.  "Apa yang ingin kamu katakan kepada saya? Cepat sampaikan sekarang sebelum saya berubah pikiran. Katakan dengan jelas." Gandhi mengangguk cepat. Dilanjut dengan lakukan penarikan napas cukup panjang guna menetralkan tegangan yang semakin besar. Beberapa detik kemudian, Gandhi pun mengambil posisi berlutut di hadapan ibu mertuanya. Posisi kepala ditundukkan. "Tolong beri saya kesempatan membuktikan bahwa saya bisa menjadi menantu yang baik bagi Anda, Ma. Saya mungkin belum dapat membuktikan diri dalam punya penghasilan yang banyak sampai sekarang. Kehidupan finansial saya belum seperti Mama ingin." Kali ini, Gandhi mendongakkan kepalanya guna memandang sang ibu mertua. Sorot kedua matanya begitu serius. "Tapi, tolong beri saya kesempatan lagi. Saya akan terus berusaha menaikkan derajat kehidupan ekonomi kami. Saya akan memberi apa yang semestinya Wina dapatkan secara materi." "Saya harus mempertimbangkan dulu. Saya tidak bisa menjawab sekarang. Tapi, saya hargai usahamu untuk Wina, Nak Gandhi."   ……………………………………………………………………….   Gandhi langsung pulang ke rumah, ketika sang ibu beri tahu bahwa mertuanya datang berkunjung. Perasaan tidak enak yang besar mendadak menguasai diri Gandhi. Ia sudah pasti kalut. Pikiran buruk pun selalu mendominasi kepalanya. Gandhi bahkan sangat mustahil merasa dapat berlakukan ketenangan. "Om Swastyastu, Bu." Diucapkan salam dalam intonasi tidak terlalu besar. Bahkan, raut wajah Gandhi tampak serius. "Om Swastyastu, Nak," balas Ibu Yulia dengan lembut seraya usap kepala putra beliau yang tengah salim tangan. "Di mana ibu mertuaku, Bu?" Pertanyaan diluncurkan secara refleks olehnya, tatkala dapati sang ibu berdiri di depan gapura. Tentunya sedang menunggu ia kembali ke rumah. "Di bale bengong, Nak. Bersama dengan Ghesa." Kedua bola mata Gandhi menjadi membulat sempurna, bentuk dari keterkejutannya akan ucapan sang ibu. Jelas, tidak bisa memercayai. Terlebih, hal tersebut dihindarinya. "Apa, Bu? Ghesa bersama dengan ibu mertuaku? Kenapa Ibu biarkan?" "Bagaimana kalau Ghesa dicelakai oleh ibu mertuaku? Ibu tahu jelas jika Ibu Greta sangat benci diriku. Ghesa ti—" Gandhi tak lanjutkan ucapannya karena tiba-tiba saja, sang ibu mencubit bagian lengan kanannya. Ia pun luncurkan suara mengaduh, sebab terasa cukup sakit. Jika ibunya sudah tunjukkan sikap seperti sekarang ini, menjadi tanda kekesalan yang tengah dirasa. Gandhi sangat hafal kebiasaan ibunya dan protes ia keluarkan tidak akan mendapatkan balasan sesuai. "Anak kamu baik-baik saja dengan mertuamu. Ghesa aman, Nak. Kamu jangan berprasangka buruk terus pada ibu mertua. Percaya dengan Ibu, Ghesa tidak akan diapakan." Gandhi cepat anggukan kepala, tanda bisa memahami ucapan ibunya. Ia dengarkan saran juga. Mencoba mengurangi kecemasan yang melanda, namun hanya sedikit saja. Ia akan tetap merasa tidak tenang, ketika belum bicara dengan ibu dari sang istri secara langsung. Pasti ada hal penting dan serius. "Ibu tadi sempat berpikir kalau Greta akan perlihatkan ketidaksukaan dengan Ghesa. Ternyata, Ibu salah, Nak. Anak kamu juga langsung mampu nyaman, tidak merasa takut." Gandhi anggukkan kepala lagi. "Iya, Bu. Syukurlah bisa begitu. Aku sudah khawatir saja tadi jalan," komentarnya lalu. "Ibu rasa kamu bisa berdamai dengan mertuamu, Nak. Memang butuh usaha yang ekstra agar mampu meluluhkan hati ibu mertuanya yang keras. Tapi, Ibu yakin kita bisa ambil cara itu untuk menyelesaikan masalah kalian. Bukan dengan terus lakukan perlawanan yang sama kasar. Menurut Ibu begitu." Kembali, Gandhi mengangguk dengan gerakan cukup ringan, selepas dengarkan secara saksama saran dari sang ibu. Lalu, dikulum senyuman. Hanya sedikit dilebarkan. "Baiklah, Bu." "Aku akan menuruti semua perkataan Ibu. Karena, aku yakin Ibu akan memberikan solusi terbaik untukku," imbuh Gandhi. Kemudian, dipeluk sang ibu. Ia merasa bahwa membutuhkan dukungan serta kekuatan yang lebih besar lagi. Tentu, hanya bisa didapatkan dari ibunya saja. Gandhi sangat percaya bahwa kasih sayang sang ibu akan mampu membuatnya bertahan. "Doakan saja yang terbaik untukku, Bu. Tapi, aku memanglah sudah bertekad akan tidak menyerah mendapatkan restu dari mertuaku secara tulus. Aku akan melakukan usaha apa saja agar bisa meluluhkan hati Mama mertuaku," ujar Gandhi dalam suara yang mantap. Keyakinan terus dipupuk pada dirinya. "Aku ingin tetap bersama Wina. Menjaga keutuhan dari rumah tangga dan pernikahan kami. Terutamanya untuk Ghesa. Aku akan melakukan semua usaha yang bisa aku lakukan. Ak—" "Papahh... Papahhpapahh... Papahhh." Mendengar celotehan sang putri, maka Gandhi tidak lanjutkan kata yang ingin dilontarkan. Pelukan pada sang ibu pun lantas dilepaskan. Atensi juga sudah Gandhi sepenuhnya pusatkan ke sosok ibu mertuanya yang berdiri tak jauh di depan, ada sekitar lima meter saja. Gandhi memutuskan berjalan mendekat. Tarikan napas panjang dilakukan sembari terus melangkahkan kaki menuju ke ibu mertuanya. Dan, secara perlahan-lahan ia kemudian embuskan. Kepala Gandhi terarah lurus ke depan. Tak ada keraguan dalam sorot matanya. Menandakan pula jika Gandhi sudah sangat memantapkan hati dan juga yakin dengan keputusan yang akan dirinya ambil guna pertahankan Wina. "Ma...," Gandhi menggumamkan sopan panggilan untuk ibu mertuanya. "Saya ingin mengatakan sesuatu pada Mama." Sedetik selepas selesaikan ucapannya, maka Gandhi segera bersimpuh di hadapan ibu kandung sang istri. Kepalanya pun sudah ditundukkan. Gandhi tak langsung utarakan apa yang ia hendak sampaikan. Dilakukan pengaturan napasnya kembali.  Tubuh Wina seketika dilanda ketegangan. Meski demikian, ia tetap beranjak bangun dari kursi tengah didudukinya. Kemudian, kepala ditengokkan ke belakang bersamaan dengan tubuh juga dibalikkan. Ia jelas ingin memastikan pemilik suara imut yang baru saja memanggilnya. Wina juga jadi gugup. "Mamahh... Mamamamahhh." Tarikan pada kedua ujung bibirnya spontan dilakukan oleh Wina, selepas saksikan sosok kecil sang putri dalam gendongan suaminya. Kaki-kaki jenjang Wina pun bergerak cepat menghampiri buah hatinya yang sudah lama dirindukan. Dalam hitungan beberapa detik saja sudah berhasil diambil alih sang putri dari Gandhi. Wina lalu memeluk erat. "Hallo, Sayang," ujarnya dengan nada yang lirih. Volume suara tidak cukup keras. Lantas, dekapan pada tubuh sang buah hati pun dieratkannya. Kecupan-kecupan singkat sarat akan kasih sayang didaratkannya di pucuk kepala Ghesa. Aroma wangi khas bayi menguar masuk ke indera penciumannya. "Mama kangen banget sama. Mama nggak nyangka akan bisa ketemu Ghesa di sini. Apa yang Ghesa sama Papa lakukan? Mau ma--" "Merayakan ulang tahun pertama anak kita, Na. Aku ingin makan berdua saja tadinya. Tapi karena ada kamu di sini, kita akan bisa makan bertiga. Merayakan ulang tahun anak kita bersama-sama. Mau ikut denganku?" ………………………………………                   "Sekali lagi, selamat ulang tahun yang pertama untuk anak cantik Mama, ya. Ghesa sudah berumur satu tahun sekarang, Nak." "Doa Mama?" Wina lanjut bergumam, sedikit lirih. Volume suara jadi memelan. "Doa Mama untuk Ghesa ada banyak, Sayang. Semua berisi harapan terbaik dan positif Mama bagi masa depan Esa. Yang terpenting juga, Esa harus sayang Mama dan Papa." Selesai berujar, Wina tambah eratkan pelukan pada tubuh sang putri yang tengah duduk di atas pangkuannya. Diberikan juga kecupan manis beberapa kali. Rasa haru sejak pertama kali melihat buah hatinya masuk ke areal dalam restoran bersama sang suami, tak kunjung bisa hilang. Ia bahkan ingin menangis, tetapi ditahan. "Mamahmamahmah... Mamahmamahh." Wina sunggingkan senyuman simpul. "Apa, Sayang? Mama di sini dengan Esa. Kita rayakan ulang tahun bersama-sama, ya." "Papa masih di jalan, beli kue dan hadiah untuk Ghesa. Akan datang sebentar lagi. Tidak lama. Ghesa mau tunggu sama Mama, yah?" Wina luncurkan kalimat-kalimatnya dalam nada riang. Benar, sang suami sedang membeli kue tart. Letak tokonya tak terlalu jauh dari restoran. Mungkin hanya butuh waktu sepuluh menit saja. Sedangkan, Deno sudah pamit pulang terlebih dahulu. Ia pun meminta pada pria itu agar tak beri tahu ibunya, Deno kabulkan. Wina cukup merasa lega dan akan membalas kebaikan pria itu. "Yahyahyah." Ghesa pun keluarkan celotehan semangat. Senyum manisnya semakin melebar, meski belum terlalu mampu untuk pahami apa yang diucapkan oleh sang ibu kepadanya, tadi. "Bagus, Ghesa." Wina secara cepat membalas. Kemudian, didaratkan kembali ciuman sarat akan kasih sayang yang besar di bagian kening putri kecilnya. Hati Wina benar-benar menghangat. "Perjalanan waktu rasanya begitu cepat, ya Sayang. Baru Mama tahu hamil Ghesa, saat bulan November. Ghesa sudah lahir saja waktu September, tahun lalu. Dulu, Ghesa kecil. Tapi, badan Esa sekarang sudah semakin gendut. Mama berat gendongnya." "Hahahaha." Suara tawa diloloskan oleh Ghesa dengan cukup keras karena geli menerima gelitikan ibunya di bagian perut. "Manis banget putri Mama kalau lagi ketawa, yaa. Mama jadi makin gemas." Wina berujar dalam nada suara yang riang. Namun kemudian, matanya mulai tampak berkaca-kaca. Tepat setelah, muncul pikiran buruk. Tentang mungkin bertemu dengan Ghesa yang tak akan bisa dilakukan sering. Terlebih, telah diatur kepergiannya hadiri acara bisnis oleh sang ibu ke luar kota. Belum lagi, jika sang suami kembali memberlakukan pada dirinya batasan berjumpa sang putri, maka Wina harus siap untuk menahan kerinduan akan buah hatinya. Tetapi, hari yang spesial bagi Ghesa, akan digunakan ciptakan momen-momen berkesan. "Mama sayang sekali, Nak. Mama juga mau Ghesa dapat sayang dengan Mama, ya. Kita harus kompak. Oke, Esa? Deal?" Wina lantas mengeratkan pelukan pada tubuh putri kecilnya. Senyum manis yang dipamerkan oleh sang buah hati, akan selalu membuat hati Wina rasakan ketentramanan. Segala bentuk kesedihan yang membelenggu pun seketika menjadi sirna. Wina sungguh bahagia. "Besok Mama akan belikan mainan dan pakaian banyak untuk Ghesa, ya? Pasti Ghesa mau, 'kan? Habis kerja, Mama akan jenguk Ghesa. Jadi, Ghesa harus menunggu Mama datang. Oke, Sayang? Sia—" Wina tak meneruskan katanya, selepas saksikan sang suami tengah membawa kue berukuran cukup besar yang sudah berisi sebuah lilin bertuliskan angka satu. Umur dari buah hati cantik mereka berdua. "Selamat ulang tahun, Sayang." Mendengar suara merdu sang suami, sukses sebabkan hati Wina pun berdesir. Cara bicara bicara pria itu yang lembut, sudah menunjukkan jelas besarnya rasa sayang dimiliki untuk putri kecil semata wayang mereka. Kasih yang tak akan terkikis sampai kapan pun, tentunya. "Selamat ulang tahun, Mama dan Papa ucapkan. Selamat panjang umur, Mama dan Papa doakan. Selamat sejahtera, sehat, sentosa." "Selamat panjang umur dan berbahagia untuk Ghesa." Wina cukup percaya diri melanjutkan nyanyiannya, meski suara yang tak bagus. Kemudian, Wina mengecup kedua pipi tembam sang putri dengan penuh rasa sayang. "Selamat bertambah umur, Ghesa. Mama akan selalu mendoakan hal yang terbaik untuk masa depannya Ghesa."  Wina melebarkan senyuman hangat seraya terus memandangi sang buah hati. Ghesa tengah tertawa. Sungguh manis dan tambah gemas dirinya akan ekspresi sang putri. Ia akan menjadikan sebagai momen indah. Wina kembali berikan ciuman pada dahi Ghesa, cukup lama. Hampir sekitar 30 detik. Setelah selesai, dipandang dengan lekat lagi wajah cantik putrinya. Senyuman manis dan tatapan polos Ghesa sungguh sangat dapat menghiburnya. Menghilangkan beban yang selalu menjadi problematika dalan kepala. "Mama punya banyak doa untuk Ghesa, ya. Mama berharap nanti anak Mama ini akan bisa jadi orang yang berguna. Baik nanti buat keluarga atau masyarakat. Jadi putri yang selalu berbakti sama orangtua. Cerdas dan berprestasi di bidang yang Ghesa sukai." Selepas berucap, Wina menolehkan kepala ke depan guna melihat sang suami. Ia cukup terkejut mendapati pria itu tengah menatap intens ke arahnya. Saat mata mereka berdua bersitatap, Gandhi tetap memandanginya. Ia hanya bisa memerlihatkan senyuman. Tak tahu harus mengatakan apa guna membuka percakapan. Lebih baik memang diam. "Makasih untuk doa-doamu, Na. Semoga saja anak kita bisa seperti yang kamu harapkan. Dan, kita berdua harus membimbing Ghesa sampai dia dewasa. Kamu akan bersamaku terus dalam menjada dan merawat Ghesa."    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN