Indra terbangun karena merasakan bibirnya basah dan hangat. Ia kaget melihat Karin yang sedang menciumnya. “Lo ngapain, Rin?” Indra merubah posisi menjadi duduk, dan mengusap bibirnya yang basah. “Ma-ma-maaf, Ndra. Gu-gue nggak bermaksud un—" “Bisa nggak lo keluar dari ruangan gue sekarang?” Indra memotong pembicaraan Karin. “Tapi gue kangen dan pengin ketemu lo, Ndra.” “Gue butuh istirahat. Bentar lagi gue ada rapat Rin, please!” “Kalau gitu gue permisi, Ndra.” Di satu sisi Karin merasa bahagia karena Marisa cemburu. Semoga aksinya ini membuat mereka berdua tidak bersama. Di sisi lain ia kecewa karena Indra mengusirnya, padahal Karin merindukan pria itu. Karin melihat kotak makan pemberian Marisa di meja sekretaris Indra. Ia melihat ke arah kanan dan ke kiri, lalu akhirnya membuan

