Marisa saat ini kebingungan membereskan semua barang bawaannya untuk kembali ke Jakarta. Ia tengah mengemas oleh-oleh untuk Rosa dan keluarganya di Bandung. Bagaimana caranya ia membawa semua barang bawaannya yang sebanyak ini? Ingin meminta pertolongan Indra, tapi ia segan dan malu. Jika dijemput bus kampus pasti tidak tepat waktu dan mampir-mampir ke tempat praktik temannya yang lain. Pasti butuh kesabaran, sangat melelahkan dan menguras energi. Benda pipih di saku celana Marisa berbunyi kencang. Sebuah panggilan masuk dari pangeran tampan yang saat ini sedang ada dalam pikirannya. “Halo, Cantik. Udah siap belum?” “Halo, A’a. Siap untuk apa, ya?” “Lima menit lagi A’a nyampe, nih.” “Hah? A’a ngapain ke sini?” “A’a mau menjemput sang Tuan Putri untuk mengantarnya pulang.” “Waaah, A

