Tiba-tiba ada seseorang dari belakang dan menarik tangan mungil Marisa, dan membawanya ke sebuah mobil. Indra membukakan pintu untuk Marisa masuk, gadis itu menurut dan dengan tanpa perlawanan menuruti perintah Indra. Ia memegang bagian perutnya dengan tangan kiri, dan tangan kanan meremas lengan Indra. “Auuuuu! Perih dan sakit.” Marisa merintih kesakitan, memeluk dan menangis menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Indra. “Kenapa? Dismenore lagi?” “Bukan, maagku kambuh, A. Perih dan nyeri banget di ulu ati.” Marisa makin meremas lengan Indra. “Mana sini, coba A’a periksa.” Indra langsung membuka peralatan kedokteran yang disimpan di dalam tas. Pria itu selalu membawa peralatan dan obat-obatan karena takut sewaktu-waktu ia mengalami atau menolong kecelakaan. “Mau diperiksa di dalem,

