Pria tampan di hadapan Marisa kini menatapnya tajam. “Semoga A’a menjadi pria pertama yang kamu cintai.” "Uhuk ... uhuk ... hah?” Marisa terkejut. "Ya kan tadi bilangnya nggak pernah jatuh cinta.” “Kepedean banget sih, A.” “Inget ya janji kamu. Kalau A’a buat kamu jatuh cinta ke A’a, A’a nggak mau nunggu lama-lama buat nikahin kamu.” “Itu mah janji paksaan A’a.” "Ya kan kamu bilang apa aja. Ya A’a maunya nikahin kamu lah.” “Se-ngebet itu A’a sama pernikahan?" “Siapa yang nggak mau nikah sama wanita cantik kayak kamu?" "Jadi cuma cantiknya doang?" Marisa terkekeh. “Apa harus diceritakan dengan detail? Apa cinta butuh alasan?" “Mmmmh.” Marisa bingung akan menjawab apa, pipinya merah merona. “Sana tidur, besok kan mau pulang ke Purwakarta. Ingat, kalau ada Januar, langsung lapor

