Pov fatimah.
Pelajaran demi pelajaranpun telewati dengan penuh perjuangan, mengingat jariku tidak bisa digerakan.
Waktu yang ditunggu Akhirnya datang juga, bel pulang berbunyi dengan keras menandakan kita harus behenti belajar dan kembali kerumah, untuk mempersipakan diri lagi buat pelajaran hari hari selanjutnya.
Sesampai dirumah seperti biasa ibu lagi ada diruang keluarga sambil memandang kearah meja yang berisi televisi, sesekali ibu akan kedapur untuk mengontrol perapian nasi, maklum dikampung jadi gas itu belum sepopuler sekarang.
Aku mengucapkan salam lalu mencium punggung tanganya.
"Waalaikumusalam, udah pulang, sana mandi dulu terus makan" kata kata itu yang terus dilontarkan ibu ketika aku baru pulang sekolah.
Aku menganguk lalu masuk kamar merapikan baju seragam kemudian menggantungnya, lalu aku mengabil handuk untuk mandi.
Setalah mandi dan ganti pakain aku kedapur lalu mengambil nasi goreng yang ada diwajan, meski udah dingin tapi kalau kelaparan pasti akan sangat nikmat, kemudia menghamipiri ibu yang masih duduk ditepat semula.
"Ibu udah makan" tanyaku sambil duduk disampingya.
"Udah tadi sebelum masak" jawab ibu tanpa memalingkan mata dari televisi.
"Bapak belum pulang bu" tanyaku basa basi
"Biasanya juga habis asyar baru nyape rumah" jawab ibu sambil menoleh kearahku.
Plak
Dia menepuk tanganku yang mau mengatarkan sendok kemulut, sehingga nasi disendok jatuh lagi kepiring, mungkin sipat tampar menaparku warisan dari ibu.
Aku menganga kaget atas perlakuanya, ibu hanya menatap tajam kearahku.
"Kenapa ibu mengeplak ku" tanyaku heram.
"Kamu kalau makan itu pake tamgan kanan apa, jangan pake tangan kiri" ceramah ibu sambil membulatkan mata menatapku.
"Tangan kananku gak bisa menggenggam bu" jawabku sambil menunjukan tangan yang bengkak.
"Astagfirullah kenapa kamu nak" seketika ibu panik sambil memegang pergelangan tangganku memperhatikan dengan seksama
Ditanya seperti itu rasa bersalah terhadap dalari kembali menyelimuti d**a, rasanya lebih sesek dari himpitan batu besar membuat mata berkabut
"Kok kamu malah mau nangis gitu sakit banget ya" tanya ibu lagi sambi meniup niup tanganku,
Aku cuma nganguk menahan rasa sakit yang kembali terasa sangat ngilu sampai lenganku kebas.
"Tunggu ibu panggilin mak odeh dulu biar tangan mu diperiksa" ujar ibu seraya pergi meningalkanku.
"Tadi gak terasa kenapa sekarang ngilu banget, apa gara gara dekat ibu aku jadi lemah" gumamku sambil melanjutkan makan nasi goreng.
Tak lama ibu dan mak odeh datang, lalu duduk disampingku.
"Kenapa kamu neng tangannya sampai bengkak seperti ini" tanya mak odeh sambil memeriksa tanganku.
Aku cuma meringis menahan rasa sakit yang menjalar keseluruh tubuhku.
"Kenapa biar mudah mengobatinya" tukang urut itu bertanya lag.
"Menampar mak" jawabku pelan.
"Maksudya menampar apa" tanya ibu ikut bertanya.
"Orang mak" jawabku sambil menundukan kepala.
"Masya allah terus yang ditamparnya gimana, kamu aja yang menapar saja tanganya sampai begini" tanya emak odeh
"Gak tau mak, tadi pagi langsung dibawa kemantri untuk diperiksa, aku gak tau lagi kabarnya gimana" jawabku sambil menunduk.
" terus dia gak minta pertangung jawaban, pasti lukanya sangat parah" tanya ibu desak ibu.
Aku cuma mengelengkan kepala, sambil menatap kearah ibu.
"Dia cuma bilang ke orang orang jatuh di toilet pas lagi ngambil air" ceritaku sambil menatap ibu
"Kok bisa sih kamu menapar dia, kamu berantem yah" tanya ibu lagi
"Engga bu" ujarku lirih,
"Terus" sahut ibu menatap tajam kearahku
"Aku tadi kan berangkat bareng sama bapak, pas nyampe sekolahan masih sepi, baru aku yang datang pertama, dari ruang guru terdengar suara suara aneh, aku lupa kalau sekolahan beberapa hari ini punya tukang bersih bersih, aku mengintipnya didekat pintu ruang guru yang masih tertutup, tiba tiba pintu terbuka lalu keluar sosok putih aku kaget, aku berteriak lalu tanganku melayang mendarat kepipinya, samapai darah segar mengalir dibibirnya, pipinya juga membiru, tapi pas di tanYa pak chandra, dia gak bilang bahwa itu bukan karena ditampar tapi terjatuh dikamar mandi" ceritaku panjang kali lebar.
Ibu dan mak odeh cuma bengong menatapku.
"Ya udah kalau udah ada yang merawat, boleh emak minta minya biar licin mengurutnya" pinta mak odeh sambil mentap ibu.
Ibu segara bangkit menuju dapur, tak lama kembali sambil membawa piring berisi minyak goreng lalu menyerahkannya ke mak odeh.
Mak odeh menerimanya lalu membacakan doa kemudian menuipkannya keminyak itu.
"Bismillah, tahanya pasti agak sakit soalnya ini udah bengkak, kalau masih baru akan lebih mudah" ucap mak odeh sambil menatap ke arahku.
Aku hanya mengganguk lalu menyarahkan tanganku supaya mak odeh bisa mengobatinya.
Awalnya cuma usapan pelan lama lama jadi tekan kuat, aku menahan rasa sakit itu sampai keluar air mata.
"Tahanya ini agak sakit" ujar mak odeh sambil terus mengurutnya.
Sebenernya udah gak percaya lagi dengan ucapan wanita separuh baya ini, tadi aja bilangnya gitu tapi kenyataannya bukan agak sakit tapi sakit banget.
Drrrrrek
Agrrrrrh
Tulang jariku dikembalikan keposisi semula, diikuti teriakan ku yang membelah langit, rasanya sangay ngilu bercampur sakit yang susah untuk dijelaskan.
"Udah insya allah besok juga sudah sembuh" ujar mak odeh sambil mengelap tangannya dengan serbet.
"Terimakasih mak" ujarku yang masih meringis kesakitan.
"Oh iya orang yang kamu tampar beneran tidak apa apa emak takut itu kena sarap pendengaranya, pasti hantamanya sangat keras" keluh mak odeh menanyakan dalari.
"Kanya kena pipi bagian bawah mak makanya bibirnya berdarah" jawabku walau sebenarnya sama menghawatirkan dalari.
"Ya semoga aja tidak terjadi apa apa, semoga kalian berdua cepet sembuh" ucap mak odeh
Adzan asyar berkumandang, setelah ibu kasih uang lelah meski tidak akan sebanding dengan pertolongnya, mak odeh pun pamit katanya mau sholat asyar.
Setelah mak odeh pergi aku dan ibu bergeges melaksanakan sholat setelahnya lalu kita berkumpul kembali diruang keluarga
Ibu memelukku dari samping sambil mengusap ngusap rambut dengan lembut.
"Masih sakit gak" tanya ibu mengawali pembicaraan.
"Sakit bu tapi sudah agak mendingan" jawabku yang ada dalam dekapannya.
"Lain kali kamu hati hati yah gimana kalau orang itu dendam sama kamu" keluh ibu mengingatkan.
"Iya bu maafin fatim yah, insya allah lain kali fatim akan lebih hati hati" ujarku sambil mengem tangan ibu.
"Besok kamu chek keadanya takut terjadi apa apa, meski tidak disengaja tapi tetep itu ulah kita, jadi bagaimanapun kita harus bertanggung jawab, apalagi dia tidak meyalahkanmu" saran ibu
"Iya bu tadi juga aku sudah minta maaf, tapi dia hanya diam saja mungkin susah untuk berbicara soalnya terlihat sesekali dia meringis menahan sakit" ceritaku.
"Emang dia orang mana biar nanti ibu suruh bapak menjenguknya" tanya ibu
"Kurang tau bu tapi kata teman dia anak pondok, dia bekerja disitu untuk memenuhi kebutuhanya dipondok" jelasku
"Berarti yang kamu tampar laki laki dong, soalnya dipondok dekat sekolah tidak ada pondok untuk perempuan" ucap ibu
"Iya laki laki bu" jawabku sambil menunduk
"Baik banget dia mau kerja ngepel padahal itu pekerjaan wanita" puji ibu.
"Iya kata temanku dia orang gak punya padahal di sekolahnya dulu dia sangat berbakat, tapi mungkin tidak ada modal untuk melanjutkan sekolahnya jadi dia mondok" jelasku sama ibu
"Kayanya kamu tau betul tentangnya" tanya ibu curiga.
"Semuanya pada tau bu, mungkin dia orang baik tadi aja aku kasih uang buat pengobatanya dia menolak secara halus" jawabku memujinya.
"Janga jangan kamu suka" tanya ibu lagi mendesak.
"Engga lah bu aku masih kecil mana mungkin bisa suka, kalau kagum mungkin iya, sama seperti teman teman yang lain yang mengagumi pribadinya" ujar ku mengelak.
"Syukurlah kalau begitu, ibu gak pengen punya anak cinta cintasn dulu sebelum waktunya, ibu pengen melihatmu sekolah yang tinggi biar bisa punya bekal buat kehidupanmu kelak" nasihat ibu sambil menusap lembut punggungku.
"Amin semoga aku bisa jadi kebahagian ibu dan bapak" ujarku sambil memeluk ibu dengan erat.
"Besok ibu suruh bapak menemuinya mewakili kita untuk meminta maaf" saran ibu.
Aku hanya menganguk pelan tanda setuju gak enak pula sama dalari apalagi dia memintaku untuk memjauhinya.