kesan pertama

1065 Kata
Pov fatimah Aku yang merasa gak enak hati atas perbuatanku, mencoba mengikutinya siapa tau dia bisa memaafkanku "Biar aku yang nyapu kamu yang ngepel" tawarku sambil meraih sapu yang dipegangnya. Tetapi dia menahanya sangat kuat sehingga aku sangat kesulitan mengambilnya. "Udah tolong jangan gangngu pekerjaan ku" ujarnya sambil merigis kesakitan. "Maafin aku yah" ujarku tak terasa butiran hangat jatuh dari netra membasahi pipi. Semakin dia menolak semakin besar pula rasa bersalahku padanya, tangisku pun pecah karena gak tau lagi harus berbuat apa, supaya dia memafkanku. Meliahat aku menangis dia panik lalu menghampiriku. "Kamu kenapa nangis, aku kan gak ngapa ngapain kamu, udah dong jangan nangis nanti aku disangkain macem macem sama kamu" ujarnya yang berdiri dihadapanku. Tangisanku semakin kenceng membuat dia semakin panik. "Yah yah aku minta maaf kalau aku punya salah tapi jangan nangis ya aku masih pengen bekerja disini, karena ini adalah kerjaanku satu satu supaya aku masih bisa bertahan di pondok" ujarnya lagi Aku semakin merasa bersalah tangisku semakin pecah. "Kamu mau permen tanyanya" sambil mengeluarkan beberapa permen dari kantong celana putihnya lalu menyerahkanya padaku Dia memperlakukan seperti anak SD yang lagi merengek minta jajan. Melehat aku tak bergeming dia pergi meningalkanku lalu kembali membawa beberapa aksesoris milik sekolah mulai dari pengaris, kapur, bahkan boneka anatomi tubuh. "Kamu mau yang mana kamu boleh ambil biar nanti aku yang minta sama pak chandra, asal kamu udah nangisnya" dia menenangkanku bak lagi menengankann seorang balita. aku pun terseyum geli gak kuat melihat kekonyolannya. "Nah gitu dong senyum jangan nangis" ucapnya merasa lega. Aku pun berjalan mendekati sapu yang ia taruh tidak jauh darinya, lalu aku menyapu teras meneruskan kerjaannya yang sempat tertunda, sekarang tak ada protes lagi darinya, dia hanya berjalan mengemabilakan benda benda yang tadi dipake buat menghiburku. Tak lama ia kembali sambil membawa ember berisi air, setelah mencelupakan tongkat pel dia menyemprotkan pengwangi lantai lalu mengelap lantai mengikutiku yang nyapu. Murid murid sekoah sudah mulai berdatangan, mereka memberikan siulan menggoda kita. "Cie cie wikwiw serasi nih ye" ujar seseorang murid ketika melewati kita. Yang digoda terliat wajah memarah ditengah pipi yang membiru. Setelah beres mengepel aku dan dia memungut sampah yang berserakan dilapangan upcara, katanya tidak usah disapu cukup mengumpulkanya dengan di ambil, karena sampah hari ini tidak terlalu banyak. "Wah parah kamu dal, berduan dengan gebetanku" ujar seseorang yang tiba tiba yang menghampiri kita. "Eh bang fahmi udah nyampe bang" sapa dalari ramah. "Pantes dari pagi pengen cepat cepat kesekolah ternyata kalian lagi bermesraan berdua" ujar kak fahmi. "Masa bermesraan sambil mungutin sampah bang" ujar dalari sambil senyum. "Eh bentar bentar pipi mu kenapa" tanya kak fahmi panik. "Tadi kepeleset dikamar mandi bang" jawab dalari berbohong. "Ini parah banget sampai udah biru begini, kamu habis dari sini perikasa sama mantri apud biar ketauan apa lukanya" ujar kak fahmi terlihat khawatir, Kak fahmi merogoh kantong celana lalu mengeluarkan uang pecahan sepuluh ribu. "Nih pake uang ini aja dulu, biar kamu bisa langsung kesana, kalau hari ini tidak ada ujian aku udah mengatarmu" ujar kak fahmi sambil memberikan uang itu. "Terimakasih bang nanti kalau udah di pondok diganti" ujar dalari sambil mengabil uang dari tangan bang fahmi. Meliahat orang lain sangat peduli padanya apa kabar denganku yang membuatnya seperti itu, harusnya aku yang tanggung jawab. "Dalari dalari" pangil seseorang dari depan ruang guru, Kami pun menoleh ke arah datangnya suara, Ternyata yang manggil adalah pak chandra kepala sekolah kami. Ada yang mangil dalari menoleh seraya menghapri pak chandra, aku dan kak fahmi melihatnya dengan seksama, terlihat pipi dalari di penggan oleh pak chandra, mereka mengobrol sebentar lalu pak chandra pergi meningalkan dalari yang masih berdiri. Setelah pak chandra pergi aku ijin sama kak fahmi, lalu menghapiri dalari yang masih menunggu di teras ruang guru. "Maafin aku yah, aku punya uang segini tolong kamu terima buat tambah tambah pengobatanmu" ujarku sambil memberikan uang yang tadi diberikan bapak. Dia hanya menatap tajam kearah terlihat sudut matanya memancarkan kekecewaan. "Tolong terima uang ini kalau gak aku akan nangis lagi kaya tadi" ancamku. Mendengar ancaman ku dalari berdiri langsung menatapku. "Kamu jangan ganggu aku lagi, gara gara kamu seluruh sekolah tau aku jadi tukang bersih bersih, aku malu bukan dengan kerjaanku aku malu karena aku tidak bisa sekolah sepertimu, sekarang kalau mau nangis nangislah yang keras tadi aku cuma takut di tuduh ngapa ngapain kamu, sekarang tolong tingalkan aku, cukup sampai disini kamu menggangguku dan kejadian tadi anggap saja tidak pernah ada" ujarnya suaranya bergetar menahan amarah didadanya. Mendengar itu seketika uangku terjatuh tak sanggup menerima kenyataan dia sangat marah padahal dalam sebulan ini aku sangat ingin bertemu denganya, tak tau lagi aku harus dengan cara apa meminta maaf padanya, aku hanya bisa lalu beranjak pergi meningalkannya takut kehadiranku memnuatnya semakin marah air mataku tak tebendug terurai membasahi pipi. Setibanya dikelas aku membenamkan wajahku ditas. terdengar suara motor datang tak lama motor itu terdengar meningalkan sekolah. "Ini uang mu kata dalari tadi terjatuh" ujar seseorang yang berdiri di sampingku. Aku menoleh kearah datangnya suara, ternyata itu rijal teman sekelasku. "Kenapa matamu sembab kamu sakit yah" tanya rijal menatapku. Aku cuma mengeleng kepala tak kuasa untuk berbicara. "Ya udah istrahat lagi mumpung guru belum datanga oh iya ini uangnya" ujar rijal sambil meletakan uang ditasku. Aku hanya menatap rijal pergi duduk dibangkunya tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun. Tiba tiba sahabatku pada datang menghampiri, Lalu duduk disebelahku. "Kenapa mukamu pucat" tanya fitri sambil memperhatikan mukaku. "Gak apa apa mungkin lagi datang bulan hari pertama" jawabku ngasal. "Iya aku juga suka seperti itu" bela isni menimpali. "Sidalari kasian yah mukanya sampe biru begitu katanya sih jatuh dikamar mandi" cerita ratna mengalihkan topik. "Iya kasian tadi aja langsung di bawa pak chandra kemantri apud untuk mengeceknya" ujar fitri. "Iya orang baik pasti banyak yang nolong, seumuran begitu mana maulah kerja ngepel" ucap isni membelanya. Mendengar penuturan isni ,dadaku terasa sesak lagi, cuma aku yang jahat padanya, meski tidak disengaja aku tetap merasa bersalah. "Iya walau masih kecil tapi dia udah mau berusaha, beda sama aku walau cewek rasanya malas apa lagi sampai kerja seperti itu" ungkap fitri sambil menarik napas. "Oya kamu udah makan belum fat, kalau udah nanti aku beliin obat haid diwarung" tanya isni menghawatirkanku. "Udah kok semuanya" ujarku lirih. Keasikan ngobrol bel pelajaran pertamapun berbunyi, sahabat sahabatku bergegas ketempat duduknya masing masing. "Aduh" desisku pelan, jariku terasa sakit sekali ketika hendak memegang pensil, terlihat beberapa jariku sangat bengkak, hatiku kembali sedih mengingat dalari, pasti dia sagat kesakitan sekarang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN