"Kalian maju ke depan" perintah Arfan sambil menunjuk tempat yang ia maksud.
Kami berempat mengikuti perintahnya dan berdiri di tengah-tengah ruangan, seperti orang yang akan sedang melakukan pertunjukan sulap jalanan.
"Coba kalian Tunjukkan apa yang kalian bawa!" pinta Arfan sambil menatap ke arah kami satu demi satu.
"Apa maksud kalian memberikan kami sampah makanan seperti ini?, Hati kalian terbuat dari apa, sehingga menganggap kami tempat sampah" ujar Arfan seolah dia orang yang paling Tersakiti.
Kami berempat hanya menundukkan kepala, walaupun Kami benci sama mereka, namun perbuatan kami tidak bisa dibenarkan, sehingga kami hanya bisa diam seribu bahasa.
"Kalian jangan merasa paling Tersakiti, perbuatan kalian terhadap teman kami, itu sangat Di Luar Batas kewajaran, lihat teman kami hidungnya sampai berdarah" celetuk Heru yang tidak aku harapkan, dia membantah perkataan Arfan, sambil menunjukkan bukti-bukti otentik apa yang terjadi terhadap Nawir.
"Oh jadi itu yang membuat kalian, menganggap bahwa kami ini hanyalah tempat sampah, saya beserta para anggota penerimaan siswa baru, meminta maaf atas kejadian itu, namun yang perlu kalian ketahui, itu bukan kehendak kami, namanya juga kecelakaan, kita tidak ada yang tahu" Bela Arfan sambil menatap sinis ke arah Heru dengan suara yang dibuat-buat agar terdengar seperti orang yang teraniyaya.
"Kecelakaan seperti apa, itu bukan kecelakaan" perkataan Heru terhenti setelah aku memegang tangannya, menandakan dia harus diam, karena tidak mungkin kita akan menang berdebat dengan para senior, semakin kita berbicara maka akan semakin tampaklah kesalahan kita.
"Kenapa kamu menyuruh aku diam" bisik Heru sambil menatap tajam ke arahku.
"Semakin banyak kamu bicara, semakin lama juga kita akan berdiri di sini, berdebat dengan mereka sama saja kita memperlihatkan kebodohan kita" jawabku menenangkan Heru.
Heru hanya mendengus kesal sambil kembali menatap ke arah Arfan, dengan Tatapan yang sangat tajam, orang yang ditatap hanya senyum sinis menanggapi semuanya.
"Kami hanya menjalankan perintah dari guru-guru kami, untuk menyambut kalian adek-adek kelasku, dengan berbagai macam permainan supaya kalian merasa betah belajar di sekolah yang kita cintai bersama, jadi mohon maaf apabila ada perkataan dan perbuatan yang menyinggung kalian" ujar Arfan menggunakan strategi mengalah untuk menang.
"Rasanya Saya bingung, harus menyampaikan seperti apa terhadap kalian yang paling jago di sini, kalau kalian tidak mau mengikuti apa yang jadi peraturan sekolah kita, maka kalian boleh mengundurkan dari sekolah ini, karena jangan sampai hanya mementingkan seseorang bisa merugikan orang banyak" nasehat Arfan.
Dipermalukan secara fisik mungkin sakitnya hanya sebatas luar saja, tapi dipermalukan seperti ini sakitnya mungkin akan terus Membekas, sebenarnya kalau aku mau berbicara ini tidak sepenuhnya kesalahan kami, karena kenapa sajen tidak dikumpulkan pas awal-awal, sehingga kami tidak menyangka Bahwa ini akan dikumpulkan, namun untuk berbicara seperti itu sekarang Bukan saatnya, Arfan memperlihatkan kecerdikan sebagai ketua OSIS.
"Silakan kalian duduk kembali, dan kalian camkan apa perkataan saya tadi Kalau tidak mau mengikuti peraturan sekolah, silahkan kalian tidak usah lanjutkan lagi bersekolah di sini" ujar Arfan sambil memperlihatkan wajah Tersakiti.
Perkataan itu membuatku berdecak kagum melihat sandiwara yang Arfan mainkan, terlihat sangat elegan, namun penuh kemenangan, mencuci otak semua yang memperhatikan bahwa Kami, adalah anak-anak yang bandel dan susah diatur.
"Kenapa kalian masih diam, silakan kembali duduk ke tempat masing-masing" seru Arfan dengan suara lembut namun penuh penekanan.
Aku dan sahabat-sahabatku bergerak melangkahkan kaki menuju tempat duduk, terlihat senyum-senyum sinis Terukir di wajah para geng OSIS, dan beberapa cibiran dilontarkan oleh siswa baru.
"Jangan mentang-mentang kaya, Jadi kalian Seenaknya saja menganggap kakak kelas sebagai tempat sampah" cibir seorang siswa.
"Kaya dari mana? dia cuma tukang sampah Mana mungkin bisa disebut kaya" tambah lagi
"Nggak ngukur diri, padahal sekolah kan gratis tapi tidak tahu di untung" cibiran itu terus datang sampai kami duduk di tempat semula.
Setelah kami duduk acara pun dilanjutkan, kami hanya saling menatap merasa bodoh dengan apa yang telah kami lakukan, sehingga kami hanya bisa menundukkan kepala.
Selesai acara MOS, dilanjutkan dengan salat berjamaah di Masjid, itu adalah acara penutup di hari ini, setelah selesai salat berjamaah aku dan sahabat-sahabatku berkumpul kembali, untuk membicarakan sebaiknya seperti apa supaya kita bisa melawan dengn elegannya.
Kami berempat duduk di bawah pohon, sambil meminum air es yang dibeli Nasrul diwarung yang menjual minuman, angin bertiup membuat Kami merasa nyaman sebagai air conditioner alami.
"Ini gara-gara kamu Wir tadi kita terlihat sangat bodoh" dengus Heru dengan sangat kesal menatap sinis ke arah Nawir.
"Emang kamu punya ide lain apa?" jawab Nawir sambil membalas tatapan tajam Heru.
"Kalau aku tidak mengikuti kebodohan kamu, aku tidak mungkin diperlakukan seperti tadi" jelas seru sambil berdiri menatap ke arah Nawir.
Melihat Heru berdiri Nawir pun ikut terpancing dengan perkataan heru, dia berdiri seolah siap meladeni apa yang akan Heru lakukan.
mereka berdua mulai panas, aku pun ikut berdiri untuk menengahi mereka, karena Tidak sepantasnya seorang sahabat memusuhi sahabatnya sendri, hanya karena masalah sepele seperti ini.
"Sudah sudah kalian jangan pada ribut, kita selesaikan masalah ini dengan kepala dingin" saranku sambil memegangi Heru yang terus memberontak.
"Jangan halangin ak, biarkan aku hajar orang bodoh ini" Pekik Heru sambil terus meronta-ronta melepaskan peganganku.
"Sini maju kalau berani" tantang Nawir yang sudah tersulut emosi.
"Tolong hentikan!!! kalau mereka lihat kita seperti ini maka kita akan terlihat sangat bodoh" saranku yang terus menenangkan mereka.
"Ayo duduk kembali, biar kita Cari solusinya" ajak Nasrul sambil menarik tangan Nawir supaya duduk.
Setelah beberapa kali Kita bujuk, akhirnya mereka mau duduk kembali, walaupun terlihat nafas mereka tidak beraturan,
"Kamu punya ide apa" tanya Heru yang sudah mulai agak tenang sambil menatap ke arahku.
"Aku punya ide terinspirasi dari Arfan, tadi dia sangat elegan mempermalukan kita, dia tanpa harus bersusah payah menjatuhkan harga diri kita" saranku yang mengingat bagaimana Arfan mempermalukan kami di hadapan semua murid.
"Cuih Males amat, mengikuti orang sombong seperti itu" Sangga Heru yang mulai nampak emosi lagi.
"Sudah Dengerin dulu!!!, jangan dipotong pembicaraannya! Siapa tahu saja ini adalah Jalan Terbaik" pinta Nasrul yang masih tetap kalem.
"Ya sudah lanjutkan! Gimana caranya, Jangan bertele-tele!" seru Nawir menimpali terlihat pipinya masih membiru setelah tadi terbentur meja.
"Mereka menghadapi kita, dengan cara mengalah untuk menang, jadi sekarang kita ikuti permainann meeaka, kita jadi anak yang nurut, yang penting tugas itu murni dari sekolah, bukan tugas untuk menjajani mereka, sebisa mungkin kita tidak membuat masalah, sehingga mereka akan kesulitan menyentuh, kita karena dari kesalahan itulah semua ini terjadi" jelasku memberikan pendapat.
Walau bagaimanapun ini adalah jalan yang terbaik, karena kalau melawan itu sangat mustahil, mereka sangat cerdik, licik dan menguasai medan pertempuran.
"Dengar penuturanku seperti itu mereka hanya menghela nafas lalu mengeluarkannya secara perlahan
"Jadi kita menyerah nih ceritanya?" Tanya Heru yang belum paham apa yang aku sampaikan, mungkin karena ketika lagi marah, otaknya tidak bisa berjalan dengan baik.
"Bukan menyerah tapi kita ikuti permainan mereka, seperti yang tadi Arfan lakukan" aku menjelaskan sambil menatap ke arah Heru.
"Intinya mungkin kita pura-pura ya dal" ujar Nasrul yang mulai mengerti arah pembicaraanku.
"Iya seperti itu, sampai ada waktu untuk melawan mereka, karena jangan sampai gara-gara penerimaan siswa baru mereka berbuat semena-mena, sehingga membuat kita tidak merasa nyaman. Lagian Kasihan juga siswa-siswa yang dimintai uang jajanya.
orang tua mereka banting tulang untuk menafkahi anak-anaknya, sedangkan sama anaknya tidak bisa dinikmati karena harus membayar uang upeti" aku menjelaskan tujuan dari yang aku bicarakan dengan semangat empat lima.
"Terus, Langkah apa yang harus kita lakukan selanjutnya?" tanya Nawir yang mulai nampak tenang.
"Ya kita ikuti semua perintah mereka,mulai dari sajen yang harus dikumpulkan besok" aku mulai menjelaskan rencana awalku
"Itu jangan khawatir, Biar aku saja yang handal, sebagai tanda permintaan maaf aku sama kalian, karena aku yang sudah memberi saran untuk memakan sajen kita" ucap Nasrul merasa masih tidak enak dengan kejadian tadi pagi pas waktu istirahat
Nasrul memberi kesiapan untuk mengadakan Sajen yang kita butuhkan, karena orang tuanya memiliki toko grosir terbesar di desa kami, sehingga sanat mudah untuk mengabulkan apa yang mereka minta.
"Sudah jangan bahas lagi itu sudah terjadi, sekarang kamu pastikan bahwa yang besok kita bawa, sesuai dengan apa yang dimaksud mereka!" Pintaku dengan wajah serius karena Sajen yang ditugaskan bukan nama asli barang yang kita harus bawa melainkan dengan tebak-tebakan.
"Gampang kamu bisa mengandalkanku untuk hal itu, kamu tahu kan wakil ketua OSIS, dia adalah sepupuku jadi aku bisa minta bocoran kepadanya" jawab Nasrul meyakinkan
"Sip" ucapku sambil mengangkat Dua jempol diarahkan kepada Nasrul.
"Emang kamu yakin bisa mendapat bocoran dari dia, siapa tahu aja sepupumu itu sama seperti mereka" tanya Heru merasa tidak yakin mungkin sebagian besar dari kakak kelas kita memiliki sifat buruk, jadi untuk mempercayai orang itu baik sangat susah.
"Tenang Aku punya senjata rahasianya kok, untuk membuka mulutnya agar bisa membantu kita" jawab Nasrul yang melirik ke arahku dengan senyum yang tidak bisa ku artikan.
"Aku punya uang segini, itung-itung nambahin, supaya kamu tidak menanggung semua beban kita" ujarku sambil mengeluarkan uang pecahan 1000 satu lembar, lalu diberikan kepada Nasrul.
Heru dan Nawir juga mengeluarkan uang jajan mereka yang tidak terpakai, karena pas waktu istirahat kita tidak jajan di kantin, melainkan memakan sajen yang seharusnya dikumpulkan dan sekarang jajan juga semuanya ditraktir oleh Nasrul.
"Apa-apaan kalian? Jangan menganggap aku Sahabat kalian kalau kalian seperti itu!" sanggah Nasrul dengan membulatkan mata.
"Seorang sahabat tidak akan membuat sahabatnya kesusahan" ujarku yang masih memberikan uang itu.
"Ambillah nanti kalau kurang kamu tambahin ya!" Pinta Heru memaksa.
Setelah dipaksa, dengan sangat berat hati nasrul pun mengambil uang pemberian dari kita untuk membeli kebutuhan-kebutuhan sajen yang harus dikumpulkan besok pagi.