konsekuensi

1440 Kata
Pov dalari Setelah para anggota OSIS itu pergi meninggalkan kami yang masih tampak geram atas kelakuan meraka, tak lama Bel istirahat berakhir berbunyi, menandakan para siswa baru harus masuk kembali ke ruangan MOS "Cepet amat ya udah masuk lagi" gerutu seorang siswa yang baru masuk sambil menenteng plastik makanan yang belum iya habiskan, padahal waktu istirahat tidak kurang dari 30 menit tapi waktu segitu sanat tidak cukup buat anak-anak seumuran kami yang masih hobi untuk bermain. Setelah semua siswa masuk dan duduk dengan rapi, guru pembimbing pun masuk ke ruangang MOS, untuk mempeekenalkan dirinya, sama seperti guru-guru sebelumnya beliau mengenalkan nama dengan pak Hendi. Semua guru di sekolah kami suamanya berjenis kelamin laki-laki, karena guru perempuan adalah hal yang tabu di desa kami, menurut pandangan mereka pekerjaan perempuan hanyalah di sumur, di dapur dan di kasur. Doktrin itulah ah yang tertanam di pemikiran-pemikiran mereka, sehingga jarang atau sama sekali tidak ada perempuan yang bekerja, semua sektor pekerjaan diisi oleh gender laki-laki. Pak Hendi Setelah dia memperkenalkan dirinya, beliau sama seperti seperti para guru-guru lainnya yang memberikan motivasi kepada siswa didik baru, dengan tema peselancar yang ulung tidak terlahir dari ombak yang tenang, menurutnya semakin besar cobaan maka akan semakin tangguh orangnya dicoba, dan beliau juga menjelaskan cobaan itu bisa dilihat dari diri kita, Karena tidak semua musibah Itu bisa disebut cobaan. Musibah terbagi tiga pertama bisa disebut cobaan, kedua disebut peringatan, ketiga disebut siksaan, untuk melihat bahwa kita sedang dicoba maka intropeksi diri adalah solusinya, ketika kita sedang berada di jalan yang benar terus musibah itu datang, maka kita harus yakin bahwa kita sedang dicoba. Pak Hendi terus memberikan motivasi-motivasi yang mungkin tidak akan kami lupakan, sampai-sampai waktu empat puluh menit terasa begitu cepat berlalu, karena ketika kita Mendapat penjelasan oleh ahlinya kita akan banyak menyerap pelajaran yang baru dan seru, sehingga yang memperhatikan tidak akan merasa jenuh, rasanya belajar itu sangat asyik, makanya tak terasan pak Hendi pun mengakhiri sesi pertemuan kali ini, dia berjanji akan bertemu lagi di mata pelajaran yang dia bimbing. Setelah selesai perkenalan guru, seperti biasa dilanjut dengan sesi game dari para pembina yang diisi oleh para anggota OSIS, kali ini yang mengisi game diisi langsung oleh ketua OSIS itu sendiri. "Sekarang game game-game seru sudah, perkenalan sudah, saatnya kita mengetes tanggung jawab kalian" ujar Arfan sambil berjalan ke sana kemari dengan angkuhnya. "Tanggung jawab itu adalah suatu kesadaran yang harus dilakukan dan bersedia menjalani resiko akibat perbuatannya, makanya kemarin kami dari para Pembina Masa Orientasi Siswa, menugaskan kalian membawa beberapa sajen yang harus Kalian bawa, apa kaliqj masih ingat apa saja saja yang harus di bawa" lanjut Arfan sambil menatap sinis ke arah di mana kami duduk, mungkin dia tau bahwa sajen kami sudah habis dimakan, pantas saja dia tadi melirik arah sisa-sisa makanan. "Gawat mana aku sudah memakan sajennya" gumamku sambil melirik ke arah sahabat-sahabat. Pancaran sorot mata mereka menandakan tidak sedang baik-baik aja mungkin merasakan keresahan yang sama dengan kerasahan yang aku rasakan sekarang. Arfan mendekati papan tulis lalu menulis angka satu sampai lima nanti akan diisi barang-barang dengan siswa lainnya. "Yang Pertama kali harus bawa apa" tanya Arfan dengan suara lantang sambil menujuk kearah angka satu. "Air desa" "Biskuit cium itali" "Snack melayang" "Premen dosa" "Cacing menggeliat" Teriak para siswa baru dengan antusias mengisi nomor-nomor yang ditunjuk oleh Arfan. "Ada yang lain lagi nggak" tanya Arfan sambil menatap ke arah para siswa. "Tidak ada" jawab sumua murid kompak "Apa kalian membawa yang tadi kalian sebutkan" Arfan bertanya lagi. Mendengar pertanyaan Arfan para siswa baru pun riuh karena tidak sedikit siswa baru yang tidak membawanya. mereka saling bertanya ya kepada teman yang ada di sampingnya, atau yang ada di depan sama di belakang yang mendekati mereka. Seperti kita berempat yang saling menatap bingung menghadapi situasi ini, bukan karena kami tidak membawanya tapi kita telah menghabiskan semua makanan itu tadi pas waktu istirahat. "Kayaknya kita akan dapat masalah lagi" desis Nawir yang nampak kekhawatiran deh mukanya. "Iya kenapa kita bodoh sih" sesal Heru menimpali "Maafin aku ya, Aku tidak tahu kejadiannya akan seperti ini" ujar Nasrul dia nampak menyesali perkataannya tadi- karena dialah yang memberikan ide untuk memakan sajen. "Jangan panik Ayo kita pikirkan solusinya" saranku memberi pengarahan supaya tetap tenang ,Padahal aku sendiri juga panik membayangkan apa yang akan dilakukan para anggota OSIS itu ketika meraka tahu bahwa musuh mereka melakukan keaalahan. "Bagaimana kalau kita kumpulkan saja bekas makanan tadi lalu kita Berikan sama mereka, sebagai bukti bahwa kita juga membawa permintaan mereka" saran Nawir setelah kami berpikir sangat lama Sebenarnya aku pengen menyanggah pendapatnya namun aku juga bingung harus memberikan solusi seperti apa. "Kayaknya ini bukan pendapat baik deh" aku menimpali pendapat Nawir. "Emang kamu punya solusi yang lain" tanya Heru sambil menatap ke arahku. Aku menggeleng kepala merasa bingung apa yang harus kami lakukan, namun Kalau mengikuti saran Nawir aku juga tidak setuju. "Ya udah kita coba aja saran Nawir, bawa atau enggak bawa mereka pasti akan terus mencari kesalahan kita" ujar Nasrul yang terlihat sangat pasrah dengan keadaan. "Diam diam diam" teriak Epul sambil memukul meja melihat para siswa masih riuh. Seketika ruangan pun menjadi hening lalu para siswa menyimak kembali apa yang mau disampaikan oleh para Pembina Masa Orientasi Siswa ini. "Sekarang silahkan kumpulkan Sajen yang kalian bawa ke depan, dan yang komplit bawaannya Silakan tunggu keluar, nanti setelah selesai akan kami panggil kembali, dimulai dari sebelah kanan" ujar Arfan sambil menunjuk bangku yang paling depan dari sebelah kanan. Siswa yang ditunjuk iapun bangkit membawa bungkusan menuju meja pemeriksaan, setelah para anggota OSIS mengecek bawaannya dia dipersilahkan untuk menunggu di luar karena bawaannya komplit, sesuai apa yang diperintahkan. Begitulah selanjutnya satu persatu para siswa menuju ke depan sambil membawa sajennya masing-masing, yang bawaannya komplit maka mereka akan disuruh keluar, sedangkan yang bawaannya kurang atau sama sekali tidak membawa maka mereka harus berdiri di depan. Tibalah giliran aku dan sahabat-sahabatku untuk diperiksa, Aku berjalan diikuti oleh para sahabat-sahabatku dengan detak jantung yang tidak beraturan, karena walau bagaimanapun ini adalah pekerjaan yang salah, karena kita kita akan memberikan mereka sampah, aku tidak tahu hukuman apa yang akan mereka berikan terhadapku dan sahabat-sahabatku. Setelah ada di meja depan pemeriksaan , Epul Ipul pun dengan Sigap memeriksa plastik yang aku setorkan. Setelah dia membuka barang bawaanku, terlihat matanya memerah dan giginya terkancing dengan napas yang sedikit memburu. Epul langsung bangkit, lalu menghampiri Arfan yang masih berdiri, mereka berbisik-bisik seolah lagi berdiskusi dengan sangat serius, terlihat Arfan sesekali memicingkan matanya ke arahku, sambil menyunggingkan senyum ancaman. Aku hanya bisa pasrah dengan apa yang akan mereka lakukan, karena ini adalah kesalahan yang tidak bisa ditolerir. Setelah mereka berdiskusi dengan sangat alot, Epul Kembali ke tempat duduk yang tadi dia tinggalkan, lalu dia memberikan bungkusan sampah kembali kepadaku, tanpa ada perkataan sedikitpun yang keluar dari mulutnya, hanya ada tetapan tajam yang memenuhi wajahku. "Aku harus ke mana Kak" Tanyaku denan sangat sopan memastikan harus berkumpul di luar atau di dalam. Epul hanya menunjuk ke arah tempat di mana siswa-siswa yang tidak membawa sajen dikumpulkan, setelah ada kepastian. Aku berjalan dengan gontai menuju tempat yang ditunjukkan, bak orang yang menerima putusan setelah penghakiman, namun langkahku terhenti ketika arfan Menghadang, mencegah untuk aku bergabung dengan para siswa lainnya. "Kamu berdiri di situ!" seru Arfan menunjuk sisi samping yang terpisah dari siswa-siswa yang melanggar, lalu sahabatku mengikuti berdiri di samping karena mereka juga melakukan kesalahan yang sama. Setelah pemeriksaan selesai, para siswa yang tadi disuruh keluar, mereka dipersilahkan masuk kembali untuk menyaksikan teman-temannya dihukum. "Ini adalah orang-orang yang tidak bertanggung jawab atas semua kewajibannya, menganggap hal ini tidak penting padahal ini sangat penting sekali" ujar Arpan setelah melihat para siswa baru duduk dengan tertib. Lalu Arfan menanyai satu persatu alasan kenapa mereka tidak bertanggung jawab, namun ada hal yang menggelitik pikiranku, ketika ada siswa yang memberikan alasan tidak masuk akal, namun Arfan mempersilakannya duduk kembali tanpa ada hukuman apapun. "Itu temanku, yang Berikan upeti sama para senior" bisik Nasrul yang berdiri di sampingku Aku hanya mengangguk-anggukan kepala, mengerti dengan situasi yang terjadi sekarang, jadi di ketika kita mengikuti kemauan mereka. Maka maka kita akan terbebas dari hukuman Sebesar apapun kesalahan yang kita lakukan, Setelah arfann menyeleksi beberapa siswa yang terbebas dari hukuman, lalu Dia menyuruh sisanya untuk melakukan skot jump sebagai hukuman mereka karena tidak membawa sajen. Setelah selesai menghukum para siswa, Arfan mendekati ke arah dimana Kami sedang berdiri, tampak senyum kemenangan Terukir di bibirnya, membuat jantungku berasa dag dig dug, walau bagaimanapun Kami tetap salah, sehingga rasa tidak nyaman ini,keluar dari tubuh kami. Namun apapun yang terjadi, aku harus tetap menjalaninya, karena ini adalah konsekuensi dari apa yang aku lakukan, mau tidak mau aku harus tetap mempertanggungjawabkan sesuai dengan prinsip tanggung jawab yang tadi arfan sampaikan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN