Pov dalari
Sesi game pun selesai, dan akhirnnya waktu istirahat itu tiba, semua siswa berhamburan keluar Mengisi waktu istirahat mereka, dengan jajan di kantin Atau aja ngobrol-ngobrol sama temannya. Tersisa Kami bertiga yang masih merasa dongkol Atas kejadian tadi.
"Kekantin enggak" tanya Nasrul sambil menatapku sama Heru
Aku dan Heru kompak menggelengkan kepala menandakan penolakan atas ajakan Nasrul.
"Iya sih nanti ketemu orang-orang yang sok senior itu, rasanya mau muntah kalau melihat tampang-tampang mereka" Nasrul membenarkan pendapat-pendapat kita.
"Iya mendingan kita melihat bagaimana kondisi Nawir sekarang" saranku sama mereka.
"Ide bagus tuh, kelihatannya dia terluka sangat parah" timpal Heru.
"Ya udah ayo! kita ke ruang P3K , siapa tahu dia sudah baikan" saran Nasrul.
Kami bertiga pun bangkit dari tempat duduk untuk mengetahui keadaan sahabat kami, namun ketika hendak keluar terlihat Bawir berjalan dengan gontai menuju ke arah kelas yang yang dijadikan aula MOS.
"Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Heru yang terlihat sangat cemas.
Nawir hanya senyum kecut menatap ke arah Heru, lalu dia mengajak kami untuk duduk kembali ke tempat semula.
"Kurang ajar tuh si Azis" Ungkap Nawir ketika kami sudah duduk dengan benar.
"Kenapa emang" tanya Nasrul menatap heran ke arah Nawir.
"Aku terjatuh karena dia mentekel kakiku, ketika aku melewatinya" jelas Nawir yang membuat kami melongo tidak menyangka karena kejadian waktu tadi sangat cepat, jadi kami tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi kepada Nawir.
"Kurang ajar" dengus Heru dengan sangat kesal terlihat dia menghafalkan tangan lalu mamukulkan ke telapak tanganya.
"Kayaknya kita, memang diincar sama mereka Mungkin gara-gara kemarin kita tidak mau membayar jajanan mereka" ucap Nasrul mengingat kejadian waktu kemarin di kantin sekolah
"Payah mereka, beraninya sama kita yang masih baru bagaimana dengan anak anak baru lainnya apa mereka mendapat perlakuan yang sama seperti kita?" Tanya aku sambil menatap satu persatu sahabat.
"Kalau temanku mereka membayar uang keamanan setengah dari uang jajan mereka Jadi mungkin mereka aman" ucap Nasrul memberikan penjelasan.
"Ini tidak bisa dibiarkan kita harus melawan mereka" saran Heru yang masih terlihat kesal.
"Bagaimana kita melawan mereka, kalau kita melawan itu sama saja seperti timun melawan durian" jelasku mengingat kita tidak punya kekuatan untuk melawan mereka namanya penguasa itu sangat susah untuk Kita kalahkan.
"Iya, kalau begitu bingung juga ya, Nanti kita pikirkan gimana kita membalas perlakuan mereka sekarang aku lapar Ayo kita ke kantin" ucap Nawir sambil mengerenyitkan dahinya.
"Kalau ke kantin, nanti kita ketemu mereka, males aja sih kalau ribut, bukannya aku takut, soalnya untuk sekarang sebaiknya kita menghindari kontak sama mereka, sambil kita menyusun rencana bagaimana kita membalas perlakuan mereka, saran Heru memberikan ide cemerlang.
Nawir hanya manggut-manggut tanda dia juga menyetujui apa yang diutarakan oleh Heru
"Ya benar juga sih, bahkan tadi ketika aku di ruang P3K aku sempat diancam oleh Epul, katanya ini yang terjadi padaku, itu sebagai permulaan dari ancaman mereka sebelumnya, tapi bagaimana kita punya tenaga menghadapi mereka, kalau kita tidak mau keluar untuk mengisi kekuatan kita" ucap Nawir
"Jangan khawatir kalau untuk makanan kita kan punya Sajen untuk mereka" potong Nasrul.
Nasrul Mengingatkan bahwa kita mempunyai makanan ringan yang dimintai oleh para anggota OSIS sebagai salah satu tugas di acara MOS. Yaitu mengumpulkan makanan-makanan dengan bahasa bahasa khasMOS seperti rambut keriting itu berarti mie dan seterusnya.
Seperti hari ini kita disuruh mengumpulkan makanan mulai dari snack, biskuit, air dan lainnya dengan nama-nama yang diplesetkan.
"Terus nanti bagaimana, kalau kita disuruh mengumpulkan" tanya Heru terlihat raut mukanya menunjukkan kekhawatiran.
"Nggak mungkin dikumpulkan, kalau mereka mau mengumpulkannya mungkin sudah sedari pagi mereka memintanya" ucap Nasrul
"Iya ya benar juga kalau mereka mau mengumpulkan kenapa nggak dari pagi" ujar Nawir membenarkan apa yang dikatakan oleh Nasrul
Akhirnya kita pun membuka sajen yang dibawa dari rumah masing-masing untuk mengganjal perut yang sudah mulai keroncongan.
"Kita ini mau sekolah, tapi kenapa perlakuan ini yang kita dapatkan" Sesal Heru
"Iya juga ya, seharusnya guru itu memantau Apa yang terjadi ketika pelaksanaan Masa Orientasi Siswa, apa jangan-jangan mereka berkomplot" prasangka buruk ku menyeruak.
"Bisa jadi, karena ruangan kita sama ruangan guru hanya terhalang satu kelas, jadi tidak mungkinlah mereka tidak mengetahui apa kejadian yang sebenarnya" jelas Nawir
"Kalau guru tidak melindungi terus sama siapa kita mengadukan Kejadian ini" tanya Nasrul yang mungkin sama dengan pertanyaan kita semua yang ada disini.
Namun pertanyaan itu tidak akan ada jawaban, karena orang yang ditanya tidak ada di tempat ini dan tidak mungkin juga untuk bertanya langsung sama mereka, mengingat mungkin ini adalah hal yang mungkin biasa bagi mereka jadi akan sia-sia.
"Kita tidak boleh bergantung sama orang lain kita harus berusaha melawan mereka" pinta Heru dengan semangat juang empat lima.
"Terus bagaimana kita melawan mereka kan tadi sudah aku bilang bahwa melawan mereka sama saja kita melawan durian" aku mengingatkan.
Ketika kami lagi membahas strategi untuk membalas atau memberikan pelajaran terhadap para senior-senior itu, pembicaraan terhenti karena ada sekelompok orang yang masuk menghampiri tempat duduk kami.
"Mau mau apa kalian datang kesini" tanya Heru sambil menatap tajam kearah orang-orang yang baru datang.
"Ya suka-suka kami dong emangnya ini sekolah punya bapakmu" jawab Rohman sambil menatap sinis ke arah Heru nampaknya dia masih punya dendam Setelah dia terjatuh saat didorong Heru.
"Kalian tidak malu memanfaatkan kekuasaan untuk menindas orang-orang kecil seperti kami" tanya Nasrul yang masih menatap ke arah gerombolan orang gitu.
"Makanya kalau merasa sampah jangan membuat kesalahan, ikuti saja kemauan kami maka kalian akan aman" ucap aziz memberikan saran kepada kita.
"Kesalahan apa yang kami buat. Padahal kami tidak melakukan apa-apa, kenal saja baru" Tanyaku menatap heran ke arah mereka.
"Eh kang sampah, Makanya jangan ngurusin sampah melulu jadi otakmu tidak berfungsi" seluroh Epul menimpali perkataanku.
"Bener kata kak azis Kalau kalian mau aman, maka kalian harus memberikan uang jajan kalian kepada kami, maka kalian akan aman" saran Arfan berikan solusi masalah yang kita hadapi.
"Cuuh Kami tidak akan rela menyerahkan uang jajan kami, ini adalah hak kami, maka kami akan mempertahankannya" ucap Heru sambil menatap garam mereka.
"Kalau tidak mau semuanya maka kami akan memberikan keringanan buat kalian" ucap Arfan dengan suara lembut namun penuh penekanan.
"Keringan seperti apa yang akan kalian berikan?" Tanyaku penasaran berharap semua ini akan selasai.
"Ya kalau tidak semuanya, minimal kalian Memberikan sebagian uang jajan kalian kepada kami, maka aku jamin kalian akan aman dan nyaman bersekolah di tempat ini" saran Arfaan sambil sambil mengangkat sudut bibirnya.
"Hah Apa kalian nggak malu meminta-minta seperti itu, mending sekarang kalian ganti baju kalian, lalu pergi ke lampu merah, mengemis tuh di sana" ledek Nawir membuat kita tertawa dengan sangat keras.
Azis pun mendekat ke arah Nawir lalu mengangkat kerah bajunya.
"Apa kejadian tadi masih kurang" bentak azis sambil mendekatkan mukanya ke arah Nawir.
" apaan baru segitu doang saja udah bangga, kalau berani kamu jangan di sekolah kita selesaikan di luar kalau kamu punya togkat" tantang Nawir sambil memukul tangan Azis dengan sendi mata tangan dengan sangat keras.
Tangan tangan Azis terlepas mungkin tidak kuat menahan rasa sakit yang diterima dari pukulan itu, mengingat tangan Nawir hanya diisi oleh tulang-tulang keras yang diselimuti kulit.
"Sial4n kamu" pekik Azis sambil mengusap-ngusap tangannya yang masih terasa ngilu.
Nawir hanya menyunggingkan bibirnya sambil menatap sinis ke arah ah Aziz yang masih meringis kesakitan, Melihat kejadian seperti itu anggota-anggota OSIS lainya dengan cepat menggerumuni Nawir untuk membalaskan kesakitan temannya, namun Arfan menahan mereka.
"Kalian jangan bodoh, Kita balas mereka dengan cara elegan, bukan mengandalkan otot seperti orang yang yang tidak punya otak" bentak Arfan dengan nada tinggi menghentikan langkah teman-temannya.
Tak seperti biasanya Arfan berbicara sambil berteriak seperti barusan, menandakan bahwa dia orang yang sangat cerdik namun licik.
"Kalau Arfan tidak menahan kami udah habis kalian" bentak Epul sambil menunjuk wajah Nawir.
"Hahaha hahaha" ejek Nawir semakin membuat mereka kepanasan
"Oh oh ternyata kalian hanya kebo yang menurut sama tukang angonnya" Heru menambahkan ejekan membuat mereka kembali mendekati kita.
"Sudah sudah kalian jangan bodoh!!" Pekik arpan lagi sambil menarik beberapa temannya supaya menjauh dari kita.
"Tunggu pembalasanku" ucapan Arfan penuh arti sambil melirik ke arah makanan yang telah kami habiskan entah apa Maksudnya kita tidak tahu.
Arfan lalu menarik teman-temannya pergi meninggalkan tempat kami sambil menyuntingkan senyum ancaman.
"Ok kami tunggu" teriak heru.