hukuman putaran keseimbangan

1445 Kata
Pov dalari Hari kedua di Masa Orientasi Siswa. diisi dengan perkenalan para guru dan diselingi game-game seru, mulai dari kelompok dan baris, game ini biasanya menyusun urutan abjad atau angka berhubungan dengan peserta, baik dari nama tanggal lahir dan lainnya yang penting sesuai dengan urutan atau kelompok. Selesai game pertama, dilanjutkan dengan pengenalan guru lainnya lalu dilanjutkan game lagi, kali ini diisi dengan tepuk tangan aturannya ketika moderator bilang selamat pagi maka tepuk tangannya sekali, ketika bilang selamat siang tepuk tangannya dua kali dan begitu juga Selamat malam itu tepuk tangan tiga kali. Game ini adalah ketangkasan dan daya ingat, lanjut siapa yang salah maka dia akan mendapatkan hukuman seperti yang dilakukan sahabatku Nawir. Dia terpaksa maju ke depan beserta murid-murid lainnya untuk mendapatkan hukumannya. Sesampainya didepan, Mereka berdiri menghadap para siswa lalu para Pembina berjalan di hadapannya bersiap untuk memberi hukumannya. "Apa hukuman yang pantas buat mereka" tanya moderator yang diisi orang yang bernama Azis Para siswa hanya diam dan tak tahu apa yang di maksud, mungkin bagi mereka, ini adalah hal yang baru, namanya juga siswa baru mereka tidak akan tahu apa yang harus dilakukan. "Bagaimanakah kak Pembina" tanya azis melempar pertanyaan sambil melirik ke arah para Pembina yang diisi oleh anggota OSIS. "Putaran keseimbangan" jawab mereka serempak Mendengar putaran keseimbangan kami para siswa baru hanya menatap ke arah mereka karena tidak tahu apa yang mereka maksud. "Boleh Bagaimana Apa kalian setuju " tanya aziz melempar pertanyaan itu kepada para siswa. "Setuju" jawab para siswa kompak "Oke kalau itu yang kalian mau, saya akan menjelaskan tentang peraturan hukuman keseimbangan, Jadi mereka harus memutar tubuhnya dengan titik putar, tangan kanan sedangkan tangan kiri memegang telinga melewati ketiak tangan kanan jadi mereka berputar harus dengan cara bukan tubuhnya supaya tangan kanan mereka nyampe ke tanah" jelas Azis sambil menyuruh rekannya untuk mempraktekkan. "Seperti itu Apa kalian paham" tanya Azis kepada para siswa yang kena hukuman. Yang ditanya hanya mengangguk, mungkin mereka Paham karena mereka telah melihat contohnya, yang dilakukan oleh anggota Pembina lainnya. "Kalau sudah berputar sepuluh kali, maka kalian harus berjalan dari sini sampai sana sana, sambil menunjuk dinding sebelah kanan sampai sebelah kiri Setelah Azis menjelaskan semua peraturannya maka hukuman itu mulai dijalankan. Dimulai dari sebelah kiri para siswa yang kena hukuman satu persatu mereka melakukan apa yang diperintahkan oleh para pembina MOS itu. Banyak dari mereka yang sudah jatuh duluan sebelum menyelesaikan putarannya, mungkin karena tidak kuat menahan rasa pusing, karena jangankan untuk berjalan untuk berdiri pun mereka tergontai tidak mampu menopang tubuhnya. Ada Juga yang mampu berdiri tapi untuk berjalan mereka hanya bisa melakukan 2 langkah selalu mereka terjatuh begitu terus. Sampai Tiba giliran Nawir untuk menjalankan hukumannya. Dia menuju titik yang telah ditentukan untuk memutar tubuhnya, dengan posisi tangan kiri melipat melewati ketiak tangan kanan untuk memegang telinga sedangkan jari tangan kanannya menyentuh ubin sebagai titik putaran. Lalu para anggota OSIS itu menghitung putaran, tapo ada keanehan ketika menghitung putaran Nawir mereka menghitung selalu diulang bahkan seharusnya sepuluh putaran, namun untuk Nawir ketika dihitung dengan benar maka itu menjadi lima belas putaran. Setelah selesai memutar tubuhnya, Nawir berjalan menuju dinding sebelah kiri nampaknya Ia memiliki tubuh yang sangat bagus, sehingga dia masih bisa berjalan sampai setengah jarak yang ditentukan namun tiba-tiba. Bruuuuk Tubuh Nawir tersungkur bahkan menabrak meja yang paling depan, terlihat jelas jidatnya menabrak pinggiran meja, para anggota OSIS itu tertawa dengan terbahak-bahak melihat kejadian itu tanpa merasa bersalah, mungkin ini menurut mereka adalah hiburan yang menyenangkan. Melihat nawir yang tak kunjung bangun, karena tertutup oleh meja-meja sehingga aku tidak bisa melihat dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi padanya. aku dan kedua sahabatku, mereka saling menatap khawatir takut terjadi apa-apa sama nawir, merasa keingin tauanku sangat tinggi dan rasa khawtir menyelimuti tubuh. Aku memutuskan untuk maju ke depan supaya bisa mengetahui Apa yang terjadi sama Nawir. Aku kaget melihat Nawir yang berbaring dengan memiringkan tubuhnya, Mungkin dia sangat pusing sehingga dia tidak bisa bangkit lagi, kudekati dia Lalu membalikan badannya supaya terlentang biar pernapasanya lancar. Setelah badannya terbalik aku shok merlihat darah keluar dari hidungnya membasihi bibir beberap kali keluar eregan pelan dari mulutnya, karena wajahnya yang terbentur meja mungkin sangat keras sehingga membuatnya seperti ini. "Diaaaaaaaam" teriakku memecahkan riuh tawa yang mengisi ruangan sehingga ruangan itu Menjadi sunyi. "Kamu jangan teriak-teriak Emangnya ini di hutan" bentak Epul yang duduk di kursi si para anggota OSIS. "Kalian masih bisa tertawa, Coba lihat apa yang kalian lakukan" sambil menunjukkan darah yang keluar dari hidung Nawir Mendengar ucapan seperti itu Heru dan Nasrul berlari menuju tempatku mereka juga penasaran apa yang sebenarnya terjadi kepada sahabantnya. Suasana kelas pun menjadi gaduh melihat kengerian seperti ini, ada beberapa pembina menghampiri lalu menyuruh kami untuk duduk kembali. "Terus ini bagaimana" Tanyaku sambil menatap tajam kearah mereka "Kalain jangan sok jadi pahlawan ini sudah jadi tanggung jawab Kami kalian duduk saja lagi" ujar Arfan sambil memegang tubuh Nawir mungkin dia mau memastikan keberadaan nawir "Kalian mau apakan nawir" tanya Heru seolah tidak setuju Apa yang dilakukan oleh Arfan "Kami mau menolongnya sudah kalian duduk," bentak arfan dengan mata memerah. Nawir akhirnya digotong oleh para anggota OSIS, menuju tempat perawatan, melihat tubuh Nawir yang terus mengeluarkan darah aku merasa geram dengan ulah ang mereka lakukan tapi tidak bisa berbuat apa-apa. "Sudah kalian kembali lagi ke tempat masing-masing" perintah Azis yang sedari tadi diam memperhatikan kejdian yang terjadi dengan wajah cuek tak nampak sedikit kekhawatiri terliah dari mukanya. "Kalian jangan seperti ini kalian harus mengutamakan keselamatan para siswa, jangan sampai hanya dengan game ini ada yang terluka" pinta Heru dengan suara bergetar menahan amarah yang tertahan di d**a. "Sudah kalian duduk, jangan banyak ngomel kaya emak emak dipasar, kami melakukan semua ini sudau sesuai kesepakan semua pembina dan para guru" perintah Azis lagi sambil membulatkan matanya menatap tajam kearah kami yang masih berdiri di depan kelas, membalas tatapan satu persatu dari anggota OSIS itu. "Apa kalian budeg" seloroh orang yang sedari tadi duduk lalu mendekati kami yang lagi berdebat. "Mereka bukan budeg Man, tapi mereka bodoh seperti bebek, Makanya mereka tidak mengerti apa yang kita bicarakan" Timpal Azis dengan sangat lantang suaranya memenuhi ruangan. "Sudah duduk lagi" bentak Rohman sambil mendorong tubuhku dengan sangat kuat namun itu tidak ada apa-apanya dibandingkan tubuhku yang sudah terlatih untuk menerima hal selerti itu. "Awas aja kalau terjadi sesuatu sama teman kami" ncamku menatap tajam kedua bola mata Rohman, lalu mengebaskan tangannya yang masih menempel di dadaku dengan sangat kuat, sehingga dia terpental ke arah samping namun dia cepat menguasai tubuhnya sehingga tidak terjatuh. "Eh tukang sampah!!! jangan berlaga sok di sini, kamu itu hanya tukang sampah tidak pantas untuk sekolah" ucap Rohman mengancam balik sambil menunjuk mukaku Mendengar ucapan seperti itu tiba-tiba heru yang tadi berdiri belakangku, maju ke depan lalu mendorong tubuh Rohman sampai dia terjatuh ke belakang dengan posisi duduk denga tangan kebelakang menupang tubuh agar tidak terjungkal. "Jangan menghina, saya malu punya kakak kelas yang tidak beratitude seperti kalian" bentak Heru sambil menatap tajam kearah Rohman. Nasul yang dari tadi diam akhirnya dia menggenggam pergelangan tanganku dan tangan Heru untuk menariknya kembali duduk kebelakang supaya kita berdua tenang kembali tidak emosi seperti sekarang. "Ayo kita duduk lagi "ucap Nasrul mengajak Aku dan Heru tak bergeming menanggap perkataan Nasrul, rasa amarah yang sudah udah mencapai ke ubun-ubun sehingga kita tidak bisa berpikir jernih. "Kalian jangan macam-macam ini baru permulaan kita bersekola, nanti kamu bisa dikeluarkan. Walau Bagaimanapun kita akan tetap salah, ingat kamu untuk mencapai seperti ini kamu butuh perjuangan jangan sampai perjuanganmu sia-sia hanya karena masalah sepele" bisik Nasrul di telingaku "Nanti kamu bisa dikeluarkan oleh pihak sekolah karena kamu tidak mengikuti peraturan" Nasrul menambahkan peringatannya "Ayo duduk sebelum ada guru yang mengetahui kita" nasrul yang masih berbisik kemudian ia menarik tanganku. Dengan lemas aku mengikuti perintahnya tak lupa juga kita menarik tangan Heru yang masih terlihat nafasnya sangat memburu. Awalnya dia juga menolak sama sepertiku namun ketika kami kompak menariknya akhirnya dia mau mengikuti Kembali ke tempat duduk yang terletak di belakang. Ketika kita berjalan menuju tempat duduk, teriakan pun sangat keras menyoraki kami seolah Kami adalah tahanan yang lagi berjalan melewati kerumunan massa. "Makanya kalian harus hormat sama senior" teriak seseorang dari arah depan. Setelah kami duduk kembali suasana pun menjadi tenang kembali, seperti sebelum kejadian terjatuhnya Nawir, mengingat nawir meski sudah dapat penanganan tapi Kami bertiga masih merasa khawatir tentang keselamtanya. "Kalian semua jangan meniru kelakuan mereka, karena namanya kecelakaan tidak ada yang tahu dan juga ada yang mau, jadi kalian Jangan menganggap merasa paling benar dan satu lagi kami tegaskan kalian harus kita menghormati orang yang lebih tua dari kalian" pesan Azis sambil menyunggingkan senyum sinis kearah Kami bertiga "Apa kalian paham" teriak Rohman menabah perkataan aziz "Paham" jawab semua siswa dengan kompak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN