Pov dalari
Pagi itu semua siswa baru dikumpulkan di aula sekolah, sebenarnya sih ini bukan aula, cuma dua ruang kelas yang dijadikan menjadi satu, karena dinding pembatasnya terbuat dari triplek jadi bisa di buka ketiaka ada acara acara besar.
"Pasal satu senior tidak pernah salah, pasal dua kalau senior salah lihat pasal satu" Celoteh seseorang yang mengaku ketua OSIS
Ketua OSIS itu namanya Arfan dia anak kelas tiga, dan mereka yang duduk di depan adalah anggota anggata osis, mereka duduk dengan sangat angkuh seperti lagi menunjukkan taringnya sebagai senior disekolah.
Aku hanya saling menatap sama teman sebangku yang baru aku kenal tadi pagi, dia namanya Nawir
"Emangnya senior itu malaikat ya, masa iya tidak pernah salah" Celoteh seseorang yang duduk di bangku depan meski mereka berbisik tapi suaranya Terdengar sangat jelas mungkin karena tempat duduk kita berdekatan.
"Mungkin Malaikat Tak Bersayap kali" sahut orang yang duduk di samping.
Mereka berdua menahan tawa terlihat dari pundak mereka yang naik sambil mereka menutup mulut, menyembunyikan rasa geli.
Arfan memperkenalkan satu-persatu anggotanya mulai dari wakil ketua OSIS yang diisi oleh Fatimah, fatimah Iya Dia gadis yang sempat menamparku dulu, pas kita belum saling kenal, sekarang dia sudah duduk di bangku kelas 2 MTS dan menyandang wakil ketua osis.
Ketika Fatimah memperkenalkan diri, pengisi ruangan pun menjadi riuh, memang kami masih bocah ingusan, tapi kami tahu mana wanita yang sangat cantik dan mana wanita yang tidak cantik, ketika fatiah berbicara tak sedikit dari kami yang bersiul, dan bersorak sampai-sampai Arfan memukul meja supaya menjadi tenang kembali.
Wajah Fatimah pun memerah menahan malu seperti tomat, Tapi itu Malah menambah kecantikannya.
Setelah Fatimah memperkenalkan diri, lalu dilanjutkan dengan anggota OSIS OSIS yang lainnya. Setelah selesai memperkenalkan keanggotaan OSIS dan Pembina penerimaan siswa baru sudah selesai, nanti akan dilanjutkan setelah beristirahat.
"Ke kantin enggak" tanya siswa kepada temannya yang yang tadi mengejek pembina.
"Ayo" jawab temannya sambil bangkit dari tempat duduknya
"Kalian nggak ke kantin" tanya salah satu dari mereka sambil menatap darahku dan Nawir
"Aku menggelengkan kepala tanda menolaknya. Karena perut terasa masih kenyang. Setelah diisi sarapan tadi di rumah Pak Chandra
"Ikut dong" jawab Nawir sambil bangkit dari tempat duduknya
"Oh iya kita belum kenalan mamaku Nasrul dan ini namanya Heru" ujar orang yang bernama Nasrul sambil mengulurkan tangan diikuti oleh orang yang bernama Heru
"Nawir"
"Dalari" jawabku sambil menjabat tangan mereka
"Beneran kamu nggak mau ikut" tanya Nasrul memastikan kembali sambil menatap ke arahku
"Enggak kebetulan tadi saya sebelum berangkat sudah sarapan banyak"
"Ayo ikut saja, nanti aku yang traktir" ujar Nasrul sambil menarik pergelangan tanganku
Mau tidak mau aku bangkit, lalu mengikuti mereka menuju ke sebuah tempat yang yang bernama kantin, sebenarnya ini tidak pantas untuk disebut kantin. karena tempat ini hanya bangunan yang terpisah dari sekolah bentuknya seperti jongkok warung-warung pada umumnya.
Mereka menjual mulai dari makanan ringan sampai berat dari mulai gorengan bakso mie instan dan lain-lain.
"Dalari" Panggil seseorang wanita ketika melewati ruang kelas
Aku menoleh ke arah datangnya suara untuk memastikan Siapa yang memanggil namaku, terlihat di situ ada sekumpulan cewek-cewek yang sedang duduk diruang kelas sambil menyantap makanannya. salah satu dari mereka adalah orang yang sangat aku kenal
"Iya ada apa" jawab ku menghentikan langkah
"Kamu nggak minta tanda tangan ke kita-kita" tanya seseorang yang duduk di samping Fatimah
Aku hanya menggeleng kepala lalu melanjutkan langkah bersama teman-temanku
"Ih sombong banget" Ketus seseorang salah satu dari mereka
Sesampainya di kantin terlihat geng OSIS sedang duduk memenuhi bangku panjang yang disediakan oleh penjaga kantin untuk orang yang jajan
"Kita makan di dalam kelas aja ya" ujar Heru ketika tahu para kakak kelas menatap sinis kearah kami lalu dia mengisi kertas dengan gorengan.
Nasrul dan Nawirpun mengikuti Heru, mereka berdua mengambil kertas lalu mengisinya dengan makanan.
"Totalnya jadi berapa teh" tanya Nasrul sambil menyebutkan jajanan yang mereka ambil
"Totalnya semua Rp3.000" jawab Teteh teteh penjaga warung
"Nasrul pun mengeluarkan uang 2000 lalu menoleh ke arah heru dan Nawir untuk menambah pembayarannya, yang ditoleh mereka berdua apa yang dimaksud, dengan kompak mengeluarkan uang masing masing sebesar Rp500.
"Beneran kamu gak mau jajan, aku masih ada uang kok" tanya Nasrul sambil mengeluarkan uang Rp1.000 lalu memberikannya padaku
"Enggak nanti minta aja" jawabku sambil menunduk
"Jangan seperti itu. Yaudah tambah lagi gorengan aja ya" sarannya sambil mengambil 5 gorengan lalu memberikan uang keoada penjaga warung, yang hendak tadi Ia berikan padaku
"Terima kasih" ujarku Lirih mengingat kebaikanya.
Ketika kami hendak meninggalkan kantin sekolah, seseorang dari anggota OSIS bergegas menghampiri kami.
"Eh kamu, kok cuma dia yang di bayarin, sekalian bayarin punya kita dong" serobot seseorang yang berkulit coklat.
"Buat apa" tanya Nasrul sambil menatap kearah orang yang ada di hadapannya.
"Kamu itu anak baru, harus hormati kita dong" jelas orang itu
"Ya buat apa, Terus apa gunanya Saya membayari jajanan kalian" jawab Nasrul dengan kesal
"Pokoknya bayar aja atau tunggu nanti pembalasan kami" tatapanya memenuhui muka nasrul
"Uangku sudah habis, jadi mohon maaf aku tidak bisa membayar makanan kalian" sanggah Nasrul terlihat diwajahnya masih menyimpan kekesalan.
"Halah kamu pelit, bukannya Bapakmu punya toko grosir" bentak orang itu
"Ya udah Jangan diterusin Rul Ayo kita ke kelas" ajakku menengahi mereka
"Eh kamu tukang sampah, jangan sok-sokan pakai belain dia segala" bentak orang itu sambil tetap tajam ke arahku
"Terus mau apa kalian kalau kami tidak membayari makanan kaliah" Seloroh Heru yang terlihat sangat geram melihat keangkuhan orang yang ada di hadapannya.
Melihat ada keributan arfan yang sedari tadi duduk Dia bangkit lalu menghampiri kami.
"Gimana pul, apa Dia mau bayarin kita nggak" tanyanya kepada orang yang bernama epul itu
"Mereka sangat pelit Pan, kayaknya kita harus beri pelajaran" saran epul sambil menatap sinis ke arah kami bak macan yang lagi mengintai mangsanya.
"Mau bayarin nggak atau kalian akan menanggung akibatnya" ancam Arfan suaranya lembut tapi penuh penekanan
"Enggak" jawab Heru ketus
"Ya udah Tunggu saja pembalasanku ucap" arfan sambil menatap sinis kearh heru.
"Oke, kami tunggu anda jual kami beli" jawab Heru menantang.
Melihat kami meberikan perlawanan. Epul sangat geram dia mengancingkan gigi matanya mulai memerah, lalu tangan kanannya dipukul-pukul ke telapak telapak tangan kirinya menandakan ancaman mereka serius.
Tak mau berkepanjangan akupun mengajak teman temanku pergi meninggalkan mereka yang masih berdiri menatap kepergian kami
"Ada-ada aja ya, padahal kalau nggak punya duit gak usah jajan" geruru Heru yang masih terlihat sangat kesal
"Namanya juga senior, mereka kan tak pernah salah kalaupun salah lihat pasal satu" Timpal Nawir sambil menyunggikan bibirnya.
" oh iya Kok mereka pada kenal kamu dal, padahal kamu juga sama anak baru, dari mulai cewek-cewek tadi sampai anggota OSIS yang menghinamu" tanya Nasrul sesampainya di kelas
"Oh itu, Aku kan tukang bersih-bersih di sekolah, jadi sebelum kalian datang Aku sudah membersihkan teras sama halaman serta ruang guru, makanya mereka panggil aku tukang sampah, mungkin mereka sering lihat" Jawab dengan jujur
"Wah hebat kamu masih kecil udah bisa menghasilkan uang" puji heru.
"Gak ada hebat hebatnya, ini cuma kebutuhan bahkan aku bisa sekolah di sini, karena aku jadi tukang bersih-bersih, bukan karena aku punya biaya kalau aku mempunyai biaya mungkin dari tahun kemarin aku sudah sekolah" terangku lirih
Dadaku terasa sesak sehingga membuat netraku perih melihat, mataku berkaca-kaca mereka menjadi tidak enak
"Udah nggak apa-apa kamu hebat" nasrul menambahkan pujian heru.
"Emang kalian gak malu berteman dengan tukang sampah" Tanyaku sambil menatap satu persatu dari mereka
"Enggak lah kita berteman sama siapa aja, yang penting dia itu baik pengertian sama kita, kalau aku sih oke-oke aja" jawab Nasrul sambil mengunyah gorengan
"Terima kasih ya semoga kalian tetap terus menjadi orang yang baik" aku menatap nanar mereka
"Udah kamu jangan minder, kita disini adalah temanmu yang akan selalu ada dan siap membantumu" ujar Heru sambil mengulurkan tangan lalu diikuti dengan nasul, Nawir dan akupun mengikutinya memegang tangan mereka, dengan ini persahabatan kita dimulai dan berjanji akan saling membantu di setiap suka maupun duka.