perpisahan

1310 Kata
Pov dalari Malamnya sehabis Isya aku dan Bang Fahmi duduk di bangku yang ada di bawah pohon, ini sengaja dibuat oleh para santri untuk sekedar nongkrong atau menunggu masakan matang karena letaknya dekat dengan tungku masak. Kita menikmati malam Ditemani dengan 2 gelas kopi, yang baru diseduh, kita kita duduk di sini hanya berdua, karena para santri lain Biasanya kalau tidak belajar di pondok. Mereka menonton televisi di rumah tetangga atau warung. "Gimana Bang jadi pindah dari sini ini" Aku memulai pembicaraan menanyakan tentang kelanjutan bang pahmi antara tetap mondok di sini atau melanjutkan sekolah di rumah orang tuanya, karena dia sudah menyelesaikan ujian akhir nasional, tinggal menunggu pemberitahuan kelulusan. "Belum pasti sih cuman tadi malam, saya sudah menemui Akang untuk meminta pendapatnya. Seperti apa Baiknya" jawab bangpahmi sambil menghela nafas dalam. "Terus menurut pendapat Akang Bagaimana" tanyaku sambil menyeruput kopi. "Akang sih sepenuhnya memberikan pilihan itu tergantung sama aku sendiri. cuma beliau hanya memberi saran, kalau dengan adanya kita dirumah bisa mempertahankan keutuhan rumah tangga orang tua. Alangkah baiknya kita tinggal di rumah, karena perceraian walaupun halal itu sangat dibenci oleh Allah, bahkan ada tatacara untuk menyelesaikan persoalan sebelum perceraian, diantaeq harusnya ada mediasi dari kedua belah pihak, baik dari pihak laki-laki maupun dari pihak perempuan, namun ketika yang jadi mediasi itu adalah anaknya itu sangat dianjurkan. karena anak lebih berhak daripada keluarga yang lain" jelas Bang Fahmi. "Terus kedepannya nya apa yang akan dilakukan bang" Tanyaku penasaran karena belum mendapat jawaban darinya "Melihat permasalahan mereka, mau tidak mau, aku harus pulang ke rumah. Semoga saja dengan kehadiranku, mereka bisa berbaikan, karena mereka masih mempunyai anak yang butuh figur orang tua" "Ya kalau seperti itu, aku sendirian dong di sini" ujarku sambil menghela nafas tidak bisa membayangkan bertahan hidup jauh dari orang yang selalu melindungiku. Bang fahmi layaknya kakak, Dia selalu ada di Setiap kesusahan, selalu hadir dalam setiap penderitaan, aku bisa bertahan disini karena adanya dia. "Jangan berbicara seperti itu, walau bagaimanapun kehidupanmu harus tetap berjalan, ada atau tidak adanya saya, karena ketika hidup bergantung sama orang lain kita akan merasakan kecewa. Soalnya manusia itu serba kekurangan dan tidak ada yang pantas kita Gantungkan hidup kita selain kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala" Bang Fahmi mengingatkan tentang kehidupan "Yah tapi walaupun begitu, aku tetap saja merasa sedih, ketika tidak ada lagi seorang yang baik seperti Abang" mataku berkaca-kaca "Sudah jangan seperti itu, Aku yakin kamu orang baik dan pasti akan selalu banyak yang menyayangimu, kamu tidak sadarkan, selama kamu di sini, banyak orang yang menyayangimu, contohnya Pak Chandra, Kang Andi, Mereka adalah sebagian kecil yang menyayangimu" ucap bang fahmi memberi semangat Memang benar rasanya Hidupku sangat beruntung karena selalu dikelilingi oleh orang-orang baik terutama mereka. "Amin. semoga selalu saja begitu ya Bang, Abang juga, semoga keluarga Abang tetap utuh, sampai maut memisahkan mereka dan Abang juga di tempat baru semoga selalu terus menjadi orang yang baik" "Aminnnn. Oh iya bagai mana orang tuamu mengizinkan nggak kamu sekolah" tanya bangpahmi mengalihkan pembicaraan "Alhamdulillah Bang, bahkan tadi Bapak menemui Pak Chandra, untuk berterima kasih dan memastikan bahwa saya akan di sekolahkan" jawabku menjelaskan kejadian tadi sore di rumah Pak Chandra "Baguslah kalau seperti itu, yang penting kamunya sekarang! bagaimana memanfaatkan kesempatan itu, jangan sampai disia-siakan dan jangan sampai mengecewakan pak chandra karena biasanya orang-orang baik, mereka tidak mengharapkan balas budi, yang mereka harapkan bisa melihat orang yang ditolongnya sukses, itu yang mereka akan sangat bahagia" nasehat Bang Fahmi "Terima kasih Bang nasehatnya. semoga aku bisa menjalankan amanat ini" "Terus bagaimana masalah kebutuhan lain-lainnya untuk bersekolah" Bang kami bertanya sambil menatapku "Menurut Pak Chandra kalau seragam, besok sepulang kerja dari sekolah aku disuruh menemui Kang kamas, untuk membuat seragam" ucapku menjawab pertanyaan Bang Fahmi "Alhamdulillah kalau seperti itu, berti kamu tinggal sekolahnya saja yang rajin" "Iya bang cuma yang aku masih khawatirkan. Pak Candra tidak bilang kalau sepatu beliau yang akan belikan" ungkap yang sedikit menyimpan kekhawtiran "Ya kamu beli sendiri lah, jangan sampai semuanya dari Pak Chandra" ucap bang fahmi "Itu dia Bang masalahnya, tabunganku mungkin hanya cukup untuk membeli buku tulis, kalau harus membeli sepatu aku harus menabung lagi" aku menjelaskan alasanya. "Udah minta sama orang tua" tanya Bang Fahmi "Belum bang" jawabku "Ya sudah coba minta saja sama orang tuamu" saran bang fahmi "Insya Allah bang cuman mereka tidak sepenuhnya bisa diharapkan, kemarin saja pas pulang bapak Sudah lama tidak berjualan beras. Soalnya beliau tidak punya modal. Jadi Bapak nganggur hanya sesekali jadi kuli di ladang orang" aku yang mengetahui keadaan orang tuaku dan tak mau membebani mereka Biarkan saja aku yang berusaha "Susah juga kalau seperti itu, emang kamu pakai sepatu nomor berapa" "Kurang tahu Bang soalnya kan udah lama enggak pakai sepatu, dulu pas waktu SD aku pakai nomor 35" jawab ku sambil menatap ke bawah "Ya sudah begini saja, aku kan ada sepatu yang bekas kemarin, kamu pakai aja dulu sebelum kamu punya uang untuk membeli sepatu yang baru" saran Bang Fahmi "Emang tidak apa-apa, sepatunya aku pakai Bang" Tanyaku sambil menatap nanar ke arahnya "Nggak apa-apa kalau kamu mau, pakai saja paling sedikit longgar, lagian kan aku mau pindah" jelas Bang Fahmi "Sekalian baju Bajunya juga nggak Bang Biar aku punya ganti" Tanyaku sambil senyum "Kamu ditolong malah mau ngerampok" ketus bang fahmi sambil memonyongkan bibir "Terus buat apa katanya mau pindah Lagian kan Abang mau ke SMA" ujarku "Buat kenang-kenangan aja" jawaban Fahmi acuh "Yah gitu kirain boleh" kataku sambil melipatkan tangan di d**a "Ya sudah kalau bajunya Lihat ntar aja ya, kan sekarang belum selesai sekolahnya juga" Bang Fahmi sambil senyum "Terima kasih ya bang sebelumnya, semoga kebaikan Abang dibalas oleh Allah di dunia terutama di alam akhirat" Aku dan Bang Fahmi dilanjutkan dengan ngobrol ngalor ngidul sampai mata kami mengantuk, kemudian masuk ke pondok untuk beristirahat dan menyiapkan tubuh untuk pelajaran-pelajaran kehidupan selanjutnya. Sebulan setelah obrolan malam itu. Bang Fahmi mengemasi kitab-kitab dan pakaiannya ke dalam kardus, setelah rapi Bang Fahmi berpamitan kepada seluruh Santri untuk pulang ke kota, melanjutkan pendidikan sekolah dan pendidikan Pondok di dekat rumahnya. Rasanya sangat sedih ditinggal jauh oleh orang yang peduli sama kita, tak terasa butiran bening membasahi pipiku ketika bangpahmi memelukku. "Sudah jangan nangis masa laki-laki cengeng, Nanti kalau liburan sekolah aku pasti pulang, menjenguk nenek jadi kamu tidak usah khawatir, kita akan bertemu lagi" ucap Bang Fahmi sambil mengusap pundaku. Aku hanya menunduk menahan rasa sedih yang tidak bisa dilukiskan. aku nggak tahu Kesedihanku ini karena kepergian bang fahmi atau karena aku tidak bisa hidup Kalau tidak ada dia. Setelah berpamitan bangpahmi Menaiki motor untuk diantar ke Terminal kami hanya menatap sendu melihat kepergiannya. Setelah kepergian Bang Fahmi rasanya kehidupanku di pondok ada yang kurang, biasanya setelah isya Bang Kami selalu mentraktirku kopi, sambil ngobrol atau sambil menghafal pelajaran pelajaran pondok Butuh waktu untuk menyesuaikan hidup, setelah kepergiannya. Biasanya aku tidak mengkhawatirkan uang bekal pondokku,karena dia selalu membantu ketika aku tidak punya, namun sekarang aku harus berjuang sendiri demi terus bisa bertahan hidup dan terus belajar di pondok. Seminggu sudah Bang Fahmi meninggalkan pondok, tahun ajaran baru sekolah pun dimulai. Pagi itu aku sudah siap dengan seragam putih biru dan sepatu dari bangpahmi dilengkapi tas yang kugendong di belakang punggungku, pekerjaan sekolah, aku sudah kerjakan sebelum subuh jadi tidak mengganggu waktu sekolah ataupun pelajaran pesantren Aku berjalan menuju sekolah dengan gagah rasanya ini adalah mimpi yang jadi kenyataan Tak terbayangkan sebelumnya, aku bisa memakai seragam ini Sesampainya di sekolah ternyata siswa-siswa baru tidak memakai baju seragam putih biru melainkan mereka memakai baju seragam SD karena katanya ini adalah waktu masa Orientasi Siswa Hari pertama bersekolah hanya diisi dengan acara acara penyambutan siswa baru mulai dari perkenalan anggota OSIS dan perkenalan antara siswa-siswa lain baik dari kakak kelas ataupun teman seangkatan. Sebenarnya agak sedikit minder mengingat bentuk tubuhku yang harusnya berada di kelas 2 MTS, malah baru masuk menjadi siswa baru. ditambah lagi dengan posturku yang tinggi menambah kontras perbedaan dengan teman-teman seangkatanku yang lainya
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN