Pov dalari
"Ya sudah besok kita temui Pak Chandra kita tanyakan gimana yang sebenarnya sekalian mengucapkan Terima kasih karena kamu telah diberikan pekerjaan" ucap bapak sambil menghembuskan asap ke udara.
" Jadi gimana Apakah bapak mengijinkan saya untuk bersekolah" Tanyaku penasaran.
" Bagaimana bosok saja keputusannya, soalnya kalau bapak membiayai sendiri jujur untuk saat ini bapak tidak punya modal untuk itu, makanya besok kita perjelas seperti apa kesanggupan Pak Chandra" ucap Bapak sambil menghela nafas
"Terus bagaimana kalau yang diomongkan Pak Chandra itu benar, seperti beliau Sanggup membiayai SPP dan seragam, apa Bapak masih ih mengijinkan kan saya ya untuk bersekolah" tanya ku sambil menatap lekat ke arah bapak dan ibu.
"Kalau seperti itu jawabannya ada di kamu, apakah kamu sanggup bersekolah dengan keadaan yang serba kekurangan" Bapak balik bertanya kepadaku.
Aku berpikir sebentar menimbang yang baik dan buruknya sebelum mengambil keputusan.
"Insya Allah kayaknya Sanggup pak, aku mempunyai tabungan buat membeli buku, kalau untuk uang jajan mungkin bisa mengandalkan pemberian dari Pak Chandra sebagai upah aku menjadi cleaning service di sekolah, yang penting bapak mengizinkan dan mendoakan saya untuk belajar baik di pondok maupun di sekolah"
"Ibu dan bapak untuk mendoakan kamu jangankan diminta kalaupun nggak diminta juga, kami tetap mendoakan yang terbaik buat anaknya. Yang terpenting anaknya bersabar dan dan terus bersemangat menuntut ilmu" ibu menimpali.
"Bapak dan ibu akan mengizinkan kamu bersekolah, asal kamunya bersabar tidak mengeluh dengan semua cobaan yang akan datang menghadangmu. Dan yang terpenting kamu juga mendoakan kami, supaya terus bisa mencari nafkah buat kamu dan adik kamu supaya ya kami bisa membiayai belajar kamu" tambah bapak.
Bapak dan ibu terus memberikan wejangan kepada ku supaya sebelum menghadapi badai cobaan. aku sudah kokoh Karang yang tetap kokoh meski terus di diterjang ombak.
"Terima kasih ih untuk wejangan-wejangan abapak dan ibu semoga aku aku bisa melaksanakan kan apa apa yang yang disampaikan. dan terima kasih telah mengijinkan kan aku aku untuk bersekolah semoga ini menjadi rezeki kita dan menjadi di bekal di kemudian hari" ungkapku setelah lama berbincang dengan mereka.
"Kami berdua akan selalu mendukung apapun itu kemauanmu, Asal itu baik yang penting kamunya jangan pantang yang menyerah soalnya keadaan kita seperti ini kamu harus banyak-banyak bersabar" ungkap ibu mengingatkan.
"Ya sudah sekarang yang kamu tidur, besok sehabis dari sawah kita berangkat bareng menemui Pak Chandra" perintah bapak.
Aku hanya mengangguk lalu memasuki kamar berukuran 2x3 beralaskan kasur kapuk yang sudah lepek mencoba membayangkan hari-hari yang akan datang dengan menggunakan seragam putih biru, terhanyut dalam khayalan membuat mataku terkatup sempurna menuju alam mimpi
*******
Keesokan harinya setelah makan siang aku dan bapak sudah bersiap menuju pondok, kita menyusuri jalan melewati hamparan sawah dan hutan pohon mahoni menembus panasnya Mentari yang bulat sempurna.
Kurang lebih sejam berjalan akhirnya kita berdiri di hadapan rumah yang paling megah diantara rumah-rumah lainnya.
"Assalamualaikum" Aku mengucapkan salam dari depan pintu
"Waalaikumsalam" terdengar orang yang menjawab salam sambil membukakan pintu.
Aku bergegas menghampiri dan mencium punggung tangannya diikuti oleh Bapak.
"Oh dalari ayo masuk "ujar sohibul bad mempersilahkan masuk ke rumahnya.
Setelah masuk kedalam aku dan Bapak dipersilahkan duduk di sofa yang ada di ruang tamu, tak lama setelah itu datang Ibu Ani membawa dua gelas air putih, lalu disimpan di meja kemudian beliau masuk lagi ke dalam.
"Silakan diminum cuma ada air putih" tawar Pak Chandra.
Aku dan bapak pak mengambil air yang ada di meja setelah perjalanan jauh tambah panasnya matahari membuat tenggorokan ini rasanya kering.
"Terima kasih Pak" ucap Bapak sambil menaruh kembali gelas kemeja
"Sama-sama kang zen bagaimana keluarga di rumah pada sehat" tanya Pak Chandra.
"Alhamdulillah semua ada dalam lindungan Allah SWT" jawab bapak.
"Syukurlah kalau pada sehat, Oh iya mau ngopi enggak kopi apa" tanyaPak Chandra
"Nggak Pak jangan ngerepotin Saya malu cukup anak saya yang merepotkan bapak" tolak Bapak sedikit malu-malu.
"Nggak ngerepotin kang, Cuma kopi doang, dalari Tolong buatin kopi bapakmu" Pak Chandra menatapku menyuruh membuat kopi
Aku bangkit menuju dapur dan tak lama kembali sambil membawa dua gelas berisi kopi lalu kutaruh di meja. Kemudian duduk kembali di samping bapak.
"Oh iya dah lari tolong beliin rok0k putih buat bapak" seru pak Chandra lagi. Sambil mengeluarkan uang pecahan Rp10.000 lalu memberikannya kepadaku.
"Ya Allah gak usah ngerepotin Pak, saya jadi nggak enak padahal kita bertamu tidak membawa apa-apa" ungkap bapak yang merasa tidak enak padahal kita datang membawa ayam kampung dan dan pisang Muli.
Mendengar penolakan bapak, aku berhenti lalu duduk kembali dan mengembalikan uang yang dikasih Pak Chandra.
"Kenapa duduk lagi sudah jangan dengerin bapakmu cepetan berangkat ke warung" tegur Pak Candra sambil menatap tajam ke arahku.
Ditatap seperti itu Jantungku berdegup kencang, aku berdiri lalu mengambil kembali uang yang ditaruh dimeja, kemudian berangkat menuju warung mengikuti perintah Pak Chandra. setelah mendapatkan yang yang diinginkan aku kembali ke rumah, terlihat mereka sedang asik mengobrol sebenarnya kata bapak mereka adalah ah teman Sepondok waktu di kota bedanya kalau Pak Chandra beliau mondok sambil sekolah sedangkan kalau bapak cuma mondok doang mengingat keterbatasan biaya. perbedaan materi akhirany mereka jadi di renggang bukan Pak Chandra yang sombong tapi bapaknya saja yang malu kalau menghampiri orang-orang yang berada takut Dianggap rendah dan mungkin juga karena rumah mereka jauh jadi jarang mengobrol seperti ini.
"Begini Pak Chandra maksud kedatangan saya kesini, kemarin dalari meminta izin untuk bersekolah, maaf katanya untuk biaya dan seragam bapak Yang yang akan menanggung,jadi saya ingin memastikan kebenarannya dan mengucapkan beribu-ribu terima kasih atas semua kebaikan yang Bapak berikan kepada ada kita" setelah mengobrol panjang lebar Bapak mengungkapkan kan tujuannya menemui Pak Chandra.
"Oh itu, insya Allah minggu kemarin saya mengobrol sama istri saya mengingat dalari anak yang rajin, jadi kita berencana untuk menyekolahkan nya namun itu tidak semua kami tanggung mungkin kang hanya menyiapkan buku-buku dan uang saku buat sekolahny jadi saya mohon kerjasamanya untuk mewujudkan cita-cita kita dan negara kita, yaitu mencerdaskan segenap bangsa" pak Chandra menjelaskan yang sebenarnya kepada bapak
"Terima kasih banyak Pak semoga semua kebaikan Bapak dibalas oleh Allah Saya bingung harus membalas kebaikan Bapak dengan cara apa hanya doa-doa saja yang bisa saya panjatkan kepada Allah untuk bapak" terlihat mata bapak berkaca-kaca.
"Saya tidak mengharapkan apapun, yang penting anaknya mau bersungguh-sungguh untuk bersekolah,dan akang juga memberi dukungan kepadanya supaya semuanya bisa berjalan lancar. itu sudah menjadi kebahagiaan bagi Saya dan istri saya" jelas Pak Chandra.
"Sekali lagi terima kasih yang sebesar-besarnya saya titip anak saya kalau salah jangan segan-segan untuk mengingatkannya" pinta bapak.
"Sudah jangan bilang terima kasih terus sayanya jadi nggak enak, sekarang yang kita tanya anaknya mau apa enggak bersekolah" ucap acandra sambil menatap ke arahku.
"Bagaimana kamu mau sekolah" bapak menambahkan ucapan Pak Chandra
Aku hanya mengangguk pelan tak terasa butir bening mengalir di pipi, ini adalah mimpi yang jadi kenyataan dulu jangankan kan untuk bersekolah membayangkannya saja sudah membuat aku Aku pasrah, mengingat keadaan orang tua yang tidak memungkinkan aku untuk bersekolah bukan mereka tidak mau
"Sudah jangan nangis masa laki-laki cengeng,sekarang kamu harus bisa menjaga kepercayaan Kami belajar lah bersungguh-sungguh supaya mendapatkan hasil yang sempurna" ungkap Bapak sambil mengelus punggungku.
"Terima kasih pak, terima kasih Pak Chandra semoga saya bisa terus menjaga kepercayaan dan yang yang kalian berikan dan tidak mengecewakan" ucapku dengan terbata-bata karena menahan sesak bahagia di d**a
"Ya sudah besok sehabis kerja, kamu temui Kang kamas untuk membuat baju seragam sekolah bilang saja Bapak yang menyuruh" perintah pak Chandra
"Iya pak terima kasih banyak" hanya itu yang keluar dari mulutku karena tidak tahu apalagi yang harus aku ucapkan untuk mengungkapkan kebaikan Pak Chandra.
Kami pun melanjutkan obrolan obrolan yang tidak penting, lebih tepatnya bapak sama Pak Chandra aku hanya mendengarkan mereka bercerita tentang perjuangan mereka di pondok waktu dulu. Tak lama azan asar pun berkumandang, Bapak meminta izin untuk salat asar sekalian pamit untuk pulang ke rumahnya, akhirnya kami pun menuju masjid. setelah melaksanakan salat asar aku kembali ke rumah Pak Chandra untuk membereskan piring piring kotor lalu mencucinya. sedangkan Bapak kembali pulang menuju ke rumahnya membawa hati yang yang sangat bahagia mengingat anaknya akan disekolahkan.
Setelah semuanya beres aku juga berpamitan untuk kembali ke pondok.