Pov dalari
Aku hanya menarik napas dalam menerima hinaan pedas dari paman. Aku tidak bisa berkata kata karena semua yang dikatakan itu benar adanya.
"Pulang dari mana din" bi ratna mengalihkan pembicaraan biar mang udin gak terus memojokanku.
"Biasalah nyari duit biar gak miskin terus" jawab mang udin selalu menyindirku.
"Sekarang kok masih dirumah emang gak nyari sayuran" tanya bi ratna menaanyakan kebiasan mang udin sebagai bandar sayuran.
"Enggak barusan nawarin motor ke mang deri tapi dia nawarnya murah, maleslah kalau untungnya cuma seratus ribu doang" jelas mang udin
"Terus mau untung berapa" tanya bi ratna penasaran.
"Kalau bisnis itu Minimal untungnya lima ratus ribulah emangnya kuli nyangkul gajinya cuma sepuluh ribu" jawab mang udin yang terus menyindir keluargaku.
Sesak rasanya dadaku mendenger semua perkataan yang diucapkan, mengiris hati terasa perih untung saja air mataku tidak sampai tumpah. Hinaan demi hinaan terus dilontarkan meski secara tidak langsung, bi ratna tak bisa berbuat apa apa emang sikapnya saja yang seperti itu.
"Bi aku mau masak dulu" ujarku memotong pembicaraan mereka.
"Nah gitu dong kalau kamu orang susah, bantu keluargamu meski tidak bisa mengubah apa apa hahahhaha" jawab mang udin sambil tertawa.
"Ya bibi juga mau masak sebentar lagi siyahya pulang dari sekolah" ujar biratna menjelaskan bahwa anak pertamanya yang sebetar lagi pulang dari sekolah.
Tanpa menoleh lagi aku pergi meningalkan mereka, menuju rumah yang letaknya bersebelahan dengan rumah bibi. Sesampai dirumah aku mengambil beras lalu memasukanya kebakul untuk dicucinya ke kamar mandi umum.
"Kapan pulang" ujar ibu yang melihatku ketika membuka pintu dapur.
"Jam sembilanan bu, tadi mencari ibu tapi tidak nanya sama bibi gak ada yang tau nyari rumput kemana" jawabku sambil mencium pungung tangannya.
Terlihat butiran bening dikening dan napasnya yang agak sedikit memburu, setelah bersalaman aku mengambilkan minum mendekatkan kepadanya mengingat kakinya yang kotor berlumuran lumpur.
"Minum dulu bu" tawarku yang sudah jadi kebiasaan dari dulu ketika orang tua pulang kerja harus diambilkan itulah yang diajarkan mereka.
"Terimakasih" ujar ibu sambil mengambil gelas yang sudah aku isi air lalu ibu mendekatkannya kemulut, terlihat wajahnya sangat menikmati meski hanya segelas air. Aku bangkit lalu masuk keruangan tengah dan tak lama menghampiri ibu kembali sambil membawa bungkusan plastik titipan pak chandra.
"Apa itu" tanya ibu.
"Ini ada titipan dari pak chandra katanya ikan asin sama petay, tapi kayanya bukan itu saja melihat dari bentuk plastiknya" jawabku sambil membuka plastik ternyata memang benar bukan hanya ikan asin tapi ada dua bungkus biskuit merah berlogo kelapa. Aku mengeluarkan satu bungukus lalu mendekatkan sama ibu.
"Apa ini dal" tanya ibu sambil memegannya, mungkin ini baru dilihat sama ibu.
"Itu mungkin makan baru bu aku juga belum tau, sini aku bukain biar kita coba" tawarku sambil menadahkan tangan. Ibupun memberikan untuk membukanya.
Setelah dibuka ternyata itu biskuit kelapa setealah membukanya aku memberikanya lagi sama ibu. Kemudian beliau mengambil satu potong makan yang berbentuk bulat itu.
"Enak dal kamu cobain deh kue gini berapaan ya harganya" jelas ibu sambil mengambil satu lagi
Akupun mengikuti ibu mengambilnya, ternyata emang benar rasanya sangat nikmat apa lagi kalau dibarengin minum teh. Setelah habis satu baris ibu berhenti memakannya.
"Kenapa udahan bu" tanyaku heran.
"Buat bapak dan rahma kasian mereka kalau dihabisin" jelas ibu meski serba kekurangan beliau tidak tamak ketika mendapat makanan enak, ibu selalu ingat keluarga.
"Kan masih ada bu satu lagi kalau enak makan aja, nanti yang ini buat bapak dana rahma" jelasku sambil menujukan bungkusan kedua yang ada dalam plastik.
"Ya buat nanti aja biar makannya bareng bareng, walau masih ada jatah buat mereka tapi emang nanti kamu gak mau makan lagi" nasihat ibu agar selalu bareng bareng ketika nikmat atau gak enak Itulah yang selalu diajarkan ibu sama anak anaknya.
Aku merapihkan lagi sisa biskuit agar tidak masuk angin dab tidak layu.
"Mau digoregin asin apa bu" tanyaku sambil menatapnya.
"Baik banget pak chandra sampai sampai ngasih asin segala, besok kalau pulang kepondok sampaikan terimaksih ibu sama beliau ya dal" kata ibu menyuruhku.
"Insya Allah bu, tadi juga aku sudah bilang terimakasih sama pak chandra. Nanti aku sampaikan lagi" jawabku menyanggupi perintahnya.
"Emang itu ada asin apa saja dal" tanya ibu menatap kearah plastik.
"Lamuru sama teri rebon bu" jawabku setelah membuka koran pembungkusnya.
"Lamuru saja dal, dibakar kayanya enak apalagi kalau sama petay kebetulan ibu tadi ngambil rumputnya didekat sawah jadi sekalian ngambil cabe rawit buat sambalnya" pinta ibu sambil mengabil tas terbuat dari karung lalu mengeluarkan bungkas dari daun pisang.
"Kenapa gak digoreng saja bu jelantrahnya kan enak" ujarku memberi pendapat.
"Gak ada miyaknya dal, ibu gak uang bapak saja baru mulai kerja ditempat pak dadi mau berjualan beras lagi belum ada modalnya" jelas ibu terlihar raut wajahnya nampak kusam menyimpan kesedihan.
"Aku ada uang bu kebetulan tadi pak chandra juga ngasih buat jajannya" aku menawarkanya.
"Ya allah baik banget pak chandra kamu harus bersukur punya majikan seperti beliau dan kamu jangan sampai mengecewakanya" ibu mengingatkanku supaya tidak lupa dengan semua kebaikan pak chandra.
"Ya semoga aku selalu menjadi orang yang terus bersyukur" do'aku sambil menahan haru.
"Ya sadah kamu simpan saja uangnya, ibu lagi pengen asinya dibakar saja, ya sudah ibu mandi dulu nanti ibu saja yang bakar biar enak" ujar ibu sambil bangkit dari tempat duduknya.
Aku melanjutkan pekerjaanku menanak nasi dan membuat lauk makanya di bantu dengan ibu. Tak lama adzan dhuhurpun berkumandang aku segera pergi kemasjid untuk melaksakan shalat dhuhur. Kalau waktu dhuhur jarang sekali berjamaah mengingat wargnya masih pada dijalan sepulang dari sawah.
Setelah bapak selasi shoalat kami berempat duduk bersila menghadapi nasi panas dengan bakas ikan asin, sambel sama pete, tak lama bapak memberi komando diawali dengan doa sebelum makan, sesudah doa selesai kami pun menikmati makanan yang sangat nikamat aku saja sampai dua kali nambah.
*****
Seusai makan malam seperti biasa kami ngumpul diruang tengah ditemani biskuit pemberian pak chandara.
"Besok kalau kamu pulang kepondok sampaikan terimakasih bapak sama pak chandra" kata bapa sambil menyalakan korek membakar lintingan temb4kaunya.
"Insya allah pak" jawabku singkat.
"Kamu harus rajin ya kerja jangan samapai membuat pak chandra merasa kecawa sama kamu, susah mencari orang sebaik dia" jelas bapak menasihatiku.
"Iya pak semoga saja aku selalu istiqomah" ucapku sambil menatap bapak menunjukan keseriusan perkataanku.
"Yah kamu harus jaga kepercayaanya, kita orang tidak punya jadi jangan sampai orang orang baik membenci kita" jelas bapak mempertegas.
"Oh iya pak aku pulang lebih cepat dari biasanya, ada yang mau dibicarakan" aku pulang semingu lebih awal dari biasanya.
"Ada apa dal" tanya bapak cemas.
"Kemarin hari rabu aku dipangil pak chandra" jelasku menghentikan obrolan karena dipotong oleh ibu.
"Nah nah baru saja ibu ingatkan kamu sudah macam macam, kamu dimarahin pak chandra yah" seperti biasa kalau prempuan suka panik duluan tanpa mendengar penjelasanya terlebih dahulu.
"Maaf bu akukan belum menjelsakan apa pun, jadi jangan menunuduh duluan" sanggahku menatap ibu.
"Iya bu kita dengerin dulu anaknya berbicara, baru kita memberi pendapat" tambah bapak sambil menghisap daun arenya.
"Iya pak maaf, soalnya ibu takut dalari berbuat aneh aneh saja pak" jelas ibu sambil tertunduk.
Aku bukan melawan tapi aku hanya meluruskan apa yang harus diluruskan.
"Iya gak apa apa bu emang kita sebagai keluarga sudah sepantasnya saling mengingatkan" ujar bapak sambil senyum.
"Kamu mau apa di panggali pak chandra dal, maaf tadi ibu memotong pembicaraanmu" tanya ibu sambil menatap kearahku.
"Gak apa apa bu dalari juga minta maaf, kemarin pak chandra memangilku dia bertanya apa aku mau sekolah, soal biaya sekolahnya pak chandra yang nanggung tapi tidak semuanya, hanya biaya spp dan baju seragam, tapi aku belum bisa menjawabnya karena aku belum ngobrol sama bapak dan ibu jadi belum bisa memutuskanya" aku menjelaskan pembicaraan yang sempat terpotong.
"Kamunya mau gak sekolah" tanya bapak.
"Mau pak tapi semua keputusan ada ditangan bapak, aku akan terima apapun itu keputusanya" jelasku sambil menudukukan kepala.